
Setelah acara pemakanan sederhana itu usai, mereka segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Meski sedih harus berpisah dengan Chiki, Chiko, Usha dan Ushi, Pati dan Pita harus menunaikan tugas dari mendiang nenek Hito. Mereka berjalan menuju arah timur seperti petunjuk dari Pati dan Pita. Sebelum jauh melangkah, sekali lagi mereka menengok kearah rumah nenek Hito. Meski pertemuan mereka sangat singkat, namun mereka memutuskan tidak akan melupakan kebaikan nenek Hito.
“Freya dan Dogma, sebelum kalian terlalu banyak berharap pada kami, sebaiknya kami beri tahu kalian dahulu,” Setelah mengengok Pita seolah meminta persetujuan, kembali Pati melanjutkan ucapannya.
“Kami memang tahu arah dimana pohon Miraculos berada, namun kami tidak bisa memastikan jarak jauh atau dekatnya, jadi kita bisa sampai disana esok hari atau mungkin bertahun-tahun kemudian. Hingga saat itu, maukah kalian mempercayai kami?” Tanya Pati pada Dogma dan Freya.
Setelah berpikir sejenak, Freya segera menjawab.
“Meski aku begitu ingin segera pulang, tapi karena ada mantra Dogma jadi kita punya banyak waktu. Jadi kalian tidak perlu khawatir.” Jawab Freya sambil menatap bergantian wajah ke dua sahabat barunya tersebut.
Di sepanjang perjalanan Pati dan Pita bercerita banyak tentang nenek Hito. Dari cerita mereka, sungguh tampak bahwa mereka sangat menyayangi nenek Hito begitu pula sebaliknya. Setelah mereka berjalan di dalam hutan selama tiga pekan, tibalah mereka di pinggir sebuah wilayah kerajaan.
Begitu akan memasuki desa, terdapat papan sepanjang rentangan tangan Freya dan selebar bahu Freya. Di papan tersebut terdapat tulisan ‘Kerajaan Phantasia’ dan di bawah tulisan itu, terdapat tulisan lebih kecil kira-kira seperempat lebih kecil dari ukuran nama kerajaan tersebut. Tulisan kecil itu berbunyi ‘beri kami tujuanmu, kami beri apapun yang kau cari.’ Mereka saling berpandangan sejenak, namun mereka terlalu lugu untuk mengetahui apa maksud tulisan itu.
“Instingku mengatakan bahwa pohon Maraculos berada di arah itu, tapi aku punya firasat buruk, sebaiknya kita jangan masuk kerajaan itu. Kita bisa jalan memutari kerajaan dan melanjutkan arah menuju pohon Miraculos.” Saran Pati disetujui oleh Pita.
__ADS_1
“Bagaimana jika pohon Miraculos berada di dalam kerajaan ini? Kita tak boleh membuang kesempatan yang langka ini.” Kata Dogma sambil menatap Freya.
“Ini adalah kesempatan yang langka, mari kita coba bersama-sama, jika kalian takut, kalian boleh menunggu di luar wilayah kerajaan ini.” Kata Freya pada kedua burung merpati tersebut. Tentu saja kedua burung merpati itu menolak untuk menunggu di luar wilayah kerajaan seperti saran Freya. Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk memasuki kerajaan tersebut.
Wilayah kerajaan itu dikelilingi oleh sungai berair jernih. Untuk memasuki wilayah kerajaan, mereka harus melewati jembatan tua. Saat menginjakan kaki di tanah kerajaan tersebut ada perasaan yang hilang di dalam diri mereka, namun mereka tak tahu perasaan apa yang hilang itu. Dengan perasaan bingung mereka terus mengikuti jalan setapak di hadapan mereka.
Jika dilihat dari luar, wilayah kerajaan itu terlihat seperti hutan cemara. Namun setelah mengikuti jalan setapak menuju dalam wilayah kerajaan, mereka akan menemukan sebuah pemukiman dengan pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terlihat anak berumur lima tahun menunggangi kuda bertanduk satu dengan gembira.
“Wah lihat, itu unicorn.” Seru Freya dengan riang sambil berlari menuju hewan yang hanya ada dalam dongeng yang biasa dibacakan Ibunya tersebut.
“Maaf nona kecil. Sebelum disucikan, kalian orang luar dilarang menyentuh apapun di dalam wilayah kerajaan ini.” Kata pria bermantel hijau lumut itu dengan sopan.
Freya hanya cemberut mendengar hal itu, dari belakang Dogma dan kedua merpati segera menghampiri Freya.
“Wah rupanya kalian juga memiliki hewan ajaib ya.” Kata pria itu sambil menatap Pati dan Pita dengan penuh selidik. Sontak Pati dan Pita terbang sembunyi dibalik tubuh Freya.
__ADS_1
“Maaf saya lupa memperkenalkan diri, nama saya adalah Kenta, salah satu tetua di kerajaan Phantasia. Mari saya antarkan kalian ke kolam suci kami, di sana saya akan membantu kalian mensucikan diri. Setelah itu kalian bisa menjadi penduduk kerajaan kami dan hidup bahagia bersama kami di sini.” Ucap Kenta ramah.
Kenta adalah pria berumur sekitar 65 tahun berbadan tegap, berambut warna merah dengan bola mata berwarna hijau senada dengan mantel yang Ia gunakan, di wajah tuanya masih tersisa garis ketampanan masa mudanya. Sekali melihat, kita akan tahu bahwa dia adalah pria yang ramah dan sopan.
Tak ada yang salah dengan keramah-tamahan Kenta, namun Freya merasa ada sesuatu yang ganjil dari ucapan pria berambut merah tersebut. Tapi Ia segera menampik perasaannya dan berjalan mengikuti Kenta menuju kolam suci untuk menyucikan diri. Setelah berjalan beberapa saat tibalah mereka di sebuah kolam berbentuk oval dengan pinggiran batu permata berwarna jingga. Di tengah kolam terdapat tongkat dari batu berwarna putih dengan tempayam berwarna perak di atasnya. Di tempayam perak tersebut berisi air yang konon tak pernah kering bagaimanapun keadaannya.
Begitu mereka tiba, Kenta mempersilahkan mereka duduk di pinggir kolam. Mereka berempat duduk berdampingan sementara itu, Kenta memasukan tangannya ke dalam kolam dan mengeluarkan sebuah gentong kecil. Gentong itu terbuat dari batu cadas, dari penampakannya terlihat bahwa umur gentong batu itu sudah sangat tua namun masih terlihat kuat.
Kenta membuka tutup gentong batu itu dan mengeluarkan kalung yang terbuat dari akar pohon dan ditengahnya terdapat liontin kecil berbentuk lonjong berwarna biru langit. Kenta mengambil empat buah kalung dan memakaikannya ke mereka berempat. Kalung untuk si Pita dan Pati, Ia harus melingkarkan berkali kali di leher mereka agar tidak jatuh.
“Kalung ini sebagai identitas kalain sebagai penduduk kerajaan ini yang harus selalu kalian gunakan selama berada di dalam wilayah kerajaan ini.” kata Kenta usai mengalungkan pada mereka.
Setelah itu, Kenta memasukan kembali gentong batu tersebut ke dalam kolam suci, lalu mengambil gayung dengan peganggan yang panjangnya cukup untuk menjangkau tengah kolam dan mengambil air di tempayan lalu menyiramkannya ke mereka berempat. Freya, Dogma, Pati dan Pita hanya diam mengkuti proses tersebut.
“Nah sekarang kalian sudah resmi menjadi penduduk kerajaan Phantasia.” kata Kenta sambil mempersilahkan mereka untuk berdiri.
__ADS_1
“Sekarang mari kita berkenalan dengan bibi Hilni, Dia yang akan memberi tahu rumah kalian dan jadwal rutinitas yang ada di dalam wilayah kerajaan ini. Tolong bersikap baiklah padanya, selama di dalam kerajaan kalian akan sering berhubungan dengannya.” Jelas Kenta sambil menuntun jalan ke arah rumah bibi Hilni. Mereka berempat hanya mengangguk tanda setuju dan mengikuti Kenta tanpa protes.