The Last Path

The Last Path
Pohon Miraculos


__ADS_3

“Mungkin aku akan memberi tahu mereka setelah aku mengatasi mahluk yang meresahkan warga kerajaan Phantasia.” Pikir Dogma.


“Dogma apa yang kau lamunkan?” Tanya Pati sambil hinggap di bahu kanan Dogma. “Aku memikirkan tentang mahluk yang dipanggil Nighthwalkers. Jika penduduk kerajaan tak ada yang melanggar kesalahan berat, maka kesalahan ringanpun akan menjadi hal yang serius.” Langkah Freya terhenti mendengar hal itu.


“Kau benar Dogma! Lama-lama jika penjahat di penjara sudah habis dan tak ada pelanggar peraturan, maka peraturan akan diketatkan dan semua penduduk akan hidup dalam tekanan dan ketakutan.” Kata Freya sambil bergidik.


“Dogma, mari kita cari cara untuk keluar dari kerajaan ini.” Freya berkata sambil memegang tangan Dogma.


“Tenanglah, aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu.” Dogma menatap Freya sambil tersenyum.


“Pati dan Pita juga pasti akan aku lindungi, tidak, aku akan mencari cara untuk menyelamatkan seluruh penduduk kerajaan.” Dogma berkata dengan mantap.


Setelah menjual ikan di pasar, mereka melanjutkan menata setiap ruangan. Kini di dalam kamar ada kursi panjang yang diambil dari ruang tamu untuk Dogma tidur di dekat pintu keluar dari kamar. Dogma menolak tidur di ranjang yang sama dengan Freya. Pita dan Pita memilih untuk tidur di ruang makan. Di sudut ruang makan terdapat sebuah kotak yang menempel di dinding, tadi siang Pati dan Pita meminta Dogma untuk menaruh ranting untuk tempat bertengger di dalam kotak ini. Mereka lebih nyaman tidur dalam posisi bertengger dari pada harus tidur di dipan. Dan Freya menolak untuk tidur sendirian.


Saat malam menjelang setelah makan malam dan berbincang sebentar, mereka memutuskan untuk tidur. Pati dan Pita segera menuju ‘kamar baru’ mereka. Freya masuk ke kamar, diikuti oleh Dogma. Beberapa saat setelah masuk kamar, Freya masih terjaga.


“Dogma, apa kau masih terbangun?” Freya berkata dari dipannya, namun taka da jawaban dari Dogma.


“Mungkin Ia sudah tertidur.” Pikir Freya, Ia segera menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


“Tenanglah, aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu.” Kata-kata Dogma siang tadi masih terngiang di telinga Freya, masih terbayang lembut tatapan pria dewasa itu padanya.

__ADS_1


“Apa yang sedang aku pikirkan.” Kata Freya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya di balik selimut.


“Oh ya, jika dipikir-pikir aku sama sekali ta mengetahui tentang Dogma, berapa umurnya dan yang lainnya. Dilihat dari wajahnya, umurnya sekitar dua puluh tahunan. Lalu apa zodiaknya? Apa makanan kesukaannya?” Tanpa sadar Ia berguman pada dirinya sendiri.


“Apa kau bermimpi buruk?” Tiba-tiba saja suara Dogma begitu dekat di kepalanya, Ia menurunkan selimutnya dan wajah Dogma begitu dekat dengan wajahnya. Freya secara spontan mendorong Dogma menjauh.


“Hei apa yang terjadi?” Dogma kebingungan dengan sikap Freya.


Mungkin ini terlalu cepat bagi gadis berumur dua belas tahun jatuh cinta pada seorang pria, namun adakah kekuatan yang mampu membendung keegoisan dari cinta ini. Sungguh cinta adalah keegoisan dari sebuah rasa.


Keesokan paginya sudah di dapur memasak untuk sarapan mereka dibantu oleh Pati dan Pita. Freya yang baru saja bangun karena semalam Ia sibuk memikirkan perasaannya hingga larut malam langsung menuju ruang makan untuk menyiapkan peralatan makan. Mereka makan berempat dengan lahap.


“Wah Dogma, masakanmu sungguh enak.” Puji Freya pada Dogma, Dogma hanya tersenyum menanggapi pujian Freya. Pati dan Pita makan kacang-kacangan di atas meja.


“Kami bisa berkomunikasi dengan para burung dan hewan lainnya, mungkin kita bisa mendapatkan informasi dari situ.”Jawab Pati dengan bangga.


“Baiklah, tapi kita tak boleh membiarkan siapapun mengetahui rencana kita. Karena aku khawatir akan ada penambahan peraturan sebelum waktunya.” Jawab Dogma. Mereka bertiga mengangguk setuju, kemudian melanjutkan makan dengan obrolan ringan.


Setelah selesai sarapan, mereka menuju perkebunan kerajaan untuk mengambil buah dan sayur. Kali ini mereka menuruni lembah dan berencana memasuki perkebunan lewat ladang gandum. Freya, Pati dan Pita memetik buah dan sayur yang mereka butuhkan, sementara Dogma ke sungai untuk menagkap ikan di sungai. Di sungai Dogma menagkap ikan dengan cepat ditemani oleh Airy dan Siry. Kemudian sambil menungu


Freya, Pita dan Pati Ia berbincang dengan Siry di bawah pohon besar tempat tinggal Siry.

__ADS_1


“Siry, apakah ini pohon Miracolus yang bisa menghubungkan dunia yang berbeda?” Tanya Dogma sambil menatap pohon besar tersebut.


“Benar, pohon ini menghubungkan beberapa dunia yang berbeda. Kita memang tinggal di bumi, namun ada bagain bumi lainnya yang tak mengenal mahluk seperti kita. Tak seperti di sini, di sana kita mahluk abadi dilarang menunjukan diri pada manusia.” Jelas Siry sambil memainkan bulu sayapnya.


“Apa pohon ini juga bisa memutar waktu ya?” Tanya Dogma kemudian.


“Pohon ini hanya bisa menghubungkan dua dunia saja, dan tak bisa mengembalikan ataupun memutar waktu. Kenapa kau menyanyakan hal itu?” Tanya Siry.


“Kau tak bermaksud kembali ke masa lalukan? Dengar Dogma, tak ada yang bisa melakukan hal itu. Jadi jangan buang waktumu untuk hal yang tak ada.” Kata Siry sambil menepuk punggung sahabatnya. Dogma hanya tersenyum lirih menanggapi perkataan Siry.


“Benar, jika memang aku bisa memutar waktu kembali, aku akan memperbaiki semuanya. Iya semua, sebelum aku jatuh cinta padanya.” Kata Dogma dalam hati.


“Siry, terima kasih karena kau masih mau berkawan denganku. Dengan mahluk berperilaku rendahan sepertiku.” Kata Dogma sambil menatap nanar kearah air terjun.


“Kau sungguh bersalah Dogma, namun jika Yang Satu masih memberimu kesempatan, kenapa aku tidak? Dosamu tidak merugikan aku, kenapa aku harus membencimu?” Jawab Siry sambil tersenyum berusaha menghibur sahabatnya.


“Dogma, Siry!” Teriak Freya dari kejauhan sambil menenteng keranjang penuh dengan buah dan sayuran.


“Wah kalian memetik buah cukup banyak ya.” Jawan Siry sambil melirik keranjang buah.


“Ini untukmu!” Kata Freya sambil melempar sebuah apel pada Siry. Setelah berbincang sebentar, mereka segera menuju pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan Dogma. Seperti kemarin, ikan Dogma laku dengan cepat.

__ADS_1


"Hari ini kita akan membeli beberapa potong kayu untuk membuat kandang dan beberapa ekor ayam untuk kita pelihara. Kita hanya bisa mendapat sayur dan buah gratis selama satu minggu setelah itu kita harus memikirkan cara mendapatkan uang untuk makan selain menangkap ikan di sungai. Memang menangkap ikan hal yg mudah, tapi kita perlu rencana cadangan jika ada hujan deras atau cuaca buruk lainnya yang tidak mendukung kita untuk mencari ikan.” Jelas Dogma pada mereka berempat.


__ADS_2