The Last Path

The Last Path
Penjaga Hutan Timur


__ADS_3

Hukuman Dogma sebenarnya sudah dimulai sejak Ia melangkah di tangga pertama. Karena Ia bisa merasakan segala jenis emosi dengan bebas, tubuhnyapun mulai beradaptasi. Ia mulai merasakan lapar dan haus untuk pertama kalinya. Namun karena di sepanjang tangga yang menuju bumi tak terdapat makanan ataupun air, Ia harus menahan haus dan lapar selama 191 tahun lamanya. Bahkan hujan tak sekalipun menghampiri Dogma selama perjalanan ke bumi.


Bagi sorang dewa yang telah hidup berabad-abad, 191 tahun bukanlah waktu yang lama namun tidak demikian dengan manusia dan Dogma melupakan hal yang sangat penting tersebut.


Tangga terakhir terletak di bawah pohon akasia yang rindang. Dogma sudah menyukai pohon akasia sejak turun ke Bumi saat bertugas sebagai dewa. Begitu kakinya menyentuh tanah turunlah hujan yang begitu deras. Dogma merasa pusing, semua menghitam Iapun pingsan.


“Dimana ini?” Guman Dogma setelah bangun dari pingsannya.


Setelah mengamati sekeliling Ia menyadari bahwa Ia berada disebuah ruangan berbetuk lingkaran, meja kecil di dekatnya juga berbentuk lingkaran, hingga tikar anyaman yang Ia tiduri pun berbentuk lingkaran. Tiba-tiba terbukalah pintu bundar dan munculah sesosok dryad yang dikenalnya Acasha. Dryad adalah peri wanita yang tinggal di tumbuh-tumbuhan tertentu, mereka juga abadi layaknya para dewa. Acasha merupakan dryad bermata sehijau daun akasia berambut berwarna senada dengan bunga akasia, panjang bergelombang di ujungnya dengan kulit seputih salju.


“Apa ini di rumahmu?” tanya Dogma penasaran.


“Iya ini rumahku, di dalam pohon akasia,” jawab Acasha sambil menyodorkan mangkuk bundar tersebut bersisi sup yang terbuat dari akar tumbuhan. Meski sering berkunjung, Dogma tak pernah masuk ke dalam rumah Acasha sebelumnya.


“Kami mahluk bumi memakan ini, mungkin Kau membutuhkannya.” jelas Acasha karena melihat wajah bingung Dogma, begitu banyak pertanyaan dalam benak


Acasha namun pertama-tama Ia ingin temannya makan terlebih dahulu. Karena penasaran akhirnya Dogma mencoba sup tersebut.


“Wah ini sungguh nikmat, terima kasih Acasha dan maaf sudah membuatmu repot,” ucap Dogma setelah menghabiskan sup tersebut. Ini adalah makanan pertama yang Ia makan. Perasaan asing di lidahnya, namun Ia juga dapat merasakan kehangatan menjalar di perutnya.


“Sungguh ini tidaklah membebaniku.” balas Acasha dengan sopan.

__ADS_1


Dogmapun menceritakan apa yang terjadi padanya, Ia juga menyampaikan bahwa ingin segera bertemu dengan Evenstar manusia bumi yang sangat dicintainya.


“Dogma, jika benar yang kau ceritakan, Aku sungguh prihatin padamu. Namun bukankah ini sudah berlalu 191 tahun sejak terakhir kau bertemu dengan Evenstar? Manusia adalah mahluk yang memiliki kehidupan sangat singkat.” Kata Acasha dengan iba.


Karena iba melihat Dogma, akhirnya Acasha menceritakan keadaan Evenstar hingga akhir hayatnya.


“Mari aku tunjukan pusaranya, meski disana tak ada lagi jiwanya, Kau bisa melihat jejaknya.” Kata Acasha sambil menunjukan arah pada Dogma.


Tak jauh dari pohon akasia milik Acasha, terdapat nisan dengan nama Evenstar di atasnya. Dogma termenung menyadari kebodohannya.


“Tentulah Evenstar sudah meninggal, lalu apa yang aku hendak lakukan sekarang?” Pikirnya. Melihat temannya termenung Acasha pun memberinya saran.


“Kau sudah berada di bumi, kau harus tetap melanjutkan hidup dengan atau tanpa Evenstar, nikmatilah keindahan bumi dengan caramu sendiri. Dengan keabadianmu kau bisa melakukan banyak hal indah hingga masa hukumanmu berakhir.”


“Acasha, aku tidak akan lupa kebaikanmu!” Seru Dogma dibalas dengan senyuman manis Acasha. Sejujurnya Acasha menghawatirkan Dogma, namun Ia hanya bisa mendoakan kebaikan bagi Dogma.


Angin berhembus lirih mengiringi perjalanan Dogma mengembara entah kemana. Acasha memperhatikan punggung Dogma hingga menghilang ditelan kejauhan. Acasha memang tak tahu arah mana yang akan ditempuh Dogma, namun di dalam benak Dogma sudah tergambar jelas tujuan tentang apa yang Ia lakukan kemudian. Berbekal pengalamannya selama bertugas di bumi membuat Dogma beradaptasi dengan mudah.


Kebanyakan mahluk bumi adalah mahluk yang memiliki umur pendek tak seperti dewa yang hidup abadi. Hal ini membuat Dogma memutuskan untuk mengenal beberapa macam mahluk tak abadi ini demi mengisi waktu luang selama di bumi. Ia mengembara dari satu wilayah ke wilayah lainnya sungguh baginya bumi merupakan taman bermain yang cukup luas. Selama bertugas di bumi, Dogma hanya mempelajari mereka sepintas. Kali ini Ia berniat mengenal mahluk bumi lebih dalam.


Untuk memulai hidup barunya di bumi Dogma memutuskan menuju arah matahari terbit. Meski telah sering memasuki hutan, namun baru kali ini Dogma menyadari keindahannya. Ada hutan yang sangat lebat di sana. Ia memutuskan tinggal di dalam Hutan Timur tersebut. Banyak bangsa dryad yang menghuni hutan itu dan berbagai macam tumbuhan yang manarik keingintahuan Dogma.

__ADS_1


Dogma menutup matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Ia merasakan udara yang masuk ke dalam hidungnya hingga ke paru-parunya dan menghembuskanya secara perlahan. Ia mulai menyadari ada keindahan dan nikmat yang hanya bisa kita rasakan saat kita sedikit lebih lambat. Perlahan Ia membuka matanya lalu mulai melihat pepohonan satu persatu dan Ia menyadari pohon satu dengan pohon lainnya berbeda meski berasal dari jenis yang sama.


“Baiklah, akan aku mulai dari sini.” Tekad Dogma sambil memandang sebuah pohon besar, Ia berniat membangun rumah pohon di atasnya. Pohon di Hutan Timur sudah berusia ratusan tahun sehingga banyak binatang dan tumbuhan langka yang menempatinya.


Keindahan Hutan Timur tak hanya menarik perhatian Dogma, banyak juga manuia yang mencoba memasukinya untuk menangkap hewan langka di sana dan dijual pada keluarga kerajaan. Para bangsawan kerajaaan pada masa itu memiliki hobi memlihara binatang atau tanaman langka, hal ini menarik perhatian Dogma. Awalnya Dogma tak mau mencampuri urusan itu, namun setelah berbincang dengan dryad di wilayah itu Ia mengetahui kenyataan buruk yang dilakukan manusia pada hewan yang mereka tangkap.


Hewan yang memiliki corak indah dan cenderung jinak akan mereka kurung dan dipertontonkan saat perjamuan di istana. Sedangkan hewan buas yang berhasil mereka tangkap akan diadu di dalam arena khusus yang manusia buat. Karena manusia tidak telalu mengerati apa yang mereka makan dan cara merawat, maka banyak bianatang hias yang mati mengenaskan.


Bagi hewan yang ditangkap untuk diadu, jika kalah mereka akan mati dan jika menang mereka akan mengadunya kembali sampai mati. Semua berujung pada kematian.


Melihat hal ini Dogma mengajak para mahluk penghuni Hutan Timur untuk bekerjasama. Dogma menyaranka untuk pengaturan tempat tinggal untuk para mahluk di sini agar bisa salingb melindungi dari para manusia pemburu. Saran ini disetujui oleh seluruh penghuni Hutan Timur yang memang telah lama meridukan kedamaian.


Di bagian hutan paling luar ditempatkan hewan yang tak mungkin ditangkap oleh manusia, selanjutanya ditempatkan hewan buas yang kuat di lapisan ke dua sehingga manusia tak mampu melawannya. Di lapiran berikutnya baru diletakkan hewan dengan urutan yang terkuat hingga yang terlemah berada di lapisan paling dalam. Para dryad juga membantu menumbuhkan tanaman berduri dan pohon pohon besard i lapisan terluar agar tak mudah dimasuki oleh pemburu. Dogma rajin melakukan patroli sambil mengumpulkan pengetahuan yang ada pada mahluk di Hutan Timur.


Sejak pengaturan letak hewan diterapkan, tak ada lagi hewan yang dicuri dan mati sia-sia ditangan manusia. Beberapa pemburu yang memaksa masuk terkadang harus berhadapan dengan Dogma sebelum akhirnya dihalau oleh hewan buas. Para pemburu tak puas dengan kegagalan mereka dan mulai menyebarkan rumor bahwa kini di Hutan Timur ada monster penjaga yang dapat mengendalikan bianatang buas. Seiring berdarnya rumor ini tak ada lagi pemburu yang berani memasuki Hutan Timur.


Cit cit cit…..


Suara kicauan burung mengawali pagi Dogma sama seperti pagi-pagi lainnya sejak ribuan hari yang lalu saat Ia baru tiba di hutan timur ini. Dogma berajnak dari tempat tidur di dalam rumah pohonnya. Ia segera mengambil madu dalam lumbung bambu yang dikumpulkannya dua hari yang lalu dan menyantapnya bersama buah apel yang telah dikeringkannya. Setelah sarapan Ia segera menggendong tas yang telah Ia siapkan semalam.


Setelah menghabiskan 1.800 tahun di Hutan Timur, hari ini Dogma memutuskan untuk pindah ke Hutan Utara. Dogma sengaja menghabiskan waktunya di hutan selain untuk meneliti Ia juga menghindari berinteraksi dengan manusia. Ia tak ingin mengulangi dosa yang sama.

__ADS_1


Dalam perjalanan Dogma menuju Hutan Utara Ia bertemu dengan seorang pria tua yang sekarat. Dogma mencoba untuk mengobati sekuat tenaga, namun kehendak Yang Satu berkata lain.


“Tuan, tolong kuburkan aku di pemakanan di dekat desa itu, aku ingin dekat dengan desa kelahiranku.” Tangan tua yang gemetar itu menunjuk arah barat daya. Dogma tak sempat menolak pria yang kini telah menjadi mayat itu.


__ADS_2