
Rumah bibi Hilni beradadi tepi lembah besar yang indah. Di lembah ini terdapat air terjun dan sungai yang jernih.Tak jauh dari sana terdapat sawah- sawah yang subur. Di lereng lembah terdapat perkebunan sumber pangan penduduk kerajaan. Dan tepat di samping air terjun terdapat pohon besar yang kokoh dan rindang yang dijadikan rumah bagi beberapa hewan. Dilihat dari rumah bibi Hilni bentuk pohon bersar itu tak begitu jelas.
Tok tok tok, Kenta mengetuk rumah bibi Hilni, begitu pintu terbuka Kenta langung membungkuk sambil member salam.
“Salam Bibi, maaf mengganggu waktumu yang berharga. Saya membawa dua anak manusia dan dua burung peliharaannya yang dapat berbicara. Mereka akan menjadi penduduk kerajaan ini, jadi tolong bantuan untuk mengurus segala sesuatunya.” Ujar Pria tua itu dengan penuh hormat.
Bibi Hilni adalah wanita separuh baya dengan perawakan yang sedikit berisi dengan tinggi sebahu Kenta dan berambut hitam digelung dengan rapi. Dari wajahnya terlihat bahwa bibi Hilni juga wanita yang ramah. Bibi Hilni memakai baju putih dengan jubah warna senada dengan jubah yang dikenakan oleh Kenta.
“Sungguh gadis yang manis,” kata bibi Hilni saat menatap Freya.
“Kau sungguh lebih tampan dari Tuan Kenta.” Goda bibi Hilni pada Dogma sambil melirik Kenta. Mereka semua tertawa mendengar hal itu.
“Ini Pita dan Pati, mereka teman kami.” Freya berkata sambil menunjuk kedua burung yang sedari tadi hinggap di bahunya.
“Halo Bibi, mohon bantuannya.” Kata Pita dan Pati serempak.
“Sungguh kalian berempat terlihat sangat akrab.” Kata bibi Hilni sambil menatap mereka bergantian.
__ADS_1
“Baiklah, karena kalian sudah saling kenal maka saya akan undur diri.” Kata Kenta kemudian berlalu. Mereka berempat segera dipersilahkan masuk oleh bibi Hilni.
“Silakan duduk, dan lihatlah ini adalah peta beberapa rumah siap huni yang masih kosong, kalian bisa memilihnya. Bibi akan siapkan makanan kering untuk kalian.” Kata bibi Hilni sambil masuk ke dapur. Beberapa saat kemudian Ia keluar dengan keranjang penuh.
“Apakah kalian adalah kakak beradik?” Tanya bibi Hilni pada Dogma dan Freya.
“Bukan Bi, kami adalah teman. Dogma banyak membantuku sepanjang perjalanan.” Jawab Freya.
“Baiklah. Lalu apa kalian sudah memilih rumah mana yang akan kalian tinggali?”
“Bibi, kita akan memilih rumah di sini!”
“Pilihan yang bagus! Kalian akan tinggal di tepi lembah sepertiku, tepatnya di seberang lembah ini. Seandainya lembah ini kecil tentu rumah kita akan berhadapan. Pemandangan lembah akan tampak sangat indah dari sana! Mari kita segera melihat rumah kalian.” Ajak bibi Hilni pada mereka berempat.
Setelah mendengar penjelasan bibi Hilni, Freya, Dogma, Pati dan Pita tampak bahagia, seolah mereka telah memilih sesuatu yang besar dengan benar.
Karena lokasi yang mereka pilih tepat di seberang rumah bibi Hilni, maka mereka harus menyusuri bibir lembah agar sampai di sana. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit, tibalah mereka di sebuah rumah sederhana. Bibi Hilni segera mengeluarkan kunci dari dalam saku di balik mantelnya.
__ADS_1
Celkek, suara kunci terbuka dan bibi Hilni segera memutar gagang pintu kayu tersebut. Begitu pintu terbuka, bibi Hilni segera mempersilahkan mereka untuk masuk.
Pita dan Pati segera beterbangan masuk ke dalam rumah sederhana itu diikuti oleh Freya, Dogma dan bibi Hilni. Rumah ini berwarna coklat kayu alami. Ruangan pertama yang mereka temui adalah ruang tamu lengkap dengan kursi dan meja dari kayu. Kemudian jika belok ke kanan akan menemukan sebuah kamar yang lengkap dengan dipan dan kasur, lemari pakaian cermin dan meja kecil di samping dipan. Di samping kamar tersebut terdapat kamar serupa. Dan paling ujung terdapat kamar kecil yang berisi rak-rak kosong yang bisa dijadikan sebagai gudang.
Di belakang kamar tamu ada sekat yang memisahkan dengan ruang makan dan dapur. Di dapur perabotan yang mayoritas terbuat dari perak, semua lengkap. Di belakang dapur atau berhadapan dengan gudang terdapat kamar mandi. Sumber air kamar mandi mereka dari air terjun yang dihubungkan dengan bambu-bambu panjang. Pengaturan air di kerajaan Phantasia diatur sedemikian rupa dengan baik. Semua perapian dan air berfungsi dengan baik. Benar kata bibi Hilni, ini adalah rumah siap huni.
“Dulu seorang gadis muda yang tinggal di rumah ini. Ia adalah gadis yang baik hati dan mahir dalam hal pengobatan, ilmu pengobatan di kerajaan kami adalah warisan dari gadis itu. Hingga suatu hari Ia mengatakan bahwa Ia mendapatkan ramalan kerajaan ini akan mengalami kehancuran jika kami tidak mengganti raja dari kerajaan kami. Tentu saja hal ini membuat raja dan penduduk marah padanya, untuk beberapa hari suasana kerajaan kami menjadi kacau.” Bibi Hilni diam sejenak kemudian melanjutkan.
“Ada beberapa penduduk yang percaya pada ramalannya, namun lebih banyak penduduk yang tidak percaya pada ramalan wanita itu karena wanita itu belum pernah memberi kami ramalan sebelumnya. Maka diadakan rapat para pemegang wewenang di kerajaan dan membuahkan keputusan, kami para penduduk mengusirnya dari wilayah kerajaan tanpa mengetahui arti di balik ramalannya tersebut. Saat itu, bibi masih sangat kecil untuk memahami semua keadaan itu. Seandainya saja para penduduk kerajaan lebih bijaksana dalam bertindak tentulah saat itu kerajaan kami tidak seperti ini.” Bibi Hilni mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas yang panjang.
“Apa yang terjadi kemudian Bi? Bukankah sekarang kalian hidup dengan damai?” Tanya Freya yang mulai penasaran dengan cerita bibi Hilni. Wanita separuh baya itu kemudian melanjutkan ceritanya. Mereka berempat mendengarkan dengan sangat antusias di ruang tamu.
“Sejak kami mengusir wanita itu dari wilayah kerajaan, kami semua berfikir bahwa keadaan kerajaan akan damai seperti sedia kala, namun ternyata kami salah. Sejak saat itu, hewan-hewan ajaib mulai berdatangan ke dalam wilayah kerajaan. Namun bukan hal itu yang kami takutkan, ada mahluk lain yang juga datang bersamaan dengan hewan-hewan ajaib tersebut dan kami memanggilnya Nightwalker. Mahluk ini hanya muncul pada malam hari berwujud pria tampan, Ia memakai pakaian sutra berwarna perak berambut panjang berwarna senada dengan pakaiannya. Ia terlihat berkilau di bawah cahaya bulan. Siapapun yang menatapnya pasti akan terpesona oleh keindahan mahluk ini, setelah kau terpesona kau akan diminta untuk mengikuti mahluk ini menuju air terjun. Setelah sampai di sana, darahmu akan dihisap sampai habis. Biasanya Ia meninggalkan jasad korbannya di bawah pohon dekat air terjun seolah dalam keadaan tertidur.” Bibi Hilni berhenti sejenak untuk mengatur nafas.
“Tapi Bi, apa hubungannya dengan raja?” Potong Freya yang sudah tidak sabar.
“Ha ha ha kau gadis yang penuh dengan rasa ingin tahu ya?” Freya hanya tersenyum mendengar hal itu. Lalu bibi Hilni segera melanjutkan cerita yang sudah dinantikan oleh mereka berempat.
__ADS_1