
Menuruti saran Dogma, akhirnya mereka berempat segera menarik selimut untuk tidur. Dipan di ruangan ini cukup luas untuk ditiduri dua orang. Freya tidur di sebelah kiri dekat jendela, Dogma di sisi kanan dekat dengan arah pintu sementara, Pati dan Pita tidur di tengah. Awalnya Dogma hendak tidur di kursi di ruang tamu, namun Freya bersikeras untuk tidur di ruang tamu juga dengan alasan takut tidur di sebuah kamar hanya dengan Pati dan Pita. Meski di bawah selimut, pikiran mereka masih saja siaga sambil membayangkan hal-hal diluar nalar. Setelah satu jam berlalu mereka akhirnya menyerah dan terlelap juga, kecuali Dogma.
Setelah memastikan Freya, Pita dan Pati tertidur, Dogma bangkit dari dipan dengan sangat hati- hati. Ia membuka pintu dan melangkah dengan pelan, dipastikan tak ada suara yang ditimbulkannya. Kini Dogma sudah di depan pintu keluar, Ia menghela nafas panjang sebelum melangkah keluar rumah. Begitu di luar Ia segera disambut oleh angin malam yang membawa aura mencekam, meski Ia telah memakai baju berlapis tetap saja dingin menembus tulangnya.
Namun hal ini tak membuat Dogma mengurungkan niatnya untuk menemui sang pelantun lagu tersebut.
Perlahan Dogma menyusuri jalan lembah yang belum pernah Ia lalui sebelumnya. Meski belum purnama penuh, beruntung malam ini bulan separuh dan awan seolah enggan menghalangi sinar lembut sang dewi malam, sehingga jalanan lembah yang curam terlihat dengan jelas. Jalan yang dilalui oleh Dogma biasanya ramai digunakan penduduk desa disiang hari, namun di bawah cahaya bulan jalan ini terasa mencekam.
Setelah berjalan sekitar 15 menit sambil mempertajam pendengaran agar bisa mengetahui secara akurat letak sumber suara, akhirnya Ia sampai di sebuah pohon besar. Pohon besar ini tepat di samping air terjun. Namun begitu Ia sampai di sana nyanyian itu berhenti dan Ia tak menemukan siapapun di sana. Yang Ia dengar sekarang hanya suara gemuruh air terjun.
“Keluarlah, aku tahu kau bersembunyi di atas pohon, Siry.” Dogma berkata sambil menatap pohon besar dihadapannya.
Pohon besar ini digunakan untuk rumah oleh beberapa jenis hewan. Begitu melihat Dogma, seseorang yang dipanggil Siry segera terbang turun dari pohon.
“Dogma! Kaukah itu!? Kau masih hidup?!?” Seorang wanita bersayap jingga muda dengan sepasang kaki berbentuk kaki seekor burung menghampiri Dogma.
__ADS_1
“Yang Satu hanya mengusirku dari Taman Surga, bukan mentiadakan aku dari dunia ini.” Jawab Dogma agak kesal.
“Maaf sudah menanyakan hal yang membuatmu mengingat kenangan yang mungkin tak ingin kau ingat kembali.” Siry segera menimpali dengan perasaan bersalah.
“Hei, itu terjadi ribuan tahun yang lalu. Tak perlu memasang wajah bersalah seperti itu. Aku baik- baik saja membicarakan yang yang telah berlalu sangat lama itu, dan aku menikmati waktuku di bumi.” Jawab Dogma sambil tersenyum.
Mereka berbincang menanyakan kabar masing- masing, Dogma banyak menanyakan kabar kawan-kawan dewa yang turun ke bumi untuk bertugas.
“Siry, lagu yang kau nyayikan tadi apa itu tentang aku?” Akhirnya Dogma menanyakan hal yang mengganggu pikirannya sejak pertama kali mendengar lagu itu.
“Terima kasih Siry, tak kusangka aku memiliki sahabat sebaik kalian semua di bumi. Sungguh aku terharu.” Jawab Dogma sambil menatap Siry dengan bahagia.
“Siry, sekarang aku berpetualang bersama dengan gadis berusia dua belas tahun dan juga sepasang burung merpati. Jadi tolong rahasiakan Identitasku. Selama beberapa tahun ini, aku selalu berpetualang dari satu tempat ketempat yang lainnya dengan manusia sampai manusia itu menua hingga meninggal. Setelah itu aku akan mencari petualangan baru bersama manusia lainnya. Bukankah itu hal yang menyenangkan untuk mengisi hari-hariku Siry.” Kata Dogma sambil tersenyum, meski Siry tahu dibalik senyum lembutnya sebenarnya Dogma sangatlah kesepian namun Ia tak dapat menemukan kata-kata indah untuk menghibur sahabatnya.
Mereka berdua kini duduk di bawah pohon menghadap air terjun. Mereka berbincang sambil mengenang indahnya masa yang telah lama berlalu, Siry menceritakan banyak versi kisah tentang dewa yang terusir dari surga, tanpa Dogma ketahui kisah tentang dirinya yang jatuh cinta pada manusia menjadi cerita yang terkenal dan tersebar luas, hingga menjadi dongeng yang menyayat hati.
__ADS_1
“Siry, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu. Tentang mahluk yang menghisap darah manusia. Apa kau tahu tentang dia?” Tanya Dogma sambil menatap Dogma.
“Iya, penduduk di sini menyebutnya Nightwalker, nama aslinya adalah Dracias. Ia adalah bangsa vampir yang memiliki kekuatan spiritual yang tak bisa disepelekan. Semua mahluk yang pernah Ia kalahkan akan Ia jadikan sebagai bawahannya, termasuk aku.” Ucap Siry sambil menunduk menyesali betapa lemahnya dirinya.
“Kami harus mengikuti semua perintahnya, jika tidak Ia kan membunuh orang yang berharga bagi kami, Ia sungguh cerdas dan licik, kami tak mempunyai pilihan kecuali mengikuti perintahnya.” Lanjut Siry dengan suara gemetar, Dogma bisa merasakan kemarahan sekaligus kesedihan di dalam suara sahabatnya itu.
“Siry, aku memang baru disini, namun aku tak akan membiarkan penduduk dan juga kau merasakan penderitaan lebih dari ini. Aku akan berusaha mencari cara agar penduduk selamat dan kalian bisa bebas dari perbudakan mahluk itu.” Sekilas tampak kilatan amarah dalam mata Dogma.
“Baiklah Siry, aku rasa aku sudah terlalu lama berada di sini sebaiknya aku segera pergi.” Kata Dogma sambil bangkit dari duduknya. Sebelum Dogma benar-benar pergi, Siry membisikan sesuatu di telinga Dogma.
“Dogma, Dracias tinggal di dalam gua yang berada di balik air terjun ini.” Mendengar hal ini Dogma bingung kenapa mereka berani sekali membiacarakan seseorang dengan jarak sedekat itu. Menjawab kebingungan di wajah Dogma Siry membisikan sesuatu kembali.
“Tenang Ia tak akan mendengar percakapan kita, karena suara gemuruh air terjun ini.” Hal ini cukup melegakan bagi Dogma. Dogma segera melangkahkah kaki menuju rumah dimana Freya, Pati dan Pita sedang tertidur pulas. Siry melambakan tangannya untuk yang terakhir kalinya sambil berkata.
“Dogma, aku jatuh cinta padanya.”
__ADS_1
Mendengar hal itu tentu Dogma terkejut dan bingung. Namun Siry sudah terbang kembali keatas pohon. Dengan perasaan bingung, Ia mempercepat langkahnya menuju rumah di atas lembah. Dogma menarik nafas panjang dengan lega beruntung saat tiba di rumah, mereka bertiga masih terlelap. Ia segera kembali tidur hingga pagi menjelang. Keesokan paginya mereka segera menyantap sarapan yang dibawa oleh bibi Hilni kemarin. Setelah selesai sarapan, mereka segera berkemas ke rumah bibi Hilni untuk mendapat penjelasan banyak hal.