
Dracias melepaskan pemuda yang akhirnya meminta maaf pada Dracias berulang kali. Dogma dan Dracias mengikuti mereka sambil tetap waspada. Tak lama mereka berjalan, tibalah mereka di sebuah pemukiman. Bentuk desa itu tak jauh beda dengan Vlaris yang ada dalam ingatan Dracias ribuan tahun yang lalu. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa warga yang penasaran. Mereka tak pernah menerima orang luar masuk ke dalam wilayah mereka, begitu pula sebaliknya mereka tak pernah keluar dari wilayah Vlaris.
Sepanjang perjalanan mereka menceritakan sekilas keadaan desa. Untuk memenuhi kebutuhan mereka bertani dan berburu. Mereka terus berjalan menuju rumah yang begitu Dracias kenal, itu bekas rumah Dracias ribuan tahun yang lalu.
“Kami akan mengantarkan Tuan berdua pada kepala desa.” Kata orang yang pertama kali mengenali Dracias. Dogma dan Dracias mengikuinya tanpa protes.
Begitu sampai di rumah yang dimaksud, keluarlah seorang pria tua yang di matanya tercermin kebijaksanaan. Pria yang tadi mengantar Dracias dan Dogma beserta teman-temannya segera undur pamit. Begitu melihat Dracias, Ia segera mempersilahkan mereka berdua masuk.
“Saya Genta, kepala desa di Vlaris. Hanya seorang vampir yang memiliki cahaya dari tubuhnya, dan vampir satu-satunya yang masih ada yaitu Dracias leluhur kami.” Pria tua itu membuka percakapan.
“Aku Dracias, yang telah bersumpah mengembalikan bangsa vampir Vlaris. Aku datang hari ini untuk memenuhi sumpahku ribuan tahun yang lalu.” Kata Dracias dengan tegas.
“Veny!” Pria tua itu tiba-tiba berteriak. Bersamaan dengan itu seorang gadis lugu berumur sekitar tujuh tahun keluar.
“Dia adalah cucu kesayanganku. Jika benar Tuan adalah Dracias yang kami tunggu, buktikanlah.” Katanya sambil menyodorkan tangan gadis kecil yang tampak ketakutan itu.
“Jangan takut cucuku yang manis, pinjamkan tanganmu pada paman yang tampan ini.” Kata pria tua itu berusaha menenangkan gadis itu.
Tentu saja kata-kata pria tua itu tak berpengaruh banyak pada gadis yang sedang gemetaran itu.
“Berikan aku gelas.” Pinta Dracias, gadis kecil itu mengambil kesempatan menjauh dari Dracias sambil berlari masuk mengambil helas.
__ADS_1
“Aturannya adalah Ia harus meminum darahku, bukan aku yang meminum darahnya.” Kata Dracias sambil menatap kesal ke arah pria tua itu. Dracias kesal, jika cerita tentang pencarian Dracias diceritakan turun-temurun sejak ribuan tahun kenapa cara Dracias mengembalikan mereka menjadi vampir tak diterangkan juga secara rinci. Kini kesannya terlihat Dracias adalah vampir yg membawa 'virus vampir' kepada siapapun yang digigitnya.
Cukup lama gadis kecil itu akhirnya keluar sambil membawa tiga buah gelas bersama dengan teko yang berisi teh. Dracias memandang dengan dahi berkerut.
“Ha ha ha, kau cukup tahu sopan santun dalam menerima tamu ya. Kau memang cucuku.” Kata-kata pria tua itu membuat gadis kecil itu tersenyum bangga.
Dogma hanya tertawa melihat kepolosan gadis itu mengingatkannya pada Freya. Jantungnya mulai berdebar.
“Tidak, jangan sekarang.” Dengan segera Ia mengalihkan pikirannya dan mengambil satu gelas untuk diberikan pada Dracias.
Dracias segera mengeluarkan pisau lipat di balik jubahnya. Ia memotong beberapa nadinya dan segera menampung darahnya di gelas yang ia terima dari Dogma. Dan memberikan gelas tersebut pada pria tua di hadapannya. Darah Dracias di gelas pun tampak berkilau redup. Pria tua itu membujuk cucu tercintanya untuk meminum darah Dracias.
"Lalu, yang di samping Tuan Dracias pastilah Dewa yang terusir." Kata pria tua itu sambil menatap Dogma. Dogma hanya mengangguk pelan.
Karena perlu menunggu purnama untuk memberikan darah Dogma, mereka bertiga sepakat untuk menahan pemberian darah Dracias kepada penduduk lainnya hingga datangnya purnama. Disamping itu, Dogma dan Dracias tak akan mampu memberikan satu gelas darahnya ke semua penduduk di waktu yang bersamaan. Mereka memutuskan untuk memberikah darah mereka secara bertahap, maksimal sepuluh orang dalam satu purnama. Karena jumlah penduduk Vlaris sekitar seribu orang dari yang tua hingga bayi, maka mereka akan membutuhkan waktu sekitar delapan tahun untuk mengubah seluruh penduduk Vlaris.
“Seandainya darah penduduk Vlaris yang sudah menjadi vampir bisa turut mengubah penduduk lainnya menjadi vampir tentu itu akan mempercepat prosesnya.” Kata kepala desa.
“Itu tak akan terjadi, hanya vampir murni sepertiku yang dapat mengubahnya.” Jawab Dracias.
Sambil menunggu datangnya purnama yang akan tiba dua pekan kemudian, mereka dipersilahkan untuk tinggal di rumah kepala desa tersebut.
__ADS_1
Esok harinya setelah kedatangan Dracias dan Dogma ke Vlaris, kepala desa mengadakan rapat dengan perangkat desa untuk membicarakan kedatangan mereka.
“Tentu kabar ini sudah kalian dengar, kemarin Vlaris kedatangan seseorang yang telah kita nantikan selama ribuan tahun. Sungguh kabar menyebar lebih cepat dari kepakan sayap burung Falcon. Yang ingin aku katakan adalah bahwa sungguh berita itu benar adanya, yang datang adalah Tuan Dracias satu-satunya vampir yang tersisa. Beliau berniat untuk mengembalikan kejayaan bangsa vampir di Vlaris.” Kepala desa diam sejenak sambil menatap sekeliling peserta rapat.
“Tapi, jika kami kembali menjadi vampir dan tak mendapatkan darah manusia. Bukankah itu menakutkan?” Tanya salah satu peserta rapat yang disetujui oleh peserta lainnya.
“Sungguh kabar yang beredar memang tak lengkap. Beliau datang bukan hanya membawa masalah namun juga membawa solusi bagi kita. Dewa yang terusir dari Taman Surga bersamanya. Tapi kita tak bisa langung percaya dengan apa yang Mereka katakan, kita harus menguji kebenaran cerita mereka.” Ruangan kembali riuh sejenak.
“Veny kemarilah.”
Sang cucu kepala desa muncul dari balik pintu dengan langkah pelan. Semua hadirin rapat terkesima melihat cahaya yang meski redup terlihat dengan jelas memancar dari tubuhnya.
“Ia sudah meminum darah tuan Dracias yang agung, kini Ia vampir yang memerlukan darah manusia setiap purnama sama seperti leluhur kita dahulu. Saat purnama nanti cucuku tak akan meminum darah manusia, namun darah dewa yang terusir. Jika hal itu berhasil baru kita bisa melakukan hal yang sama pada penduduk Vlaris. Aku menjadikan cucuku tersayang sebagai percobaan ini karena aku percaya pada mereka berdua.”
Semua peserta rapat setuju dengan ide kepala desa dan menunggu hasilnya hingga purnama nanti.
“Aku tahu, kita dan leluhur kita sudah hidup sebagai manusia sejak beberapa generasi. Tak akan mudah untuk memutuskan hidup menjadi vampir disisa hudup kita. Namun ingatlah, darah vampir yang terhormat mengalir indah dalam tubuh kita! Leluhur kita yang pertama diubah menjadi manusia menantikan hal ini terjadi, darah kita menunggu selama ribuan tahun untuk dibangkitkan. Bangsa vampire Vlaris yang sirna ribuan tahun yang lalu harus berdiri kembali di masa kita!” Kata-kata kepala desa membakar semangat seisi ruangan.
Meski pertemuan telah dibubarkan dan mereka pulang ke rumah masing-masing namun semangat dan harapan masih membara di dada keturunan bangsa Vlaris yang terhormat.
Kepala desa hanya tinggal bersama anak perempuan dan cucunya di rumah yang lumayan besar. Karena cucu kepala desa diajak menghadiri rapat, kini tinggallah anak perempuan kepala desa. Dogma membantu beberapa pekerjaan rumah sambil menunggu datangnya purnama. Namun menunggu bukanlah kebiasaan Dogma, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ia segera meminta ijin pada pemilik rumah untuk berkeliling Vlaris. Sementara Dracias memutuskan untuk diam di kamar karena dengan tubuhnya yang bercahaya akan menarik perhatian penduduk Vlaris.
__ADS_1