The Last Path

The Last Path
Dewa Tanpa Sayap dan Vampir Terakhir


__ADS_3

Meski tak memiliki sayap, Dogma masihlah memilki kemampuan seorang dewa. Insting mahluk itu tahu betul ada kekuatan besar yang bersemayam di tubuh Dogma setelah melawan Dogma tadi.


Dogma segera mengutarakan maksud kedatangannya, mahluk itu diam sejenak mendengarkan Dogma sebelum gusar kembali.


“Ha ha berani sekali kau mengatakan hal itu. Meski kau lebih kuat dariku, bukan berarti aku akan menuruti permintaanmu tanpa perlawanan!”


Sambil berkata demikian, mahluk itu mengambil ancang-ancang untuk menyerang kembali.


“Tunggu! Aku meminta hal ini bukan tanpa alasan.”


Dogma segera menimpali, namun pukulan terlanjur dilancarkan dan Dogma tak sempat mengelak. Kali ini lengan Dogma yang terkoyak. Dewa yang harus tinggal di bumi itu marah, dengan gerakan yang tak dapat diikuti oleh mata Nightwalker Ia sudah mengunci gerakan tangan mahluk haus darah itu.


“Dilarang memotong pembicaraan orang! Tidakkah kau diajari sopan-santun sederhana ini?!” Kata Dogma marah.


Dogma membisikan sesuatu di telinga mahluk itu lalu melepaskan cengkramamnnya.


“Pikirkanlah dengan baik, kesempatan emas tak akan datang dua kali dalam hidupmu Nightwalker, tidak harusnya kupanggil Dracias. Aku akan datang menemuimu satu pekan kemudian.” Sambil berkata demikian Dogma berjalan meninggalkan Nightwalker yang telihat berfikir keras.


“Berhenti meminum darah manusia!” Kata-kata pertama Dogma yang mebuat Dracias marah.


“Aku tahu kau meminum darah manusia untuk bertahan hidup dan menjaga martabatmu sebagai vampir bangsawan yang agung. Buangalah egomu, menyerahlah pada takdirmu sebagai vampir. Dengan meminum darah dewa sebanyak satu gelas, maka kau bisa menjadi manusia dan memulai hidupmu yang baru. Bukankah kau jatuh cinta pada sang putri?”.


Beberapa malam telah berlalu sejak Dogma datang padanya, namun Dracias masih saja memikirkan perkataan Dogma.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin dia tahu aku jatuh cinta pada putri kerajaan ini?”


Tanya Dracias dalam hati. Malam ini Siry datang menemui Dracias untuk berbincang dan menghabiskan waktu bersama, meski Dracias kerap bersikap kasar padanya namun Ia selalu datang. Siry melihat ada yang aneh dengan gelagat Dracias yang tampak murung.


“Apa yang membuatmu bersedih Tuanku?” Tanya Siry.


“Siry, aku jatuh cinta pada putri kerajaan ini. Apa itu terlihat dengan jelas?” Tanya Dracias. Siry begitu kaget mendengarnya, Ia tak menjawab pertanyaan Dracias.


“Maaf Tuanku, aku melupakan sesuatu dan harus segera pulang.”Kata Siry sambil bergegas terbang menjauh.


Sungguh Dracias tak mengerti arti perubahan sikap Siry yang tiba-tiba. Ia tak pernah tahu jika Siry jatuh hati padanya.


Sepeninggal Siry, Dracias melanjutkan kebimbangannya. Saat menemui sang putri di istana, tentulah sang putri bersikap manis padanya. Namun Ia tak tahu apakah itu berarti sang putri memiliki perasaan yang sama dengannya. Kalaupun sang putri juga mencintainya, mereka tak akan bisa bersama karena Ia adalah seorang vampir yang memiliki reputasi buruk di mata warga. Jika Ia memilih menjadi manusia, kesempatannya akan manjadi lebih besar untuk bisa bersama sang putri, namun Ia tak bisa melakukannya, tidak sekarang.


Siry terbang keluar secepat yang Ia mampu, perasaannya tak pernah terluka sedalam ini.


“Tidak, sakit yang kau rasakan hanya permukaannya saja. Cinta bisa membuatmu merana dirundung nestapa.” Airy tiba-tiba muncul dari belakang Siry.


Airy mendengarkan keluh kesah Siry sambil sesekali menceritakan pengalaman pahitnya dalam percintaan hingga menjelang pagi.


Malam setelah kematian Juda, Dogma tak lagi terlihat berfikir keras untuk menghentikan rutinitas persembahan. Melihat hal ini Freya merasa bingung.


“Dogma, apa rencana kita selanjutnya untuk menghentikan penumbalan ini? Apa kita akan membiarkan wanita dalam sel itu menjadi tumbal berikutnya?” Tanya Freya pada Dogma.

__ADS_1


“Freya, mungkin kau masih terlalu muda untuk mengerti, tapi apa kau pernah jatuh cinta?” Tanya Dogma tanpa menjawab pertanyaan Freya sambil menatap Freya dari dekat.


Freya kelagapan dan segera mendorong Dogma untuk menjauhkan wajahnya dari dari wajah pria tampan itu.


“Aku tak mengerti tapi ini tak baik untuk jantungku.” Kata Freya dalam hati.


“Hei, aku yang kau lakukan?” Dogma yang tak peka itu tak tahu reaksi Freya karena jatuh cinta padanya.


“Apa hubungan pertanyaanmu dengan mahluk itu?” Tanya Freya kemudian setelah berhasil menstabilkan debaran di dadanya.


“Mahluk yang kejam itu juga memiliki sisi lembut yang bisa jatuh cinta pada seorang putri.” Kata Dogma dengan yakin.


Dogma segera menceritakan dugaannya berdasarkan cerita Juda tentu saja tanpa menceritakan bahwa Ia sudah bertemu denganmahluk itu. Awalnya Dogma memang hanya menduga-duga hipotesisnya setelah Ia mendengar cerita Juda tentang mahluk itu keluar dari istana bersama sang putri. Namun saat malam persembahan Ia berhasil menguji kebenaran dari praduganya, meski Dracias tak menjawab secara langsung. Dari reaksi yang Ia tunjukan ketika Dogma memberikan penawarannya sudah bisa menjawab semuanya.


“Jadi maksudmu adalah mahluk itu membunuh manusia hanya untuk bertahan hidup seperti kita yang peru makan dan minum? Bukankah dalam cerita bibi Hilni mengatakan bahwa sebelum perjanjian ini dibuat Ia juga bisa meminum darah hewan ternak?” Tanya Freya.


“Benar, Mereka memang juga bisa meminum darah ternak untuk bertahan hidup, namun jika dalam kurun waktu satu purnama sama sekali tak meminum darah manusia maka Ia akan menjadi vampir liar yang tak memiliki akal dan akanmenjadi buas yang memiliki rasa haus darah yang tak terhingga jadi Ia akan memangsa semua mahluk hidup yang mimiliki darah. Itu lebih berbahaya untuk kita.” Meski Dogma menjelaskan panjang lebar, namun tampaknya Freya agak sulit untuk memahaminya.


“Tapi dimana kita bisa menemui dewa untuk meminta darahnya?”


“Aku akan mencari caranya.” Jawab Dogma sambil tersenyum simpul.


****

__ADS_1


Jauh di Hutan tropis bagian selatan terdapat wilayah bernama Vlaris yang dihuni oleh ratusan bangsa Vampir. Mereka hidup layaknya manusia pada umumnya, yang membedakan mereka hanyalah makanan mereka. Mereka tak makan ataupun minum apa yang dimakan dan diminum oleh manusia. Mereka hanya perlu darah segar hewan sebagai pemenuh kebutuhan tubuh mereka dan sekali dalam satu purnama mereka harus mendapatkan darah manusia untuk menjaga pikiran mereka tetap ‘terjaga’. Mereka memiliki peternakan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari mereka dan mereka menjalin kerjasama yang baik dengan desa manusia di luar hutan.


Para vampir membantu penduduk menjaga perkebunan dari hewan buas yang merusak dan setiap satu purnama warga desa memberikan darah mereka sebagai imbalannya. Para vampir hanya perlu satu gelas darah manusia setiap satu purnma untuk masing-masing vampir demi menjaga kekuatan dan daya pikir mereka. Kehilangan satu gelas darah bukanlah hal yang besar bagi para penduduk desa itu dibandingkan dengan keamanan perkebunan sumber pangan mereka.


__ADS_2