The Last Path

The Last Path
Keputusan Yang Satu


__ADS_3

“Mana mungkin ada dewa yang melakukan perbuatan serendah ini?” Ia mulai mencoba mencari kebijakan dan permakluman yang mungkin bisa diterima oleh akal dewa atas tulisan di buku Dogma, namun Ia tak menemukannya hingga tiba saat baginya untuk menghadap Yang Satu.


Merphia menghadap Yang Satu di Taman Surga dengan membawa pengetahuan yang didapatkan oleh para dewa yang bertugas di bumi untuk meminta persetujuan mendokumentasikan pengetahuan para dewa menjadi buku baku. Rupanya kegelisahan hati dewa pengetahuan itu didengar oleh Yang Satu. Bagai menyulut api dalam jerami kering, kemurkaan Yang Satu sungguh tak terelakan.


Kisah yang dituliskan di buku catatan Dogma kali ini bukanlah kisah peperangan ataupun kata-kata penuh makna seperti biasanya. Melainkan kekaguman akan kecantikan seorang anak manusia yang beberapa hari ini kerap Ia temui di bumi.


Sementara itu Dogma mulai tak mengerti dengan rasa yang kian menggebu di dalam dadanya dan selalu terasa indah saat bersama gadis Itu. Ia seorang dewa yang tak pernah merasa sedemikian gundah sebelumnya. Ia mulai mempelajari perasaannya berdasarkan ingatan-ingatan yang ada pada manusia, meskipun ini terlarang. Tak ada kata yang dapat mewakili rasa yang Ia derita saat ini.


“Apakah ini cinta? Aku tak mengerti, tapi kurasa ini indah.” Gumam Dogma sambil mengingat wajah gadis yang dilukisnya dalam buku catatan, mereka berjanji akan segera bertemu kembali.


Taman Surga tetap tenang sebagaimana mestinya, namun entah mengapa ada suasana yang mencekam dipagi itu. Semua dewa hadir di hadapan Singgasana Yang Satu betahta. Kini dihadapanNya tertunduk lunglai Dogma menyadari kesalahannya.


“Nikmat manakah yang kau dustakan wahai Dogma? Tidakkah cukup limpahan cinta dariku dan seisi Taman Surga untukmu sehingga kau mengabaikan janji yang telah kita sepakati?” Terdengar suara indah Yang Satu memecah suasana.


Dogma tak mampu berkata, sesungguhnya Ia sangat mengerti bahwa yang dilakukannya adalah kesalahan yang tak termaafkan. Hukuman bagi yang melanggar perjanjian adalah dilenyapkan keberadaan serta kenangan akan dirinya di dunia, seolah Ia tak pernah ada di dunia ini. Mendengar hal ini para dewa sahabat Dogma memohon belas kasih dari Yang Satu.

__ADS_1


Yang Satu yang penuh kasihpun mempertimbangkan permohonan para sahabat Dogma, namun janji yang terucap tak boleh ternoda maka diputuskan bahwa Dogma diusir dari taman surga dan diambilah sayap Dogma.


“Dengan ini kau akan Ku usir dari Taman Surga, tanpa sayap. Kau harus menjalani hukumanmu di bumi. Jika kau mampu melewati hingga 1.999 tahun lamanya dengan berbuat baik tanpa jatuh cinta dengan mahluk bumi, maka akan kukembalikan sayapmu untuk kembali ke Taman Surga.” Keputusan akhir Yang Satu membuat


Dogma dan para sahabat Dogma sedikit lega, bagi seorang dewa 1.999 tahun bukanlah waktu yang lama.


Sekali lagi Dogma menengok taman surga yang Ia tinggali sejak pertama kali Ia diciptakan. Kenangan yang tumbuh bersama mungkin lebih banyak dari bunga di Taman Surga. Dogma dilarang membawa apapun dari taman surga termasuk buku catatannya. Bersama dengan keputusan pengusiran Dogma dari Taman Surga, segala rasa yang selama ini terbelenggu dan terbatas telah dibebaskan oleh Yang Satu. Kini Ia layaknya manusia yang dapat merasakan cinta, benci, takut, marah, malu, dengki, cemburu, gembira, terkejut, sedih dan semua rasa yang pernah ada dengan bebas.


Sebelumnya, para Dewa bisa merasakan perasaan tersebut namun dalam porsi yang telah ditentukan secara wajar, mereka tak pernah menangis sesedih manusia, mereka tak pernah tertawa sebahagia manusia dan mereka tak pernah marah semarah manusia. Semua rasa yang ada terkontrol secara sempurna.


Yang Satu memutuskan untuk tak mengganti posisi dewa pengatur ingatan yang selama berabad-abad ini Dogma pegang. Posisi ini dibiarkan kosong, Mahluk bumi harus mengasah otak meraka, menyimpan dan mengatur ingatannya sendiri jika mereka tak ingin melupakan sesuatu.


Saat menyentuh anak tangga pertama, Dogma mulai merasakan rasa sesak oleh luapan campuran emosi yang ada di dalam benaknya. Ia sangat asing dengan perasaan itu. Melangkah anak tangga yang ke dua ada rasa sedih yang begitu kuat, untuk pertama kalinya dewa tak bersayap itu meneteskan air mata, Ia menangis sejadi-jadinya mengingat Ia akan berpisah dengan teman-temannya. Sambil menguatkan hatinya Ia melangkah ke anak tangga ke tiga Dogma merasa terjejut, Ia terkaget-kaget dengan apa yang Ia rasakan.


Sambil berusaha menguasai keadaan, Ia beranjak ke anak tangga ke empat perasaan gembira menyelimuti hatinya mengingat bahwa Ia akan berada di bumi yang sama dengan wanita yang Ia sukai. Namun saat di anak tangga ke lima, Ia curiga ada pria lain bersama wanita itu selama mereka tak bertemu. Perasaan cemburu yang kian kuat membuat Dogma segera menuruni anak tangga ke enam. Hatinya mulai dirasuki rasa dengki yang entah berasal dari mana. Di anak tangga berikutnya Ia merasakan malu yang teramat sangat.

__ADS_1


Sambil terus menuruni tangga ke delapan Ia merasa begitu marah, Ia ingin melampiaskannya namun Ia


tak tau caranya.


Setelah memikirkan beberapa saat tanpa ada jalan keluar Ia memutuskan untuk melangkah ke tangga ke sembilan. Rasa takut menjalari sekujur tubuhnya, dewa yang terusir itu menggigil, perasan takut akan kehidupan di bawah sana yang akan Ia jalani. Begitu menengok ke belakang, Ia barulah menyadari bahwa tangga di belakangnya telah menghilang.


Tak ada jalan kembali, Ia menutuni tanggal ke sepuluh dan rasa bencipun menyeruak dalam pikirannya, Ia mulai membenci dirinya sendiri karena telah melakukan hal bodoh. Ia berusaha menyakiti dirinya sendiri sampai terdengar bisikan lembut ditelinganya,"teruslah melangkah kau akan mengerti semuanya".


Dogma tak punya pilihan, Ia menuruni tangga kesebelas. Perasaan damai dari cinta menghangatkan kalbunya. Ia merasa bengitu damai. Perasaan ini mengingatkan akan kehidupannya di Taman Surga. Di langkah berikutnya Dogma mulai tersadar, bahwa kini Ia bisa merasakan segala rasa dengan bebas.


Sekali lagi Ia menengok ke belakang, namun semua telah menghilang, para dewa bahkan bayangan Taman Surgapun tak terlihat. Hanya ada hamparan langit kosong. Sejak saat itu, Yang Satu memutuskan bahwa Dewa tak dapat terlihat oleh mata manusia biasa.


Dengan perlahan Dogma menuruni tangga demi tangga.


Bukan hal yang mudah bagi seorang dewa untuk berjalan jauh, mereka terbiasa memakai sayap mereka. Jarak Taman Surga dan Bumi bukan hal yang dapat diperkirakan. Dogma menghabiskan waktu 191 tahun untuk sampai di Bumi, sepanjang perjalanan bayang wajah Evenstarlah yang menjadi penyemangatnya untuk segera sampai di Bumi.

__ADS_1


__ADS_2