The Last Path

The Last Path
Kembalinya Vampir Vlaris


__ADS_3

Di halaman pertama dituliskan bahwa itu adalah buku cetakan ke 30, di sana juga diterangkan tahun pertama dicetak itu adalah ribuan tahun yg lalu, kemudian generasi selanjutnya mencetak ulang buku tersebut dengan isi yang sama persis sebagaimana buku pertama ditulis. Dogma membaca dengan seksama. Di sana diceritakan tentang persahabatan bangsa vampir dan manusia di desa Xiandra. Hingga kehancuran desa Xiandra yang menjadi penyebab petaka yang timbul di Vlaris.


“Bangsa Vlaris yang nyaris hancur, diselamatkan oleh Dewa Agung yang muncul. Diberikanlah darah Dewa yang Agung secara cuma- cuma, namun kami tak sempat bertanya nama. Dewa memperkenalkan diri sebagai pengatur mimpi, padanya sungguh kami berhutang budi. Meski menjadikan kami manusia fana, padanya kami tetap berhutang nyawa. Kami hanya perlu menunggu sang pengembara datang, bersama dewa yang terbuang.” Kata-kata bagian ini sungguh mengganggu Dogma.


"Dewa mimpi yang mereka maksud pastilah Fantasos, ini setahun dari tahun saat aku diusir dari Taman Surga. Apa ini memang rencana Yang Satu untuk menurunkan aku ke bumi untuk menyelamatkan penduduk Vlaris? Harusnya aku tak menyembunyikan keberadaanku sejak pertama aku tinggal di bumi.


Seandainya saja aku bertemu mereka lebih cepat, mungkin Dracias tak perlu melakukan banyak dosa. Dan penduduk Vlaris tak perlu menunggu selama ribuan tahun lamanya." Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Dogma.


Meski banyak hal yang Ia tak mengerti, akhirnya Ia tahu bahwa kehadirannya di bumi memang sebuah ikatan takdir yang harus terjadi. Jika bukan dirinya, pasti ada dewa lainnya yang harus turun demi kembalinya bangsa vampir Vlaris. Tak ada kejadian yang sia-sia, tak ada pertemuan yang kebetulan, semua sudah diatur sedemikian rupa. Isi selanjutnya buku tersebut hanyalah petuah- petuah kebijaksanaan bangsa vampir Vlaris.


Dogma melanjutkan membaca sekilas buku- buku lain tentang sejarah Vlaris, namun hanya berisi sejarah biasa layaknya buku sejarah yang kerap Ia temui di wilayah lain. Memang sejak di Taman Surga Dogma menyukai sejarah-sejarah kuno meski tak ada hubungan dengan pekerjaannya sebagai dewa pengatur ingatan manusia. Tak terasa Ia telah berada di sana hingga sore, nenek penjaga perpustakaan segera menegur Dogma agar segera beranjak karena Ia akan segera menutup perpustakaan. Dengan berat hati Dogma pulang dan berjanji akan datang kembali suatu saat untuk membaca.


T


ak terasa purnama yang sudah dinantikan telah tiba. Warga Vlaris kembali berkumpul di lapangan. Hadir di atas panggung kepala desa, Veny, Dracias, Dogma dan dua orang pria membawa sepuluh gelas dan pisau.


“Wahai penduduk Vlaris, satu purnama telah berlalu sejak Veny kembali menjadi vampir sebagimana leluhur kita. Ia dapat berdiri di bawah cahaya bulan purnama tanpa kehilangan kesadaran dan tanpa perlu meminum darah manusia berkat darah Dewa yang terusir, begitu pula dengan tuan Dracias. Kini saatnya kita mengikuti jejak mereka untuk memenuhi panggilan darah kita yang telah menantikan hal ini selama ribuan tahun.


Namun karena darah yang ada di tubuh tuan Dracias dan tuan Dogma tak bisa memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Vlaris yang berjumlah ribuan, kami memutuskan untuk mengatur sepuluh orang setiap satu purnama dimuali dari yang tua dan sakit-sakitan terlebih dahulu. Kami telah membuat daftarnya, bagi yang namanya dipanggil silahkan naik ke atas panggung.”


Pemuda berumur dua puluh tahunan muncul dari bawah membawa lembaran nama-nama dan memenggil mereka satu per satu.

__ADS_1


“Yang pertama kakek Zudi,” seorang pemuda segera naik panggung sambil menggendong kakeknya ke atas panggung.


Kakek itu di dudukan di kursi yang telah disediakan di atas panggung. Dracias segera memotong salah satu nadi di tangannya dan menuangkan darahnya ke gelas lalu dibantu oleh cucunya, kakek itu segera meminum darah tersebut. Setelah bergetar seluruh tubuh kakek tersebut sebentar, kemudian keluar cahaya dari tubuhnya semua hadirin bersorak gembira menyambut kebangkitan kembali bangsa vampir Vlaris yang sudah di depan mata. Kakek yang awalnya tak bisa berjalan itu perlahan Ia merasakan tubuhnya mendapat kekuatan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya, Ia bangkit dengan perlahan dibantu oleh cucunya. Ya kakek itu kini bisa berdiri dan berjalan seperti sebelum sakit.


Karena malam ini adalah purnama, tanpa menunggu lama Dogma segera memberikan darahnya untuk menghindari ‘penyakit vampirnya’ kambuh. Melihat hal ini seluruh hadirin terkesima dan mengelu-elukan Dracias dan Dogma.


“Terpujilah leluhur vampir Dracias yang agung! Terpujilah Dewa yang terusir Dogma!”


“Ehm, pujian untukku haruskah berisi kata ‘yang terusir’? Itu sedikit menyakitkan.” Bisik Dogma pada Dracias.


“Kau pantas menyandang nama itu.” Kata Dracias singkat.


"Oh sungguh vampir yang tak bisa diajak bercanda."Sunggut Dogma dalam hati.


Memang keputusan untuk mendahulukan orang sakit ataupun tua dalam pemberian darah adalah hal yang tepat. Acara pemberian darah ditutup dengan acara makan- makan oleh seluruh penduduk yang hadir. Meski masih ada sekitar delapan setengah tahun untuk mengembalikan semua penduduk menjadi vampir. Malam ini mereka bersuka ria tua muda semua tertawa. Perpurnama ini jumlah seluruh vampir generasi baru berjumlah dua belas orang.


***


Tujuh purnama telah berlalu sejak kepergian Dracias dari kerajaan Phantasia, jauh di Vlaris Dracias tak tahu bahwa Ia telah menjadi ayah dari seorang putra yang sehat. Ia tak pernah tahu putri Kyra yang dicintainya kini tinggal di wilayah pinggiran kerajaan Phantasia. Setiap hari bekerja keras demi mendapatkan makanan, meski sesekali dijenguk oleh Freya dan Siry, namun putri Kyra lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian. Freya pernah menawari putri Kyra untuk tinggal bersamanya, namun Ia menolak tawaran Freya.


Pagi buta tujuh purnama yang lalu, saat Dracias berpamitan padanya Dracias berjanji akan kembali apapun yang terjadi.

__ADS_1


“Bawa aku bersamamu Dracias, aku tak mau tinggal di tempat yang tak ada kau di dalamnya.”


Meski putri Kyra merajuk, Dracias tetap menolak untuk membawa putri Kyra bersamanya.


“Aku akan kembali ke Vlaris, di sana rumah bagi bangsa vampir. Meski aku percaya mereka tak jahat, itu terlalu bahaya untukmu. Tunggulah, begitu urusanku disana selesai aku akan kembali padamu.”


Dracias berbicara lembut sambil menatap gadis yang begitu berharga untuknya. Ya itu kata- kata Dracias tujuh purnama yang lalu.


Dengan berat hati putri Kyra menerima keputusan sepihak Dracias. Meski berat baginya menjalani kehidupan tanpa Dracias, Ia bertahan menunggu hari dimana janji itu akan terpenuhi.


Saat mereka berbincang seperti biasanya, tiba- tiba perut sang putri sakit, mereka berdua panik, kemudian Siry lekas terbang keluar untuk mencari bantuan. Dan Freya sibuk menenangkan sang putri. Tak lama kemudian, Siry datang bersama bibi Hilni. Begitu melihat keadaan sang putri yang sudah pecah air ketubannya bibi Hilni segera meminta untuk disiapkan air bersih. Freya bolak balik mengganti air bersih untuk membantu proses persalinan, sementara Siry memegang tangan putri Kyra untuk menguatkan hati sang putri. Kepanikan mereka terbayar lunas oleh suara tangis bayi laki- laki.


“Dyra, nama putraku adalah Dyra.” Ucap sang putri pada Freya, Siry dan bibi Hilni sambil tersenyum setelah lelah berjuang melahirkan putra pertamanya. Freya dan Siry begitu lega semua berjalan dengan baik. Sungguh hari ini adalah hari yang melelahkan bagi keduanya. Setiap hari Minggu mereka berdua selalu berkunjung ke rumah putri Kyra, terutama di usia kandungan putri Kyra yang sudah menginjak sembilan bulan. Ketika menjelang malam, Freya dan Siry berpamitan, sementara bibi Hilni memutuskan untuk tinggal menemani putri Kyra. Meski putranya menjadi salah satu korban dari Dracias, Ia dengan iklas membantu kelahiran putra Dracias. Jauh di dalam lubuk hati bibi Hilni ingin berbuat jahat dan membalaskan sakit hatinya namun ketika melihat bayi tak berdosa itu bibi Hilni tersadar.


“Sungguh berdosa aku jika berbuat buruk pada bayi yang bahkan belum tahu arti dosa ini.”


“Bibi, aku tahu putramu menjadi salah satu korban kekejaman Dracias, tapi aku berterima kasih atas kebaikan hatimu hari ini. Katakan, adakah yang bisa aku lakukan untuk mengurangi luka di hati Bibi?” Kata putri Kyra seakan mengerti perasaan bibi Hilni yang sedang menatap putranya.


“Tidak Tuan Putri, semua yang telah terjadi adalah takdir dari Yang Satu, ini bukan salah Tuan Putri. Meski saya membenci ayah dari bayi Anda, tidaklah pantas bagi saya untuk berbuat jahat pada mahluk tak berdosa ini.” Jawab bibi Hilni dengan sopan, meski telah diusir dari kerajaan bibi Hilni masih menghormati putri Kyra.


“Bibi bisa memanggilku Kyra, tak perlu bicara formal begitu. Aku bukanlah putri kerajaan Phantasia lagi.” Jawab putri Kyra sambil tersenyum, namun bibi Hilni tahu putri Kyra mengatakannya dengan hati yang sedih.

__ADS_1


Seiring bertumbuhnya Dyra, hubungan mereka semakin dekat bagaikan seorang ibu dengan anak dan cucunya. Meski tak belum memiliki figur seorang ayah, Dyra tumbuh dengan kasih sayang yang berlimpah dari Ibu dan neneknya juga dari Freya dan Siry.


__ADS_2