The Last Vampir Hunter

The Last Vampir Hunter
Hutan Terlarang


__ADS_3

"Dia adalah Vampir, jangan biarkan dia mengetahui bahwa Ryder adalah hibrid. Aku lupa memberitahumu, beredar kisah di kalangan para Vampir. Mereka mempercayai bahwa darah hibrid dapat membuat kekuatan mereka berkali-kali lipat dan membuat mereka kebal terhadap matahari," terang Edden.


Tidak bisa dibayangkan jika Vampir juga kebal terhadap matahari. Maka dapat dipastikan mereka akan menguasai dunia.


"Itu artinya, jika mereka mengetahui keberadaan Ryder. Maka mereka akan memburunya?" Blaire melanjutkan dan memastikan, apakah pikirannya benar.


"Ya dan kau tahu mengapa aku memutuskan untuk tidak menemuimu adalah karena ini juga. Kau tahu Clara mencurigai sesuatu," lanjut Edden lagi.


Dia ingat saat Clara hampir saja memergokinya saat bersama Blaire. Jika manusia cemburu saja sudah seperti kiamat. Apalagi Vampir yang cemburu, entah apa yang akan terjadi?


"Lalu, bagaimana sekarang?" Blaire menjadi ketakutan.


"Tenanglah, suruh saja Ryder menghindari wanita itu." Edden menggenggam tangan Blaire untuk memberinya kekuatan.


"Aku akan melakukannya." Blaire meyakinkan diri semua akan baik-baik saja. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putranya.


***


Satu bulan berlalu, Nazira merasa kehabisan waktu, dia belum menemukan titik terang tentang keberadaan Ryder Collins. Nazira tidak bisa lama-lama di sini. Dia mencemaskan masa depan. Tidak tahu apa yang terjadi di sana? Apakah tempat persembunyian mereka di sana masih aman?


Hari ini day off Nazira dia nekat menuju hutan terlarang sendirian. Nazira berpikir akan meminjam mobil kakeknya.


Selesai makan siang, Nazira akan berbicara dengan Evan, agar bisa meminjamkan mobilnya. Nazira sendiri telah menyiapkan perlengkapannya untuk memasuki hutan terlarang.


"Evan, bolehkah aku meminjam mobilmu?" tanya Nazira hati-hati. Dia tengah membantu Ezra merapikan meja makan dan meletakan piring kotor di wastafel.


"Kau mau ke mana?" Evan menyuci piring bekas mereka makan.


"Aku ada keperluan," jawab Nazira.


"Bolehkah aku ikut?" tanya Kai. Dia masih duduk di meja makan sambil memainkan mobil-mobilannya.


"Tidak bisa, tempat yang akan aku datangin tidak cocok untuk anak kecil," tolak Nazira.


"Yah, padahal aku ingin pergi bersamamu," rajuk Kai.


Nazira tidak tega melihatnya. Namun, dia tidak bisa membiarkan anak kecil ikut didalam misi berbahayanya.


"Apa boleh aku memakai mobilnya?" Nazira kembali bertanya karena belum mendapat jawaba dari Evan.


"Tentu saja." Meskipun Evan sedikit takut, jika Nazira membawa mobil dengan tidak hati-hati.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap." Nazira langsung menuju kamarnya.


Nazira mengganti pakaian dengan kemeja lengan panjang dan celana hitam. Namun, di dalam pakaian itu Nazira juga mengenakan stelan kulit sebagai perisai saat dia bertarung dengan Vampir nanti. Wanita masa depan itu memeriksa kembali perlengkapannya. Setelah memastikan semua lengkap, Nazira keluar dari kamar dan menyandnag tas ranselnya.


Evan dan Ezra melihat Nazira dengan tas ransel.


"Kau akan pergi?" tanya Evan, dia sedikit curiga dengan isi tas Nazira. Setahu Evan tas itu berisi perlengkapan memburu Vampir.


Apalagi Evan telah melihat sendiri bahwa Vampir itu ada. Mereka bahkan telah berkelahi dan hampir terbunuh beberapa hari yang lalu.


Mereka memang kembali ke sana pada siang hari. Namun, mendapati rumah itu kosong. Tadinya mereka ingin mengeluarkan Vampir yang tengah tertidur agar terbakar dibawah sinar matahari. Sayang, mereka tidak menemukan apa-apa.


"Memang kau mau kemana dan keperluan apa?" Evan kembali bertanya kepada Nazira.


"Aku ingin mencari beberapa referensi," elak Nazira.


"Referensi apa?" selidik Evan, jangan sampai Nazira melangkah sendiri dan memburu Vampir. Itu sangat berbahaya.


"I-tu--,"


"Jujur saja, apa kau berencana mencari mereka sendirian?" Evan pikir Nazira akan ke pemukiman lama lagi.


"Aku akan ikut denganmu," putus Evan.


"Tunggu di sini, aku juga akan berganti pakaian." Evan menuju kamarnya.


Ezra curiga dengan hubungan suaminya dan Nazira. Apa mereka berselingkuh? Istri Evan itu menjadi cemburu. Tidak mungkin ini tentang Vampir? Mengapa Jacob dan yang lainnya tidak ikut?


"Sebenarnya kau mau kemana?" curiga Ezra. Nazira menangkap nada tidak suka dari neneknya.


Apakah neneknya berpikir dia menyukai Evan? Kakeknya sendiri? Memang sih jika dilihat, usia mereka tidak jauh berbeda saat ini.


"Kau tidak menyukai suamiku, bukan?" tuduh Ezra.


"Tentu saja tidak dan tidak mungkin." Nazira ingin tertawa, tapi ditahannya.


Ezra lega mendengarnya, setidaknya dia dapat melihat Nazira memang tidak tertarik dengan Evan. Justru pandangan Nazira baik kepadanya maupun kepada Evan, seperti menyayangi orang tua sendiri. Begitupun dengan Kai.


"Aku telah siap, ayo pergi." Evan datang dengan membawa perlengkapannya juga.


Setelah mencium Ezra dan Kai. Mereka keluar dan memasuki mobil. Evan mengemudikan mobil keluar dari pekarangan.

__ADS_1


"Sekarang katakan tujuanmu, Nona Muda?" Evan menghentikan mobil di luar menuju jalan besar. Dia tidak tahu tujuan Nazira kemana.


Apakah dia harus berbelok kiri maupun kanan?


"Kita akan mencari kastil Raja Collins,"


Evan melirik tidak percaya, jika di pemukiman lama saja mereka telah kewalahan. Apalagi mereka langsung ke sarang Vampir?


"Kau tidak bercanda, bukan?" Evan berharap perkataan Nazira hanya candaan.


"Tidak, aku ingin memberitahu Raja Collins bahwa kaumnya telah melanggar perjanjian. Seperti yang kalian katakan dia yang mengusulkan perjanjian. Jadi tidak mungkin dia melanggarnya sendiri," terang Nazira.


"Kau benar, jadi maksudmu kita akan berbicara dengan Raja Collins?" Evan tetap melajukan mobil menunju hutan terlarang.


"Tidak, sekarang kita hanya akan mencari kastil tersebut dan melihat situasinya." Nazira berpikir tujuan awalnya adalah menemukan putra Raja Collins dan jika memang memungkinkan Nazira juga ingin tahu mengapa Edden membiarkan kaumnya membunuh manusia, jika mereka memiliki perjanjian? Juga hubungan dengan masa depan, mengapa di masa depan bukan Edden Collins lagi yang menjadi Raja Vampir?


"Menurutku juga sebaiknya begitu." Evan terus melajukan mobil masuk ke dalam hutan terlarang. Sepertinya jalan ke dalam semakin sempit. Kakek Nazira itu melihat tidak memungkinkan untuk mobil lewat. Dia menghentikan mobil.


Nazira dan Evan mulai menyusuri hutan terlarang. Mereka harus berjalan menembus hutan dan semak-semak. Cakrawala telah berubah, malam beransur datang. Warna langit telah berganti jingga. Jika di siang hari saja hutan tetap gelap. Apalagi jika malam telah menyingsing?


"Lihat!" tunjuk Nazira ke sebuah kastil yang di kelilingi pohon mati.


"Ternyata memang ada kastil di dalam hutan ini," Evan antara kagum dan takut.


Nazira telah duluan berjalan ke depan, dia mengendap-endap menuju kastil untuk melihat lebih dekat. Evan mengikuti dari belakang.


"Apa tidak sebaiknya, kita kembali lagi, ini sudah malam," bujuk Evan.


"Ya, benar. Terlalu beresiko untuk kita masuk ke dalam." Nazira dan Evan melihat beberapa orang keluar dari kastil. Sepertinya Vampir telah tahu bahwa matahari sudah tidak ada.


Nazira membalikan badannya, tanpa sengaja dia menginjak ranting patah.


"Siapa di sana?"


🍒🍒🍒


Jangan lupita mampir ke lapak temanku ya besties cantik!


...REINKARNASI ISTRI KECIL MAFIA...


__ADS_1


__ADS_2