The Last Vampir Hunter

The Last Vampir Hunter
Lossing Nazira


__ADS_3

Satu minggu Nazira menghilang, meskipun Nazira telah meminta izin kepada Ron, tetap saja Ryder cemas. Ryder sendiri di sibukan dengan kasus pembunuhan, sekalipun Ryder tahu siapa pembunuhnya. Hal itu tidak mungkin dia tulis dalam laporan penyelidikannya.


Ryder semakin panik, karena Nazira masih tidak bisa dihubungi. Pria itu memasuki rumah sambil menelepon.


"Sial!" maki Ryder, dia memasuki ponsel ke dalam saku bajunya.


Blaire yang sedang mencatat laporan penjualan, mendengar makian Ryder. Wanita paruh baya tersebut memandang ke arah putranya yang masih berjalan menuju tangga.


"Ada apa?" tanya Blaire. Dia melepas kacamata bacanya dan meletakkannya diatas kepala. Blaire masih menatap putranya.


Ryder menghentikan langkahnya, dia lupa bertanya kepada ibunya tentang kunjungan terakhir Nazira ke rumah mereka.


"Mom, satu minggu yang lalu, saat Nazira ke sini, apa kau melihatnya keluar dari rumah?" tanya Ryder. Pria itu melangkah menuju arah ibunya.


"Ya, aku yang mengantarkannya pulang. Apa ada masalah?" tanya Blaire.


"Tidak, hanya saja, aku tidak bisa menghubungi Nazira saat itu." Ryder memandang ke arah pintu masuk.


"Memang dia tidak masuk kantor? Apa kalian bertengkar?" cecar Blaire. Dia kembali memeriksa struk-srtuk belanja yang ada di atas meja.


"Sejak hari itu, dia tidak masuk, Ron bilang, Nazira izin ada urusan. Hanya saja aku tetap khawatir. Ponselnya tidak bisa dihubungi," jelas Ryder.


"Apa tidak sebaiknya kau ke rumah Evan dan mencari tahu keadaannya. Siapa tahu dia sakit karena kau--," Blaire tidak melanjutkan ucapannya.


"Mom!" Ryder mengerti maksud ibunya. Blaire pasti berpikir jika Nazira sakit karena habis ditiduri Ryder. Blaire juga tahu bahwa manusia yang berhubungan dengan Ryder pasti tidak akan baik-baik saja. Wanita pertama pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit.


"Sebaiknya kau ke rumah Evan dan melihat keadaannya," usir Blaire.


"Baiklah!" Ryder membalikan tubuhnya dan berjalan ke luar.


"Tunggu, biar aku ikut denganmu." Blaire mengambil mantel yang tergantung di belakangnya.


"Tidak perlu," ujar Ryder.


"Siapa tahu, dia membutuhkan wanita untuk merawatnya," sahut Blaire.


"Mom, dia tidak sakit," sanggah Ryder.

__ADS_1


"Hanya untuk berjaga-jaga," jawab Blaire.


Mereka berjalan ke luar, saat akan membuka pintu. Ryder teringat sesuatu.


"Tunggu ada yang harus ku ambil." Ryder berlari menaiki tangga. Dia mengambil sesuatu yang ingin di serahkannya kepada Nazira.


Mereka menuju rumah Evan, saat sampai di sana Ryder dan Blaire turun. Ryder mengetuk pintu rumah Evan. Beberapa kali mencoba tetap tidak dibukakan pintu.


"Aku rasa tidak ada orang di rumah," ujar Blaire. Dia mencoba mengintip ke dalam, hanya gelap.


"Mom, benar, sepertinya rumah kosong. Mobil Evan pun tidak ada?" sahut Ryder dia mencoba melihat ke pekarangan rumah. Tetap tidak ada orang.


"Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Blaire.


"Aku yakin, pasti Nazira mencari Daddy," ucap Ryder.


"Tentang pemberontakan itu?" tanya Blaire.


"Ya, kita harus memberitahu Daddy." Ryder berjalan ke mobil mereka.


Ryder memutuskan untuk mencari Nazira. Dia ingat bahwa gadis itu tahu tentang ayahnya. Ryder akhirnya memutuskan untuk mencari Ayahnya dan Nazira di hutan terlarang. Perasaan Ryder mengatakan bahwa Nazira ke hutan terlarang mencari ayahnya.


"Sebaiknya Mommy pulang, aku akan mengantarkan Mom di persimpangan jalan," ujar Ryder. Dia menghidupkan mesin mobil.


"Tidak, Aku ingin ikut denganmu," pinta Blaire.


"Tempat itu sangat berbahaya, Mom," imbuh Ryder.


"Aku tidak selemah itu, My son!" Blaire tidak setuju dengan perintah Ryder.


"But, Mom--,"


"Jangan khawatir," sela Blaire.


"Baiklah, tapi Mommy harus berjanji untuk hati-hati," putus Ryder.


"Tenang saja," jawab Blaire.

__ADS_1


Ryder terus melajukan mobil menuju hutan terlarang. Malam semakin gelap, hanya cahaya dari bulan dan lampu jalan yang bersinar.


"Apa kau tahu dimana kastil daddy?" tanya Blaire. Blaire sendiri belum pernah sekalipun ke kastil suaminya.


"Menurut informasi, kastil itu berada di dalam hutan terlarang." Ryder membelokan mobil ke kanan menuju hutan terlarang.


Memasuki hutan tidak ada lagi cahaya lampu jalanan, hanya cahaya bulan yang mengintip dari celah-celah pohon dan juga cahaya dari lampu mobil.


"Gelap sekali," sahut Blaire.


Dia baru pertama kali memasuki hutan terlarang. Blaire memperhatikan sekeliling hutan, takut jika ada vampir yang berkeliaran atau binatang-binatang penghuni hutan. Ditambah berita yang beredar bahwa terjadi pembunuhan yang disebabkan oleh makhluk ganas. Blaire bergidik ngeri membayangkannya.


"Apa kau yakin ke sini arahnya? Di sini bahkan tidak ada kehidupan manusia," tambah Blaire.


"Bukankah, itu menjadi lebih baik, jika Mommy Vampir?" balas Ryder. Dia melirik ke arah ibunya.


"Kau benar, tentu mereka memilih tempat yang tidak mudah diketahui manusia," ucap Blaire.


Ryder terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Medan yang mereka lalui membuat Ryder tidak bisa menambah kecepatan. Mobil sesekali menabrak ranting-ranting kayu.


"Itu seperti mobil Evan?" tunjuk Blaire.


Ryder menyalakan lampu jauh mobil untuk memastikan bahwa mobil tersebut benar milik Evan.


"Ya, sepertinya itu memang mobil Evan," Ryder menambah kecepatannya. Jantungnya berdebar kencang semakin khawatir dengan keselamatan Nazira.


Bagaimana mobil Evan bisa ada di sini? Apakah Nazira memang nekat mencari kastil raja Collins?


Tiba-tiba sesuatu menabrak mobil Ryder, sesuatu tersebut membuat bunyi dentuman yang sangat keras. Membuat Ryder refleks menginjak rem.


"Apa itu?" pekik Blaire dengan cemas.


🍒🍒🍒


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2