
Alexia mengendap-endap keluar dari kamarnya. Dia memperhatikan sekeliling, berharap ayahnya tidak ada di tempat. Sejak Alexia menyampaikan keinginannya untuk menjadikan manusia sebagai vampir dan menjadi pasangannya. Nazareth melarang putrinya itu keluar dari kastil.
Alexia tidak tahu, jika alasan ayahnya melarang dirinya keluar adalah karena Nazareth tidak ingin, Alexia menggagalkan rencananya yang telah berjalan mulus. Nazareth tahu, putrinya adalah gadis yang sangat ceroboh. Jika Alexia menginginkan manusia, maka Nazareth yang akan menjadikan manusia itu vampir.
Alexia telah menyiapkan segalanya, dia telah memutar musik klasik kesukaannya untuk mengelabui ayahnya. Gadis cantik itu sangat menyukai musik klasik, apalagi Fur Elise karangan Beethoven. Musik itu adalah mahakarya sepanjang masa. Permainan piano Beethoven membuatnya ditunjuk oleh pangeran Bonn sebagai wakil Neefe dalam bermain organ dan harpsikord.
Nazareth tahu jika putrinya telah menghidupkan musik klasik, maka dia tidak akan dapat diganggu dan betah semalaman di kamar. Dan Nazareth cukup tahu diri, dia tidak akan mengganggu kesenangan putrinya itu.
Alexia berjalan santai keluar, kebetulan penjaga rumah mereka tidak kelihatan. Alexia secepatnya tanpa bersuara keluar dari kastil. Setelah keluar dari gerbang, Alexia bernafas lega karena pengawal tidak melihat kepergiannya.
Alexia berjalan cepat, sedikit terbang melewati hutan belantara. Gadis itu berharap tidak bertemu di hutan dengan salah satu vampir. Alexia berjalan melewati sisi lain hutan yang jarang di lewati oleh vampir, jika ingin ke kota.
__ADS_1
Gadis muda, meskipun secara usia tidak muda lagi, tersenyum saat melihat lampu-lampu jalan. Itu artinya Alexia telah meninggalkan hutan dan menuju jalan. Alexia terus berjalan menuju rumah Ryder.
Dua minggu lebih, Alexia tidak bertemu dengan Ryder. Sejak ayahnya melarang Alexia untuk ke kota.
Gadis manis itu melangkahkan kakinya dengan riang karena berhasil keluar dari kastil. Alexia berjalan menuju rumah Ryder. Dia tersenyum saat melihat rumah itu sudah semakin dekat. Petir bergemuruh di sertai cahaya terang dari langit. Tidak lama setelah itu hujan turun dengan lebat. Alexia secepat kitat berteduh, dia tidak ingin penampilannya menjadi basah dan kusut.
Alexia melihat salah satu toko yang juga menjual payung. Dia memasuki toko itu dan membeli payung. Alexia melanjutkan kembali jalannya. Wanita itu berjalan dibawah derasnya hujan dengan payung motif bunga-bunga.
Alexia memasuki rumah Ryder, menutup payung dan meletalkannya di sudut pintu tempat payung. Dia melihat toko sepi. Namun, sekilas Alexia mendengar orang berbicara. Alexia bukanlah orang yang suka mencuri dengar pembicaraan orang. Dai tidak memperdulikannya alias mengabaikannya. Hanya saja pembicaraan tersebut sedikit membuat dia penasaran karena nama ayahnya disebut dan juga Ryder Collins?
Kapsul waktu, apa maksudnya? Apalagi itu?
__ADS_1
Alexia semakin bingung dengan pembicaraan tersebut. Dia kemudian mengabaikannya, mungkin itu hanya kebetulan.
Alexia melihat bel model lama di meja toko Blaire. Gadis itu membunyikannya, agar pemilik toko atau pria yang sedang dirindukannya keluar. Karena akan sangat tidak sopan jika Alexia langsung masuk saja.
"Ada yang datang!" Blaire yang mendengar suara bel berbunyi, memotong pembicaraan mereka. Dia keluar untuk melihat siapa tamu yang datang.
Nazira sendiri saling berpandangan dengan Ryder. Mereka mengikuti Blaire untuk melihat siapa tamu tersebut.
🍒🍒🍒
Hi sambil nunggu update, silahkan mampir le karya temanku ya!
__ADS_1
...SUAMIKU (CALON) ADEK IPARKU...