The Last Vampir Hunter

The Last Vampir Hunter
Tertangkap


__ADS_3

"Siapa di sana?" teriak salah satu prajurit Vampir.


Nazira dan Evan sama-sama terdiam, mereka tidak berani bergerak. Sebenarnya Vampir memiliki panca indra yang tajam. Nazira memberi kode kepada Evan untuk bergerak perlahan. Evan mulai melangkahkan kakinya. Nazira juga perlahan mengangkat kaki yang menginjak ranting.


Mereka mulai berlari menjauh dari kastil. Evan memegang senter untuk menerangi jalan mereka dan Nazira mengikuti dari belakang. Sayang salah satu prajurit Vampir melihat bayangan Evan dan Nazira. Dia melayang dan tahu-tahu sudah berada di depan Evan dan Nazira. Evan mengarahkan senter kepada Vampir, cahayanya hanya membuat pandangan si Vampir silau. Evan heran bukankah senternya mengandung ultra violet?


Nazira mencoba melawan Vampir tersebut, dia menusukan pisau biasa ke paha si Vampir karena tujuan Nazira hanya sebagai pengalih perhatian, agar bisa mengendalikan pikiran Vampir tersebut. Namun, si Vampir dengan cepat menghindar dan lukanya pun sembuh dengan cepat.


Nazira terus berkelahi melawan Vampir tersebut. Beruntung Nazira memang telah terbiasa menghadapi para Vampir, sehingga kecepatannya  juga tidak kalah dengan Vampor itu.


Evan yang awalnya ketakutan akhirnya memberanikan diri. Dia membantu Nazira, berdua mereka melawan Vampir tersebut. Nazira tidak ingin berlama-lama, mereka harus menyelamatkan diri. Nazira melihat Vampir itu lengah, hal itu digunakan Nazira untuk kembali melukai paha Vampir itu lagi. Saat si Vampir tidak konsentrasi, Nazira mencoba mengendalikan pikiran si Vampir. Namun, seorang Vampir lagi datang dan melumpuhkan Nazira. Nazira kehilangan konsentrasi akibat pukulan di kepala dari Vampir yang baru saja datang.


Evan mencoba melawan, dan menyelamatkan Nazira. Namun, nasibnya juga sama. Vampir pertama menarik tangan Evan ke belakang, membuat Evan kesakitan. Si Vampir yang kesal karena Nazira melukai pahanya, mencoba untuk menghisap darah di leher Evan.


Vampir itu dipukul temannya, si Vampir kedua memperingati Vampir pertama.


"Sebaiknya kita bawa mereka kepada Raja," usul Vampir ke dua. Dia memegang Nazira yang oleng karena pukulan.


Sementata Evan di seret oleh Vampir pertama. Pintu kastil terbuka, mereka memasuki kastil dan menuju singgasana Raja Collins.


"Apakah itu manusia?" Edden melayang saat mendekati dua orang yang dibawa oleh prajuritnya.


Edden mencium bau darah manusia di tubuh dua orang itu. Edden melihat seorang wanita yang berusaha memfokuskan pandangannya.


"Ya, Yang Mulia. Mereka sangat mencurigakan," jawab Vampir pertama.


Pandangan Nazira kembali normal, dia mendengar dua Vampir itu memanggil yang mulia. Apakah dia Raja Collins? Jika ya, maka dia akan semakin dekat untuk bertemu Ryder Collins.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Suara Edden menggema.

__ADS_1


Saat Nazira ingin memgucapkan sesuatu. Evan telah menjawab pertanyaan dari Edden.


"Kami hanya ter--sesat," gugup Evan. Dia mencoba bersikap tenang.


Bersyukur Nazira telah mengajarkan agar pikiran tidak mudah dibaca oleh Vampir.


Sementara Edden tidak percaya begitu saja.


"Geledah tasnya!" perintah Edden, dia melayang kembali ke singgasananya.


Si Vampir kedua mengeluarkan isi tas Nazira dan tas Evan. Isi tas Evan sepertinya aman dan tidak ada yang aneh. Namun, saat mereka memeriksa tas Nazira. Vampir tersebut melihat sebuah senter dan menghidupkannya tepat kepada Vampir pertama, membuat Vampir pertama terbakar dan menghilang.


Edden murka dan melayang menuju Evan. Taring Edden telah siap untuk menghisap leher Evan.


"Stop!" teriak Nazira, dengan cepat dia mengambil pisau perak dan  menyandera Vampir kedua. Vampir kedua memang lengah karena terkejut setelah melenyapkan temannya.


Prajurit Vampir lain berdatangan, mereka mencoba mengepung Nazira dan Evan. Mereka menunggu perintah Edden.


"Katakan siapa kalian sebenarnya?" Edden beralih ke arah Nazira. Dia yakin gadis ini bukanlah manusia biasa. Pasti dia salah satu pemburu Vampir.


Edden sedikit berpikir, apakah pemburu Vampir masih ada? Dan mewariskan keterampilan mereka kepada keturunannya?


Edden mengambil salah satu pisau yang tergeletak berserakan di lantai, akibat dikeluarkan Vampir yang melumpuhkan Nazira tadi. Edden memegang pisau tersebut dan ternyata membuat tangannya terbakar. Edden semakin yakin bahwa tamunya ini adalah pemburu Vampir.


"Kami pemburu Vampir?" Nazira masih memegang kuat pisau di leher Vampir, membuatnya bergesekan dengan kulit si Vampir dan meninggalkan jejak terbakar. Si Vampir tidak berani lagi bergerak.


"Apa kalian tahu tentang perjanjian antara Vampir dan para pemburu Vampir? Sebaiknya kau lepaskan parajuritku, Nona. Aku tidak akan melukai kalian. Dan asal kau tahu akulah yang membuat kesepakatan dengan nenek moyang kalian," terang Edden, dia memberi tahu kepada prajuritnya yang lain untuk kembali ke posisi semula. Edden hanya memberitahu melalui telepaty.


Nazira melepaskan Vampir yang disandranya. Dia semakin yakin bahwa Raja Vampir di depannya bukan Nazareth. Jadi di tahun ini Edden Collins masih hidup? Lalu bagaimana bisa dimasa depan Nazareth yang menjadi Raja. Nazira mencoba mengingat cerita ayahnya tentang agenda yang di tinggalkan oleh Vampir yang memberikan mereka sample darah Ryder Collins. Sayang Nazira tidak terlalu mengingat tentang hal itu.

__ADS_1


"Ya, kami tahu." Nazira membantu Evan berdiri setelah dilempar olehh Edden.


"Lalu, mengapa kau sangat berani ke sini dan ingin memburu kami?" Edden pikir Nazira sedang memburu kaumnya.


"Itu karena kaum anda yang telah lebih dulu melanggar janji dan membunuh manusia, setidaknya yang ditemukan ada 7 korban manusia memiliki ciri khas di gigit di leher," jelas Nazira.


"Itu tidak mungkin, aku selalu memastikan bahwa kaumku tidak melanggar janji kami, bahkan kami sampai kekurangan pasokan hewan untuk di buru. Bukannya korban adalah karena hewan buas?" imbuh Edden. Edden sendiri memdapat laporan dari Nazareth bahwa korban yang dikatan oleh Emmet adalah karena hewan buas.


Sementara Emmet sendiri sampai sekarang masih belum melapor kepada Edden.


"Itu tidak benar, Yang Mulia. Tidak mungkin semua korban kehabisan darah? Jika anda tidak percaya, saya bisa memperlihatkan buktinya, tapi tidak di sini." Nazira mencoba membujuk Edden.


"Jangan mencoba mengulur waktu, Nona. Aku tahu kau cukup pintar." Edden tertawa, kemudian mengelilingi Nazira dan Evan.


"Saya tidak mengulur waktu, Yang Mulia." Nazira masih mencoba meyakinkan Edden.


"Baiklah, kau kumpulkan buktinya. Aku akan menunggumu!" Putus Edden.


"Terima kasih, Yang Mulia." Nazira mengumpulkan barang-barangnya. Kemudian dia dan Evan keluar dari kastil. Meskipun, para Vampir seperti sangat ingin menghisap darah mereka. Namun, mereka tidak mau membuat murka Raja Edden.


Nazira dan Evan terus berlari menuju mobil mereka. Evan melajukan mobil dengan kencang. Dia masih sedikit gemetar melihat Vampir sebanyak itu.


Sesampai di rumah Evan dan Nazira memasuki rumah. Evan melihat Kai tengah memainkan senter dan pisaunya. Pantasan saja isi tas Evan benda-benda biasa. Evan mengambil semua itu dan menggantinya dengan mainan.


🍒🍒🍒


Yuks main ke lapak temanku bebs!


...JODOH TAK DIUNDANG...

__ADS_1



__ADS_2