The Last Vampir Hunter

The Last Vampir Hunter
Kecemasan Blaire


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" Blaire terkejut melihat kondisi putranya dan wanita yang bersamanya.


"Kami tidak apa-apa, hanya lecet sedikit." Ryder mencoba untuk membuat Blaire tidak cemas.


Ibunya memang sangat gampang untuk khawatir. Meskipun putranya sudah dewasa tetap saja Blaire mencemaskannya.


"Kau sebaiknya membersihkan diri. Nazira biar aku saja," tawar Blaire.


Wanita paruh baya yang masih tetap cantik di usianya yang telah melewati 50 tahun itu, tidak ingin Ryder menghisap darah Nazira. Blaire menggandeng tangan Nazira dan membawanya ke dalam. Blaire mendudukan Nazira di sofa.


Blaire mengambil P3K, sedangkan Ryder ke kamarnya. Dia sempat melirik kepada Nazira dan gadis itu juga melirik kepadanya.


"Au!" Nazira meringis saat Blaire membersihkan luka di lengan Nazira.


"Tahanlah, ini akan sedikit perih." Blaire mengoleskan obat untuk luka Nazira.


Nazira menimbang apakah etis jika dia bertanya kepada Blaire tentang putranya?


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Blaire.


"Bibi, apa kau percaya Vampir itu ada?" Nazira tidak menjawab, justru bertanya kembali.


Blaire menatap gadis cantik di depannya. Blaire menimbang apakah Nazira telah mengetahui siapa putranya? Lalu, bagaimana reaksi gadis ini? Jika diperhatikan dia seperti biasa saja. Apakah itu artinya Nazira akan menerima Ryder apa adanya?

__ADS_1


"Jika aku katakan aku percaya? Apa kau akan menertawakanku?" Blaire ingin tahu pendapat Nazira dulu, sebelum dia jujur. Blaire memasang plaster di luka Nazira.


"Tidak, karena kami baru saja melawan salah satu dari mereka?" jawab Nazira.


"Apa?" Blaire menjadi cemas, apakah para Vampir telah mengetahui bahwa putranya adalah hibrid?


Nazira sendiri terkejut melihat reaksi Blaire yang ketakutan.


"Bagaimana bisa kalian bertemu mereka?" Blaire menghentikan tangannya yang tengah mengambil satu plaster lagi.


"Nazira! Ayo ke atas," ajak Ryder yang telah berada di dekat mereka.


"Mom, ingin berbicara denganmu?" Blaire menarik tangan Ryder dan mereka menjauh dari Nazira.


Blaire mengajak Ryder berdiri di antara pajangan pakaian.


"Apa kalian diserang Vampir? Apakah vampir-vampir telah mengetahui siapa kau?" todong Blaire.


"Kami memang diserang Vampir tapi mereka belum mengetahui siapa aku. Ini murni karena kasus yang sedang aku tangani. Dan Mom, apakah kau bisa menghubungi daddy?" Ryder melirik ke luar, takut Nazareth dan Bertrand mengikutinya.


"Mommy, tidak bisa menghubungi daddymu, tunggu saja saat dia ke sini. Dan Emmet sudah hampir 3 bulan dia tidak muncul. Jika ada dia Mommy setidaknya bisa menitip pesan padanya," jawab Blaire, dia mengikuti arah pandangan Ryder.


"Kenapa mommy tidak memiliki nomor ponsel daddy, sih," kesal Ryder.

__ADS_1


"Kenapa kau selalu melihat keluar?" Blaire tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Aku khawatir, Vampir itu mengikuti kami."


Blaire menutup mulut, cemas jika Vampir itu mengetahui tempat tinggal mereka.


"Apa yang harus kita lakukan? Apakah sebaiknya kita pindah?" Blaire memilin-milin ujung bajunya.


"Tidak perlu, aku rasa mereka tidak bisa mengejarku," jawab Ryder.


"Kenapa kau ingin menghubungi daddy?" tanya Blaire. Dia mencoba menghilangkan kecemasannya.


"Mommy, beberapa vampir akan melakukan pemberontakan untuk menggulingkan daddy dari tahtanya. Kita harus memperingatinya, agar daddy bisa mengendalikan situasi," terang Ryder.


"Apa?" Blaire tidak percaya, setahunya kaum vampir sangat menghormati suaminya. Apa yang terjadi bagaimana nasib suaminya nanti?


"Mom, kau jangan cemas, aku akan mencoba mencari daddy, katakan dimana kastilnya berada?"


🍒🍒🍒


Hi sambil nunggu aku up, cus mampir ke karya temanku ya besties!


...SUAMIKU BURUK RUPA DAN LUMPUH...

__ADS_1



__ADS_2