
Siang itu, aku berjalan menyusuri Mall yang letaknya tak jauh dari rumah. Seperti biasanya, aku hanya sekedar berjalan sambil mencuci mataku dengan keramaian di Mall itu. Tak seperti orang-orang yang datang dan pergi dengan barang-barang bawaan mereka. Namun, beberapa saat langkah kakiku perlahan berhenti, dan menatap sebuah kerumunan orang-orang. Aku tak menahan diriku lama, rasa ingin tahu mulai membisik ke telingaku, membuat langkahku mendekati kerumunan itu.
"Kemana para petugas keamanan mall ini, kenapa membiarkan orang Gila ini masuk?" seorang lelaki mulai dengan kata-katanya yang tidak mengenakan.
"Kasihan!" seru seorang lagi dengan rasa ibanya.
"Dasar sampah, kumal, bau lagi. Seharusnya penjagaan di sini diketatkan lagi." seorang lagi memaki.
__ADS_1
Aku heran dengan orang-orang yang hanya bisa memberi komentar, tapi tak mampu memberi bantuan bahkan tak berani mepertanggung jawabkan perkataannya. Aku bahkan tidak suka dengan orang-orang yang hanya pandai memaki tanpa membandingkan dirinya dengan sendiri. Yah, itulah orang-orang yang hidup dengan kebanggaanya sendiri tanpa peduli dengan hidup orang lain.
Kenikmatannya dinikmati sendiri, tanpa menyadari ada tangan orang-orang di bawah mereka yang membantunya.
Aku masih berdiri menatap kemalangan orang yang masih jadi pusat perhatian, hingga beberapa anak berusia sekitar sembilan tahun membuyarkan tatapanku, mereka menyerobos bahkan menabrak lenganku sambil tertawa, bahkan tidak mengucapkan maaf padaku. Tadinya aku pikir mereka hanya bermain dan tidak akan peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, tapi aku salah. Anak-anak itu justru ikut memaki seperti orang tua mereka.
"Akhhh, sungguh menjengkelkan." batinku
"Orang gila ... orang gila!" seru anak-anak yang menabrakku.
Dua puluh menit berlalu, makian silih berganti terlontar untuk gadis malang itu, perasaanku penuh iba dan ingin sekali ku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Namun, lagi-lagi aku menatap gadis itu, kini dengan tatapan yang lama. Ia kedinginan, ketakutan, dan tak punya arah tujuan. itulah yang ada dibenakku saat itu. Karena tak sanggup lagi dan tak tahan melihat kenyataan yang terjadi, aku segera mengambil tindakan; menghampiri gadis itu, membawanya pergi.
__ADS_1
Awalnya aku gugup, karena harus menjadi pusat perhatian orang-orang saat itu, tapi aku tidak menghiraukannya, Aku membawa gadis itu keluar dari lingkaran orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
"Aku harap kalian tidak menontonnya lagi." Ucapku kepada semua orang-orang dengan nada lantang.
"Yah, itu bagus. Sebaiknya kau bawa dia pergi dari sini, merusak pemandangan saja." Seorang laki-laki setengah baya dengan kemeja kantornya yang begitu rapi, sedikit membuatku tersenyum sinis.
"Seburuk-buruknya dia. Dia tetaplah manusia sama spertimu, Pak." Balasku dengan raut menjengkelkan, kemudian beranjak tanpa peduli lagi dengan bisikan-bisikan orang tentang kami.
Aku kini bersama dengan gadis malang itu, berada di luar mall. Aku menatap gadis itu berharap ia mau membalas tatapanku dan tidak merasa takut padaku. Aku bahkan mencoba untuk berbicara padanya tanpa rasa takut.
"Kau cantik ... kau tak perlu takut kepada orang-orang itu." Ucapku tersenyum menatapnya.
"Mayang!" seru seseorang memanggilku, hingga gadis malang itu terkejut dan berlari meninggalkanku. Aku yakin ia pasti merasa takut. tanpa menghirau orang yang memanggilku, aku segera berlari mengejarnya dan berharap bisa menemukannya. Namun, belum lama aku berlari, aku terkejut dengan seseorang yang menarik lenganku hingga membuatku terhenti. Sontak pandangan kami bertemu, sesaat aku sedikit menghela napasku.
__ADS_1
(Bersambung)