THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep. 26 "Ini lebih berharga dari Berlian."


__ADS_3

NIH AKU UP SATU EPISODE AJA HARI INI. SELAMAT MEMBACA.


****


"Bang, Aku berangkat!" seruku sambil berlari kecil menuruni anak tangga.


"Hanna, Tunggu!" teriakan Bang Danil menggema di telinga hingga menghentikan langkah kakiku.


"Ada apa lagi, Bang?"


"Hari ini sepulang kuliah, kamu ke kantor Abang. Pokoknya Abang tunggu." Tutur Bang Danil sambil menggoyangkan spatula yang ia pegang.


"memangnya, kenapa Aku tiba-tiba disuruh ke Kantor sih?" tanyaku kesal.


"udah, ngga usah banyak tanya!" Serunya lagi tanpa berbalik melihatku.


"Ya udah, kalau ngga mau kasi tahu, Aku juga ngga mau pergi. Oke abangku sayang, Hanna berangkat sekarang!" ledekku kemudian berlalu.


****


"Hanna!" teriakan Jo terdengar memanggilku saat akan menuju kelas. Seketika ku hentikan langkah kakiku, dan menunggunya datang menghampiriku.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanyanya sambil kami berjalan beriringan.


"emmmm ... lumayan baik. Bagaimana hubunganmu dengan Melda?"


"Yah, baik. Maaf karena sekarang jarang nemanin kamu." Jo dan Aku masih terus berjalan hingga kami tiba tepat depan kelas.


"ngga apa kok, Jo ... Aku ngerti." balasku agar Jo tidak terus-terusan merasa bersalah.


Sebenarnya Aku merasa kehilangan dirimu, Jo. Kau sekarang lebih peduli dengan Melda, dan Aku--. Gumamku kesal membatin.


"Jooo....!" Teriak seseorang memanggil nama Jo yang saat itu masih berdiri di samping kiriku.


"Melda. Kamu udah datang!" sapa Jo sedang Aku hanya senyum-senyum melihat mereka.


Melda keluar dari kelas dan langsung melengkungkan lengannya di lengan Jo, dan tak peduli sedikit pun dengan keberadaanku saat itu, namun Jo menyambutnya dengan gembira.


"Udah ... yuuk masuk, kita duduk sama-sama lagi." Ucap Melda sambil mengentikan langkahnya tepat di tempat duduk yang ia pilih.


"Hanna, duduk bareng Aku yuk!" Seru seseorang yang saat itu tengah duduk tepat di bangku yang bersebelahan dengan bangku yang Jo dan Melda tempati, hanya berjarak sekitar satu meter saja.


"Terima kasih yah, Ran." ucapku sembari meletakkan tas ransel mini kecoklatanku itu.


Aku duduk dan sesekali memperhatikan Jo dan Melda, mereka begitu dekat, bahkan Melda yang selalu saja tidak mau pisah sama Jo.


Ahh ... Jo, kamu tahu ngga sih, kalau kamu itu berubah, waktumu sekarang lebih banyak terbuang untuk Melda, dan kamu lupa kalau kamu punya diriku--sahabatmu." Gerutuku kesal dalam hati.


Tidak cukup lima menit, suara Rey menyapaku seketika membuyarkan lamunanku itu.


"Han, laporan tentang Kenakalan Remaja udah kamu kumpul, belum?" tanyanya yang saat itu tengah berdiri di hadapanku.

__ADS_1


"Kau itu ngagetin Aku aja, Rey. Udah kok, udah Aku berikan langsung ke Pak Brams." Jawabku sambil mengeluarkan buku dan pulpen.


"Ahhh, Syukurlah!" Timpal Rey sambil menjatuhkan dirinya di kursi yang masih kosong tepat di depanku.


"Kau kenapa?" Tanyaku yang saat itu melihat ekspresi layu di wajahnya.


"Aku lupa, Aku pikir Laporan itu hilang!" Rey memukul sedikit jidatnya.


"Kan, kamu sendiri yang ngasih ke Aku, Rey!" Timpalku sedikit menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Hanna!" Teriak Jo tiba-tiba memanggilku.


Aku beralih menatap Jo, seketika Melda pun menatapku.


"Selesai kuliah, kita makan siang bareng, yah!" Ajaknya, namun saat itu, Aku tak langsung menjawab. Aku masih memperhatikan raut wajah Melda yang seolah tidak suka dengan ajakan Jo padaku.


"hmm ... kayaknya ga bisa deh Jo, soalnya Aku mau ke kantor berita bang Danil." Jawabku beralasan, meski sebenarnya alasan itu memang benar.


"Tuuhh ... kan, Aku bilang juga apa, Hanna pasti sibuk!" Sambung Melda sambil memegang bahu Jo.


"Ya udah deh Han, thanks yahh. Akhirnya Aku aman." Rey tiba-tiba menyaut lalu kembali ke tempat duduk yang ia pilih.


****


Dosen killer yang tak lain adalah Pak Brams, kini memasuki ruang kelas kami yang luasnya sekitar 20 meter persegi itu. Suara-suara yang berisik seketika pudar tak ada lagi suara, kecuali suara Pak Brams yang mulai menyapa kami.


"Apa kabar semuanya hari ini?" tanyanya.


Perkuliahan Pak Brams, tidak berjalan lama hanya sejam lebih 20 menit saja. Beliau tidak banyak menjelaskan, beliau lebih kepada praktek langsung, dan paling suka meminta Mahasiswa mempersentasekan laporannya. Meski beberapa Mahasiswa menjulukinya killer, tapi bagi diriku, beliau itu orang yang hebat dalam memberikan mata kuliah, beliau to the poin, dan ngga banyak bertele-tele, meski terkadang ada hiburan di tengah perkuliahan yang kadang ia selipkan.


****


Tepat pukul 11.00, perkuliahan Pak Brams pun usai. Namun sebelum meninggalkan ruang kelas kami, lagi-lagi Pak Brams mengumumkan laporan terbaik yang sudah terkumpul dan Ia periksa.


"Heran yah Bapak, satu-satunya Mahasiswa di Fakultas Kesehatan ini, kenapa hanya ada satu orang yang laporannya tersusun sangat baik, dari sistematika dan isinya, bapak bear-benar suka." Tuturnya.


"Wahh, Pak ... pasti Hanna lagi yah, yang dapat surprisenya!" seru Si Jangkung--Rey yang membuatku saat itu sedikit tersipu malu.


"Hanna, pasti hadiah yang bapak bawa untukmu lagi tuhh." Rani pun mulai menggoda.


"Yahh, kalian benar ... Hadiah ini untuk HANNA MAYANGSARI, laporan yang dia buat memang baik dan bagus dan pantas diberikan hadiah." Pak Brams menimpali disambut dengan tepukan teman-teman yang hadir di kelas, bahkan Jo tidak kalah tepukan tangannya.


"Terima kasih, Pak." Kataku yang saat itu menghampiri Pak Brams mengambil hadiah yang masih terbungkus dengan bungkusan kado berwarna keemasan itu.


"Jangan pelit-pelit untuk berbagi ilmu dengan teman-temanmu, bapak yakin kamu bisa sukses nanti." Kata-kata Pak Brams menjadi doa bagiku.


Sepuluh menit kemudian, Pak Brams pun berlalu. Beberapa teman menghampiriku dan memintaku untuk membuka hadiah pemberian Pak Brams itu.


"Kamu beruntung banget, Han ... dapat hadiah langsung dari pak Brams. Jarang-jarang lohh Mahasiswa dikasi hadiah, apalagi dosen ganas kayak beliau. hahahaah!" gerutu seorang teman sambil diikuti gelak tawa yang lain.


"Ngga mau dibuka?" tanya Rani.

__ADS_1


"Ngga ahh, nanti aja." Jawabku tersenyum kecil.


"Selamat yah, Han!" Seru Jo yang tiba-tiba berdiri di hadapanku.


"Terima kasih, Jo." Jawabku.


"Gitu aja senang banget, kayak dapat berlian aja." timpal Melda yang seolah tidak suka.


"Mel, ini lebih berharga daripada berlian, kamu sirik aja sama Hanna." Seseorang membalas perkataan Melda sedang Aku hanya bingung melihat sikap Melda yang selalu berubah-ubah. Kadang ia baik sama Aku, kadang juga menjengkelkan.


"Kamu ini ngomong apa sih, Mel?" tegur Jo memarahi Melda, namun tanpa membalas, Melda segera meninggalkanku dan yang lain disusu pula dengan Jo yang mengejarnya.


"Han, Aku heran sama Jo, kok bisa yah dia mau terima si Melda yang jutek dan judes kayak gitu." Gerutu Rani yang sejak tadi masih duduk di sampingku.


"Sudahlah! Aku ngga apa-apa kok."


****


Aku melihat jam yang menempel di pergelangan tanganku, dan telah menunjukkan pukul hampir jam 12 siang. Aku pun segera bergegas untuk mengunjungi kantor bang Danil,


Baru saja kulangkahkan kakiku keluar kelas, handphoneku berbunyi, tanpa basa-basi, Aku segera mengangkatnya, yang tak lain adalah Dirga.


Dirga~ Kamu dimana, Han?"


Aku~ ini mau ke kantor bang Danil." jawabku sambil berjalan menyusuri koridor kampus.


Dirga~ Untuk apa ke sana?"


Aku~ Entahlah Ga, abang memintaku ke sana."


Dirga~ Ya udah, kalau gitu kabari Aku kalau urusan di Kantor Bang Danil selesai yahh!"


Aku~ siap pak Bozz."


Sambil tersenyum, Aku pun menutup telponku. Aku bahagia mendengar suara Dirga yang bersemangat itu. Baru saja Aku menutup telponnya, Dirga mengirimiku pesan lagi. Aku pun segera membacanya.


/Jangan lupa kabari Aku jika udah selesai, Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, dan memperkenalkan seseorang/


Membaca pesan itu, Aku hanya tersenyum dan tak membalasnya hanya menutup ponselku dan segera mengambil ojek menuju Kantor Bang Danil.


Tidak cukup setengah jam, Aku pun tiba di Kantor Berita itu. Baru saja kulangkahkan kakiku masuk di dalam, tiba-tiba suara yang tak asing menyapaku.


-


-


-


-


JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTARNYA. TERIMA KASIG

__ADS_1


__ADS_2