
MAAF, AUTHOR BARU BISA UP LAGI. SEMOGA MASIH SETIA SAMA CERITA INI YAH. TERIMA KASIH SEMUANYA.
****
Senin pagi tepat pukul 10, Aku meninggalkan rumah dan berangkat ke kampus. Aku mencoba menghilangkan sejenak beban yang telah menggrogoti otak dan hatiku.
Sesampainya di kampus, ingin sekali rasanya ku ungkapkan semua pada Jo, namun semuanya segera ku urungkan ketika Melda terlihat bersamanya. Aku ingin sekali duduk berdampingan dengan Jo, namun setelah melihat kedekatan mereka, Aku tak ingin merusak kebahagiaab mereka hanya dengan masalah yang menjalar bagai racun dalam tubuhku.
Aku mengambil tempat duduk paling depan yang paling ujung tepat dekat pintu masuk. Ku keluarkan buku agenda perkuliahanku dan juga ponselku.
"Hanna, Aku boleh duduk di sini?" tanya seseorang yang seketika mengejutkanku
"Oh, kamu Rey. Duduklah!" Balasku.
Rey duduk di sampingku dan juga mengeluarkan buku agendanya dan mencatat sesuatu di sana.
trrrt trrrt
Handphoneku bergetar, ku coba untuk mengeceknya, dan nama Dirga yang muncul.
Dirga menelpon. gumamku sendiri.
Aku segera mengangkatnya. Dan kami saling menyapa. Dirga memintaku untuk
menunggunya sepulang kuliah.
Dirga~ Kau mau menungguku, kan?
Aku~ Iya. Aku tunggu, tapi tolong jangan lama.
Dirga~ Terima kasih yah, Aku ngga akan lama.
Setelah percakapan singkat itu selesai, kami menutup dan mematikan telpon secara bersamaan, dan disambut juga dengan langkah khas seseorang memasuki ruangan, beliau tidak lain adalah Pak Dosen yang sejak tadi kami tunggu.
Pak Dosen memberikan perkuliahannya, namun saat itu khayalanku terbang kemana-mana. Aku memikirkan bang Danil, dan juga memikirkan Dirga, ditambah lagi seseorang yang tak harusnya kupikirkan, bahkan melintas dalam pikiranku. Adam.
****
Tepat pukul sebelas lewat sepuluh menit, perkuliahan pun akhirnya usai. Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kelas dengan segera, namun tiba-tiba Jo dan Melda menghampiriku, mengajakku makan siang.
"Maaf, Jo--Mel sepertinya ngga bisa." tolakku.
__ADS_1
"Kamu masih galau, Han?" Jo menebak perasaanku.
"Ngga kok, kalian pergi saja, Aku ngga apa-apa, lagipula ada yang ingin Aku lakukan." Jawabku cepat sambil tersenyum lirih pada mereka.
Aku tak ingin mereka menebak-nebak perasaanku, Aku tak ingin mereka memperdulikanku, hingga merusak kebahagiaan mereka, meski Aku tahu apa yang Jo rasakan saat itu, Ia tahu Aku masih gegana saat itu (gelisah, galau, merana).
"Ya sudahlah, Jo. Hanna kayaknya lagi ngga mau diganggu." tutur Melda sambil melengkungkan lengannya pada lengan Jo.
"Emm, kalian pergilah, nikmati makan siang kalian!" seruku lagi.
"Baiklah, kalau begitu. Han kalau masih ada yang mengganjal, jangan sungkan cerita padaku." Jo mencoba menawarkan diri.
Aku hanya mengangguk mengiyakan dan akhirnya mereka pun berlalu dari hadapanku.
Sejenak Aku kembali duduk membuang napas dan mencoba menenangkan hatiku. Aku seperti kehilangan sosok Jo-- sahabatku. Tapu disatu sisi, Aku juga tak boleh menjadi egois.
Aku mencoba menelpon Dirga, dan memberitahunya untuk segera menjemputku
Dirga~ tunggulah, Aku berangkat sekarang.
Aku~ Baiklah, Ga.
"Maaf yah, membuatmu menunggu lagi." Ucapnya menatapku hangat.
"Ngga apa-apa kok, Ga. Kita berangkat sekarang!" pintaku membalas tatapan hangat itu.
"Hayoo." Dirga memegang kedua pundakku dengan lembut, sambil memopongku berjalan duluan dan diikuti oleh langkahnya. Ia membukakan pintu mobilnya untukku, kemudian ia pun mengambil alih kemudi.
"Kita mau kemana?" Tanyaku menatap Dirga.
"Terserah kau saja, Aku ingin membuatmu tersenyum hari ini." Jawabnya.
"Kita ke Pantai." timpalku.
"Ke Pantai?" Dirga menatapku heran.
"Han, bu--kankah ki--ta sepakat untuk tidak ke Pantai?" Dirga membalas terbata-bata.
"Kenapa? Kau bahkan bisa bersenang-senang di Pantai Kuta bersama Syakila, kenapa Aku tidak bisa ke Pantai?" Aku mulai terbawa emosi.
"Han, Aku sudah janji akan menjelaskan ini padamu, jadi kumohon percayalah." Dirga memelas bahkan tak jadi menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
"Kapan kau akan menjelaskannya? Ga kau seolah-olah menganggap tak ada yang terjadi diantara kita, Aku butuh penjelasan sekarang!" Nadaku mulai meninggi.
"Aku akan menjelaskannya, tapi tidak di Pantai." Timpalnya lagi.
"Kalau begitu, Aku turun dan jangan hubungi Aku sementara waktu!" Aku tak mampu menahan emosi, kemudian membuka pintu berusaha untuk keluar, namun dengan sigap Dirga meraih lenganku, memandangku dengan tatapan memohon.
"Baiklah, jika kau ingin ke Pantai." Dirga mulai mengalah dan segera melajukan kemudinya.
Sepanjang perjalanan, Aku dan Dirga tak saling bicara, kami hanya sesekali menukar pandangan. Aku bingung dengan sikapku yang harus menyikapi Dirga, sementara hatiku tak ingin bertengkar dengannya.
"Katakan saja semua yang ingin kau katakan padaku. Aku tak ingin membuat wanita yang kucintai berpikir aneh-aneh tentang diriku, dan Aku juga tidak mau membuatmu menangis." Ucap Dirga tiba-tiba, sejenak Aku menoleh padanya.
"Kata-katamu begitu lembut, sementara Hatimu, Aku tak bisa menebaknya. Apakah kata-katamu itu sejalan dengan yang ada dalam hatimu, Aku ngga tahu." balasku ketus.
"Aku tak mau kamu salah paham dengan foto-foto itu. Aku akui Hanna, Aku dan memang bersama saat itu, tapi apa yang kamu pikirkan tidaklah seperti itu." Dirga mencoba menjelaskan. Sedangkan Aku mulai terdiam menunduk.
"Kami tidak sengaja bertemu, kau bahkan tahu Aku tidak menyukai pantai, jadi mana mungkin Aku ke pantai dengan keinginanku. Saat itu, Aku dan beberapa teman sedang berlibur, nesku ingin menolak, tapi Aku tak bisa, karena pimpinan pun ikut. Kami lebih memilih tempat yang dekat ketimbang harus ke tempat yang jauh." Dirga mulai menceritakan, bahkan Ia pun menghentikan kemudinya, kemudian menatapku.
Aku melihat kejujuran di mara Dirga, meski hatiku ingin menolak tetapi otakku menentangnya. Dia memang nampak jujur dengan apa yang dia katakan.
"Pertemuanku dengan Syakila adalah hal yang tak disengaja." Lanjutnya lagi.
"Bahkan Syakila tidak sendiri, Han. Ia bersama dengan suaminya." Tegas Dirga hingga pandanganku teralih padanya.
"Suaminya?" Tanyaku ingin menegaskan.
"Iya. Dia bersama suaminya."
Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkan kami, hingga perbincangan kami terganggu. Suara klakson itu pun tak henti-hentinya berbunyi.
"ada apa sih, Gila apa orang itu." Umpat Dirga.
-
-
-
-
BERSAMBUNG DULU YAHH... LAGI SIBUK NIHH. HEHEH JANGAB LUPA LIKENYA.
__ADS_1