THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.13 "Gimana Jo, kalau sampai Pak Bram tahu."


__ADS_3

HAI SOBAT READERS, YANG SUDAH SINGGAH DAN BERI KOMEN,LIKE SERTA VOTENYA AUTHOR UCAPIN TERIMA KASIH BANGET NIHH. KALAU GA SUKA SAMA EPISODENYA, JANGAN LIKE YAHH.. HEHEHEH.


****


Aku terbangun dari tidurku, dan kurasakan sakit ketika mengangkat kaki kananku. Aku hampir lupa bahwa semalam kakiku memar akibat diinjak oleh si Gadis kumal.


Aku membuka gorden jendela kamar bang Danil, sang mentari mulai meninggi dan cahayanya mengenai tepat di mataku. Aku meraih ponsel yang semalam kuletakkan di atas meja kerja bang Danil.


Udah banyak chat yang masuk, namun diantara semua chat yang masuk, Aku hanya peduli pada dua chat saja, Dirga dan Joan. Aku membuka chat Dirga terlebih dahulu dan kubaca pesannya, "Selamat beraktivitas, Hanna." Pesan yang masuk sekitar 10 menit yang lalu, membuat hatiku senang dan senyum-senyum sendiri.


Aku beralih ke pesan Jo yang isinya membuatku garing 90 persen. Tiap hari pasti ngirim pesan atau chat yang sama.


"Jangan lupa ke Kampus dan hati-hati di jalan."


Pesan Jo, hampir tiap hari kayak gitu dan kadang membuatku jengkel. Bagaimana ngga bosan kalau dapat chat tiap hari yang isinya, kampus, kampus, kampus. Meski sebenarnya, pesan itu membantu sihh, soalnya Aku emang kadang bosan datang ke Kampus.


Tok tok tok


Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Bang Danil menyapaku dari luar, dia tak langsung masuk. Omg abangku ini emang disiplinnya selangit dehh, satu hal lagi, dia juga ngehargai Aku banget. Sosok lelaki penjaga. Pasti Adem deh yang jadi istrinya kelak.


"Masuk aja, Bang!" pintaku.


"Abang pikir kamu belum bangun. Gimana kakinya, udah baikan?" Tanyanya perhatian.


"Masih sakit," keluhku.


"Ini abang bawain obat gosok, kamu gosok sendiri yahh. Setelah itu mandi, terus sarapan. Abang udah masakin kesukaan kamu." Tukasnya.


"Siap Bang!"


Bang Danil meninggalkan kamarnya yang semalaman Aku pinjam. Namun tak lama Aku meninggalkan kamar itu dan menyapa Bang Danil yang masih di dapur.


"Kamu ngga mandi?" Tanya Bang Danil menatapku heran.


"Aku mandi di kamarku aja Bang." Jawabku menuju kamarku di lantai atas. Selangkah kakiku menaiki anak tangga, kemudian Aku meminta pada bang Danil agar memberikanku foto keluarga yang ada di kamarnya.


"Bang, boleh yah, foto itu buat Hanna aja?" pintaku memelas.


Bang Danil menarika napas pelan, seolah tak ingin menolak permintaanku itu. Bahkan tak segera mengabulkan permintaanku.


"Bang...emmm!" melasku lagi dengan mengatupkan kedua bibirku, menatap bang Danil manja.


"Ya udah, kamu boleh bawa ke kamar!" Jawaban Abang membuatku bahagia sekali. Aku bahagia karena memang satu pun foto mama dan papa, Aku ngga punya. Ditambah lagi Bang Danil yang ngga pernah mau cerita banyak tentang Mama dan Papa.


Aku mencoba beberapa kali menanyakan tentang kematian mama dan papa, namun bang Danil selalu mengalihkan pembicaraan itu, seolah tak mau jika Aku tahu. Mungkin bang Danil tidak ingin melihat Aku menangis atau mungkin Ia yang tidak ingin mengingat masa lalu yang kelam.


20 menit berlalu, Aku menuruni anak tangga dari lantai atas kamarku dan menghampiri bang Danil yang sudah mulai menyantap sarapannya.

__ADS_1


"Hmmmm, harum banget nasgornya, Bang! Sambil duduk di tempat biasa. Nasi goreng sosis dan telur mata sapi--kesukaan Aku banget--plus roti selai--dan teh manis.


"Udah jam 8 lewat Han, kamu ga ke Kampus?" tanya Bang Danil kemudian meminum teh hangatnya.


"Nunggu Dirga, Bang. Katanya hari ini dia mau anter Aku ke Kampus." Jawabku.


"Ohh Gitu!"


"Ohh iya, motor abang kok dari kemarin ga ada Hanna lihat, kemana?" Tanyaku penasaran dengan motor honda beat bang Danil yang sejak kemarin tak Aku lihat di halaman.


"Sebenarnya, motor abang sejak kemarin siang ada di bengkel, entah apanya lagi yang KO."


"Minta di Lem Biru tuhh Bang!"


"Apaan Lem biru?" Tanya Bang Danil yang memang ga tahu.


"Hahahaha, Lempar Beli Baru!" Jawabku tertawa meledak.


"Kurang Asam kamu Han!" Bang Danil geleng-geleng tersenyum.


priiiit priit priiiiiiit


Terdengar suara klakson mobil yang seketika menyadarkanku akan kedatangan Dirga. Untungnya Aku juga udah selesai sarapan dan segera menghampiri Dirga yang menunggu di luar,namun Bang Danil seketika menghentikanku.


"Han, Bang Danil boleh ikut ga nih, antar sampai bengkel di depan persimpangan aja."


Kami berada di depan halaman rumah, Bang Danil memastikan bahwa ia sudah mengunci setiap pintu rumah, dan kami sama-sama menghampiri Dirga.


"Ga, abang ikut boleh ya, sampai persimpangan jalan ada bengel, sampai situ aja, abang mau ambil motor." Ucap Bang Danil kepada Dirga.


"iyalah Bang, gitu aja minta ijin, yuuk naik!" Ajak Dirga, kemudian menjalankan kemudinya.


****


"Oke, hati-hati di jalan, Ga terima kasih sudah boleh numpang." Ucap bang Danil ketika mobil menghentikannya di tujuan.


"Iya bang sama-sama." balas Dirga.


"Hati-hati yah abangku sayang." sambungku membuat bang Danil geli dan mencatuk kepalaku dengan tangannya.


Dirga kembali mengemudikan mobilnya, hingga kami tiba di Kampus.


"Terima kasih udah antar Aku." ucapku ketika baru keluar dari mobil Dirga.


"Iya Hanna, Aku juga mau ke Hotel nemanin ayah dulu. Kalau aku sempat nanti Aku telpon untuk jemput."


"Emmm, hati-hati yah!"

__ADS_1


Dirga pun berlalu, Aku berjalan hingga bertemu dengan Melda di depan koridor laboratorium, Ia terlihat murung tidak seperti biasanya. Aku mendekatinya.


"Mel, kau kenapa sendirian di sini?" Tanyaku yang ikut duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari batang pohon yang menghadap ke arahnya.


"Ngga apa kok, Han. Aku lagi malas aja, kayaknya lagi jenuh sama belajar."


"Kok gitu?" Tanyaku lagi mendesak.


"Aku belajar sampai berjam-jam pun ga akan bisa mengalahkan otak pintarmu." Katanya lagi membuatku jadi tak enak hati.


Jadi Meldaa masih berpikir seperti itu tentang Aku. Padahal kan Aku sudah bersikap sewajarnya, ngga nonjolin banget kepintaranku. Gumamku dalam hati.


"Huufffft, udahlah yuuk masuk!" Ajaknya.


Kami membuka pintu lab, dan nampak udah banyak teman sekelas kami di dalam yang mengambil tempat duduk sesuai keinginan mereka. Aku dan Melda kebetulan menduduki bangku yang tersisa paling di belakang, bahkan Jo mengambil tempat sesuka hatinya.


bisa-bisanya Jo ngga nyisahin Aku tempat. Awas kamu Jo! kesalku dalam hati bahkan ingin sekali melemparkan pulpen yang aku pegang saat itu ke kepalanya.


"Jo, kapan Pak Bram datang?" Tanya seseorang teman yang duduknya tepat di depan Jo.


"Beliau bilang, masih ada urusan sebentar di Fakultas, tunggu bentar lagi deh, pasti juga datang."


Aku sama Jo emang kayak gini, kami akrab itu hanya di luar kampus, kalau ketemu di kampus, mana ada seru-serunya. Jo jutek abis sama Aku. Nampak banget dewasanya, dia pantas jadi pemimpin. Di kelas aja dia ditunjuk sebagai ketua, Dia juga aktivis banget, cewek yang kadang mau deketin dia aja kabur sebelum bertindak. Hahaaha.


Ceklek


Suara pintu lab terbuka, Pak Bram datang dan memperhatikan kami satu persatu. Ia memastikan tidak ada yang absen satu pun.


"Sebelum pembelajaran, atau sebelum saya mutar vidio ini, kumpulkan semua makalah kalian di depan!" Tegas pak Bram.


Waaww... Pak Bram adalah dosen yang paling killer dehh diantara semua dosen yang mengajar kami, makanya kami banyak diam saat beliau masuk.


"Kamu kenapa, Mel?" tanyaku berbisik ketika melihat keanehan Melda di sampingku.


"****** Aku, Makalahku kelupaan." Melda kaget.


Jo sudah hampir mendekati meja kami, dan Jo tahu ada keanehan di antara kami berdua, Ia pun berusaha menyembunyikannya.


"Gimana Jo? kalau sampai pak Bram tahu diantara kita ada yang tidak kumpul, pasti semua teman sekelas kena getahnya." Bisikku pelan.


"Kenapa Jo, ayo segera bawa ke atas meja saya!" Tegas Pak Bram lagi serentak membuat kami terkejut dan kami saling berpandangan.


-


-


-

__ADS_1


-. JANGAN LUPA, KALAU NGGA SUKA EPISODENYA, JANGAN DI LIKE YAHH.


__ADS_2