THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.19 "Lagi-lagi Dia."


__ADS_3

"Ada apa denganmu?" Tanya Bang Danil yang heran dengan sikapku.


"Bang, hari ini Aku bertemu orang asing yang mengenalku, Dia sudah beberapa kali menolongku, bahkan alam pun seolah memihak padanya." jelasku serak.


"Maksudmu?" Bang Danil kemudian meletakkan Id Cardnya di atas meja lalu duduk di sampingku, menatapku.


"Setiap Ia menolongku selalu saja Dirga menengahi kami. Aku bahkan tak tahu bagaimana menghadapi Dirga di saat saat itu, Bang. Bahkan sekarang Dirga tak berbicara padaku." Tambahku lagi terisak.


"Jangan menyalahkan keadaan, semua sudah diatur, Han, kau hanya harus bisa menyikapinya." Bang Danil mengusap punggungku, kemudian merebahkan kepalaku dalam pelukannya, mencoba menenangkanku.


****


Esok harinya, Kamis tepat pukul 09.00 pagi. Bang Danil mengantarku sampai ke Kampus. Untuk pertama kalinya, tak ada panggilan dari Dirga atau sekedar chat sekalipun. Beberapa kali Aku memandangi ponsel yang tak pernah lepas dari tanganku, namun hanya rasa sedih yang muncul, merindu tapi tak dirindu.


Jo dan Melda menghampiriku, mereka terkejut melihat seorang Hanna Mayangsari menyendiri tidak seperti biasanya yang selalu riang dan mampu memecah suasana.


"Aku tak tahu, sejak kapan kau di sini?" Tanya Jo dengan tatapannya yang terkesan ganjil.


"Ngga apa kok. Kalian tumben banget barengan!" Sahutku sambil menatap keduanya.


Jo dan Melda membuang pandang satu sama lain, dan mereka tertawa tib-tiba membuatku jengkel.


"Kok malah tertawa, Aku pergi nih." Gusarku sambil berdiri, namun Melda dengan segera meraihnya.


"Kamu ngga akan percaya kalau kami beritahu." kata Jo kemudian memukul-mukul lututnya seolah tak siap untuk menjelaskannya.


"Kami jadian, Han!" Sahut Melda seketika dengan tatapan riang dan senyumnya yang manis.


"Beneran? Syukurlah. Aku tahu kalau kamu emang suka sama Joan dari dulu, makanya kamu selalu sinis sama Aku, iya kan?" tambahku menekan.


"Benar itu, Mel? kamu suka sama Aku udah lama?" Tanya Jo yang wajahnya tiba-tiba berubah memerah, malu sambil menatap Melda dengan senyumannya. Sementara Melda yang duduk di sisi kiriku mulai mengangguk mengiyakan.


"Ahhh... udahlah. Aku ucapin selamat deh buat kalian berdua. Aku bahagia mendengarnya." Kataku lagi sambil melayangkan kedua lenganku masing-masing ke pundak mereka.


"Setidaknya, teman jahilku bertambah satu lagi. Hufffttt ... Aku pergi dulu kalau gitu." Kataku kemudian meninggalkan mereka


Aku bahagia atas jadiannya Joan dengan Melda, meski Aku tak bisa bayangkan ternyata mereka saling menyukai. Sesekali Aku menarik napasku lalu membuangnya.


****


Aku menghentikan seorang tukang ojek yang seketika melintas di hadapanku. Aku memintanya untuk mengantarku ke sebuah perusahaan, yang tak lain adalah perusahaan almarhum ayah sekaligus tempat bang Danil bekerja.


Dua puluh menit diperjalanan, akhirnya Aku pun tiba. Setelah membayar tukang ojek itu, Aku tak berpikir lama, Aku segera melangkahkan kakiku masuk. Aku tak peduli meski beberapa mata telah menatapku, hingga langkahku terhenti ketika seorang security menyapaku.


"Maaf, Mbak! Ada yang bisa dibantu?" Tanya Security itu sedikit menunduk.


Belum sempat, Aku menjawab tiba-tiba saja seorang karyawan berlari terburu-buru hingga menabrakku, namun dengan sigap seseorang menolongku hingga Aku tak terjatuh.


"Maaf Pak Adam!" Sahut Security itu kemudian.

__ADS_1


Aku membetulkan posisiku dan segera mengucapkan terima kasih kepada pria tegap berbadan tinggi yang menolongku tanpa memandangi wajahnya.


"Hanna, kau sedang apa di sini?" Tanyanya membuatku terkejut, bahkan membuat satpam itu kembali menjalankan tugasnya.


"Kau!" Heranku bahkan penuh dengan pertanyaan,


Lagi-lagi Dia. Gumamku membatin.


"Aku yang mengelola perusahaan ini." Jawabnya membuatku terkejut.


"Hanna!" Sahut bang Danil tiba-tiba ketika melihat perbincangan kami.


"Abang!" Segera Aku mendekati bang Danil tanpa mengucapkan terima kasih untuk yang kesekian kalinya.


"Kenapa kau ke sini tak memberi tahu Abang dulu?" Gubris bang Danil.


"Bang, Apa boleh abang pulang cepat hari ini?" Pintaku pada bang Danil sambil sedikit mengayunkan lengannya. Langkah Pemuda tegap dengan beberapa rambut yang tak begitu nampak tumbuh di bawah hidungnya itu melangkah ke arah kami.


"Adam, perkenalkan ini Hanna!" Sahut bang Danil memperkenalkan kami berdua.


"Hanna, ini Ahmad Adam Ariandra, putra tunggal Oom Je, yang pernah abang ceritain."


Aku tercengang ketika Abang memperkenalkan kami berdua, mulutku bahkan tak mampu bergumam lagi, namun Aku menatap pemuda itu, meski rasa terima kasih ini ingin kusampaikan, tetapi mulutku hanya bisa membisu sedang mataku hanya mampu menatapnya.


"Aku sudah mengenalnya kok, Bang!" gubris Adam menatapku sejenak.


"Oh iyaa ... benar Hanaa, kalian sudah saling kenal?" Bang Danil mencoba memastikan.


"Han, kita ke Taman saja sambil menunggu bang Danil kembali!" Ajak Adam rileks.


Aku mengikuti langkah kaki Adam menuju Taman, kami duduk di bangku yang ada di bawah sebuah pohon cemara.


Lama kami berdiam diri tak satupun yang angkat bicara, namun beberapa saat kemudian kami memulai pembicaraan itupun selalu bersamaan.


"Katakanlah dulu, Han!" Adam menatapku lirih.


"Terima kasih. Terima kasih atas semua pertolonganmu ke Aku." Aku hanya menunduk dengan mengapit tangan kananku di bawah tangan kiriku.


"Kau tak perlu bicara seperti itu, itu sudah kewajiban setiap orang terhadap sesamanya." Timpalnya.


"Kau sudah menjagaku sejak kecil, bukankah harusnya Aku mengucapkan terima kasih itu padamu ketika kita pertama kali bertemu, tapi Aku mengabaikanmu, Maaf." kataku lagi dan sejenak menatap Adam yang tertunduk, namun tampak sebuah senyum yang sempat ia ibaskan.


Adam mulai mengangkat ceritanya. Ia mulai mengingat kenangan masa kecil kami, Ia mulai menceritakan saat Aku dirawat di rumaj sakit, saat ia membuatku pulih dari sakitku. Aku terharu--sedih.


benarkah yang Adam katakan itu? Aku masih tak percaya sedekat itukah kami. Sungguh tak ada sedikitpun kenangan yang tersisa yang dapat Aku ingat. Gubrisku dalam hati.


"Kau mungkin takkan mengingatnya, Han. Karena usiamu saat itu baru memasuki usia 5 tahun, Aku mengingatnya dan akan terus menyimpannya, apalagi Mamamu 'Mam Raisya' sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri, Ia menyayangiku dan tak pernah membedakan dirimu denganku." Cerita Adam lagi, menyisakan bulit air mataku.


Seketika itu, Bang Danil menghampiri kami. Aku dan Adam pun beranjak dari tempat duduk kami.

__ADS_1


"Bang Danil udah selesai?" tanya Adam yang saat itu berdiri di sisi kananku.


"Sudah! btw, melihat kalian berdiri berdampingan seperti ini, kalian terlihat serasi, emmmm!" Bang Danil tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tak pernah ku pikirkan.


"Bang Danil bisa saja." Gubris Adam dengan sedikit senyum.


"Bang, yuuk! entar hujan!" Ajakku.


"Ya udah dehhh! Adam kami pulang dulu." Pamit bang Danil.


"Dam, terima kasih yah. Sekali lagi terima kasih." ucapku tersenyum lirih.


****


Di rumah, waktu kini menunjukkan pukul sembilan malam, Aku mengganti pakaianku dengan sebuah piyama pink hello kitty, lalu memeriksa ponselku yang sudah terlupakan semenjak bertemu dengan Adam.


Hatiku sedih, teriris melihat ponselku, namun tak ada satupun cat dari Dirga.


Semarah itukah kau padaku, Ga? tanyaku sendiri.


Aku mematikan ponselku kemudian menaruhnya. Tak ada hal lain yang Aku caru selain hanya memeriksa pesan Dirga.


Aku tak bisa menyalahkan keadaan yang mempertemukan diriku dengan Adam hingga pertengkaran ini terjadi. Aku masih berusaha mengalah pada Dirga karena hubungan kami yang telah 5 tahun terjalin dengan baik. Sekalipun Dirga memintaku untuk pergi darinya, Aku takkan meninggalkannya dan Aku telah menekankan itu pada diriku, meski Aku sadar semua ada penentunya.


Baru saja, Aku ingin membaringkan tubuhku, tiba-tiba, Bang Danil datang mengetok pintu kamarku.


"Han, Ada yang datang mencarimu!" Sahutnya membuatku penasaran. Malam-malam begini siapa yang datang.


"Jangan lama. Cepetan!" perintah Bang Danil lagi.


"Iya Bang."


Beberapa menit kemudian, Aku pun menuruni anak tangga dan mendapati bang Danil dengan tamu yang mencariku, Aku tak langsung menemuinya, Aku lebih dulu memata-matainya.


Siapa orang itu? Tanyaku sendiri.


- BERSAMBUNG NIHH. HI HI HI


-


-


-


****


MAAF YAH BARU UP LAGI. JANGAN SEGAN-SEGAN BERI LIKE DAN KOMENTARNYA. NGGA VOTE JUGA NGGA APA-APA KOK.


INSYA ALLAH AUTHOR UP SEHARI 2 EPISODE KOK, KALAU ADA WAKTU SENGGANG.

__ADS_1


SALAM LITERASI.


__ADS_2