THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.03 "Belajarlah Menghargai Orang Lain."


__ADS_3

"OMG!!! Aku telat," seruku kemudian bergegas cepat.


Tepat pukul 09.45, aku sudah berada di kampus dan bergegas menuju kelas. Aku terdiam sejenak; menatap kelas dalam-dalam, tanpa suara. Aku mengingat kejadian sehingga aku memutuskan untuk tidak lagi ke kampus beberapa hari. Di saat dua orang temanku mengajak ribut hanya karena nilai tinggi yang aku dapat dari beberapa mata kuliah.


"Baru dapat nilai tinggi aja udah belagu," ucap salah satu teman sembari mengibas-ibas rambutku.


"Mahasiswa terbaik di kelas ini, itu julukanmu, kan? Hanna Mayangsari!" sambung seseorang yang saat itu tengah berdiri di depanku dengan lagaknya yang seolah-olah ingin mencabik-cabikku.


"Aku ngga tahu, kenapa kalian benci saat aku dapat nilai tinggi dan selalu dipuji dosen?" geramku, "Ohh ... kalian ngiri pasti, kan?" lanjutku sembari tersenyum kecil.


Aku menarik napas pelan-pelan, sambil menatap keduanya tanpa berhenti, saat itu kami menjadi pusat perhatian di kelas, sayangnya Jo saat itu sedang sibuk dengan kegiatan BEM nya.


"Mel, tolong jangan pancing suasana. Aku ngga mau terlibat masalah."


"Kau takut!" pancingnya. "Jelas saja kau tak mau terlibat masalah, karena kau mahasiswa terbaik di sini ... kau harus tahu ini, aku benci sama kamu, Han!" seru Melda kasar.


Kekasaran kata-kata Melda membuatku tak nyaman saat itu, aku pikir menjadi pintar itu adalah hal yang bisa dibanggakan, tapi ternyata hal itu hanyalah anggapan sebagian orang. Kata-kata Melda kepadaku membuatku sadar bahwa tidak semua orang merasa bangga dengan kepintaran. Yahh ... aku menyadari satu hal, mungkin karena kepintaran ini, aku menjadi sombong sehingga aku lupa dan tak peduli dengan yang lain.


"Hanna!" seru seorang tiba-tiba.


"Ohhh."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak masuk?" tanyanya heran..


Aku pun melangkahkan pelan kakiku ke dalam kelas, semua mata tertuju padaku. Beberapa dari mereka pun tersenyum tanda menyambut kedatanganku, begitupun dengan Jo.


Beberapa saat kemudian, Melda dan Rani masuk kelas. Ahh ... benar-benar, mereka memang satu paket. Kemana selalu berdua, dan style mereka pun sama, contoh persahabatan yang baik.


Aku memberi senyum ikhlasku kepada mereka, berharap mereka pun membalasnya dengan baik, namun aku salah. Mereka masih sinis dan terlihat tak suka padaku. Seketika, aku teringat ucapan abang padaku, "Dewasalah." kata itu membuatku membalas sifat sinis mereka masih dengan senyunan. Aku tak mau ada lagi orang yang membenciku, cukup mereka berdua.


"Kalian kenapa? lirik-lirik begitu. Hanna, duduklah!" seru Jo seolah ingin merubah suasana.


"Iya, kalian duduklah, bentar lagi dosen masuk, ga baik kalau kalian bertengkar terus." sambung seseorang berambut ikal yang duduk tepat di arah jam 3. Tapi aku tak mengindahkan ucapan mereka, aku justru menghampiri Melda dan Rani. Saat itu, aku tak lagi memikirkan apakah aku salah atau tidak. Satu yang aku pikirkan, mereka bisa tersenyum ketika melihatku.


"Aku minta maaf," ucapku tiba-tiba. Sedang mereka berdua saling berpandangan.


"Apa kami tidak salah dengar, seorang Hanna meminta maaf!"serunya tak percaya.


"Iya. Aku minta maaf, dan tolong tegur aku jika aku salah."


Saat itu, aku tak peduli seisi kelas memperhatikan kami, aku hanya mengambil kesempatan sebelum dosen masuk kelas. Aku tak mau lagi ada kebencian di kelas itu, aku tak mau lagi teman-temanku merasa tak enak padaku.


Melda dan Rani sungguh tercengang mendengat permintaan maafku. Mereka sungguh terkejut dengan sikapku yang cuek tiba-tiba berubah jadi adem.

__ADS_1


"Aku ngga percaya, kau berubah secepat ini," Melda masih tak percaya


"Hanna kau serius?" tanya Rani juga tak percaya.


"Aku serius, aku minta maaf." Ulangku lagi. "Tapi ada satu hal penting lagi yang juga ingin aku katakan pada kalian."


"Katakan saja," Melda mulai berkata lembut dan sungguh membuatku nyaman.


"Tolong, belajarlah menghargai orang lain." Ucapku. "Aku akui selama ini aku sombong bahkan tak peduli dengan yang lain termasuk kalian, tapi buka berarti ... apa yang aku lakukan tidak pantas dihargai, aku juga mau kalian menghargai setiap yang kulakukan, jikapun kalian tidak suka, tolong tegur aku." Tambahku dengan penuh pengharapan.


"Baiklah, tapi kau juga harus berbagi dengan kami."


jadi


"Deal!" seruku tersenyum bersamaan dengan mereka. Seketika suara tepuk tangan terdengar, dan membuat kami terkejut.


"Syukurlah!" seru Jo,kemudian kami duduk di bangku masing-masing.


-


-

__ADS_1


- BERSAMBUNG GUYS


__ADS_2