THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.17 "Ahmad Adam Ariandra."


__ADS_3

Langit gelap, tak satu pun nampak bintang berkedip, Aku sendiri di kamarku menatap ke Atas langit yang seolah bersahabat dengan perasaanku saat ini.


bentar lagi mungkin hujan akan turun. Kataku sendiri, gorden kamar yang sedikit-sedikit terbang karena tiupan angin malam menambah kesunyiannya hatiku.


Aku mengambil sebuah bingkai foto yang kuminta pada abang beberapa hari yang lalu, Aku memandanginya dan merindukan sosok orangtua.


Aku tak mengingat sedikitpun tentang mereka bahkan wajah mama dan papa pun tak bisa aku ingat. Aku sedih, ingin berteriak, Aku bahkan ingin marah pada bang Danil, namun Aku tak mampu.


Hujan kini benar-benar membasahi bumi, seolah sedang membasahi hatiku juga.


tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar di balik pintu kamarku.


"Hanna, kau sudah tidur?" Sahut bang Danil.


Aku tak segera menjawabnya, Aku melihat jam weker yang ada di meja belajarku, masih menunjukkan pukul sembilan malam. Aku tak menjawab sahutan bang Danil, Aku hanya segera beranjak dan membukakannya pintu.


"Ada apa, Bang?" Tanyaku dingin tak seperti biasanya.


"Abang ingin ngajak kamu keluar sebentar!" Ajaknya.


"Bentar yah, Bang. Hanna ambil jaket dulu."


"Ya udah, Abang tunggu dibawah." kata Bang Danil lagi kemudian menuruni anak tangga. Aku menutup kembali pintu kamarku dan bergegas mengambil sebuah sweater abu-abu polos, menutup jendela kamar, lalu beranjak menghampiri bang Danil yang sudah menungguku di bawah anak tangga paling terakhir.


Aku hanya tersenyum melihat abangku, lalu kami berjalan beriringan ke luar rumah. Bang Danil mengeluarkan motor honda beatnya, sedang Aku mengunci pagar rumah. Kami pun berlalu.


"Bang, memangnya kita mau kemana?" Tanyaku.


"Ke suatu tempat yang bisa bikin hatimu membaik." jawabnya, namun tatapannya masih fokus ke depan.


Sepuluh menit berlalu, bang Danil pun menghentikan motornya, Aku segera turun dan sejenak menatap sekeliling, hingga pandanganku tertuju pada sebuah tulisan besar 'Veggy Cafetaria ' yang sempat aku baca.


bukannya ini cafe yang abang kunjungi tadi pagi? gumamku membatin. Aku hanya mengikuti bang Danil tanpa banyak bertanya. Bang Danil berjalan mendahuluiku, dan Aku mengikutinya di belakang.

__ADS_1


Bang Danil menarik dua buah bangku, dan memintaku duduk, Ia pun memesankanku makan dan minuman sesuai seleraku.


"Kenapa ngajak Aku kesini, Bang?" Tanyaku yang sudah sejak tadi bertanya-tanya.


"Hanna, Abang akan menceritakan semua yang pernah kau tanyakan pada Abang, rasa penasaranmu, akan Abang jawab." Bang Danil mulai serius.


Bang Danil mulai menceritakan semua tentang masa kecil yang tak bisa Aku ingat. Ia menceritakan tentang kematian orangtua kami.


"Kecelakaan itu terjadi ketika kau berusia hampir lima tahun dan saat itu, kita akan merayakan pesta ulang tahunmu di rumah Oom Je bersama dengan perayaan ulang tahun anaknya, karena tanggal kelahiran kalian sama, hanya beda tahun saja, tapi tiba-tiba saja, Ayah hilang kendali karena tak sanggup menahan rasa kantuknya." Bang Danil serius menjelaskan.


Aku tak menyadari air mataku mulai menetes, Aku tak sanggup mendengar cerita Bang Danil.


"Abang bukannya tak mau menceritakan ke kamu, Abang hanya tidak ingin mengenang masa lalu yang menyakitkan apa lagi mengingat kecelakaan saat ayah dan mama harus dibawa ke rumah sakit. Di hari kecelakaan itu pun kau kekurangan banyak darah Hanna, abang sangat bersyukur ketika istri Oom Je dan anak tunggalnya mau mendonorkan darahnya padamu." Ungkap bang Danil lagi dengan binar mata yang mulai nampak bening, namun Abangku itu masih menahan air matanya untuk tetap tertahan.


Aku masih mendengarkan dengan bulir air mata yang sudsh beberapa kali menetes.


"Di saat proses pendonoran darah untukmu berjalan, Abang tak sanggup lagi tiba-tiba, Oom Je meminta Abang menemui mama dan papa, kami berjalan bersama menuju ruang ICU dan beberapa menit kemudian, mama dan papa mengehembuskan nafas terakhirnya.


Aku kemudian mulai menangis tersedu-sedu, meski sebenarnya Aku ingin menangis keras, namun itu tak mungkin karena kami berada di tempat umum.


"Lalu setelah itu, Apakah kita langsung tinggal berdua, Bang?" Tanyaku sejenak menyeka air mataku.


"Kami masih menunggu kau sadar Han, Abang bahkan pasrah pada Tuhan jika Ia ingin mengambilmu juga, Abang selalu berdoa agar Tuhan masih menjaga dirimu diusia muda saat itu. Abang bahkan tak mampu membayangkan penderitaanmu yang berhari-hari terbaring di rumah sakit." Abangku mulai terdengar serak, nampak sekali abang masih menahan air matanya.


Aku kemudian memegang tangan Abangku itu, menguatkannya.


"Terima kasih, Abang sudah menjagaku sampai sekarang." ucapku kemudian.


"Tidak Hanna, masih ada satu orang lagi yang berhak mendengar ucapan terima kasihmu itu, dia anak Oom Je. Sejak kau terbaring di rumah sakit karena kecelakaan itu, selain mendonorkan darahnya, Ia juga selalu menjagamu di saat Abang kelelahan. Usianya hanya lebih tua Empat tahun darimu--Ia anak yang kuat--anak laki-laki yang baik--satu-satunya putra Oom Je." Lanjut Bang Danil lagi, mulai membuatku penasaran akan orang itu.


"Berjanjilah, kau akan berterima kasih padanya, jika bertemu dengannya." Timpal Bang Danil menatap dan menggenggamku berharap agar Aku mau berjanji padanya.


Aku menatap dalam mata Bang Danil yang benar-benar serius dengan kata-katanya.


"Hanna janji, Bang. Pasti!" balasku sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Keluarga mereka sudah sangat baik pada kita berdua semenjak kepergian mama dan papa, mereka mau menampung kita selama bertahun-tahun, tapi Abang tidak mau merepotkan mereka lagi, dan kita hanya sebulan tinggal bersama mereka, itupun hanya menunggu sampai kau benar-benar pulih." Lanjut Abang lagi.


Abang, kau benar-benar kuat melalui semua ini sendiri, bahkan mampu memebesarkanku sampai sekarang. Gubrisku dalam hati sambil menatap mata bang Danil yang mulai sayup.


****


Usia bang Danil saat itu memang sudah 15 tahun, Ia sudah beranjak remaja, bahkan di saat usiaku tujuh tahun, Abang bahkan memasukkanku ke sebuah sekolah. Aku masih ingat ketika usiaku 7 tahun, setiap pulang sekolah, Abang pasti menjemputku lalu berangkat ke tempat kerja sampingannya. Ia tak pernah malu bekerja sebagai Cleaning Service, tukang parkir atau bahkan narik becak. Bahkan Aku masih ingat Abang pernah menjemputku dari sekolah dengan becak yang ia bawa. Aku bangga dan kagum sama Abangku ini.


"Ayah punya perusahaan yang dikelola oleh Oom Je, Perusahaan itu adalah perusaahan tempat abang bekerja sekarang sebagai wartawan, Meski sebenarnya Oom Je sudah lama meminta Abang untuk mengelolanya, tapi Abang tidak menerimanya."


"Kenapa Bang?" tanyaku menatap bang Danil.


"Abang akab memberikannya padamu nanti ketika kau menikah. Itulah kenapa Abang masih meminta Oom je dan putranya yang mengelola, Abang hanya cukup sebagai karyawan biasa saja."


"Abang, Hanna boleh tanya satu hal?"


"Apa Han? Katakan saja."


"Siapa nama Putra Oom Je itu?" Tanyaku menaruh harapan pada bang Danil agar menjawabnya.


"AHMAD ADAM ARIANDRA." Jawab Bang Danil Spontan.


- BERSAMBUNG


- DULU YAH SOBAT READERS. HEHEH


-


-


-


****


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA. VOTENYA GA USAH DEHH. HEHEHE

__ADS_1


__ADS_2