THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep. 04 "Aku takkan pernah bisa melupakannya,"


__ADS_3

Ahhhhh ... Aku menghembuskan nafasku dengan pelan, kemudian beranjak dari tempatku terlelap. Suasana rumah hari ini tak seperti hari biasanya--suara abang tak terdengar meski hanya membangunkanku -- derap langkahnya pun tak ada. Aku beranjak lagi hingga kakiku berpijak di dapur, berharap abangku sedang menikmati hobbinya, namun nihil. Aku tak menemukannya di manapun dalam rumah ini.


Aku lapar. Aku harap ada makanan.


Aku membuka tudung saji yang sekalipun tak pernah berpindah tempat, berharap ada makanan di situ, namun bukannya makanan yang aku dapat justru selembar kertas kecil berwarna kuning. Kalau ga salah namanya Stick Note. Segera saja aku membacanya.


Abang pergi pagi-pagi sekali, karena ada urusan mendesak di Kantor, jadi masak sendiri dulu yah adik abang yang manis.


Membaca kata-kata yang abang tulis, membuatku geli, tumben banget dia nulis kata-kata kayak gitu, meski sebenarnya sudah biasa, tapi tetap aja geli. Karena tak ada satupun makanan, aku pun hanya memasak apa yang bisa aku masak, itu pun hanya untuk mengisi perutku yang kosong sebelum berangkat ke kampus. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam. Aku tak berpikir lama dan segera membukakannya pintu.


Tubuhnya yang tinggi dan kurus, membuatku hanya terdiam, meski dalam hati aku bertanya-tanya, siapa dia.


"Benar ini rumah ibu Hanna Mayangsari?" tanyanya sopan sekali.


"Iya benar." Jawabku spontan, "Siapa yah?"


"Saya hanya Tukang Post, Mba!" jawabnya tersenyum lirih.


"Ohh begitu, maaf soalnya saya ngga lihat barang bawaannya," ucapku juga lirih.


"Iya mba ngga apa-apa." Jawabnya.


"Ada apa yah, Pak?" tanyaku menatap Tukang Post itu dalam.

__ADS_1


"Ini ada paket untuk mba da--n." Ucapnya terpotong.


"Dan apa, Pak?"tanyaku lagi.


"Ngga apa-apa, tadi cuma salah lihat. Tolong tanda tangan di sini." Sembari mengeluarkan faktur penerimaan paket dan memberikanya padaku.


"Kalau begitu, saya pamit dan terima kasih." Tukang Post itupun meninggalkanku dan menghilang begitu saja. Secepat itukah dia? mungkin memang seperti itu, karena sudah menjadi pekerjaan hari-harinya.


Aku kembali menutup pintu, menatap jam dinding sejenak. Ternyata masih ada waktu untuk bergegas. Namun sebelum bergegas untuk ke kampus, aku membuka paket itu, namun aku tak membuka sebuah kotak yang ada dalam isi paket itu ketika melihat sebuah surat juga di dalamnya dan aku hanya peduli dengan surat itu.


Aku kembali, aku akan menunggu di sebuah tempat yang tidak jauh dari kediamanmu. Apa kau mau menemuiku sekarang? jika tidak, aku juga akan tetap menunggu.


Sebuah surat singkat dan padat, membuatku terharu hingga air mataku spontan menetes begitu saja.


Aku mengulang kata-kata itu berkali-kali, hatiku sontak tak tahu harus berbuat apa. Antara senang --bingung --sedih. Aku masih menangis masih tidak percaya jika ia kembali. Sesekali aku membaca lagi surat yang masih melekat di tanganku itu, hingga aku lupa bahwa ia sedang menunggu.


Tanpa meletakkan surat itu, aku berlari ke arah mall, aku ingat ada sebuah tempat di sana yang sering kami kunjungi. Di sana ada dua patung besar simbol cinta pak Habibi dan istrinya Ainun.


Aku masih berlari, hingga beberapa saat langkahku terhenti. Bumi seolah berputar; Aku berdiri di tengah-tengah, Dia masih tak aku temukan. Napasku mulai tak beraturan, dan masih tak percaya Dia telah kembali.


"Hanna!" seru seseorang dengan sangat lembut tepat di belakangku, Ia bahkan menyentuh pundak kananku hingga membuatku berbalik. Pandangan kami bertemu, sangat dekat.


Butiran bening dari mataku menetes menatapnya -- haru -- bahagia -- tak mampu berkata-kata bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Dirga!" seruku juga pelan. Kemudian Dirga langsung memelukku erat, aku pun membalas pelukan itu dengan beberapa butiran air mata yang masih tersisa.


"Terima kasih, kau kembali," ucapku


"Terima kasih juga, kau masih menunggu."


Pertemuan yang membuatku lupa tentang kuliah hari ini. Aku yakin Jo pasti kaget lagi karena aku ngga masuk.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Dirga menatapku lirih. Sedang aku mengangguk pelan, aku tak mampu berkata-kata, melihatnya saja aku sudah bahagia. Senyumnya yang tak pernah bisa aku lupa, lesung pipitnya yang tergambar jelas, layaknya malaikat yang tak bisa aku gambarkan.


"Hanna, ibarat Layla dan Majnun -- Habibi dan Ainun, tak sedikitpun aku melupakanmu. Aku hanya selalu berharap kau selalu baik sampai aku kembali, dan kau membuktikannya padaku. Terima kasih, Hanna."


Untuk yang kedua kalinya, Dirga memelukku lagi. Aku merasakan kehangatannya, kelembutannya dan sungguh menyejukkan hati. Hati yang terbakar pun bisa luluh karena pelukannya. Aku sadar, Dia adalah yang terbaik untukku, dan aku berterima kasih pada-Nya yang telah menghadirkan seseorang seperti Dia dalam kehidupanku.


Seperti malaikat yang selalu memberi damai, seperti sepoi angin yang selalu menyejukkan.


Ahhhh, sungguh bagiku dialah kesempurnaanku. Di manapun dia, Aku takkan pernah bisa melupakannya.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2