
"Apa yang membuat anda kemari, Pak?" tanya bang Danil sementara Aku masih berdiri di sudut tangga mendengarkan tanpa sepengetahuan mereka. Namun terlihat Bang Danil mengenal pria yang ia hadapi saat itu.
"Ada hal yang sudah harus saya sampaikan padamu, Danil." Pria itu angkat bicara.
"Tapi tunggu Hanna dulu, agar saya menyampaikan ini hanya satu kali." Lanjutnya lagi.
Aku mulai melangkahkan kakiku menghampiri mereka, Bang Danil dan pria itu sejenak menyambut kehadiranku. Bang Danil memberiku kode agar duduk di sampingnya.
Sungguh, ada pertanyaan yang membuatku bertanya-tanya saat itu. Bang Danil nampak sekali mengenal pria itu, begitupun sebaliknya.
"Hanna sudah hadir, bisa kita lanjut?" pinta bang Danil pada pemuda itu.
"Bang, Dia siapa?" Tanyaku berbisik.
"Kau juga akan tahu nanti." balasnya pelan.
Pria itu akhirnya melanjutkan pembicaraannya. Menyampaikan apa maksud kedatangannya hingga Ia mengeluarkan sebuah map kertas berwarna biru, dan memulai tujuannya mendatangi kami. Aku yang sudah tak sabar menunggu dan bertanya-tanya hanya diam tak berkutik dan siap menerima setiap penjelasan yang akan ia sampaikan.
"Jadi, kedatangan saya kemari ingin menyampaikan keinginan terakhir Bapak Dannis kepada kalin putra dan putrinya. Beliau membuat wasiat ini ketika beliau ingin merayakan ultah nona Hanna yang kelima, sebelum kecelakaan terjadi." Ungkapnya, kemudian membuka isi dari map yang telah ia keluarkan beberapa menit yang lalu.
Tanganku mulai dingin, dan sesekali memandang bang Danil dengan sedikit kekakuanku.
"Apa boleh saya membacanya sekarang?" Tanyanya meminta izin dari kami berdua.
__ADS_1
"Silahkan dilanjut Pak Has!" Gubris bang Danil.
Pak Has mulai menjelaskan semua hal yang tertulis di dalam lembaran-lembaran itu. Tiba saat lembaran kedua mulai dibaca, Aku mulai tegang dan wajahku mulai menyeringai.
"Putriku Hanna Mayangsari harus menikah dengan seseorang yang telah kupilihkan untuknya, dan pengumuan perjodohan ini harus disaksikan oleh dua keluarga." Tegasnya.
"Apa maksud pernyataan itu, pak Has?" Aku berdiri dan spontan berkata dengan nada tinggi.
"Hanna-- biarkan pak Has menyelesaikan tugasnya!" Bang Danil menekanku agar Aku duduk tenang kembali.
"Ngga bang, Apa-apaan ini, bang, Apa maksud pernyataan bahwa aku dijodohkan? Aku ngga mau dijodohkan, Aku ngga mau ...!" Teriakku keras.
"Hanna, ini adalah wasiat dari almarhum ayahmu!" tegas pak Has padaku.
"Hanna!" teriak bang Danil.
Aku sedikitpun tak mengacuhkan teriakan bang Danil. Aku berada di kamar lalu mendorongnya kencang, Aku mengis sejadi-jadinya.
Handphoneku! sahutku kemudian,
Aku mencari handphone yang kuletakkan di atas kasur sebelum beranjak turun, dan membuka semua chat sempat masuk. Berharap penuh, Dirga mengirimiku kabar, namun masih juga nihil.
kau jahat Dirga! kau jahaaaat-- hiks ... hiks ... !" teriakku lagi sambil menangis terisak lalu melempar ponselku lagi ke atas kasur.
__ADS_1
Tok tok tok
Bang Danil mengetuk pintu yang sebenarnya tak terkunci, kemudian Ia menghampiriku-- mengelus kepalaku.
"Hanna, dengarkan abang dulu." ucap bang Danil mencoba membuatku tenang.
"Bang Danil udah tahu semuanya, kan? kenapa ngga pernah cerita ke Hanna, Bang?" Tanyaku kecewa.
"Abang tak bermaksud merahasiakan semuanya, Abang hanya menunggu waktu yang tepat. Kau tahu, mama dan papa menjodohkanmu dengan siapa? Dia lelaki yang baik, Han. Kau bahkan bertemu dengannya di kantor tadi." Jelas bang Danil.
"Apa Bang?" Aku berdiri menatap Bang Danil tajam dengan beberapa bulir air mata yang mulai menetes.
"Maksud Abang, Adam--Putra Oom je!" Sahutku meminta kepastian.
"Iya!" Bang Danil menjawab spontan.
Aku tak menyeka air mataku, aku mengambil sweater abu-abuku dan ponselku1, kemudian berlari meninggalkan kamar--menuruni anak tangga, Bang Danil mulai mengejarku, namun Aku berlari dengan cepat bahkan berlari meninggalkan rumah.
-
-
-
__ADS_1
-