
Kami tak jadi ke Pantai, Dirga hanya mengajakku berkeliling, setelah itu mengantarku pulang. Kesalah pahaman kami pun selesai, dan itu sungguh membuatku tenang. Aku bahagia Dirga masih mencintaiku dengan tulus, meski Aku tak bisa memungkiri perjodohan yang melibatkanku.
****
Aku mengetuk pintu rumah, sambil menekan bel rumah yang letaknya di pojok kiri atas pintu, tak cukup dua menit seseorang terlihat membukakan pintu, pandangan kami bertemu.
Adam. Gumamku membatin.
Sejenak pandanganku kualihkan ke Dirga yang juga sedang memandang lelaki berbadan tegap, tinggi itu.
"Siapa, Dam?" tegur Bang Danil dari dalam.
"Hanna, Bang." Adam menjawab.
Aku mengajak Dirga untuk ikut masuk, meski saat itu Aku tahu bang Danil menolak. Penolakan itu jelas tergambar dari tatapan bang Danil padaku, namun Aku tak peduli, Aku masih meminta Dirga agar ikut masuk bersamaku.
Kami semua duduk di ruang tamu, dan beberapa menit berlalu, tak satupun ada yang angkat bicara. Aku tahu pasti dalam benak Dirga bertanya-tanya tentang Adam.
Dirga hanya tahu tentang perjodohan yang terjadi padaku, namun tak mengetahui orang yang dijodohokan denganku.
"Apa kabar?" Sapa Dirga pada Adam seraya angkat bicara.
"Aku baik." Balasnya
"Kalian sudah saling kenal?" tanya bang Danil yang menatap keheranan pada dua orang itu.
"Iya Bang, kami sudah saling kenal." Dirga menimpali.
"Baguslah." Bang Danil merasa senang karena mereka sudah saling kenal.
"Bang, udah sore. Saya harus balik kantor dulu." Adam memohon pamit.
"Iya, terima kasih sudah masih mau mengurusi perusahaan Abang." kata Bang Danul lagi sambil memegang pundak kanan Adam.
"Hanna--Dirga, Aku pamit!" serunya lagi lalu Bang Danil mengantarnya hingga ke depan pintu.
"Han, Aku sebaiknya juga pulang. Aku harus balik kantor jemput papa." Dirga menatapku lalu berdiri.
Aku berdiri seraya ingin mengantarkan Dirga ke depan rumah, hingga berpapasan dengan Bang Danil. Dirga mencoba pamit pada Bang Danil, namun tanggapan bang Danil tidak seperti biasanya. Bang Danil menanggapi Dirga hanya dengan anggukan kepalanya, kemudian berlalu.
Aku yang melihat sikap abangku itu, hanya menahan kejengkelanku. Aku bahkan jadi tidak enak hati pada Dirga.
"Aku pamit yah. Istirahatlah!" Dirga mengelus lembut bahuku, kemudian berlalu.
Aku menutup pintu, kemudian menyusul bang Danil yang saat itu memulai aktivitasnya di Dapur. Aku mulai meluapkan apa yang sejak tadi kupendam.
"Bang, Aku heran dengan sikap abang ke Dirga, kenapa tiba-tiba berubah?" tanyaku penuh penekanan.
"Abang biasa saja Hanna, kamu yang salah menanggapi." Timpalnya sambil memasukkan beberapa potong wortel ke wadah yang ia pakai memasak.
"Ngga, Abang bahkan ngga menyauti Dirga. Abang hanya peduli pada Adam." kesalku melipat kedua tanganku di atas perutku.
__ADS_1
"Bang, tolong jangan membedakan keduanya. Dan satu hal lagi, Hanna ngga akan ninggalin Dirga." tegasku lagi dan mencoba meninggalkan bang Danil, namun seketika Bang Danil berbalik menatapku, dia masih memegang spatula di tangan kanannya.
"Hanna, Abang tidak membedakan antara Adam dan Dirga, abang hanya saja ingin kau juga peduli pada Adam." pernyataan bang Danil seketika menghentikan langkahku dan kembali menatapnya.
"Abang tidak akan memintamu untuk menyukai Adam, atau memutuskan hubungan degan Dirga, Abang hanya mau kamu bisa bersikap baik juga pada Adam, agar kau juga bisa membedakan keduanya." tegasnya lagi.
Aku mencerna setiap kata-kata bang Danil, dan Aku tidak menyalahkan setiap ucapannya, justru apa yang Bang Danil katakan itu ada benarnya.
"Kau hanya tidak siap menerima semua ini, tapi bukan bearti kau cuek pada Adam, setidaknya bertemanlah padanya, jangan menjadikannya musuh." Lanjut Bang Danil lagi, kemudian berbalik--kembali mengerjakan aktivitas memasaknya.
Aku kembali menapaki anak tangga yang tak banyak itu dan segera memasuki kamar, membersihakn diriku.
kata-kata bang Danil ada benarnya, Adam sedikit pun tidak salah dengan perjodohan ini, tapi kenapa Aku seolah membenci dan tak mencoba memberikannya ruang. Adam bahkan telah beberapa kali menolongku. Ahhh, sejahat itukah, seegois itukah diriku? Gerutuku bingung pada diri sendiri.
****
/Han, kuliah besok dimulai pukul 08.00 pagi. Jadi jangan telat./ sebuah message dari Joan di dalam grup kelas yang langsung kubaca, ketika notifikasi pesan grup ponselku berbunyi.
Joan benar-benar, ketua kelas yang disiplin, sedikit pun informasi tak pernah ia ketinggalan, bahkan dengan cepat menginformasikannya di grup. Gerutuku sendiri, kemudian beranjak dari tempat tidurku.
Aku memandangi jam dinding yang bertengger di tempatnya. Jam menunjukkan pukul 06.26 menit. Kubuka tirai jendela kamarku dan membiarkan bias matahari pagi menembus.
Aku berjalan menuruni anak tangga, dan menuju dapur, masih ada beberapa piring yang belum sempat dicuci sehabis makan semalam. Bang Danil pun masih belum nampak batang hidungnya.
Apa bang Danil masih tidur, ya? tanyaku sendiri sembari melirik ke arah kamarnya yang masih tertutup rapat.
Ahh ... sudahlah, pagi ini biar Aku yang memasak, dan membersihakan dapur. Kataku lagi.
****
ting tung
ting tung
Ceklek
Pintu itu kubuka dan kudapati seseorang berbadan tinggi--kurus.
"Pak Pos, yahh?" tanyaku pada lelaki jangkung yang saat itu telah berdiri di hadapanku.
"Saya pikir, Mba masih tidak mengenali saya. Hehehe." ucapnya di iringi sedikit gelak tawa.
"Ada surat lagi yah pak?" tanyaku lagi.
"Iya Mba, suratnya untuk Nona Hanna Mayangsari, da--ri Titik Titik Embun di Negeri Sa--ku--ra." Timpal pak Pos itu sembari membaca beberapa tulisan yang tertulis di luar amplop putih yang ia pegang sambil memberikannya padaku.
"Terima kasih." kataku sedikit melebarkan senyum padanya.
"Nona Hannanya mana, Mba? kalau ada biar saya kasi langsung saja." tutur Pak Pos itu yang seketika ingin membuatku tertawa, namun masih ku tahan.
Aku sambil melipatkan kedua tanganku di atas perut sambil menatap Pak Pos itu dari kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Kenapa menatap saya seperti itu, Mbak?" tanyanya heran.
"Pak, emangnya bapak lihat saya ini seperti apa?" tanyaku lagi hingga membuat pak Pos itu serba salah.
"Entahlah, Mbak. Heheheh!"
"Saya ini ... Hanna Mayangsari pak, di rumah ini cuma ada saya sama abang saya, karena surat ini ditujukan kepada seorang perempuan, maka tentu saja surat ini untuk saya." ketusku hingga tatapan pak Pos itu berubah, seketika wajahnya berkerut dan menghela napasnya.
"kan saya ngga tahu, Mbak. Kalau Mbak tinggal berdua, tugas saya kan bukan pencari informasi Mbak, tapi hanya pengantar surat." Jawabnya mengelak tidak mau kalah.
"Okelah, Tapi lain kali jika ada surat, jangan panggil saya Mbak lagi yah, panggil saya No--Na." timpalku tersenyum padanya.
"Enggeh, Nona Hanna, kalau begitu saya pamit dulu!" pamitnya dengan sedikit logat Jawanya, Aku menimpalinya dengan sekali anggukan, kemudian ia berlalu.
ternyata dia orang Jawa. Pak Pos itu unik juga. hahaha. kekehku sendiri, lalu kembali menutup pintu dan melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
Aku membolak balikkan surat yang baru saja Aku terima, Surat kelima yang aku dapat dari pengirim yang sama TITIK TITIK EMBUN DI NEGERI SAKURA, itulah yang tertulis di luar amplop surat itu.
Disaat ingin membukanya, tiba-tiba Aku teringat akan piring-piring kotor yang belum sempat terselesaikan dan beberapa roti yang masih aku bakar dengan mesin pembakar roti, Aku pun meletakkan surat itu, di atas meja makan, dan menyelesaikan pekerjaanku.
Ceklek
terdengar suara pintu terbuka dari arah kamar bang Danil.
Sepertinya bang Danil udah bangun. Gerutuku.
"Kau, sedang apa di dapur?" tanyanya keheranan.
"Memasak, gantiin Abang."
"Apaan nihh?" kata bang Danil membuatku seketika berbalik, saat ia berjongkok mengambil sesuatu yang terjatuh di bawah meja.
Aku yang seketika melihat, ia memegang amplop putih segera merampasnya.
"Jangan dibuka, Bang!" teriakku.
"Kau ini, mengagetkan saja. Siapa itu Titik Titik Em--,ahh entahlah. Siapa?" tanyanya maksa.
"Mau tahu aja. Tuhh lanjutin, Aku mau siap-siap ke Kampus." perintahku ketus kemudian meninggalkan bang Danil.
padahal Aku kan juga ngga tahu, siapa yang selalu ngirimin Aku surat. Gerutuku kesal.
-
-
-
-
BERSAMBUNG DULU YAHH, SOALNYA AUTHOR MAU BACA SURAT DARI TITIK-TITIK EMBUN DI NEGERI SAKURA DULU... HAHAAHAH.
__ADS_1
HARI INI UP SATU EPISODE AJA, TAPI LUMAYAN PANJANG KOK.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN ADN VOTENYA. TERIM kasih.