
Sekitar 15 menit, Aku akhirnya tiba di rumah. Aku mendapati pintu rumah yang tak terkunci, dan langsung masuk ke dalam. Aku menuju dapur dan menaruh semua barang belanjaan di sana. Aku memanggil-manggil bang Danil, namun tak ada jawaban.
kemana sih bang Danil? ocehku sendiri sambil berjalan menuju kamarnya--yang letaknya sekitar dua meter dari dapur--tepat di belakang sofa ruang tamu yang menghadap ke arah barat--di sebelah kanannya ada sebuah gudang yang tak pernah terbuka. Aku mendapati pintu kamar bang Danil yang tertutup dan sebuah stick note berwarna hijau tertempel di sana.
ABANG SEDANG KELUAR! Isi tulisan di stick note itu.
kenapa juga sih bang Danil nulis kayak ginian, kan dia juga punya ponsel? Ocehku lagi, kemudian duduk di sofa lalu menyalakan televisi mencoba menghilangkan kekesalanku.
Beberapa saat, handphoneku berbunyi--telepon dari Dirga. Aku mengecilkan suara TV lalu mengangkatnya.
"Aku lagi sendiri di rumah." Jawabku.
"Bang Danil kemana?" tanyanya
"entahlah!" Jawabku lagi.
"Hanna, Aku jemput kamu dua puluh menit lagi. Oke!" kata Dirga.
"Hallo Dir--!" ucapku terputus ketika Dirga segera menutup telponnya. Aku mematikan TV kemudian bergegas, karena Dirga akan datang menjemputku.
Aku berlari menuruni anak tangga, tepat di ruang tamu, Aku berpapasan dengan bang Danil.
"kau mau kemana?" Tanyanya memperhatikan penampilanku.
"Abang udah pulang, dari mana aja?" Aku bertanya balik dan tak menjawab pertanyaannya.
"Tadi Abang bertemu teman lama, jadi buru-buru keluar." Jawabnya, "Kau sendiri sekarang mau kemana?" Tanyanya kembali.
"Aku mau pergi sama Dirga. Abang mau ikut!" Ajakku spontan.
"Ngapain Abang ikut, ntar malah jadi obat nyamuk." Jawabnya ngelawak.
"Ya udah, Aku pergi yah Bang!" Tukasku lagi.
"Hanna!" Bang Danil mendekat padaku-- memegang rambutku dengan lembut--menatapku tajam, seolah-olah ada hal yang tak bisa ia katakan padaku.
"Kau sangat mencintai Dirga?" tanyanya tiba-tiba dan itu membuatku heran.
"Abang kenapa tiba-tiba bertanya begitu padaku? Abang pikir lima tahun Aku mempertahankan hubungan ini, karena apa?" jawabku menatap Bang Danil dengan penuh keheranan.
"Ya udah..., kan Abang cuma tanya adik manis,"
tok tok tok! Terdengar suara ketukan dari luar.
"Itu pasti Dirga!" seruku.
__ADS_1
"Pergilah, hati-hati yah!" Timpal bang Danil lagi sambil tersenyum. Tanpa mempersilahkan Dirga masuk, kami langsung pergi.
Dirga membukakanku pintu mobilnya, kami duduk berdampingan.
"Tumben, hari ini kamu bawa mobil?" tanyaku menatapnya
"hmm, papa suruh Aku untuk membawanya."
"Terus kita mau kemana?" Tanyaku lagi.
"Kemana yahh!!!" Pikir Dirga sambil tertawa mentapku, seolah-olah sedang mengajakku bercanda.
Ahh... Aku senang sekali melihat wajah Dirga yang tertawa menatapku seperti itu. Aku bahagia, senyumnya membuatku damai saat bersamanya. Aku berharap dia bisa tersenyum setiap hari seperti itu.
Beberapa waktu berlalu, Dirga menghentikan kemudinya--Ia turun--membukakanku pintu-- meraih tanganku dan menggenggamnya.
waaaahhhhh! seruku ketika melihat bangunan besar berdiri kokoh di hadapanku. Mungkin ada sepuluh lantai, perkiraanku.
"Kau kenapa, tercengang begitu?" Tanya Dirga membuyarkan pikiranku.
"Ini kantor ayahmu?" Tanyaku penasaran sambil menatap Dirga yang berdiri di sampingku dan masih menggenggam tanganku.
"Hmm, ini kantor Ayahku. Kau terkejut, kan?" tanyanya.
" Iya, ini pertama kalinya Aku ke sini!" Timpalku, kemudian Dirga mengajakku masuk.
Setiap karyawan yang melihat kami, tertunduk menandakan hormat atas kedatangan kami. Tadinya Aku pikir mereka menunduk karena tahu Dirga adalah anak dari pemilik hotel terbesar itu, tetapi Aku salah. Setiap karyawan di Hotel itu sudah dilatih untuk menyapa setiap pengunjung yang datang atau yang keluar masuk.
"Ayah, Aku menuju ke ruangan ayah sekarang!"
Dirga menelpon ayahnya, dan kami sekarang menuju ke ruangannya. Dirga masih menggenggam tanganku dan kami berjalan beriringan. Kami menaiki lift yang di dalamnya sudah memuat beberapa orang, sesekali Aku ingin melepaskan genggaman Dirga, namun ia selalu menolak dan semakin menggenggam tanganku erat.
Lift berhenti, beberapa orang keluar, namun kami masih melanjutkan hingga ke lantai 12. Aku terkesima, karena tadinya Aku pikir hanya ada 10 lantai, namun Aku salah. Untungnya Aku tidak menanyakan langsung pada Dirga. Heheehe, bisa malu kan.
Kami berada tepat di depan pintu ruangan Ayah Dirga. Pintu itu terbuka otomatis dan kami pun melangkah masuk. Kami mendapatinya sedang duduk membaca surat kabar.
"Kalian sudah datang!" Sapanya kemudian berdiri menyambut kami.
Perasaanku deg degan bertemu Ayah Dirga.
Aku bahkan tak sanggup menatap mata beliau, Aku tersadar bahwa diriku ternyata tak pantas untuk mendampingi Dirga. Melihat kenyataan hari ini di depan mataku, Dirga hampir memiliki segalanya-- Ia memiliki orangtua lengkap--kekayaan-- hati yang baik. Lima tahun kami bersama dan ini pertama kalinya, Dirga mempertemukanku dengan Ayahnya.
"Ini pasti Hanna!" Sapanya menatapku. Kemudian Aku melepaskan genggaman tangan Dirga dan memberi salam--mencium tangan ayah Dirga.
"Duduklah!" perintahnya.
__ADS_1
Belum Sepuluh menit, tiba-tiba telpon di meja kerja Ayah Dirga berbunyi. Dirga menatapku dengan senyumnya yang manis; Ayahnya mengangkat telpon, Aku duduk menunggu.
"Hanna, minumlah!" Sahut Ayah Dirga yang baru saja menutup gagang telpon yang baru saja ia terima.
"Ayah udah tahu kok Han tentang hubungan kita." Ucap Dirga setelah menyantap teh hangat yang baru saja di suguhkan beberapa menit yang lalu.
sejak kapan emangnya Dirga menceritakan hubunhan kami? kenapa Dirga ga pernah cerita sama Aku. Gumamku dalam hati.
"Menurut Ayah, kalian sudah pantas untuk menikah."
prooooot! kata Ayah Dirga membuatku menyemprotkan minuman yang belum sempat masuk ke tenggorokanku; kaget, bahagia, gelisah, semua seakan bercampur jadi satu.
"Kenapa, Han?" Tanya Dirga seraya memberikanku selembar tissu, "kau tidak apa-apa?" sambungnya
"Hanna pasti terkejut, iya kan?" Gubris Ayah Dirga yang membuat pipiku tiba-tiba memerah--malu.
"Oom merestui hubungan kalian kok, jadi kamu ga perlu risau, Hanna." Kata Ayah Dirga lagi tersenyum lirih padaku.
teng teng! suara jam dinding yang berada di ruangan itu menandakan jam tiga sore--Aku dan Dirga pun pamit pada Ayahnya.
Sungguh hari ini, membuat perasaanku bercampur jadi satu. Se-perginya kami dari ruangan itu, Aku mencubit, memukul-mukul Dirga karena merasa jengkel padanya. Ia begitu serius di telpon saat mengatakan akan menjemputku. Aku bahkan tak sempat memikirkan gaun apa yang akan Aku pakai.
"Aduhh, Han udah! sakiiit!" jeritnya kesakitan
"siapa suruh kamu ga bilang kalau mau ajak aku ketemu sama ayahmu." timpalku.
"iya iya..., maaf! kan emang sengaja!" Dirga memelas.
"Aku malu berpenampilan kayak gini saat ketemu orangtua mu, Dir ...."
"Ayahku bukan tipe yang suka milih-milih, kok. Dia baik pada semua orang!" Lanjut Dirga menjelaskan.
"Iya tapi tetap aja, karena dia orangtua dari orang yang Aku cintai." Gubrisku manja.
"Hem hem hem." Dirga mendehem tertawa kemudian meraih tangangku lagi dan kami meninggalkan hotel itu dengan mobil Ayla merah miliknya.
-
-
-
-
-SOBAT READERS JANGAN LUPA LIKE DAN COMMENT/SARANNYA YAH. TERIMA KASIH.
__ADS_1