
NAHH YANG PENASARAN SAMA EPISODE 15 NYA, NIH AKU UP LAGI. TERIMA KASIH UNTUK YANG SELALU SETIA SAMA NOVEL INI YAH.
****
Seseorang yang menarik lenganku membuatku jatuh dalam pelukannya, Ia memelukku erat hingga membuat jantungku berdetak 180 derajat lebih cepat dari biasanya. Aku ragu untuk melihatnya.
"Sorry yahh!" seru seseorang meminta maaf dan pantulan bola basket terdengar. Orang yang memelukku mulai mendorongku pelan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya menatapku sementara aku masih tertunduk dengan wajah malu, suaranya yang tak asing membuatku semakin penasaran hingga ku putuskan untuk menatapnya.
"Ka--u?" sahutku pelan kaku. Dia adalah pemuda yang telah menemukan dompetku yang motif keropi beberapa hari yang lalu. Pemuda dengan wajah yang tak bisa aku gambarkan itu, pemuda yang dengan sedikit rambut tumbuh di bawah hidungnya.
Ya Allah, sungguh indah ciptaan-Mu di hadapanku ini. Gubrisku dalam hati.
"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya lagi, sedang Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Aku mencoba memperhatikan sekelilingku, Aku benar-benar malu, beberapa mata memandang kami termasuk Jo dan Melda yang entah sejak kapan menyaksikan adegan itu. Aku melangkah mundur ketika pikiranku mengingat Dirga.
Terdengar sebuah langkah yang tiba-tiba menuju ke arah kami.
"Hanna ...., kau baik-baik saja?" tanya pemuda yang mendekat itu, disaat pandanganku masih tertuju pada sosok di depanku. Sejenak ku alihkan pandanganku, batinku meronta dan Aku ingin menangis, ketika kedua mataku menatap Dirga yang sudah berdiri di perantaraan kami.
"Dirga!" kakiku melangkah mundur melepaskan kedua tangan pria yang masih mendekap bahuku.
"Ga, kamu jangan salah paham yah." Kataku menatap Dirga dengan binar mata bening, kemudian menarik tangannya untuk berlalu pergi, namun Dirga justru menahan tanganku.
"Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padanya, Hanna?" Tanya Dirga yang saat itu pandangan kami bertemu.
Bibirku tak sanggup mengeluarkan kata terima kasih ketika tahu Dirga berada di situ. Aku bahkan tak tahu kenapa jantungku masih berdetak tak beraturan, Aku merasa seolah ada lagu yang mengalun diantara kami, yang memperlambat gerakan kami.
"Kalau Hanna, ngga bisa ucapin terima kasih, biar aku aja yang mewakili." Ucap Dirga lagi yang masih memegang tanganku.
"Terima kasih sudah menolongnya, Aku melihatmu dengan cepat menolongnya tadi, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hanna jika kau tak segera menolongnya." Tambah Dirga lagi tersenyum pada pemuda itu.
"Aku hanya menolong, karena kebetulan lewat." Balasnya.
"Kalau begitu, kami pergi!" ajak Dirga sambil melingkarkan lengannya di bahuku. Aku pergi bersama Dirga tanpa mengucapkan terima kasih pada pemuda itu, untuk yang kedua kalinya dia menjadi penolongku. Aku merasa bersalah, tapi Aku tak mau menyinggung perasaan Dirga.
__ADS_1
Kami berjalan melewatinya, bahkan Aku hanya menatap Jo dan Melda saat itu yang juga turut menyaksikan adegan kami itu.
Dirga membukakanku pintu mobilnya, sesekali Aku melirik pemuda itu, Ia menatap kami sebentar, lalu melanjutkan langkahnya.
Dirga pun melaju. Sepuluh menit kami bersama, namun kami hanya diam tak sedikit pun ada kata-kata kami yang keluar. Sesekali Aku memandangi Dirga yang fokus menyetir. Aku tak tahu apa yang Dirga pikirkan saat itu.
Aku terkejut, ketika Dirga tiba-tiba saja mengentikan kemudinya.
"Hanna!" sahutnya membuatku terkejut.
"Emmm ...!" jawabku cepat.
"Kenapa kamu hanya diam tadi? ini pertama kalinya Aku lihat kamu, ngga bilang terima kasih sama orang yang sudah nolong kamu." Protes Dirga.
"A--ku cuma terkejut aja tadi." jawabku sedikit kaku.
"Tapi kamu ngga ada luka, kan?" Tanyanya memperhatikanku, kemudian memelukku erat.
"Aku mau kamu selalu sehat untukku, dan tolong jangan buat Aku terlalu menghawatirkanmu, Hanna!" Dirga memecah air mataku membasahi pundaknya lalu aku membalasnya memeluk erat.
"Maaf tadi Aku lupa kirim kabar ke kamu, Aku hanya senang aja pekerjaan Ayah lebih cepat selesai jadi Aku bisa jemput kamu lebih cepat, sampai lupa kirim kabar kalau mau datang menjemput." Timpal Dirga lagi lalu aku menarik diriku dari pelukannya.
"Ngga apa, kamu udah muncul aja itu udah buat Aku senang, Ga." Ucapku sambil mengatupkan kedua tanganku di pipi Dirga.
"Aku antar kamu pulang!" Sahutnya, seketika Aku memegang tangan Dirga untuk menahannya lalu menggelengkan kepalaku isyarat Aku tak mau langsung pulang.
"Aku mau menghabiskan waktu bersamamu hari ini, boleh!" Pintaku dan Dirga membalasku dengan tersenyum--gagah banget kalau dia senyum. Aku ngga tahu kalau harus Aku bandingin dengan pemuda yang sudah menolongku.
****
Jam di tanganku telah menunjukkan pukul tiga sore, kami masih menghabiskan waktu bersama-sama; menikmati ice cream, bersepeda dan berlari bersama-sama sambil tertawa, seolah melupakan kejadian yang terjadi diantara kami.
"Capek Han, istirahat dulu dehh!" pinta Dirga.
"Aku juga capek." balasku.
__ADS_1
"Han, Bagaimana kalau seandainya kita tidak jodoh, kau harus ke jalanmu, Aku pun harus ke jalanku?" Tanya Dirga tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Aku menatap Dirga dalam.
"Aku hanya bertanya seandainya. Kau tak ingin menjawabnya? Aku ingin dengar pendapatmu." Dirga mulai serius.
"Ga, A--ku masih tak bisa menjawabnya. Aku hanya berharap kau adalah jodohku, Aku tak ingin hubungan 5 tahun ini sia-sia." Jawabku.
Sejenak Dirga terdiam, menatapku dalam. Seolah ada hal yang ingin dia sampaikan, namun jelas ada keraguan di matanya.
"Han, Ini bukan seperti Langit yang harus memenuhi Bumi, Cinta sejati adalah cinta yang tidak mencapai tujuan, Han." Pangkas Dirga membuatku tak mengerti kata-katanya.
"Maksudmu apa, Ga?" Tanyaku tak mengerti.
"Aku atau pun Kau tak mungkin terus-terusan mengabulkan permintaan Han, mungkin saja suatu saat, Aku tak bisa mengabulkan keinginanmu, begitupun dirimu yang tak bisa mengabulkan keinginanku." Lanjut Dirga.
"Apa bisa kita tak membahasnya, Ga?" Pintaku menatap Dirga tulus.
"Aku mencintaimu apa adanya Ga, apa Aku salah?" Tanyaku.
"Hanna, Aku juga mencintaimu tulus, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya ingin kau tidak membohongi perasaanmu." Lanjut Dirga lagi kemudian menuju ke arahku dan mengelus-elus rambutku dengan lembut.
Aku memeluk Dirga, dan memohon padanya untuk tak membicarakan hal yang tak penting menurutku.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang!" Ajak Dirga melepaskan pelukanku dan mengenggam tanganku, kami berjalan beriringan menuju tempat mobil terparkir.
Meski Aku tak tahu pasti ada apa dengan Dirga, kata-katanya membuatku tak enak hati. Aku merasa Dirga tak menyukai kejadian saat pemuda itu menolongku bahkan Aku jatuh dalam dekapannya, Aku yakin Dirga menyaksikan semua itu.
Aku akan mengembalikan semuanya pada waktu, biarkan waktu yang akan menjawab hubungan kami. Karena satu hal yang Aku yakini bahwa, beberapa orang dalam kehidupan kita akan pergi dan akan ada yang datang, ibarat hujan dan pelangi, yang kadang datang kadang pergi.
- BERSAMBUNG
-
-
__ADS_1
- JANGAN LUPA DUKUNGANNYA DI LIKE AND KOMENT, VOTENYA ENTAR AJA KALAU GA SUKA SAMA EPISODENYA.