THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.02 "Semua Pukulan, pasti akan terasa sakit."


__ADS_3

"Udah kubilabg berapa kali, jangan panggil Aku Mayang!" Seruku melemparkan kekesalaan pada Jo.


"Yaaaaaak, kau mau kemana? kau tahu, aku mencarimu sejak tadi!" serunya hampir memecahkan gendang telingaku.


"Aku harus pergi, Jo!" balasku terburu-buru.


"Aku ngga akan biarkan kamu pergi, Han."


Aku mulai merasa jengkel pada Jo, aku tak lagi menghiraunya. Karena dia, aku kehilangan gadis itu.


"Siapa sebenarnya yang kau kejar?" tanyanya


"Hahh, entahlah ... kau sudah membuatku kehilangan jejak dia." Aku sedikit menghela napas, kemudian beranjak ke sebuah taman yang berada tepat di depan Mall; duduk, mengibas-ibaskan tangan ke pipiku. Sedangkan Jo masih saja mengekoriku bahkan ikut duduk di sampingku.


"Untukmu!" Tukas Jo seraya memberiku sebuah amplop putih kecil.


"Apa ini?" tanyaku sambil membolak-balikkan amplop itu.


"Untuk Hanna Mayangsari dari Titik-titik Embun di Negeri Sakura." Lanjutku sembari tersenyum lirih membaca tulisan di amplop itu.


"Kau tahu dari siapa surat itu?" tanya Jo melipat kedua tangannya.


"Entahlah, hmm....ini adalah surat ketiga yang aku terima dari pengirim yang sama." ungkapku.

__ADS_1


"Pengagum rahasia mungkin!" Jo menggodaku.


"Kau tidak membacanya?" tanyanya Jo lagi melirikku.


"Aku tak ingin membacanya?" Jawabku singkat.


"Sudah tiga surat yang tak satu pun kau baca, apa kau tak penasaran dengan isi surat-surat itu?" Sambung Jo lagi.


"Sudahlah Jo, aku tak ingin membahas surat ini. Lagipula aku tak membuangnya, semua masih aku simpan dengan baik."


" Ya sudahlah, terserah kamu, aku mau kembali ke kampus." Jo berdiri seolah akan segera pergi, tapi segera aku tahan.


"Kau masih saja sibuk dengan urusan kampus." tukasku jengkel.


"Aku tahu, tapi kau kan sahabatku, masa ngga bisa?" tanyaku pelan.


"Karena aku sahabatmu, maka dengarkan baik-baik! Lupakan masalahmu di kampus, dan kembalilah seperti hari-hari sebelumnya." Oceh Jo lalu meninggalkanku.


Aku memikirkan kata-kata Jo sejenak, namun seketika saja wajah gadis malang itu membuyarkan lamunanku.


*Akchhh, secepar itukah dia menghilang, ini bahkan bukan pertama kali Aku me*lihatnya, siapa dia sebenarnya?" batinku sungguh mengacau.


Kenapa aku harus peduli padanya, aku bahkan tak tahu asal-usulnya, kenapa juga aku memilih terlibat dengannya? aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku menolong orang lain, sedang aku saja masih tak begitu mengenal diriku.

__ADS_1


"Assalamu Alaikum, aku pulang!" seruku ketika tiba di rumah.


"Waalaikum salam. Hanna, kamu kemana saja?" Jawab abangku seraya mengocehiku.


Aku langsung menghampirinya yang saat itu ia sedang sibuk dengan persiapan makan siang. Aku bahkan tak banyak bicara, hanya menyantap makanan yang telah ia siapkan.


"Apa kau akan lari dari masalah terus-menerus?" tanyanya seraya duduk di hadapanku


"Aku malas ke kampus, Bang." jawabku sambil mengunyah beberapa makanan yang masuk ke mulutku. Namun, seketika abang memukulkan sebuah sendok makan ke kepalaku dan itu membuatku kaget.


"Aduhhh ... sakit!" rintihku kesakitan sambil mengelus-elus kepalaku.


"Pukulan mana yang ngga sakit? semua pukulan pasti terasa sakit, sekecil apapun pukulan itu." Abang mulai memarahiku, sedang aku masih terdiam sambil menatap semua makanan yang tiba-tiba membuatku tak berselera.


"Kau pikir, dengan tingkamu saat ini tidak membuat abang sakit? Abang sakit kepala terus menerus memikirkan dirimu yang semakin hari usiamu akan semakin bertambah." Lanjut abang lagi.


"Dewasalah Hanna, kau tidak akan bisa menghadapi semua masalah yang akan datang padamu, jika kau lari dari masalah itu." sambungnya lagi hingga membuatku menatap mata abang yang tulus. Abang yang sejak kecil menjadi ayah bahkan ibu buatku. Satu-satunya tempat pelarianku bahkan rumahku.


"Baiklah, aku akan berusaha dan akan ke Kampus mulai besok, Abang jangan marah lagi yah." balasku sambil menatap abangku itu.


"Ya udah. Jangan lupa dibereskan nih makan siang, abang mau keluar sebentar." ucapnya kemudian pergi.


Beberapa saat, aku beranjak menuju kamar dan meletakkan surat yang Jo berikan ke dalam sebuah laci mungil kecil yang ada di meja belajarku, tempat semua surat yang aku simpan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2