
MAAF NIH BARU UPDATE LAGI. MOHON TINGGALKAN KOMENTARNYA, KARENA KOMEN KALIAN SANGAT BEEHARGA BAGI AUTHOR, DAN JANGAN LUPA SARANNYA JUGA, KARENA AUTHOR MASIH AMATIR.:(θ‿θ) TERIMA KASIH.
*****
"Adik Abang yang manis lagi sibuk yahh?" Tanya bang Danil yang tiba-tiba masuk ke kamar, mengejutkanku.
"Abang ..., kagetin aja deh! Ada apa sih?" Sahutku.
"Semua keperluan dapur udah habis, udah ga ada yang bisa dimasak, roti tawar kesukaanmu juga habis, beli gihh!" Perintahnya.
Aku matikan laptop lalu meminta uang padanya. Aku juga tak pernah mengelak setiap kali butuh bantuanku. Karena Aku sadar, Aku takkan sebesar ini bahkan kuliah sampai saat ini kalau bukan karena dia. Bagiku bang Danil salah satu penjaga yang membuatku tenang. Sejak kecil--Setelah kematian orangtua kami--Bang Danillah yang menjadi penerang buatku. Yahh, meski perbedaan usia kami cukup jauh, tapi Aku tak pernah peduli. Bang Danil tetaplah satu-satunya saudara yang tahu Aku luar dalam.
Kini Aku berada di Mall, satu-satunya tempat yang akan Aku kunjungi tiap kali bang Danil menyuruhku. Iya sih, Aku lebih nyaman ketika membeli semua kebutuhan di sini tanpa harus ke pasar, belum lagi jarak pasar yang lumayan jauh.
Aku sedang membawa keranjang untuk menyimpan barang-barang yang akan Aku beli nantinya. Yahh, bagiku sih cukup adil; Bang Danil memasak, Aku berbelanja.
Belum lama Aku mengelilingi Supermarket yang letaknya di lantai dua Mall ini, tiba-tiba saja hujan mengguyur--membasahi setiap pelataran kota--dan terjadi keributan di Supermarket. Aku bahkan tersentak dan menghentikan langkahku untuk memilih bahan-bahan makanan, beberapa yang hadir belanja pun, sontak menghentikan aktivitasnya.
"Maaf Pak, selagi kami masih baik dengan Bapak ..., tolonglah pergi dari sini, uang Bapak tidak cukup." Kata seorang petugas kasir.
"Bapak lihatkan!" sambil menunjuk pengunjung, "banyak yang antri,Pak." Lanjutnya lagi.
"Tolonglah, Nak! Saya hanya punya uang Lima Ribu Rupiah ini, dan saya harus membawa setidaknya dua buah Apel untuk cucu saya." Mohon Bapak paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca.
Aku tak tahan melihatnya, Aku bahkan ingin memarahi gadis yang bertugas sebagai kasir itu, namun Gadis kasir itu juga benar--Dia hanya pekerja.
"Maaf yah, Pak! kami juga bekerja di sini, jadi kami tidak bisa bantu." Lanjut petugas kasir itu.
Dengan langkah perlahan, Bapak paruh baya itu berusaha meninggalkan kasir, meski langkahnya nampak kaku untuk pergi, Ia bahkan sesekali menengok ke belakang.
__ADS_1
"Kasihan ...!" Timpal seseorang yang sedang membayar belanjaannya.
Inilah dunia, ada beberapa orang yang hanya mampu berkata kasihan, namun tak mampu berbuat untuk orang yang ia kasihani. Aku menatap sayup Bapak paruh baya itu, ia masih belum meninggalkan Supermarket-- Ia duduk dibaluti kesedihan sambil menatap selembar uang Lima RIbu Rupiah--di luar pun masih hujan--Ia terlihat kedinginan dan penuh pengharapan.
Aku mempercepat langkahku dan tak lagi memilih kebutuhan apa saja yang diperlukan, hanya membeli beberapa sayuran, ikan segar dan buah-buahan, termasuk buah apel. Dengan langkah yang penuh stamina, Aku mempercepat langkahku menuju kasir, dan segera menemui Bapak tua itu. Ia masih duduk seraya sedang meratapi nasibnya.
"Pak!" Sapaku lembut.
"Iya, Nak!" Jawabnya dengan nada serak basah. Kemudian Aku duduk di sampingnya, sambil memandangi hujan yang juga belum reda.
"Ini! kataku sambil memberikan satu kantong buah apel yang isinya ada 8 buah, "Aku beli ini khusus buat Bapak untuk di bawa pulang." Kataku lagi.
"Apel!" serunya pelan ketika membuka isi kantongan itu.
"Ini buat saya!" Ucapnya pelan, namun tergambar jelas, ia sedang merasa bahagia.
"Iya, itu buat Bapak! Aku sengaja beli untuk Bapak juga." Senyumku lirih sambil menatap Bapak paruh baya itu.
"Bapak pulanglah, dan berikan ke cucu Bapak buah apel itu. Alangkah senangnya mereka." Kataku.
"Sekali lagi, Bapak sungguh berterima kasih, Nak atas kebaikanmu." Ucap Bapak itu tanpa terbata-bata.
****
Bapak itu pun meninggalkan Mall dan memayungi dirinya, langkah kakinya yang lunglai, namun menggambarkan senyum yang tak semua orang memahaminya.
Sesekali Aku menatap bapak itu, yang kini sudah hampir tak terlihat. Kemudian meninggalkan Supermarket itu juga.
Aku yakin bang Danil pasti khawatir lagi padaku. Karena Aku pergi melebihi batas waktu berbelanja dari dia.
__ADS_1
Syukurlah, Bapak itu senang. Tak tega rasanya melihat air mata dari seseorang bapak. Cakapku sendiri kemudian meninggalkan tempat itu.
"Nona tunggu!" Terdengar teriakan seseorang , aku segera menghentikan langkahku, meski Aku berharap yang ia teriaki bukanlah Aku, melainkan orang lain.
Aku berbalik--menatap seseorang yang berteriak--Aku mencoba menengok sekelilingku, namun tak ada gadis seusiaku.
Jadi benarkah, dia memanggilku? tanyaku membatin tak percaya.
Pria itu mendekat--langkahnya membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak beraturan-- Ia tinggi--rambut halus yang tak begitu nampak, tumbuh di bawah hidungnya--ganteng.
"Kau yang punya dompet ini?" Tanyanya seraya menunjukkan sebuh dompet berwarna hijau daun--motif keropi.
Iya benar itu dompetku. Gubrisku dalam hati.
"Hai!Halo! benar ini dompetmu?' Tanyanya lagi, namun Aku masih mengagumi keindahan yang Tuhan kirimkan padaku hari ini.
" Maaf..., iya ini dompetku!" Jawabku sedikit kaku.
"Ini, ambillah. Kau orang baik, jadi harus mendapat kebaikan juga." ucapnya kemudian.
Tenang sekali hatiku ketika mendengarnya mengatakan aku orang baik jadi harus mendapat kebaikan juga. Baru pertama kalinya Aku mendengar seseorang mengucapkan itu padaku.
"Terima kasih banyak, Aku hampir saja kehilangan dompet ini." Timpalku lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Saya pergi dulu." Ucapnya sambil teesenyum lirih padaku. Ahhh ibarat sepoi angin yang baru saja bertiup, seperti itulah perasaanku.
•••• Bersambung
•••• Kalau ngga mau Vote ga apa-apa
__ADS_1
•••• Tinggalkan Komentar aja.