THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.16 "Wanita Aneh bin Ajaib."


__ADS_3

Abang kemana, tumben pagi-pagi gini ngga di dapur. Gubrisku seorang diri setelah menuruni anak tangga yang terakhir. Namun saat itu Aku mendengar suara seseorang sedang bernyanyi di halaman depan. Aku pun beranjak ke arah suara itu, dan membuka pintu, kudapati bang Danil yang sedang menyibukkan dirinya dengan motor kesayangannya. Baru saja Aku mau menyapa abangku itu, tiba-tiba handphonenya berbunyi.


"Hallo, iya Waalaikum salam, Dam. Ada apa pagi-pagi gini nelpon?" Tanya Bang Danil.


Siapa sih yang bicara sama bang Danil? jadi penasaran. Kataku lagi sendiri.


"Oke, kita ketemu 15 menit ke depan di cafe biasa." Kata Bang Danil lagi menutup telponnya.


Aku menutup kembali pintu rumah, lalu menuju ruang tamu, menyalakan TV, duduk menonton seolah tak mendengarkan apa-apa.


"Hanna, kau sudah bangun rupanya!" Sapa bang Danil.


"Iya Bang, nonton berita dulu."


"Kamu ada kuliah?" Tanya Bang Danil lagi.


"Hari ini ga ada, makanya di rumah aja." Jawabku sambil memindahkan siaran TV.


"Baguslah, setidaknya ada yang jaga rumah, soalnya Abang mau keluar dulu."


"Hanna ikut yah, Bang!" mohonku memelas.


"Ngga di rumah aja!" Tegas bang Danil kemudian beranjak ke kamarnya.


10 Menit berlalu, Bang Danil sudah tak kelihatan, padahal baru aja dia nyuci motornya,udah hilang lagi.


Setelah kepergian Bang Danil, Aku memikirkan sosok pemuda yang telah menolongku, Aku merasa sangat dekat dengan pemuda itu, tapi Aku baru dua kali melihatnya, itu pun secara tak sengaja.


kenapa dia selalu datang menolongku? tanyaku pada diri sendiri.


Ahhh ... daripada Aku bete sendirian di rumah, mending Aku samperin bang Danil deh, pasti di cafe dekat sini, atau Aku panggil Jo deh buat temanin aku. Gerutuku lagi.


****


Jo pun tiba di rumah, dan Aku melarangny masuk, Aku menyuruhnya untuk menunggu di luar saja. Beberapa menit kemudian, Aku pun menghampirinya.


"Kau mau kemana sihh?" tanya Jo padaku.


"Kamu tahu kan cafe yang sering Abangku kunjungi?" Tanyaku balik.


"Iya tahu ... emang kenapa?" Tegas Jo penasaran.


"Pokoknya antarin aku ke sana!" perintahku.


"Iya iya! bawel!"

__ADS_1


Jo melajukan kemudi motornya, berangkat menuji cafe yang sering abang kunjungi dengannya. Aku penasaran banget sama Abang, siapa lawan bicaranya saat ditelpon, cara abang menerima telpon sopan sekali.


"Kita udah sampai!" Sahut Jo. Aku turun dari pelana motornya dan menunggu Jo memarkirkannya dengan baik.


"Beneran ini Cafe yang sering abang kunjungi sama kamu?" tanyaku ragu.


"Iya bawel, itu Cafe nya di depan."


Aku mulai mendekat ke arah Cafe, dan tepat mataku tertuju pada seseorang yang sedang duduk bersama seorang pemuda, Aku meyakinkan diriku bahwa itu beneran bang Danil, mulai dari pakaian yang ia pakai sejak meninggalkan rumah tadi. Tapi siapa yang sedang bersamanya.


"Hanna!" Seru Jo yang tiba-tiba memegang pundakku mengejutkanku.


"Kamu ngagetin Aku aja deh Jo."


"kenapa sih ngumpat-ngumpat kayak gitu, kalau mau ayoo aku temanin ke bang Danil." Kesel Jo padaku.


"Bukan itu, Aku penasaran sama orang yang Bang Danil temani sekarang, kayaknya ga asing banget mukanya."


"Mana sih, coba Aku lihat!" Jo mulai ikut mengumpat juga.


"Hanna, bukannya pemuda itu yang kemarin nolongin kamu di kampus?" Jo mengingatkan.


"Ohh iya bener-bener, dia orangnya."


"Kamu penasaran sama orang itu?"


"Sepertinya Abang menyembunyikan sesuatu dariku Jo." kataku pelan dan sedikit sedih.


"Kamu mau cerita padaku, kita pindah yuuk, ngga baik di sini!" Ajak Jo.


Aku bangkit dengan langkah gontai. Ada banyak hal yang mengganjal di otakku dan hatiku pun tak bisa menerima meski mencoba menerima.


"Duduklah Han! Aku pesankan greentea?" tanya Jo memastikan.


"Iya Jo, setidaknya greentea bisa membuat hatiku sedikit sejuk." kataku.


"Kamu kenapa sih Han, berubah drastis saat lihat bang Danil sama pemuda itu?" Jo penasaran.


"Jo, Kamu mungkin berpikir aku jenius, cerdas, tapi Aku terlihat sangat bodoh di depan Bang Danil. Setiap pertanyaan yang kuajukan tentang orangtua kami, Bang Danil selalu mengalihkan pembicaraan, ngga pernah mau jujur." Ungkapku, Jo masih mendengarkan.


"Sabar aja Han, mungkin bang Danil nunggu waktu yang tepat buat cerita ke kamu." Jo menenangkanku.


Matahari semakin meninggi, Awan terlihat cerah seperti hari kemarin. Hiruk pikuk kendaraan terdengar di mana-mana, seperti hatiku yang sedang tak karuan.


Aku dan Jo mulai menikmati hidangan yang kami pesan beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Oh ya Han, Aku hampir lupa, kemarin Aku nemuin ini di bawah lokermu!" Jo memberikan sebuah amplop kecil putih lagi kepadaku, Aku teringat akan sesuatu yang hampir aku lupakan, surat-surat aneh.


"Kamu ngga bohong kan, ini beneran kamu dapat di bawah lokerku?" Tanyaku memastikan.


"Sebenarnya, Kemarin sore sepulang dari antat makalah ke rumah Pak Bram, aku balik kampus lagi nganterin Melda yang ada kuliah tambahan di kelas bawah, terus Aku menaruh beberapa bukuku ke lokerku, secara ngga sengaja, Aku lihat seseorang baru meninggalkan lokermu dan berlari kencang, Aku tak punya niat mengejarnya. Aku hanya memastikan lokermu aman, tahu-tahunya Aku dapat surat iti jatuh dari pintu lokermu. Kayaknya sih, orang itu mengapitkan amplop itu di lokermua." Jo menjelaskan.


Menerima surat dari Jo itu, Aku hany membolak-baliknya saja, sedikit pun Aku tak punya niat untuk membukanya. Jo bahkan beberapa kali memintaku untuk membaca semua surat-surat itu, namun Aku tak pernah punya keinginan membacanya.


"Kamu itu benar-benar wanita aneh bin Ajaib, seharusnya kau sudah penasaran dengan isi surat-surat itu, karena pengirimnya aja seseorang yang misterius."


Tepat pukul 10 pagi, Aku meminta Jo untuk segera mengantarku pulang. Aku tak mau bang Danil lebih dulu sampai di rumah daripada Aku. Apalagi setelah ia bilang Aku ngga boleh keluar rumah. Pasti panjang ocehannya kalau tahu Aku melanggar perintahnya hari ini.


Aku dan Jo akhirnya meninggalkan Cafe itu. Untungnya ketika tiba di rumah, bang Danil belum datang, jadi Aku bisa seolah-olah berbohong bahwa aku beneran di rumah. Bahkan Jo pun udah Aku suruh pulang ke rumahnya biar ga ketahuan kalau aku udah keluar smaa Jo.


****


Di rumah, Aku mengganti pakaian mewahku dengan pakaian biasa, dan mencuci beberapa perabotan makan yang kotor.


Tok tok tok


Suara ketukan dari balik pintu rumah terdengar.


"Bang Danil pulang nih!" serunya kemudian membuka pinti yang memang tak terkunci.


Aku memandangi abang dari arah dapur, Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa, seperti orang kelelahan. Kemudian Aku menghampirinya.


"Abang kemana aja sih? kok pulang jadi lesu."


tanyaku seraya membawakan abangku secangkit teh hangat.


"Terima kasih.yah de.Tehnya. Abang cuma ketemu teman lama.


"Kok ga dikenalin sama ade sendiri!" ucapku mencoba ubah suasana.


"Bukannya kamu udah kenal sama dia." balas bang Danil mengejutkanku.


"Dia siapa,Ba--ng?" tanyaku terputus Tapi Bang Danil udah ketiduran. Pasti kecapean habis ngeliput tengah malam. Kasihan Abangku.


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2