
Pagi ini tepat pukul 07.12 wita, handphone-ku terus saja berbunyi, entah sudah berapa chat yang masuk, termasuk chat dari Jo yang selalu saja meng-khawatirkanku. Aku masih di tempat tidur dan menyelimuti diriku. Aku tahu, hari ini adalah hari kamis dan tak ada mata kuliah. Beberapa saat aku masih tak peduli dengan chat Jo, aku justru membuka chat yang lain termasuk chat dari Dirga.
"Hanna!" Tiba-tiba suara bang Danil terdengar memanggilku. Aku hanya membalasnya singkat dengan teriakan juga agar ia tahu, aku sudah bangun sejak tadi. Kemudian aku melanjutkan lagi membaca semua chat yang masuk. Dirga mengajakku jalan-jalan, ia ingin menghabiskan waktu bersamaku hari ini.
Kini, aku beranjak dengan riang-- meninggalkan kamar--menghampiri bang Danil--memeluknya dari belakang. Bang Danil tidak terkejut dengan sikapku yabg manja itu, ia tahu betul jika aku seperti itu-- menandakan aku sedang bahagia.
"Kau menang lotre?" Tanyanya ngelawak.
"Bang, Hanna mau jalan-jalan."
"Sejak kapan kau pamit jika mau jalan-jalan?" Tanyanya lagi, sedang mendengar itu, segera kulepaskan pelukanku kemudian duduk di tempat biasa, sembari mengambil sepotong roti dan menaburinya dua sendok selai coklat.
"Kau mau jalan dengan Jo?" Tanya bang Danil lagi. Aku tak menjawabnya langsung, hanya menyunggingkan bibirku beberapa detik. Tiba-tiba terdengar suara mengetuk pintu, aku terkejut sementara bang Danil seketika saja menghentikan aktivitasnya yang juga sedang menaburi rotinya dengan selai. Bang Danil menatap jam dinding dan baru menunjukkan pukul 08.00 pagi.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" Tanyanya heran sembari menatap ke arahku, sedang aku hanya menggelengkan kepalaku.
Bang Danil pun akhirnya membuka pintu memastikan siapa yang bertamu ke rumah pagi-pagi begini, sedangkan aku melanjutkan memakan roti. Beberapa saat tak terdengar suara Abangku--aku mulai penasaran--Aku pun beranjak--langkahku seketika terhenti.
"Dirga!" Seruku pelan.
"Apa kabar, Bang?" Dirga mulai menyapa sambil menyambut tangan bang Danil dan menciumnya. Sementara Abangku masih saja tercengang melihat Dirga. Aku tahu, Abang pasti ngga menyangka Dirga kembali.
"Hmmm, kau? sejak kapan kau datang?" Tanya bang Danil seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
__ADS_1
"Bang, Aku boleh duduk?" Dirga meminta izin.
"Ohh ya, duduklah!"
Melihat kedatangan Dirga, jantungku mulai berdetak tak beraturan. Bahagia dan kagum bercampur jadi satu.
Aku tak menyangka ia datang secepat ini.
Aku membatin, dan masih berdiri menatapnya, sedangkan bang Danil mulai berdialog dengannya. Mereka tertawa bersama, sampai-sampai bang Danil lupa kalau ia belum menghabiskan rotinya.
"Ayo kita sarapan bareng!" Ajak bang Danil. Aku pun beranjak mendekati mereka berdua sembari menyapa Dirga.
"Kenapa kau tak bilang mau datang sepagi ini?" Tanyaku.
"Ayo, Ga. Kami masih sarapan, ayo ikut!" ajak Abang lagi, Dirgapun ikut sarapan bersama kami.
"Yaak!" Abang memukulkan sendok lagi ke kepalaku, spontan aku menjerit kaget.
"Abaaaang!" seruku manja.
"Pergilah mandi!kau mau membuat Dirga menunggu lama!" Perintahnya.
"Ga apa kok,Bang. Selama ini Hanna sudah cukup menungguku dengan sabar." Bela Dirga membuatku bahagia sekali mendengarnya.
__ADS_1
"Ga, aku ke kamar dulu yah!"
"Umm." Singkatnya.
Tepat pukul 10.00, kami pun pamit. Abang tidak melarang kami untuk pergi. Wajahnya bahkan menampakkan senyum yang tersembunyi. Abang tahu betapa bahagianya aku ketika bersama Dirga.
Kalian tahu? Dirga adalah sepotong hati yang aku miliki, sepotongnya lagi adalah bang Danil. Mereka adalah dua orang yang tak bisa hilang dari hatiku yang hanya satu. Mereka adalah kebahagiaan yang tak bisa aku jabarkan secara utuh, semuanya hanya tersimpan dalam rasa yang benar-benar tenang.
Akhirnya, dan untuk ke-sekian kalinya, aku menginjakkan kakiku lagi di mall ini.
Batinku hingga sejenak mengingatkanku pada si Gadis malang yang tak tahu di mana keberadaannya.
"Kenapa? apa ada masalah?" Tanya Dirga khawatir.
"Ngga kok, Ga. Aku hanya--udahlah lupakan."
"Kau tahu Hanna, seperti kata-katamu dua tahun yang lalu, saat kau harus mengikhlaskan aku untuk pergi latihan penerbangan. Kau ingat?" Tatapnya padaku sembari terus memegang tanganku.
"Emm ... Aku ingat!"
"Kau bilang, 'Dunia tak selebar daun kelor.' Kata-kata itu terus memberiku semangat, bahwa apa yang kita inginkan masih bisa kita raih di tempat lain, jika di tempat lainnya menolak. Dan aku sungguh berterima kasih padamu, Kau selalu menjadi wanita yang dewasa di mataku."
"Aku hanya mengatakan agar nantinya kau tidak terpuruk, jika kau mengalami kesulitan, karena kau adalah orang yang aku cintai." Tukasku tersenyum lirih.
__ADS_1
"Terima kasih karena selalu menjagaku meski dari jauh." Sambungnya lagi dan memelukku sejenak. Kemudian kami melanjutkan mencuci mata di Mall itu.