
Dirga mengunjungiku setelah dua hari ia tak mengirimiku kabar. Ia datang ke kampus; Aku sementara mengikuti perkuliahan. Dia terus saja menggangguku dengan chat-nya, untungnya aku membisukan notifikasi handphoneku, takut jika aku harus ditegur Pak Dosen.
Dirga, Please! ketikku pada handphoneku secara diam-diam, membalas pesan Dirga.
Tersisa 20 menit lagi perkuliahanku, setelah itu, Aku akan menemuinya. Untungnya Dirga memahamiku dan tak lagi mengirimiku chat setelah membaca pesan yang kukirimkan.
"Baiklah, sampai di sini sudah paham tentang Etika dan Hukum Kesehatan?" Tanya Pak Dosen.
"Sudah Pak." Jawab kami serentak.
"Hanna, coba jelaskan ulang tentang materi yang saya sampaikan tadi!"Perintahnya sembari melihat ke arahku yang sedang memegang HP.
Ampun, Pak Sahir melihatku. Gubrisku dalam hati. Mungkin itu hukuman karena Aku tertangkap basah memainkan ponselku saat mata kuliahnya. Namun meski demikian, Aku segera berdiri dan layaknya Dosen profesional, Aku pun menjelaskan apa yang Pak Sahir telah jelaskan sebelumnya.
__ADS_1
Berbicara tentang Etika artinya berhubungan dengan moral orang. Seperti yang beliau sampaikan sebelumnya bahwa Etika selalu memperdulikan tentang norma-norma. Etika tidak hanya diajarkan dalam keseharian kita, bersama orang se-keliling kita saja namun, dalam kesehatan pun kita tidak boleh mengenyampingkan yang namanya E T I K A.
Jelasku saat itu, meski sebenarnya ada beberapa yang aku tambahkan. Kemudian Pak Sahir mengambil alih kembali, dan membubarkan kami.
Achhh! Aku lega. Akhirnya selesai juga. Aku berbicara dengan diriku sendiri. Kemudian Aku segera bergegas menemui Dirga yang katanya sedang menungguku di sudut lapangan tennis yang ada di kampus. Aku berlari, Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya, bahkan tanpa disadari kakiku menabrak sebuah batu berukuran sedang, dan itu membuat kakiku terasa sakit. Sekilas pandanganku melihat Dirga bersama dengan seorang laki-laki yang tingginya sejajar dengannya. Dalam hati, Aku berkata mungkin itu Jo, namun ketika berbalik--ternyata benar Jo--Tinggi--sedikit agak tambun--rupawan.
Aku tak melanjutkan langkahku untuk menghampiri Dirga. Aku akan menghampirinya ketika Jo pergi dari sana. Tidak lama setelah itu, Jo benar-benar pergi dan menghilang di arah utara. Segera Aku menghampiri Dirga yang saat itu kembali duduk di tempatnya seraya sedang menunggguku.
"Kakiku tersandung batu."
Mendengar jawabanku, Dirga segera melihat kakiku yang sakit, kemudian mencoba mengobatinya.
"Tenanglah,Ga! Aku udah obati kok, lagian aku kan mahasiswa kesehatan, masa ngobatin diri sendiri aja ga bisa." Senyumku.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi terkadang kita tidak begitu peduli dengan diri sendiri, namun orang lain yang justru lebih peduli dengan kita." Timpal Dirga.
"Aku kan tidak mengatakan cara pengobatanmu salah, Aku hanya ingin melihat apakah kau benar-benar mengobatinya dengan baik, atau hanya sekedar mengobati." sambung Dirga lagi.
Setelah melihat kakiku yang lumayan membaik. Dirga kembali duduk di samping kananku. Kami berbincang-bincang--Dirga meminta maaf--Aku tak mem-permasalahkannya. Aku hanya meminta satu hal padanya agar tidak lagi meng-anggapku sebagai orang asing.
Dirga tahu bagaimana Aku peduli padanya, ia juga tahu betapa Aku selalu mem- prioritaskannya.
"Ga, Aku mungkin agak sedikit kecewa ketika kau meninggalkanku begitu saja, tapi Aku berusaha agar tetap bisa memahamimu." Ungkapku.
"Sejak awal aku bilang padamu, meski Aku tak bisa menyamai Syakila--Aku akan berusaha yang terbaik untukmu--meski tak bisa memiliki hatimu sepenuhnya--Aku tetap akan bertahan." Lanjutku lagi.
Dirga menatapku dalam, ia meng-genggam tanganku kemudian memelukku tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1