
"Pak, bagaimana kalau kita mulai vidionya dulu pak, kayaknya bapak sibuk sekali di fakultas, kan kalau bapak ninggalin vidionya, nanti biar saya yang putar dan arahkan ke teman-teman, atau minta Hanna yang jelasin, pasti bisa!" Timpal Jo segera seolah-olah yang dia katakan sudah diluar kepalanya, lancar banget, meski sempat jengkel saat dia jual namaku.
"Bapak memang sibuk, tapi bapak ngga mungkin biarkan kalian tanpa materi, makanya bapak masuk dulu sebentar," Ucap Pak Bram.
"Nah maka dari itu Pak, biar dua-duanya jalan, vidionya ditinggal aja nanti saya yang putar dan untuk sub materinya kasi ke Hanna aja, lagipula satu-satunya mahasiswa yang dapat nilai tinggi di kuliah bapak kan hanya dia pak." Jo menimpali lagi tak mau kalah, hingga semua teman sekelas beralih kepada kami bertanya-tanya heran, Aku pun segera mengirim sebuah chat di grup kelas kami dan menceritakan permaslahannya, agar semua bisa kerja sama.
"Tolong yahh semuanya sepakat sama yang Jo katakan, biar kita semua aman, soalnya Melda lupa bawa makalah personalnya." Ketikku di grup.
"Owalah gitu masalahnya. Iya deh." balas seseorang dalam grup.
"Melda juga kenapa sih, pakai lupa segala." seseorang lagi membalas chat.
Aku tak lagi fokus pada grup, Aku kembali ke perdebatan antara pak Bram da Jo. Mewanti-wanti apakah Pak Bram setuju atau tetap pada pendiriannya.
"Iya Pak, serahkan aja ke Joan dan Hanna, lagipula mereka berdua mahasiswa kepercayaan di kelas kami." Timpal Rey yang selalu dijuluki si Jangkung karena posturnya yang TIKUS itu (Tinggi da kurus) hehehe. Setidaknya pernyataannya dapat membantu.
"Lalu bagaimana dengan makalah yang saya suruh kalian kumpul?" Tegas Pak Bram lagi.
"Kalau itu gampang pak, saya bahkan bisa antar ke rumah bapak kalau perlu, biar bapak bisa langsung periksa hasil kerja kami." Timpal Jo dengan penuh percaya diri.
Tiba-tiba tak ada lagi balasan dari Pak Bram ketika handphonenya berbunyi, Ia segera mengangkatnya, dan terdengar dari nada bicara Pak Bram saat itu, beliau benar-benar sedang sibuk, Ia harus kembali ke kantor Fakultas lagi untuk rapat dan juga harus kembali ke rumah secepat mungkin karena istri beliau yang sedang sakit. Pak Bram menutup telponnya.
"Baiklah kalau begitu, tapi kalian harus janji, makalah dari tugas kemarin sudah harus masuk hari ini, dan untuk tugas Vidio ini, kalian tonton dulu, setelah itu silahkan buat laporannya secara personal juga. Paham!" Tegas Pak Bram lagi.
"Aaahsiyap, Pak!" serentak kami menjawab.
"Hanna dan Joan, kalian kan yang bertanggung jawab?"
"Iya pak!" Jawab Jo sedikit membuatku jengkel.
Dua menit berlalu, Rey berdiri menatap keluar, memastikan Pak Bram sudah menghilang, serentak kami melemaskan tubuh kami di kursi kami masing-masing, menarik nafas lalu menghembuskannya kembali.
"Lagipula kok bisa sih Mel, kamu teledor banget, hampir semua kena getahnya kan!" Sahut Rani tiba-tiba.
'Iya nih, selalu aja teledor." sambung seseorang lagi yang duduk tepat di sebelah Rani.
__ADS_1
Melda menatap Rani sejenak. Mungkin ia merasa ngga nyangka teman baiknya itu berkata demikian.
"Aku--akui dehh, Jo sama Hanna benar-benar penyelamat di kelas kita." Kata Rani lagi kemudian memperbaiki duduknya.
"Udah-udah, mending kita mulai vidionya gihh. Jo putar gih vidionya!" Intruksi Hanna.
Sejam kami di kelas tanpa Dosen, dan seseorang datang membawakan makalah Melda; Ia adik laki-lakinya Melda, agak tinggi,berkulit putih. Beda banget sama Melda yang kulitnya hampir sama dengan kulitku--sawo mateng.
"Oke teman-teman, vidio ini kayaknya emang sampai disitu deh, jadi silahkan dirangkum jadi sebuah laporan!" Jo menjelaskan lalu merapikan semuanya.
"Ohya Han, menurut kamu sendiri gimana dengan pembuatan laporan ini? apa perlu observasi lagi atau hanya nyimpulkan dari vidio itu tadi?" Tanya Rey si Jangkung yang sedang meminta pendapatku.
"Kalau kalian nanya pendapatku, Aku secara pribadi pasti melakukan observasi. Heheh." Jawabku sedikit senyum.
"Tapi ini kan tentang kenakalan remaja, Han? Emangnya kamu mau langsung terjun ke lapangan cari anak-anak yang bermasalah gitu?" Timpal Rey lagi dan beberapa sudah ada yang keluar, beberapa lagi masih mau mendengarkan perbincanganku dengan Rey, terutama Rani, Jo dan Melda, mereka terlihat antusias menunggu jawabanku.
"Kalau menurut Aku sih Rey, ini dari sudut pandang Aku yah. Anak-anak bermasalah itu banyak tipenya, mereka terbentuk hingga jadi preman atau sebagainya, bukan karena kemauan mereka sendiri, melainkan keadaan yang memaksa, Aku justru penasaran loh sama mereka-mereka, yang dijalanan itu, apa yah julukan mereka itu, lupa Aku." Ucapku menjelaskan pendapatku.
"PUNK ...., Maksudmu?" sambung Jo kemudian duduk di kursi yang telah kosong di depanku.
"Nah itu, PUNK!" kataku membetulkan.
"Baru tahu kamu Rey, kalau dia ini cewek aneh, kalau aku ceritain soal kemarin malam sampai kaki kanannya memar, kalian pasti ketawa deh." Lanjut Jo hingga aku menyumpal mulutnya dengan tangan kiriku.
"Diem ngga, awas kalo cerita!" Ancamku.
"Emang ngapain Hanna semalam?" tanya Rani mulai memancing.
"kalian ada yang lihat berita kemarin sore? tentang pencurian di kedai Gilang, dekat toko Annisa." Cerita Jo mulai.
"Udah dehh Jo, ngga usah dilanjutin." kataku sambil mencubit lengannya.
"Iya, Aku sempat nonton, kenapa emang?" Lanjut Rey penasaran.
"Si Pencuri itu yang buat kakinya memar." Jo meneruskan ceritanya tanpa peduli sama Aku yang udah jengkel banget sama dia.
__ADS_1
Hingga beberapa menit berlalu, diskusi kami pun usai, dan kami masing-masing berpisah dengan tujuan kami sendiri, kecuali Aku, Jo dan Melda yang masih di lab.
"Jo, thanks yah. Kamu udah bantu!" Sahut Melda yang sejak tadi ngga pernah bersuara.
"Sama-sama. Lagian itu udah tugas aku." Jo menimpali.
"Han, terima kasih juga yah!" Melda melirikku , aku mangguk tersenyum lirih.
"Jadi gimana nih? temanin aku ke rumah Pak Bram entar sore udah ashar yah,Han!" Pinta Jo menatapku.
"Ngga ahh, kan kamu yang bilang mau antar, aku ga ikutan." Jawabku manyun.
"Terus Aku pergi sama siapa? lagian kan kamu yang mintol tadi." Jo menatapku kesal.
Aku diam tak menimpali Jo. Hingga Melda bersuara dan menawarkan dirinya untuk menemani Jo.
"Alhamdulillah, tuuh kan Melda mau nemanin!" Sahutku kemudian.
"Iya udah deh Mel. Nanti aku jemput kamu di rumahmu." Ucap Jo.
"Ngga apa Han, setidaknya itu yang bisa Aku lakukan setelah kalian bantu tadi." Kata Melda lagi.
****
Aku berpisah dengan Jo dan juga Melda. Aku masih menunggu pesan dari Dirga. Sambil menunggunya, Aku duduk di tangga-tangga kecil yang ada di lapangan sekalian berteduh dari terik matahari, sambil menyaksikan beberapa mahasiswa seangkatanku bermain basket.
10 menit berlalu, tapi tak ada pesan dari Dirga, Aku mulai resah menunggu kedatangannya yang tak pasti. Akhirnya Aku memutuskan untuk pergi, namun baru saja aku bangun dari tempatku duduk, tiba-tiba saja seseorang berteriak dan dengan cepat meraih lenganku, "Hanna ...., Awasss!"
- BERSAMBUNG
-
-
-
__ADS_1
NAH GUYS KALAU SUKA SAMA EPISODE INI, JANGAN LUPA BERI LIKE, DAN VOTE GIHH!!
YANG JUARA 1 VOTE DI KARYA AKU INI, BAKAL DAPAT HADIAH DEHHH DARI AKU. OKEE.