
Dirga masih menggenggam tanganku dengan erat, kami masih di Mall, berkeliling. Dirga membelikanku sebuah gaun ber-warna merah maron. Aku pikir Dirga lupa dengan warna kesukaanku, ternyata ia tahu betul apa yang aku pikirkan, ia tahu apa yang aku rasakan, bahkan ia tahu betapa beratnya aku menahan kerinduan selama ia pergi dua tahun lalu.
"Katakan Hanna, kau mau ke mana lagi? Aku akan membawamu berkeliling hari ini." Dirga menatapku mesra. Ada sebuah ketulusan dari setiap kata atau tatapannya. Aku yakin tak akan ada yang mengalahkan kehangatan ini.
"Aku tidak masalah ke mana saja asal bersama dirimu, Ga."
"Kalau begitu, kita ke Taman Cerdas saja, bukankah di sana banyak anak-anak bermain? kau juga suka dengan anak-anak, bukan?" Dirga tersenyum memandangku, Aku membalasnya lirih.
Hari yang tak akan pernah Aku lupa, hari yang membuat jantungku berdetak kencang, hari yang akan menyimpan banyak kenangan bersamanya. Hari yang benar-benar seakan menjadi milik kami berdua.
Kini, Aku dan Dirga duduk di sebuah bangku yang letaknya berdekatan dengan beberapa anak sedang bermain ayunan. Sebenarnya Aku lebih suka duduk sambil bebagi cerita bersama dengan Dirga ketimbang harus berkeliling.
Hari ini, kami berbagi banyak cerita. Dirga menceritakan tentang dirinya ketika masih mengikuti training atau Sekolah Penerbangan di Bali--Siapa saja yang ia temui--Apa yang dia lakukan--serta tentang perasaannya selama di sana. Mendengar bahkan melihat ekspresi Dirga saat menceritakan dirinya, ada rasa bahagia yang dalam Aku rasakan, meski di satu sisi rasa takut mulai menyelinap dalam hatiku. Aku takut Dirga lepas dariku, dan lebih memilih kembali ke sana daripada melanjutkan hubungannya denganku.
"Bagaimana denganmu Hanna?" Tanyanya tiba-tiba membuyarkan rasa takutku.
"Tak ada yang menarik bagiku untuk dicerita, Ga. Aku hanya punya teman baik bernama Jo di Kampus, dan Fans yang aneh." Ungkapku tersenyum kecil.
__ADS_1
"Fans yang aneh?"Dirga bingung.
"Emm..., seseorang selalu saja mengirimiku surat, tapi Aku belum pernah membacanya."
"Kenapa tidak ka--u!" ucapan Dirga terputus, ketika ia melihat seorang anak terjatuh dari ayunan hingga terluka. Seketika itu Dirga berdiri, tanpa berbuat apa-apa, sedang Aku dengan segera menghampiri anak itu. Seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun terjatuh dari ayunan, itu pasti membuatnya kaget, bahkan orangtua yang menemaninya saat itu sedang menerima telpon dan masih tak sadar jika anak ya terjatuh dari ayunan. Aku langsung menggendong anak itu, mengelus-elus dadanya dan mencoba mengobati lukanya, hingga ibunya sadar dan menghampiri kami.
"Anakku..., Ya Allah apa yang terjadi?" Tanyanya terkejut sambil meraih anaknya yang masih kugendong saat itu.
"Anak Ibu jatuh dari ayunan, dan Ibu tidak tahu?harusnya Ibu lebih memperhatikan anak Ibu dan tidak lalai dalam menjaganya!" Geramku kepada Ibu anak itu.
"Terima kasih sudah menolong anak saya. Sekali lagi terima kasih."
"Tolong jaga dia dengan baik, setidaknya masih ada dirimu yang menjaganya hingga ia dewasa nanti." Ungkapku lagi, tulus. Kemudian Aku meninggalkan mereka, namun langkahku terhenti ketika melihat raut Dirga yang tak biasanya. Dirga melihatku sejenak lalu pergi.
Ada apa dengannya? Aku bertanya pada diriku sendiri, kemudian mengejar Dirga.
"Dirga...!Stop!" Teriakku. Seketika itu juga ia menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Aku menghampirinya--menatap--sedang ia menunduk tak ingin menatapku.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" Tanyaku meraih tangannya. Aku merasakan Dirga gemetar untuk pertama kalinya, namun ia masih menunduk tak ingin menatapku.
"Sebaiknya kita pulang, Han!" Ajaknya.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku!" Tegasku
"Ayo kita pulang!" Ajaknya lagi lembut.
"Ngga...! Aku mau kamu cerita sama aku, kenapa kamu tiba-tiba pergi dariku setelah meliha anak itu terjatuh dari ayunan?" Geramku penuh beribu tanya. Aku berusaha menatap mata Dirga, Aku tahu ada hal yang ia sembunyikan, namun berat baginya untuk mengungkapkan semuanya.
"Hanna Aku mohon!" mohonnya lagi padaku lembut.
"Tapi Dir--!" ucapku terputus.
"Hanna, Aku mohon! jangan memaksaku untuk kasar padamu." Mohonnya lagi kemudian berlalu begitu saja, bahkan ia tak sadar menyenggol bahuku dan membuat air mataku berlinang beberapa saat. Aku berbalik berhatap ia juga berbalik melihatku, tapi ia terus saja berjalan, benar-benar meninggalkanku.
Aku masih belum meninggalkan tempat itu, Aku masih berdiri menatapnya pergi tanpa sedikitpun berbalik, tanpa kembali padaku dan mengantarku pulang. Ibarat daun yang menguning gugur ke tanah, kebahagiaanku hari ini pun gugur karena sikap Dirga yang tertutup.
__ADS_1