THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.27 WAKIL DIREKTUR


__ADS_3

MAAF BARU UPDATE LAGI EPISODE NYA. SEMOGA SENANG DAN TERHIBUR.


****


Tidak cukup setengah jam, Aku pun tiba di Kantor Berita itu. Baru saja kulangkahkan kakiku masuk di dalam, tiba-tiba suara yang tak asing menyapaku.


"Hanna ....!"


Mendengar suara itu, Aku seketika berbalik hingga pandangan kami berdua bertemu.


"Adam ...." balasku pelan.


"Kau pasti ingin bertemu bang Danil, kan?" tanyanya seolah mengetahui keperluanku mengunjungi kantor itu.


Aku hanya mengangguk pelan. Rasanya keluh sekali ku keluarkan kata-kataku ketika berhadapan dengan pemuda berbadan tegap, tinggi ini. Sejak awal pertemuanku dengannya, Aku tak pernah bersikap baik bahkan setelah tahu bahwa dia adalah orang yang telah dijodohkan denganku, Aku justru semakin menghindar.


Cerita bang Danil tentang kebaikan Adam padaku, sedikit menyadarkanku. Setidaknya ucapan terima kasih untuknya itu tidaklah cukup dengan apa yang telah Adam berikan padaku sejak kami masih kecil.


Jika kau tidak bisa mencintainya, cobalah berteman dengannya. Ucapan bang Danil beberapa hari yang lalu tiba-tiba terngiang begitu saja di telingaku.


"Hanna ....!" Tegur Adam lagi sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya di hadapanku. Aku tersadar akan lamunanku, dan kembali menatap paras pemuda yang sudah benar-benar tak asing itu.


"Bang Danil sedang ada rapat sebentar di luar. Kau mau menunggunya?" tanyanya dengan sangat ramah.


"Ohh, iya boleh." jawabku sedikit mengembangkan senyumku padanya.


"Kau boleh menunggunya di ruanganku!" tawarnya sambil menunjukkan sebuah lorong kecil yang tak jauh dari tempatku berdiri.


Adam mulai berjalan, sementara Aku mengikutinya di belakang, beberapa karyawan yang keluar dan masuk, menyapa Adam dengan sapaan penuh hormat.


Sebenarnya, apa sih jabatan dia di Kantor ini? bukannya dia hanya mebantu abang membesarkan perusahaan ayah? tapi kok dia seperti yang punya perusahaan saja." Gerutuku dalam hati mulai tidak beraturan.


Kurang lebih lima menit kami berjalan, hingga langkah kakinya terhenti tepat di depan sebuah lift disusul dengan langkah terakhir kakiku. Ketika Lift mulai terbuka, terlihat beberapa orang keluar dari dalam sana, lalu kami melangkah masuk, kini hanya ada kami berdua di dalam alat angkut luar biasa itu. Adam mulai menekan sebuah tombol yang terpampang nyata di sudut kanan pintu Lift itu.


Hening


Suasana sungguh hening, Adam bahkan tak mengajakku bicara dan pandangannya hanya lurus ke depan, seolah menunggu lift berhenti dan kami segera keluar dari sana.


Ahh, bang Danil kenapa sih nyuruh Aku kesini? tanyaku lagi dalam hati merasa sangat kesal.


trrttt


Getar handphone yang sedari tadi tak lepas dari genggamanku itu, tiba-tiba bergetar mengagetkanku.


"Angkat saja, Han!" Suara Adam membuatku terkejut.


"ohh ... ini cuma pesan WA aja." jawabku sedikit tegang sembari menunjukkan pesan masuk ke Adam.


Ahhh ... Aku benar-benar ngga suka suasana kayak gini. Gumamku lagi.


"Kau bicara apa, Han?" tanya Adam seolah membaca isi hatiku, sontak betul-betul membuatku semakin tegang.


"Ngga ... ngga kok, Dam. Cu--cuma membaca pesan dari teman saja." Jawabku sedikit kaku sambil menjitak sedikit jidatku dan menggerutu pelan tidak karuan.


Kemudian lift pun berhenti dan terbuka dengan cepatnya, bersamaan dengan pesan yang baru saja Aku buka yang muncul dari layar ponselku.

__ADS_1


"Ini ruanganku, Han. Kau boleh istirahat sambil menunggu bang Danil disini, Aku ada urusan sebentar." tuturnya kemudian pergi.


Aku pikir dia mau temanin aku, tahunya malah pergi. gerutuku kesal.


Yahh Ampuun Hanna, kenapa juga sih kamu harap dia temanin kamu. kataku lagi tak henti-hentinya berbicara sendiri.


****


Ruangannya adem banget, kurang lebih kayak kamar bang Danil ademnya. kataku lagi sendiri sambil melihat-lihat semua isi yang ada di dalam ruangan itu.


AHMAD ADAM AFRIANSYAH ... WAKIL DIREKTUR STUDIO FILM NB.


Mataku tertuju pada tulisan timbul yang tertata rapi di meja kerjanya.


Ternyara dia seorang Wakil Direktur Studia Film. ucapku legah. Setidaknya aku tahu tanpa harus bertanya.


trrt trrrt


trrt trrt


Handphoneku yang ku letakkan di atas meja tamu tiba-tiba saja bergetar, Aku segera mengangkatnya. Telpon dari Dirga.


Kenapa pesanku tidak dibalas? ~ Dirga


Maafkan Aku, Dir. Aku baru saja mau membalasnya tapi kamu keburu nelpon. ~ Aku


Aku akan jemput kamu tepat jam 4, oke! jadi tunggu saja di kantor bang Danil. ~ Dirga


Sejenak aku terdiam, ketika mendengar Dirga akan menjemputku di kantor bang Danil. Dirga tidak tahu kalau Adam bekerja di sini bersama bang Danil, Aku tak mau Dirga tahu tentang hal ini dan Aku tidak mau Dirga salah paham lagi, Dirga bahkan tidak tahu Adam adalah orang yang telah dijodohkan denganku.


Ngga apa kok Han. Aku jemput kamu di sana aja ... oke. Aku matikan, Dahhh.


Dirga mematikan telponnya begitu saja, dan tepat pukul jam 4 dia akan datang menjemputku. Aku kemudian memandangi jam cantik yang ada di pergelangan tanganku, waktu telah menunjukkan pukul satu siang.


Bang Danil kemana sihh? Kesalku bahkan panggilanku pun diabaikan.


Aku merasa jengkel dan bosan di dalam ruangan Adam yang letaknya di lantai 4 ini, hingga akhirnya kuputuskan untuk keluar. Namun baru saja ku buka pintu ruangannya, terasa seseorang menabrakku.


"Awww ...!" seruku sembari memegangi jidatku.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil memegang kedua bahuku dan menatapku dalam.


"Aku ngga apa-apa." jawabku seraya melepaskan kedua tangannya yang saat itu memegang bahuku.


"Masuklah, bang Danil bentar lagi ke sini." Ucapnya membuatku sedikit legah.


Aku kembali memasuki ruangan yang sebenarnya belum kutinggalkan. Adam terlihat duduk di meja kerjanya dan lagi-lagi, Ia tak mengajakku berbicara.


Kenapa sikapnya begitu dingin padaku? geruruku kesal, entah kenapa perasaanku saat itu kacau, melihat tingkah Adam yang seolah cuek sekali padaku. Bukannya harusnya Aku senang?


Hening


Hening


Suasana ruang kerja Adam saat itu sungguh hening, Aku diam dia pun diam ... kami tak saling bicara, hingga terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar, spontan Aku menatap Adam yang masih bergelut dengan komputernya. Melihat Adam seketika berdiri dari tempat kerjanya, aku pun seketika berdiri dari tempatku.

__ADS_1


"Biar Aku aja yang buka, Dam!" seruku menawarkan diri, namun ekspresi pemuda itu masih saja dingin, ia hanya mengedipkan kedua matanya dan mengangguk pelan lalu kembali duduk di kursi kerjanya.


Ceklek


Pintu itu pun kubuka, dan nampak seorang gadis berbadan tinggi hampir sejajar dengan diriku, dengan rambutnya yang tergerai sampai ke bahu itu, pakaiannya yang benar-benar modis serta sepatu high yang dikenakannya, make up nya pun lumayan--dia cantik dan anggun, terlebih lagi wajahnya sungguh tak asing di mataku.


"Kau ....!" Sapaku pelan menatap tak enak pada gadis yang berdiri tepat di hadapanku.


"Kau juga ... sedang apa di ruangan ini?" gadis itu bertanya balik padaku, membuatku sungguh kesal. Aku benar-benar tak suka padanya.


"Siapa, Hanna?" tiba-tiba Adam menyaut.


"Emmm ... ini--!" ucapanku tiba-tiba terputus ketika Gadis itu menyerobot masuk begitu saja.


****


Aku masih berdiri, membiarkan Gadis itu masuk bahkan menabrak pundakku begitu saja.


"Veera ... kenapa ke sini ngga ngasih kabar?" tanya Adam yang seketika membuatku tambah kesal. Adam mengenal perempuan itu bahkan dari nada bicaranya, mereka sepertinya kenal baik.


"Memangnya kenapa kalau Aku ngga ngasih kabar? kamu kan pacarku, Dam. Masa Aku harus ngasih kabar setiap mau ke sini."Gerutu gadis itu sambil melipat kedua lengannya di atas perutnya.


Pacar? tanyaku sendiri. kaget.


"Lagian, kenapa Dia ada di ruanganmu?" gerutunya lagi sambil mengluruskan jari telunjuknya ke arah ku dan pandangannya yang sama sekali tak aku suka.


"Kau kenal dengan Hanna?" tanya Adam yang sejak tadi masih berdiri ketika Veera datang.


"Tentu saja Aku kenal, Dia kan pacar temanku." Jawabnya sambil berjalan ke arahku dan mendudukkan dirinya di atas sofa tamu. Aku masih dengan posisiku--berdiri--menatap tak suka padanya.


Adam seketika mengalihkan pandanganya padaku, hingga pandangan kami bertemu begitu saja tanpa jeda. Aku jadi serba salah, meski Aku tahu Adam sudah tahu sejak awal dari pertemuan kami beberapa kali.


"Sebaiknya Aku pergi dari sini, lagipula urusanku ke sini bertemu dengan abangku dan aku ngga ada urusan dengan kalian." Ucapku tiba-tiba dan segera mengambil tas yang kuletakkan di atas meja tamu tepat di hadapan Gadis itu.


"Hanna ....! Tunggu!" Adam tiba-tiba menarik lenganku, sontak membuat Veera segera beranjak dari duduknya.


"Lepasin Aku, Dam. Aku akan bertemu dengan abangku di ruangannya." kataku lagi sambil berusaha menarik tanganku dari genggaman Adam, namun Adam memegangku dengan erat.


"Hann, Aku--!" Ucapan Adam terputus ketika matanya menatapku lagi.


"Jangan pergi dulu!" Adam memelas.


Aku tak menyangka, Adam menarik tanganku dan melarangku meninggalkan ruangannya. Sementara sejak kedatanganku, ia bahkan tak banyak mengajakku bicara. Aku sungguh bingung dan benar ngga tahu sifat Adam sebenarnya. Adam peduli padaku dibanding Veera.


"Adam, aku ini pacarmu. Kenapa kau malah melarangnya pergi?" Veera melonjak.


-


-


-


-


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2