
Notifikasi handphone-ku berbunyi beberapa kali, dan Jo pun beberapa kali memanggilku. Untuk beberapa saat Aku masih tak memperdulikannya, Aku masih sedih dengan sikap Dirga padaku. Setelah beberapa kali berbunyi, Aku pun mengangkatnya. Jo meneriakiku dan terus saja mengoceh.
Dasar cerewet! kataku.
"Katakan, kau di mana?" Tanyanya mendesak.
"Taman Cerdas!" Ujarku singkat, Aku tak menyadari Jo sudah menutup panggilannya. Aku yakin Jo pasti datang dan mengantarku pulang. Aku tahu betul sifatnya sejak kami masih di SMA--Suka membela--humoris--dan terbuka. Jo teman yang adem pokoknya. Aku kenal dan akrab sama dia waktu kami sekelas di kelas XI, Ia juga termasuk siswa yang cerdas, namun kami kadang ta sependapat.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanyanya tiba-tiba ketika baru datang.
"Aku hanya jalan-jalan." Balasku seraya menyembunyikan kesedihanku.
"Kau menangis?" Tanyanya lagi bahkan mencoba melirik ke arah wajahku.
"Tidak."
"Syukurlah."
"Jo, kau bisa mengantarku pulang?" Pintaku.
__ADS_1
"bukannya kau memintaku datang kemari untuk mengantarmu pulang!" Tegas Jo.
Aku segera berdiri tanpa berkata apa+apa dan berjalan mendahuluinya.
"Kau pasti ada masalah kan Hanna?"
"Udahlah Jo, Aku capek. Please jangan tanya." Balasku segera mengambil helm yang juga ia bawa untukku. Di sepanjang jalan, Aku hanya diam seribu bahasa, sedang Jo beberapa kali memecah suasana.
Tepat 20 menit ke depan, Jo mengantarku masuk ke dalam rumah, dan seperti biasa sebelum pulang, ia selalu menyibukkan dirinya--membuat teh-roti selai--bahkan tak tanggung-tanggung untuk memasak apa yang ingin dia makan. Jo juga akrab dengan bang Danil.
"Aku ke kamar dulu yah Jo!" Seruku ketika Jo sedang melahap makanannya. Tidak lama setelah itu, bang Danil keluar dari kamarnya, dan mendapati Jo yang sedang menikmati dunianya sendiri.
Aku tak lama di kamar, Aku hanya menyimpan beberapa barang, kemudian menghampiri keduanya yang sedang melahap makanannya.
"Dirga!" Seru Jo tak menyangka.
"Ohh, jadi Hanna minta aku antar pulang karena bertengkar lagi dengan Dirga." Ujarnya sengaja, karena Jo sudah tahu kalau Aku sudah tidak berada di kamar.
"Tapi, Bang. Sejak kapan Dirga kembali?" Tanya Jo lagi.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu." Singkat Abangku.
Setelah kenyang, Jo dan bang Danil beranjak menuju ruang tamu; Aku sedang menghidupkan Televisi. Aku mencoba tegar dan tak ingin mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di dalam benakku. Aku tak ingin membahas soal Dirga, meski Aku sadar bahwa Aku tak bisa sama sekali memyembunyikan persoalan Dirga dan diriku dari dua orang ini.
"Benar kau tak mau cerita?" Tanya Jo menggodaku.
"Seperti itulah hubungan, kadang baik kadang buruk, bahkan kadang di luar dari apa yang kita inginkan, tapi cobalah untuk tidak diambil pusing, Han." Ujar Jo lagi.
"Bawel bawel bawel!" teriakku sambil melempari Jo bantal-bantal yang ada di sofa.
"Huuufttt...!Kalian itu kayak kucing dan tikus, ketemu berantem ngga ketemu saling cari." Ujar bang Danil memecah suasana, hingga lemparan berbalik menyerangnya.
"Aku harus pamit ini, ada urusan mendesak soalnya." Jo bersedia untuk pulang.
" Urusan kampus lagi?" Tanyaku.
"Bukan. Ini lebih penting dari urusan kampus, Nyonya Besar!" Jawabnya seolah mengejekku.
Jo pun bergegas pergi. Tak lupa ia pamit pada bang Danil dan juga mengacak-acak rambutku dan berlalu.
__ADS_1
"Hati-hati!" Kataku.
Meski Jo selalu menghiburku, tapi pikiranku tentang Dirga tetap saja tetap berkecamuk, antara hati dan pikiran yang tak bisa menyatu, namun saling membutuhkan. Ibarat Bulan dan Bintang yang juga tak bisa menyatu, tetapi tetap memberi terang pada orbitnya sendiri. Aku dan Dirga ibarat sebuah pohon yang membutuhkan sinar agar tumbuh. Jikala Dirga masih tak bisa terbuka padaku, dan terkubur oleh masalahnya sendiri, Aku siap menjadi matahari untuknya.