
"Hannaaaaaaa!" Teriakan bang Danil masih sempat Aku dengar, namun Aku tak mengindahkannya. Aku terus saja berlari hingga tak sadar menabrak beberapa orang, air mataku terus saja menetes, terasa ada guncangan yang dahsyat yang seketika merobohkan kekuatan hatiku.
Entah berapa lama Aku berlari, hingga kakiku terasa tak kuat lagi berlari, Aku menutup mataku pelan, dan terasa setetes air jatuh membasahi pipiku. Kini langkahku mulai pelan, Aku tak peduli dengan sekelilingku, Aku tak tahu di mana. Tiba-tiba ponselku bergetar, ada nama Jo yang muncul, segera kuangkat.
"Hallo, Han. Kamu di mana?" tanyanya cepat padahal Aku belum sempat ngucapin apa-apa.
"Aku--di Monumen dekat--hiks ... hiks--Mall." Jawabku masih dengan tangisan.
Jo seketika mematikan panggilannya. Aku mengingat kejadian di saat Adam beberapa kali menolongku, bahkan mengingat cerita Bang Danil begitupun dengan ceritanya, bagaimana Adam menjadi malaikat pelindungku sejak kecil. Aku terpukul--hatiku hancur--tak sanggup memutuskan apa-apa.
/Kau memang tidak secantik Syakila, tapi Hanna--kau wanita Ajaib yang pernah aku temui, kau bisa merubahku, hanya kau yang bisa merubahku, dan Aku tidak akan pernah melepasmu, Aku akan memepertahankanmu/
Aku mengingat perkataan Dirga beberapa tahun lalu, setelah Syakila (orang yang ia cintai) meninggalkannya untuk lelaki lain, sungguh tak bisa kubayangkan saat-saat Dirga harus terpuruk lagi. Sejak naik kelas Tiga SMA, Aku mulai tertarik dengan Dirga, namun saat ia tahu Syakila menghianatinya, Ia bahkan hampir kehilangan dirinya sendiri.
/Hanna, kau tahu! bagiku sangat sulit untuk mencintai orang dengan tulus, Aku masih trauma dengan Syakila, apakah kau masih mau menungguku/
Perkataan Dirga masih saja terbayang, apakah harus aku korbankan perasaanku yang telah lama untuk Dirga, sementara hubunganku dan Dirga sudah berjalan 5 tahun, hanya untuk seorang Adam? Dadaku sesak, otakku tak mampu menenangkan hatiku yang berkecamuk.
"Hanna, kau di sini?" Sahut Jo tiba-tiba, suaranya bahkan membuyarkan lamunanku.
Aku menyeka air mataku yang sudah sangat membasahi pelipisku, Aku sejenak menundukkan kepalaku.
"Bang Danil khawatir padamu? Ia memintaku mencarimu. Ayo pulang!" Ucap Jo, namun Aku menolaknya.
"Kalau kau tidak mau pulang, setidaknya ceritalah padaku. Kau sudah terlihat murung sejak pagi tadi. Kau bahkan terpaksa tersenyum saat memberiku selamat atas hubunganku dengan Melda." Timpal Jo menggodaku.
"Ngga Jo, Aku ngga tahu bagaimana kondisi hatiku saat ini." jawabku.
"kau mau tahu?" Jo menatapku sejenak.
"Hatimu sedang terjepit, makanya sakit." Jo mulai dengan kelakarnya.
"Kau tak tahu, Aku serius Jo!" Teriakku pada Jo.
"Aku juga serius. Kau ini percuma punya otak pintar, hati yang lembut, mudah bergaul tapi sayang kau hanya seperti batu apung yang mengambang di lautan." Umpat Jo lagi membuatku jengkel dan itu membuatku spontan mencubitnya lengannya.
****
__ADS_1
Seseorang tiba-tiba menghampiri kami dengan langkah yang lamban, saat itu air mataku mulai bersahabat, Aku bisa menahannya karena Jo datang membawa candaannya. Dia memang sahabat terbauk bagiku.
"Dirga--kau sudah datang!" Sahut Jo yang lebih dulu melihat kedatangan Dirga. Ji seketika berdiri, pandanganku menatap Dirga kemudian beralih menatap Jo bertanya-tanya.
bagaimana Dirga bisa tahu aku di sini? Gubrisku dalam hati.
"Aku yang memintanya untuk datang, Han!" Jo seolah tahu apa yang aku rasakan.
"Aku pergi dulu, kalian bicaralah!" Jo melanjutkan sembari menepuk pundak kanan Dirga, kemudian berlalu.
Aku masih menundukkan kepalaku, mengatupkan kedua tanganku lalu menggosok-gosokkan keduanya, sesekali meniupnya juga, Aku mulai merasakan hawa angin malam menyentuh tubuhku.
Perlahan langkah Dirga mendatangiku, Ia duduk di samping kiriku, membuka jaket kulitnya kemudian mengenakannya padaku, meski saat itu Aku mengenakan sweater, namun tetap masih terasa dingin.
"Kau kedinginan, wajahmu kenapa kusam kayak gini?" tanyanya, kemudian menghadapkan wajahku tepat di hadapannya, dan mengusap kedua pelipisku yang masih basah.
Aku menatap wajah Dirga sejenak, air mataku menetes lebih cepat.
"Kamu jahat, Ga. Kamu bahkan ga tahu bagaimana perasaanku saat ini, dan--dan kamu ngga pernah kirim kabar ke Aku." Sedihku.
"Tenangkan dirimu, Han!"
"Aku sedih, Ga. Kamu tahu apa yang aku alami saat ini?" lanjutku dengan suara serak.
"Baiklah, Kau ingin cerita? Aku akan mendengarnya." Dirga menatapku dalam.
Bagaiamana mungkin Aku mengatakan ini padamu, Ga. Aku tidak tahu apa yang akan kamu katakan dan apa yang akan kamu rasakan, jika Aku menceritakannya padamu. Tuturku lagi membatin.
"Han, jangan pendam sendiri. Kau sudah terlalu banyak membuat diriku menjadi baik, sedang kau tak pernah mau berbagi padaku." Timpal Dirga.
"Apa kau akan siap mendengar semua dari mulutku, Ga?" Tanyaku memastikan.
Dirga hanya mengangguk senyum, seolah siap mendengar semua yang akan ku katakan.
"Aku--Ga!" kataku lagi, namun sekali lagi memastikan wajah Dirga.
"Katakanlah, Han!" Timpal Dirga yang kemudian menguatkanku dengan menggenggam tangan kananku dengan erat.
__ADS_1
"Ga, Aku udah dijodohin sama Almarhum papaku." Ucapku lagi menunduk serasa tak tega melihat wajah Dirga.
"Lalu, apa tanggapanmu?" tanya Dirga meringis.
Aku hanya menjawab Dirga dengan menggelengkan kepalaku dan memandangnya lagi.
"Aku--tidak ingin meninggalkanmu, Ga. Aku mungkin tak sanggup menghadapi hari-hari disaat aku tahu Aku telah dijodohkan sejak kecil."
Dirga menundukkan kepalanya lagi, Ada sesuatu yang tak sanggup Dirga ungkapkan padaku, perasaan sedihny nampak di mataku, Aku tahu saat ini, seolah ada belati yang menusuk dadanya, Aku tahu batin Dirga menyeringai,terlebih lagi dengan diriku.
"Hanna, Aku antar kamu pulang sekarang, yah!" Pinta Dirga tiba-tiba.
"Kenapa? Kau tak ingin berlama-lama denganku?" Tanyaku tegas melototi Dirga.
"Han, ini udah malam, Aku ngga mau kamu sakit, aku antar sekarang yah!" Dirga beranjak dan mengukurkan tangannya padaku, namun Aku tak meraihnya, aku lagi-lagu menunduk.
Dirga kemudian mencongkongkan tubuhnya lalu menatapku, menaikkan daguku, kedua tangannya menyentuh kedua pipiku.
"Jangan menangis, kita pasti bisa melalui ini." Yakin Dirga padaku.
"Kamu wanita yang aku cintai, Han. Kamu satu-satunya yang bisa merubahku sampai saat ini setelah penghianatan Syakila padaku. Kau pikir Aku akan melepaskanmu begitu saja?" Dirga meyakinkanku lagi, dan mendengar kata-katanya, Aku baru mau pulang bersamanya.
"Kau janji padaku?"
"Aku janji, Aku akan segera melamarmu."
Perkataan Dirga membangkitkan semangat diriku yang mulai merapuh. Aku bangkit dan meraih tangan Dirga, kemudian kami berlalu.
-
-
-
- JANGAN LUPA YAH TEKAN LIKE, DAN BERI KOMEN YANG MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT. DAN JANGAN LUPA TEGUR JIKA ADA KATA ATAU TYPO-TYPO DALAM NASKAHNYA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1