
Jo melihat jam digital yang tertempel di lengan kirinya, sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Jo memberikan kode padaku untuk segera pulang, Aku hanya mengangguk, mengiyakan dan kembali kepada si Gadis kumal yang sudah dua jam lebih duduk di samping kiriku.
"Kau tadi bilang apa?" Tanyaku yang saat itu meminta pengulangan dari kalimat yang Gadis kumal itu katakan.
"Kau--wanita aneh," ucapnya lagi.
"Aku sudah pikir sejak awal bertemu denganmu di Mall waktu itu." Kataku yakin meski Aku masih menangkap sebuah ketakutan dari tatapan matanya.
telpon gue angkat dong, telpon gue angkat dong! tiba-tiba terdengar suara yang sumbernya dari saku celana jeans yang Jo kenakan.
"Han, Bang Danil!" serunya pelan.
"Ya angkat!" perintahku.
Baik Bang, bentar lagi kami pulang. Kata Jo saat itu kemudian menutup ponselnya.
"Toolong, kalian jangan ikutin Aku lagi, Aku takut, Aku takut!" Sahut Gadis itu tiba-tiba ketakutan dan beberapa bulir air matanya menetes. Perasaan ibaku seketika muncul dan langsung memeluknya. Aku tak peduli--ia kumal--bau--kotor sekalipun.
"Benar-benar Wanita aneh." Gumam Jo pelan, meski sebenarnya masih Aku dengar.
Gadis itu menarik dirinya dari pelukanku, dan terlihat gemetar. Aku meraih kedua tangannya dan mengepal keduanya; gemetar, dingin, meluap jadi rasa takut yang dalam.
"Aku ingin sekali membawamu pergi saat itu, namun kau pergi meninggalkanku dan menghilangkan jejak," ungkapku.
"Kau tak perlu takut padaku, dan juga orang itu," kataku melirik sebentar pada Jo.
"Kau mau ikut denganku? setidaknya kau tidak kedinginan dan merasa takut lagi, lagipula di luar tidak aman, apalagi kau sudah mencuri," Jelasku lagi membujuk, entah dia mengerti atau tidak dari ucapanku itu.
"Kau mau, kan?" Mulaiku lagi membujuk.
"Hanna--!" sahut Jo terputus ketika Aku melemparinya sebuah kerikil, memintanya untuk tak ikut bicara.
"nggaaaa, pergi pergi-- kalian sama saja dengan mereka, pergiiii!" teriak gadis itu lagi bahkan lebih kasar dari sebelumnya, Ia mendorongku bahkan menginjak kaki kananku, lalu kabur. Jo bahkan bingung antara menolongku atau mengejar gadis itu, tapi dengan cepat, Aku meminta Jo untuk mengejarnya, meski Jo tidak mau.
"Aku tidak akan pulang Jo kalau gadis itu tidak kau temukan!" ancamku, Jo pun berlari mengejarnya, sedang aku berusaha mengobati kakiku sendiri, dengan memijitnya sebentar.
Beberapa menit berlalu, Jo kembali dengan tangan kosong, dan menepuk kedua lututnya seperti orang sedang rukuk, Aku tahu ia lelah, mengejar.
"Aku kehilangan gadis itu, Han." ucapnya sambil ngos-ngosan.
"Kok bisa sih, Jo?" kesalku masih memijit-mijit kakiku.
"Iya bisalah, gila tu cewek--larinya cepet banget, kayak atlit!" Jo berdiri tegak dan mengatur nafasnya.
"Aku kehilangan dia lagi kan?" sesalku.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jo khawatir kemudian melihat kakiku yang memar.
__ADS_1
"Ini resikonya kalau jadi cewek suka ikut campur sama urusan orang, udah tahu orang gila, masih aja dideketin. Aneh kamu Han, bener-bener aneh!" umpat Jo padaku.
"Udah ahh, ayo pulang!" Ajaknya mulai kesal bahkan tak peduli lagi denganku yang sedang kesakitan bahkan berjalan timpang.
****
"Assalamu Alaikum!" Jo mengucap salam sambil menunggu balasan dari dalam sekaligus membukakan pintu. Jo memegangiku.
"Waalaikum salam." sahut dari dalam, siapa lagi kalau bukan bang Danil.
ceklek
bunyi suara pintu yang terbuka.
"Ada apa ini, Jo kenapa dengan Hanna?" tanya bang Danil khawatir.
"Tanya sendirilah Bang sama orangnya," timpal Jo kemudian membawaku masuk dan merebahkanku di sofa guest room.
Aku masih kesal karena kehilangan gadis itu untuk yang kedua kalinya, dan juga kesal sama Jo yang gagal mengejarnya. bertubi-tubi pertanyaan bang Danil menimpaku, tapi Aku hanya diam termanyun-manyun.
"Jo, kamu yang jelasin deh, kenapa kakinya bisa sampai memar kayak gitu, dan kenapa kalian lama sekali di sana, apa aja sih yang kalian urus?" Bang Danil mulai interogasinya.
"ahhh, gini yah kalau punya abang seorang detektif, pertanyaan bertubi-tubi ngga mau berhenti." Timpal Jo kemudian beralih ke ruang dapur mengambilkanku segelas air putih.
"Kamu salah Jo, Abang itu bukan Detektif, tapi Wartawan." Timpalku membenarkan
Karena bang Danil ngga mau berhenti bertanya layaknya wartawan yang sedang menggali informasi kepada narasumbernya, akhirnya Jo menceritakan semuanya sedang Aku hanya mangguk-mangguk membenarkan.
"huffttt!emang susah punya adik perempuan yang keras kepala, Jo. Untung nasibmu ngga seperti diriku." tukas bang Danil seolah kecewa dengan diriku.
"Aku juga punya adik perempuan, Bang. Tapi ngga keras kepala kayak yang satu ini, heheeh, Peace!" Timpal Jo memecah suasana hingga lemparan bantal sofa mengenainya.
"Tuhhh rasain!" seruku terlihat menang.
Jam dinding kini menunjukkan pukul 10 malam, Jo pamit pulang meski bang Danil memintanya untuk menginap, namun ia tetap pada pendiriannya.
"Sekali-kali nginaplah di sini, biar aku ada temennya," pinta Bang Danil.
"Insya Allah Bang, nanti cari waktu yang pas."
"Jo-- kalau kamu nginap di sini, adanya Bang Danil yang seneng, Akunya yang susah jadi dicuekin ama abang sendiri!" protesku seolah tak setuju Jo nginap.
"Oh ya Jo, lupa!" seruku lagi hingga Jo menolehku.
"apa lagi?" tanyanya ketus.
"Nada dering HP mu tuh jangan lupa diganti, jelek banget. Hahahaahah!" protesku tertawa.
__ADS_1
"Suka-suka Akulah." balas jo pamit.
Beberapa menit kemudian, Jo tak lagi terlihat, Bang Danil mengunci pintu rapat-rapat, dan menyuruhku untuk beristirahat, tapi saat itu Aku sedang malas untuk naik ke kamar, dan meminta bang Danil untuk tukaran kamar hanya untuk semalam.
"please! melasku manja sambil mengatupkan kedua telapak tanganku.
"Kau itu--sejak kecil hingga sekarang masih aja sama, pantes aja kamu jadi anak kesayangan mama." ungkap bang Danil membuatku terkejut.
"Aku bener yah, Bang--anak kesayangan mama?" tanyaku penasaran.
"Mama sayang banget sama kamu, emang sih sejak kecil kamu udah suka nolongin orang-orang, membela teman-temanmu, sampai-sampai kamu pernah jatuh sakit cuma karena nolong seseorang." tukasnya lagi, membuatku semangat mendengarkan.
"Lagi Bang lagi!"
"sudahlah, abang ambilin baju gantimu dulu, kamu ke kamar abang gih sana!" instruksinya.
Dengan langkah gontai dan kaki yang timpang, Aku melangkah masuk kamar bang Danil. Sebuah kamar laki-laki yang menurutku cukup bersih dan rapi, semua tetatur dengan sempurna, ngga ada sedikitpun kotoran atau kertas-kertas berserakan, semua memiliki tempat tersendiri, dan aromanya yang wangi sewangi minyak kasturi, yang memiliki aroma lembut, dan tidak mudah hilang. Pokoknya betah deh di kamar bang Danil.
Aku mencoba membaringkan tubuhku, namun sebelumnya ada sebuah foto yang membuatku tertarik untuk melihatnya lebih jelas, itu sebuah foto keluarga, ada seorang gadis kecil berambut panjang sebahu yang rambutnya diikat dua seimbang, dan seorang pria remaja yang memiliki tipe rambut model spike--kulit kuning langsat--hidung greeks-- comel dehhh, dan sepasang suami istri yang nampak serasi dan anggun sekali.
"Sedang apa adikku yang manis?" kedatangan Bang Danil mengagetkanku.
"Bang, ini foto waktu papa sama mama masih ada yahh?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.
"Iya!" jawab abang simple sambil duduk di kasur miliknya ikut memandangi foto yang saat itu masih aku pegang.
"Mama sama papa serasi banget yah Bang, semoga aja Aku bisa dapet yang ganteng dan baiknya kayak papa." celotehku lagi.
"Amiin!" Bang Danil tersenyum lirih.
"Tapi kenapa foto ini cuma abang simpan di kamar abang?" tanyaku lagi mengalihkan.
"Foto ini harusnya di taruh di luar dong, Bang, kalau ada tamu kan bisa dilihat. Aku juga bisa lihat papa dan mama jadi sering-sering." lanjutku lagi, namun masih tak ada balasan dari bag Danil.
"Sudahlah Han, istirahat gihh! Abang juga capek, besok juga abang harus meliput pagi-pagi sekali."
"Abang tidur di sofa, kalau ada apa-apa bangunin abang yahh!" lanjut Abang lagi kemudian meninggalkan kamar dan menutup pintu.
kenapa abang menghindari pertanyaanku yahh? ocehku sendiri. Ahh sudahlah, aku ngga mau ambil pusing.
Aku memperbaiki posisi tidurku, dan mendekap bingkai foto keluarga hingga tertidur.
-
-
-
__ADS_1
UDAH UP LAGI NIHH EPISODENYA. YANG UDAH MAMPIR TERIMA KASIH BANYAK.