
EPISODE 18 AKU USAHAIN UP LAGI NIH, AUTHOR YANG MASIH AMATIR INI, SEKALI LAGI UCAPIN MAKASIH BANGET BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA BACA YAHH.
****
Hujan rintik-rintik seketika jatuh, bersamaan dengan kami yang baru saja tiba di depan rumah. Aku bergegas membuka pagar rumah, lalu menutupnya kembali ketika bang Danil telah memasukkan honda beatnya.
Kami kini berada di dalam rumah yang sudah 17 tahun kami diami. Usia Bang Danil yang saat itu masih 15 tahun berani mengontrak rumah minimalis 2 lantai dengan ukuran 6x9 meter itu, namun setelah mendengar cerita bang Danil, Aku yakin rumah ini pun bisa abang dapatkan masih menggunakan uang almarhum papa, dan tentunya ia pasti mendapatkannya dari Oom Je.
Semua kebutuhan yang kami dapatkan termasuk rumah ataupun biaya kuliahku, Aku yakin uang dari perusahaan papaku yang Oom Je kelola, meski Aku yakin Abang ga semudah itu menerima semua bantuan. Aku yakin karena abang masih berpikir bahwa siapa pun yang mengelola, perusahaan itu tetaplah milik papa.
"Hanna, istirahatlah! besok pagi jam 8 abang mau ajak kamu ke makam papa sama mama." Ucap Bang Danil menatapku dengan tatapan mata yang sembab, sambil mengelus kepalaku dengan lembut.
"Terima kasih yah, Bang untuk ceritanya malam ini." balasku kemudian beranjak menaiki anak tangga menuju kamarku.
Hujan yang jatuh memantul ke atas seng rumah membuat suaranya semakin deras. Aku membuka sweater yang baru saja ku kenakan, kemudian mengganti bajuku dengan baju tidur, lalu membaringkan diriku dengan perasaan legah.
Aku bahkan hampir lupa memeriksa keadaan ponselku yang hampir tak pernah ku hiraukan semenjak pergi dengan bang Danil tadi.
1351 setidaknya itu yang Aku lihat sebelum membuka pesan yang masuk di whatsapku.
Begitu banyaknya chat yang masuk, namun diriku hanya peduli pada satu chat saja, siapa lagi jika bukan Dirga. Dia satu-satunya yang bisa membuatku tertawa bahkan bersedih.
Jangan lupa tidur yang nyenyak yah, Hanna Mayangsari, penyejuk hatiku, satu-satunya wanita yanh sudah membuatku luluh, kau wanita ajaib bagiku. Senyumku ketika membaca chat dari Dirga.
Terima kasih, tapi kata-katamu bikin Aku geli, Ga. Ngga biasanya kamu kayak gitu. Balasku cepat meski sebenarnya Aku bahagia mendapatkan chat dari dia. Aku hanya menyembunyikannya sementara rasa bahagia itu Tanpa memperdulikan balasan dari Dirga lagi--Hingga Aku tertidur.
****
Jam dinding masih saja seperti hari biasanya, jam dinding itu telah menunjukkan pukul setengah 8, bang Danil bahkan sudah beberapa kali meneriakiku dari bawah, bahkan menungguku.
"Maaf yah Bang, Hanna lama!" kataku menatap bang Danil yang saat itu sedang berada di depanku.
Kami pun akhirnya berangkat, namun baru saja tiba di TPU, Handphone abang berbunyi. Entah siapa yang menelponnya. Namun abang nampak sekali jika ia harus pergi.
"Lalu aku bagaimana, Bang?" tanyaku. Aku bahkan tak tahu yang mana makam mama sama papa."tegasku.
"Kamu tenang aja, Abang memang harus pergi, tapi setelah antar kamu ke makam mama dan papa," timpalnya lagi lalu Aku mengikuti langkah bang Danil yang dengan cepat berjalan di depanku.
Kami tiba di sebuah makam yang berdekatan, kedua makan itu benar-benar kini ada di depan mataku--tak percaya.
Spontan--Air mataku menetes membasahi makam mama, Aku menyalahkan diriku yang begitu manja hingga membuat mereka celaka.
"Maafkan Hanna Ma--Pa." Tangisku lepas. Bang Danil mulai menenangkanku dan membawa kepalaku ke pundaknya sejenak.
"Bang, Kalau bang Danil mau pergi sekarang, ngga apa-apa kok. Hanna masih mau di sini sebentar lagi." Ucapku kemudian, menarik kepalaku dari pundak bang Danil.
__ADS_1
"Kamu telpon abang jika ada sesuatu." Ucap Bang Danil kemudian pergi sedang Aku hany mangguk mengiyakan.
****
Bang Danil telah lenyap dari pandanganku, kini hanya ada beberapa orang yang juga mengunjungi makam keluarganya plus seorang penjaga makam yang terlihat sedang membersihkan, meski usianya sudah tak pantas untuk melakukan hal itu, menurutku. Aku kasihan melihatnya.
Makam mama sama papa, sepertinya ada yang bersihin, padahal semalam kan hujan. Gubrisku sendiri bingung.
Aku menanyakan pada kakek tua yang masih membersihkan beberapa makam, dan tak segan ia diberikan uang oleh orang yang menyuruhnya.
"Maaf kek, apakah kakek juga yang bersihin makam ini setiap hari?" tanyaku lembut.
"Tidak Non, kalau makam ini, setiap dua hari pasti ada pemuda yang mengunjunginya dan membersihkan setiap daun yang jatuh di pusara ini." Cerita kakek itu.
*Apakah pemuda yang datang bersamaku tadi, Kek?" tanyaku lagi mengira bang Danil
"Bang Danil, maksudnya? bukan Non, bukan bang Danil, tapi pemuda tinggi, ganteng pokoknya Non." jelasnya lagi.
"Oh gitu, terima kasih yah Kek!" ucapku lalu membacakan doa buat papa dan mama, kemudian beranjak meninggalkan pusara mereka.
Belum lama langkahku meninggalkan pusara orangtuaku, tiba-tiba ada sosok yang tak asing melangkah berpapasan denganku sambil memegang seikat bunga kenanga-- membuat langkahku seketika terhenti.
Sayangnya, Aku tak sempat melihat langkah pemuda itu berakhir di makam siapa, karena handphoneku yang tiba-tiba berbunyi. Nama Dirga muncul, Aku segera mengangkatnya.
"Aku di TPU, habis ngunjungin makam orangtuaku, Ga!" jawabku.
"Tunggu di sana, Aku akan menjemputmu."
Sambil menunggu Dirga datang, Aku tetap melangkahkan kakiku keluar, Aku kini berada di jalan poros, pikirku melayang, mulai memikirkan sosok pemuda yang tiap dua hari datang membersihkan pusara mama dan papa. Siapa sih pemuda baik itu? batinku.
"Nona ... awass!!" teriak seseorang mengejutkanku bahkan ia sempat menarik kedua pundakku dari belakang hingga membuat kami berdua terjatuh, Aku bahkan terjatuh dalam dekapannya.
Tiba-tiba saja pandangan kami bertemu dan pandangan itu tak beralih sedikitpun, sepoi angin dari arah utara pun seolah memihak pertemuan kami lagi.
Pemuda yang menolongku di Supermarket Mall, seorang pemuda yang juga menolongku di Kampus, dan lagi-lagi Ia menolongku ketika Aku berjalan dengan pikiran kosong.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir, ia berdiri lalu mengulurkan tangannya membantuku untuk berdiri. Jantungku untuk yang ketiga kalinya bertemu dengannya berdegup tak beraturan lagi.
"Apa yang sedang kau pikirkan? motor itu hampir saja menabrakmu!" serunya nada tinggi, untuk pertama kalinya orang yang tak kukenal berteriak padaku.
"Hentikan! jangan meneriakinya seperti itu!" Seru Dirga yang tiba-tiba menengahi kami. Lagi-lagi Dirga datang pada situasi seperti ini.
"Maaf, Aku tidak bermaksud memarahimu, Aku hanya khawatir." Timpal pemuda itu segera yang membuatku bingung dengan pernyataannya.
"Kau khawatir padanya? Kau mengenalnya? Hanna kau mengenalnya?" Dirga tak henti-hentinya bertanya.
__ADS_1
"Ga, ayo kita pergi!" ajakku agar tak lagi ada perdebatan.
"Tidak, Aku butuh penjelasan." gubrisnya lagi.
"Aku tidak mengenalnya, Ga!" jawabku menatap Dirga sayup sambil merangkul lengan kanannya.
"Kau memang tidak mengenalku. Tapi--Aku mengenalmu, Hanna Mayangsari." Sambung pemuda itu benar-benar menambah sakit kepalaku, bahkan Dirga terdiam tak berkata apa-apa lagi, hanya menarik tanganku dan berlalu dari hadapan pemuda itu.
Daun menguning gugur ke tanah, seperti hatiku yang sedang kacau. Dirga bahkan tak menatapku sedikit pun, Aku masih menatapnya berharap ia menatapku dan berbicara.
****
Mobil berhenti tepat depan rumahku, Dirg turun; membukakan pintu untukku hingga Aku turun dari mobilnya, Ia menutup kembali lalu kembali menaiki mobilnya tanpa berbicara sedikit pun padaku. Dirga melajukan mobilnya. Dan untuk pertama kalinya, Ia tak menoleh padaku--ataupun membuang senyumanya.
Aku masih menatap kepergian Dirga hingga mobil yang ia kemudikan benar-benar tak lagi nampak di mataku. Aku menapaki ruang tamu dan meletakkan tasku di meja, kemudian duduk di punggung sofa. Ku katupkan kedua telapak tanganku di wajahku dan menangis lepas.
Hiks ... hiks ... hiks. Tangisku lepas. Dirga benar-benar marah padaku, dan pemuda itu-- bisa-bisanya dia mengatakan bahwa ia mengenalku.
Aku seketika teringat, ketika pemuda itu menolongku di Kampus, bukankah ia memanggil namaku? tanyaku memastikan.
Itu artinya, dia benar-benar mengenalku. Gubrisku lagi.
Aku mencoba menelpon Dirga, namun Ia tak juga mengangkat. Semarah itukah Dirga padaku, Ia bahkan tak pernah kasar padaku, Ia selalu lembut padaku, tapi hari ini, Aku seolah melihat sosok Dirga yang lain.
kenapa pemuda itu harus hadir diantara kami? protesku lagi sendiri.
Pemuda itu--dia mulai membuatku resah.
Aku takut jika yang Dirga takutkan benar-benar terjadi. Kata-kata Dirga seketika terbayang bahwa langit tidak harus mengabulkan bumi,
Aku tak mau hubungan kami yang berjalan selama 5 tahun ini berakhir seperti ini, berakhir dengan adanya orang ketiga. Aku ngga mau.
Aku masih melepaskan tangisku, hingga Bang Danil datang menatapku penuh keheranan.
-
-
-
-
-
MUNGKIN BESOK GA UP DULU YAHHH.
__ADS_1