
MAAF YAH SOBAT READERS AKU BARU UPDATE LAGI NIH. HAHAH AUTHOR KEHABISAN KUOTA, DAN BARU ADA LAGI.
****
Aku tak menyangka, Adam menarik tanganku dan melarangku meninggalkan ruangannya. Sementara sejak kedatanganku, ia bahkan tak banyak mengajakku bicara. Aku sungguh bingung dan benar ngga tahu sifat Adam sebenarnya. Adam peduli padaku dibanding Veera.
"Adam, aku ini pacarmu. Kenapa kau malah melarangnya pergi?" Veera melonjak.
"Ayo Han, kita keluar dari ruangan ini!" pinta Adam menambah bingung diriku, ia bahkan belum melepaskan genggaman tanganku.
Adam menarikku keluar dari ruangannya, namun Veera tetap menyusul kami. Veera mulai melonjak, ia bahkan heran melihat sikap Adam yang tiba-tiba perhatian padaku.
"Adam, kamu apa-apaan sih? di sini aku pacarmu, bukan dia!" tegasnya membentak sambil menunjuk-nunjuk diriku.
"Adam, lepasin aku!" teriakku juga sambil menghempaskan tanganku, namun genggaman itu masih juga tidak terlepas.
"Adaaam!" Teriak Veera lagi berusaha melepaskan cengkraman tangan kekasihnya itu dari tanganku. Veera melepaskan dengan kasar. Beberapa orang yang saat itu datang dan pergi mulai menyaksikan keributan kami,
namun Adam mampu mengatasinya.
"Hei, Hanna. Apa hubunganmu dengan pacarku, sampai dia menarikmu keluar?" tanya Veera membentakku sambil mendorong sedikit bahuku, hingga aku terdorong beberapa langkah ke belakang dari tempatku berdiri.
"memangnya kau pikir, Aku ada hubungan? kau sendiri tahu Dirga pacarku. Apa aku serendah itu mau merebut pacar orang lain, ad kea juga kamu yang merayu pacar orang." Jawabku juga sinis dan tak mau kalah.
"Apa kamu bilang, KURANG AJAR! Beraninya kamu bilang begitu sama aku." Timpalnya lagi sambil melayangkan tangannya ingin menamparku, namun seketika terhalangi oleh tangan Adam yang dengan cepat meraih tangannya lalu menghempaskannya.
"CUUUKUP, Veera! sebaiknya kamu pergi dari sini." Usir Adam menatap Veera tidak suka.
"Aku bingung sama kamu, Dam. Pa--car ka--!" terpotong di saat Adam menyela.
"Cukup, tidak usah kau lanjutkan, sebaiknya kau pergi dari sini!"
Melihat perdebatan dua sejoli itu, Aku sungguh merasa tidak enak. Aku juga kesal yang tiba-tiba tahu bahwa Adam sudah punya pacar, dan pacarnya adalah Veera (teman pelatihan Dirga saat di Bali).
Kalau memang, Adam sudah punya pacar, kenapa masih mau menerima perjodohan yang tak masuk akal itu.
__ADS_1
Setelah mengetahui Adam memiliki hubungan dengan seseorang yang tak lain adalah orang yang kukenal, Aku akan berusaha agar perjodohan itu berhenti sampai di sini. Aku akan segera meminta bang Danip untuk segera merubah wasiat ayah.
"Sudahlah, Dam. Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian, Aku tidak akan mengganggu kalian, biar Aku yang pergi. Aku juga ngga ada hubungannya dengan kalian." kataku lagi melunak mendinginkan suasana.
"Hanna!" Adam menghampiriku sambil menatapku dengan tatapan penuh penyesalan.
"Cukup, Dam. Aku akan menemui abangku di ruangannya saja." timpalku lagi.
"Hanna. Maafkan Aku! Sebenarnya Bang Danil--!" Adam menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Bang Danil kenapa?" tanyaku mulai bingung.
"Aku berbohong, kalau bang Danil sedang rapat." Adam sejenak mengedipkan matanya lalau membukanya lagi seolah ada penyesalan ketika menatapku.
"Apa maksudmu?"
"Bang Danil memintamu untuk ke Kantor, agar kita bisa bertemu, dan kau juga belajar membantuku di perusahaan ini." Adam mencoba menjelaskan.
Aku mulai menarik napas lalu membuangnya lagi. Perasaanku mulai tak karuan dan seolah ada kebencian menumpuk di otakku. Aku ingin marah pada Adam, namun masih kucoba untuk menahannya.
Beberapa menit kemudian, lift berhenti, beberapa orang termasuk diriku keluar dari lift itu.
Dengan langkah yang mulai melambat, Aku berjalan keluar kantor itu. Aku tak menyangka Bang Danil ataupun Adam tega membohongiku bahkan membuatku menunggu.
Aku menuju ke sebuah kursi yang ke empat kakinya tertanam di dalam tanah, kududukkan diriku, air mataku menetes begitu saja.
trrt trrt
trrt trrt
Handphoneku yang masih di dalam tas segera kuraih, nampak nama Dirga yang tertera di layar ponselku. Melihat nama Dirga saja sudah membuat hatiku tenang, Aku segera menyeka air mataku.
Aku menggeser ikon berwarna hijau dan menempelnya di telinga kananku.
Lihatlah ke depan~ Dirga
__ADS_1
Aku tak membalas Dirga, namun sorot mataku segera mencari keberadaan Dirga. Sekilas nampak Dirga melambaikan tangannya. Aku beranjak, mematikan ponselku dan menghampiri Dirga yang saat itu berdiri di samping pintu mobilnya. Aku berusaha menyembunyikan perasaan kecewaku di hadapan Dirga.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dirga mengusap-usap lembut bahuku.
"Emmm ... kita pergi sekarang!" ajakku.
Dirga membukakan pintu mobilnya untukku, lalu kami pun segera berlalu. Sepanjang perjalanan, Dirga sesekali menatapku, namun pandanganku hanya lurus ke depan.
Aku hanya diam tak pernah membuka pembicaraan, hanya Dirga yang selalu berusaha untuk membuka pembicaraan.
"kau ada masalah? Sejak tadi hanya diam!" Dirga menatapku lagi sambil tetap memegang kemudinya.
"Aku ngga apa, Dir. Kita mau kemana?" Balasku membalikkan pertanyaan, agar Dirga tak fokus pada kondisi diriku yang saat itu sedang tak baik.
"kamu yakin, tidak apa-apa?" tanyanya lagi menegaskan.
"hmm ... aku baik-baik saja." jawabku sambil mengusap pundak Dirga sambil sedikit tersenyum.
Kurang lebih 20 menit, Dirga mulai memarkirkan mobil yang kami tumpangi, Aku membuka sendiri pintu mobil lalu turun dari mobil bersamaan dengan Dirga.
"Ini Bandara, kita mau ngapain di sini?" tanyaku.
"Kita jemput mama. Pesawatnya akan tiba sebentar lagi."
mama. gumamku pelan.
"Yuuk!" sambil meraih pergelangan tanganku, lalu kami berjalan bersama.
-
-
-
UPDATE UNTUK EPISODE INI, SEDIKIT YAHH..
__ADS_1
HEHEHEEH.MAAF