
"Kamu ngga singgah dulu, Ga?" Tanyaku berharap Dirga mau singgah.
"Aku langsung aja, ada beberapa urusan yang harus Aku selesaikan Han."
"Ya udah. Hati-hati!" kataku lagi seraya melambaikan tanganku, Dirga pun berlalu.
Aku memasuki rumah yang lagi-lagi tak terkunci, namun Aku tak mendapati sepeda motor bang Danil terparkir di halaman. Apa dia keluar lagi tanpa mengunci pintu? protesku dalam hati.
Ahhh, Aku memutuskan untuk segera membuka pintu untuk memastikan, namun ternyata bang Danil sedang menonton TV di ruang tamu.
"Udah pulang?" tanyanya menengokku sejenak. Aku duduk di sofa paling ujung yang jaraknya sekitar 1 meter dari tempat bang Danil duduk--sejenak menghamburkan kebahagiaan yang Aku rasakan hari ini.
"Kau kenapa, senyam senyum kayak orang ga waras?" tanya bang Danil yang ternyata memperhatikanku.
"Siapa yang senyam senyum, Bang?" Sahut seseorang tiba-tiba, dan membuatku terkejut.
"Joan!" Seruku terkejut tiba-tiba dia ada di sini.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Protes Jo padaku.
"Yah kau sejak kapan di sini?" Tanyaku menimpali.
"Sejak tadi, tanya aja bang Danil. Aku baru aja dari toilet Nyonya Besar!" Jelas Jo lagi padaku kemudian duduk di samping bang Danil. Sementara itu, Bang Danil hanya menyaksikan perdebatan ringan kami tanpa memperdulikannya.
"Dasar pria aneh!" Sahutku kemudian sedikit memonyongkan bibirku.
"Kamu yang aneh, senyam senyum ga jelas," protesnya lagi ngga terima.
"Aku lagi bahagia, hari ini Dirga ngajak Aku ke--!"
"Stop! kalian mengganggu aja!" Sahut bang Danil tiba-tiba memotong pembicaraanku, kemudian fokus ke siaran TV yang saat itu sedang menanyangkan berita tentang pencurian beberapa roti di Kedai Gilang, dan wajah pencuri itu terekam jelas di kamera CCTV yang terpasang di Kedai itu. Sebuah wajah yang tak asing, yang sempat aku tangkap saat CCTV disiarkan.
"Aku tahu Gadis itu!"Sahutku pelan.
"Maksudmu? kau kenal dengan Si Pencuri itu?" Tegas bang Danil.
"Bukan Bang, dia bukan pencuri!" Jawabku meluruskan.
"Lalu apa?" Tambah Jo lagi. Keduanya menatapku seolah butuh jawaban yang tepat, namun Aku tak mau bilang apa-apa.
__ADS_1
"Lokasinya di mana, Bang?" Tanyaku lagi memastikan.
"Bukannya Kedai Gilang itu dekat kampus, Han. Tepatnya di sudut jalan sebelah kiri, tak jauh dari Toko Annisa." Jo menjelaskan.
"Memangnya kenapa, Han?" tanya Jo lagi menatapku.
Aku tak menjawab Jo,justru bergegas pergi, namun bang Danil mencegahku bahkan melarangku keluar lagi karena hari yang sudah hampir gelap. Tapi Aku tak mengindahkannya, Aku segera mengambil kunci motorku yang kuletakkan di atas meja kamarku, kemudian pergi. Aku masih sempat mendengar bang Danil meminta Jo untuk mengejarku dan tak membiarkanku pergi sendiri.
"Han, Aku ikut denganmu!" Jo mengehentikanku sejenak, karena tak ingin berlama-lama, Aku membiarkan Jo untuk ikut.
"Tapi pakai motor aku aja," Jo memberikan kunci motorku lalu menaiki motornya.
"Aku pikir kau tak bawa motor, Aku bahkan tak menyadari motormu terparkir di sini." kataku yang saat itu benar-benar terkejut dengan motor Joan. Aku bahkan tak menyadari keberadaan motornya, mungkin karena rasa bahagiaku setelah bertemu dengan orangtua Dirga.
"Kau pikir apa lagi? bukannya kau terburu-buru?" Jo mengagetkanku, kemudian Aku pun menaiki motor miliknya tepat duduk di belakangnya.
****
Aku meminta pada Joan untuk berkeliling, meski ia tak tahu, alasanku memintanya berkeliling. Jo hanya menuruti kata-kataku, dan dia pasti menjalankan perintah dari bang Danil. Jo emang dehh, ketaatannya ga bisa diragukan, Ia punya jiwa kebersamaan, dan tak mudah jatuh seperti diriku.
Aku memperhatikan di setiap jalan, dan berharap bisa menemukan Gadis itu. Aku yakin dia tidak jauh dari tempatnya mencuri, meski sebenarnya Aku sadar bahwa Gadis itu adalah pelari yang kuat.
"Jo, stop stop stop!" seruku cepat ketika melihat seseorang dengan pakaian kumal-- tak beraturan--mengais-ngais tempat sampah. Aku turun dari pelana motor perlahan, namun Jo dengan sigap meraih lenganku.
"Kau mau kemana?" Tanyanya meski Jo sudah tahu kalau Aku pasti ingin menghampiri orang kumal itu.
"Lepas Jo, Aku harus mendapatkannya!" balasku mengelak dan tak peduli pada Joan.
Dengan langkah hati-hati, Aku mendekati orang kumal itu, berharap orang itu adalah gadis yang aku cari--seorang Gadis yang sempat Aku tolong saat di Mall beberapa waktu lalu.
"Kena kau!" seruku ketika memegang lengan kanannya yang asyik mengais tempat sampah, namun seketika juga Ia melayangkan lengannya itu hingga membuatku terjatuh.
"Hanna!" Seru Jo khawatir, hingga membuatnya meninggalkan motor dan menolongku. Joan perhatian sekali padaku, Ia tak rela melihatku menderita.
Orang itu benar-benar Gadis malang yang aku cari. Akhirnya Aku menemukannya . Aku benar-bemar legah. Gumamku membatin.
Gadis itu segera berlari meninggalkan kami, namun dengan cepat Aku mengejarnya, Aky tak mau lagi kehilangan dia. Jo yang masih bingung dengan sikapku, tetap ikut membantuku mengejar Gadis itu.
"Tunggu! Jangan lari!" Teriakku.
__ADS_1
"Kau tidak perlu takut padaku!" Teriakku lagi yang sesekali berhenti membuang nafasku yang tidak beraturan.
Jo telah menghalanginya, Ia menangkap Gadis kumal itu.
"Hanna, Aku menangkapnya!" Girangnya. Kemudian Aku berjalan perlahan mendekatinya.
"Kamu jangan kabur lagi, Aku tidak akan menyakitimu," Kataku menatap Gadis kumal itu dengan tulus.
"Hanna, Gadis ini sepertinya ketakutan. Kita bawa dia ke tempat yang aman dulu." Saran Jo dan aku menyetujuinya.
Aku membawa Gadis itu ke sebuah tempat yang cukup aman;Jo mengambil motor yang terparkir sembarangan, Ia mengikuti kami pelan, Aku masih memeluk Gadis kumal itu.
Aku tak peduli betapa baunya dia, karena yang ada dipikiranku saat itu adalah ingin membantunya. Hahahah.. pikir saja, kira-kira siapa yang mau mendekati orang gila yang pakaiannya kumal, dan makannya selalu mengais tempat sampah? tapi jika Aku tidak melakukan ini, Aku tidak akan pernah tenang. Gadis itu selalu muncul dalam pikiranku. Mungkin saat itu Jo berpikir bahwa Aku benar-benar Manusia aneh.
"Jangan takut, kami tidak akan melukaimu." ucapku mencoba menenangkan Gadis kumal itu.
Gadis itu masih menatapku dengan ketakutan, bahkan sesekali ingin melepaskan diri, namun selalu ditahan oleh Jo. Sesekali Ia menatapku.
"Aku tahu, kamu bukan orang gila, Aku tahu kamu masih waras, jadi jangan bertingkah seperti orang gila." Tukasku mendesak.
"Hahahahahah, haha, hahaha!" tawanya menggelitik.
"Hanna, ayo pulang biarkan saja dia di sini, dia itu memang gila, percuma kamu bicara sama orang gila!" Pinta Jo mendesakku untuk pulang tapi Aku tak memperdulikannya.
Aku memperbaiki dudukku, meraih telapak tangan Gadis itu dan berusaha berbicara dari mata. Ia mulai menatapku serius, meski sesekali gelak tawanya meledak, namun Aku tak peduli, Aku masih berusaha.
"Kau bukan orang gila, kau masih bisa berpikir untuk mencuri!" timpalku lagi yakin.
Gadis itu mulai menatapku tajam dan tak ada lagi gelak tawa, Ia mulai serius, Aku bahkan masih menunggu ia mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya.
"Kau--wanita aneh!" sahutnya, yang seketika membuatku terkejut, bahkan Jo pun segera mendekat ke arah kami, ia mulai penasaran, dan pandangan kami berdua tidak beralih sedikit pun.
-
-
-
-
__ADS_1
TERIMA KASIH UNTUK YANG KE SEKIAN KALINYA.