
ALHAMDULILLAH, AUTHOR MULAI UP LAGI. YANG NGASIH VOTE MINGGU INI, TERIMA KASIH. DAN YANG UDAH SINGGAH JUGA AUTHOR UCAPIN TERIMA KASIH.
****
"emm ... aku baik-baik saja." jawabku sambil mengusap pundak Dirga sambil sedikit tersenyum.
Kurang lebih 20 menit, Dirga mulai memarkirkan mobil yang kami tumpangi, Aku membuka sendiri pintu mobil lalu turun dari mobil bersamaan dengan Dirga.
"Ini Bandara, kita mau ngapain di sini?" tanyaku.
"Kita jemput mama. Pesawatnya akan tiba sebentar lagi."
mama. gumamku pelan.
"Yuuk!" sambil meraih pergelangan tanganku, lalu kami berjalan bersama.
Saat itu jantungku seolah akan terlepas dari dalam tubuhku, entahlah ... Aku tak mampu menggambarkan situasi tubuhku saat itu. Tanganku masih menggenggam erat tangan Dirga.
"Han, kamu siap ketemu mamaku?" tanya Dirga yang seketika menghentikan langkahnya tepat di ruang tunggu, namun kami hanya berdiri menunggu bersama dengan orang-orang yang lainnya. Dirga masih memandangku, menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"I--ya, Aku siap kok!"
Dirga mencoba menatap jam digital yang menempel di tangannya, dan waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, pesawat pun telah mendarat beberapa menit yang lalu.
"Kok Mama, belum keluar juga yah?" Dirga khawatir.
"sabar ... bentar lagi juga keluar." Kataku mencoba menenangkannya seraya mengelus lengannya.
"Oh iya, Dir ... Papamu ngga ikut menjemput?" tanyaku saat itu yang tak melihat ayah Dirga.
"Nah, panjang umur ... baru aja kamu tanyain, Han ... orangnya udah datang tuuh!" seru Dirga sembari menatap Ayahnya yang berjalan mendekat ke arah kami.
"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Pak Damar yang tak lain adalah Ayah Dirga.
"belum lama kok, Pah." Jawab Dirga.
Lima belas menit ke depan, terdengar suara seseorang memanggil nama Pak Damar dan juga Dirga. Siapa lagi kalau bukan seorang perempuan yang statusnya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu.
"Mama ....!" seru Dirga dengan raut wajah yang bersinar sambil memeluk ibu tercintanya.
"Sayang ... kok lama keluarnya, Dirga sama Hanna udah sejak tadi nungguin." Pak Damar menyaut sembari memeluk istrinya itu.
Seorang perempuan berusia 50 an tahun itu, masih terlihat sangat cantik, dan juga anggun. Rambutnya yang tergerai panjang berwarna agak kemerahan itu dengan motif kuncir kuda setengah, menambah kecantikannya.
"Maaf yah ... Mama takutnya ada barang yang tertinggal, makanya lama." Jawab Bu Raya yang tak lain adalah Ibunda Dirga yang tercinta.
Aku masih berdiri di tempatku saat itu, menyaksikan dialog ketiga orang yang ada di dekatku itu. Ahh ... sungguh Aku tak tahu suasana hatiku saat itu. Ada rasa bahagia bercampur was-was. Aku takut Bu Raya tidak merestui hubungan kami.
Pertemuan itu adalah pertama kalinya selama hubunganku dan Dirga berjalan. Dirga tak pernah sama sekali memperkenalkanku dengan Ibundanya itu. Dan saat itu, Aku menyaksikan keluarga itu berkumpul.
"Hanna ....!" Sapa Bu Raya padaku kemudian memberi pelukan padaku.
__ADS_1
Ahh ... beginikah rasanya diberi pelukan oleh seorang Ibu? tanyaku membatin.
"Apa kabar, Hanna?" Tanya Bu Raya lagi padaku sembari menarik tubuhnya dari tubuhku.
"A--Aku baik." Jawabku kaku sambil melirik Dirga yang saat itu berdiri berdampingan dengan Ayahnya.
"Kamu ngga perlu kaku begitu, Hanna ... Dirga sering kok cerita tentang kamu ke Tante." Imbuhnya lagi yang seketika membuatku terkejut.
Dirga udah sering cerira tentangku? Benarkah? Gerutuku lagi membatin bahkan sesekali mengalihkan pandanganku ke orang yang kucintai itu.
"Kamu ngga perlu kaget kayak gitu, anggap saja kita ini keluarga. Tante juga ngucapin terima kasih, karena kamu ... Dirga bisa move on dari masa lalunya." Tambah Bu Raya lagi sembari mengelus salah satu pundakku.
"Sayang ... ayo, hari udah sore, kamu pasti capek. Hanna, ayo ikut ke rumah!" Seru Pak Damar sembari mengajakku untuk ke rumah mereka.
Pak Damar dan Bu Raya pergi dari hadapanku, Aku masih mengatur napasku sambil memukul-mukul pelan dadaku. Aku benar-benar tak mampu berkutik. Dirga memperkenalkan seseorang yang sangat Ia cintai kepadaku.
"Kamu kaget yah!" Seru Dirga mendekatkan dirinya padaku, sambil menatapku dengan senyuman-senyuman kecil mengambang di bibirnya.
"Bu Raya--mama kamu, cantik banget. Aku minder." Kataku menggoda Dirga.
"Hahahaha ... kamu ada-ada saja, Han." Dirga terkekeh sambil menaruh kedua tangannya di atas kedua pundakku.
"Kau--tidak kalah cantik sama Nyonya Raya, kau bahkan yang tercantik. Satu-satunya." Dirga menegaskan, namun kata-kata itu ledekan buatku. Dia bahkan masih terkekeh.
Karena merasa jengkel dengan Dirga, Aku pun sontak menginjak kakinya hingga ia berjingkat menjauh, kemudian Aku beranjak meninggalkannya sambil menggerutu tak karuan.
"Hanna ... tunggu!" serunya sambil berlari mengejarku.
****
Tepat pukul 17.30, Dirga menghentikan kemudinya, tepat di depan rumahnya. Sebuah rumah minimalis berlantai dua, berwarna coklat dengan dihiasi taman-taman kecil dan sebuah kolam ikan di pekarangan rumahnya.
Pekarangan rumah Dirga benar-benar tertata rapi. Luarnya saja sudah luar biasa indah dan bersih, pasti dalamnya tidak kalah bersihnya.
"Pakde, tolong masukin mobil ke garasi yahh, dan keluarkan motor beatku!" seru Dirga pada seseorang lelaki paruh baya yang bekerja sebagai tukang kebun itu.
"Baik ... Tuan!" serunya cepat segera beranjak melaksanakan tugas dari tuannya.
"Kenapa bengong?" tanya Dirga padaku yang membuatku terkejut.
"Aku terkesima melihat taman kecilmu." Kataku masih memandangi bunga-bunga yang tumbuh di sana.
"Taman itu, mama yang buat ... tapi Pakde tadi yang bertugas merawatnya." Dirga menjelaskan sedang Aku haya mengangguk pelan.
"Udah, yuuk masuk. Papa sama Mamaku pasti udah nunggu kita dari tadi." Sambung Dirga lagi kemudian membuka pintu rumahnya.
Aku dengan langkah pelan, memasuki kediaman Dirga yang sebenarnya tak asing itu. Hanya saja suasana kali ini berbeda. Terakhir kali Aku berkunjung ke rumah itu adalah dua tahun yang lalu saat Dirga mengambil pelatihan penerbangan. Entahlah apa yang membuatnya tak mau melanjutkan pendidikannya itu, Ia bahkan bisa menjadi Pilot jika saja mau melanjutkan pendidikannya.
Sungguh, suasana kali ini membuatku canggung. Kedua orangtua Dirga sudah menunggu kami di ruang utama rumah itu. Saat itu, kami layaknya Putri dan Pangeran yang disambut hangat oleh Raja dan Permaisurinya.
"Duduklah, Hanna!" seru Bu Raya padaku yang saat itu sudah memakai pakaian santainya.
__ADS_1
Suara sapaannya sangat lembut, Aku berpikir saat itu, mungkin jika saja Mamaku masih hidup, apakah suaranya akan terdengar sama, seperti suara yang baru saja aku dengar itu.
"Terima kasih, tante." Kataku kemudian duduk.
"Mah, Dirga ganti pakaian dulu ... Jangan marahi Hanna yah,Mah!" Seru Dirga sembari mengingatkan Mamanya itu.
"Hanna, Aku tinggal bentar yah!" Sapa Dirga lagi padaku kemudian beranjak pergi.
Belum lama Dirga beranjak, dua orang pelayan datang membawa suguhan beberapa minuman dan makanan.
Waahh, sungguh ini nyata terjadi di hadapanku. Semua serba pelayan, tapi Dirga tak pernah menampakkan kekayaannya padaku. Gumamku membatin.
"Hanna, tante sungguh berterima kasih sudah menjaga Dirga sampai sekarang." Bu Raya membuka pembicaraan.
"Aku ngga melakukan apa-apa kok, Tan." jawabku merendah.
"Sebenarnya sudah lama sekali, tante ingin bertemu denganmu, tapi Tante harus berjuang untuk kehidupan Tante dulu, supaya bisa bertemu denganmu." Tambahnya lagi membuatku tak mengerti akan kata-katanya.
"Maksud tante?" tanyaku mengernyitkan bibirku.
Bu Raya pun menceritakan kisahnya yang sudah terbaring lama di salah satu Rumah Sakit ternama di Singapura, Ia berusaha melawan rasa sakitnya hingga bisa kembali normal lagi. Itulah yang membuatnya merasa bersalah pada Dirga.
"Harusnya seorang ibu selalu bisa mendampingi anak-anaknya, tetapi Aku tak bisa melihat kehancuran hati Dirga saat ia dihianati." Tambahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi Dirga beruntung masih memiliki Anda, Setidaknya Anda menjadi ibu yang sangat Ia sayangi." Sambungku mencoba menenangkan hati Bu Raya yang saat itu terbawa oleh masa lalunya.
"Hanna, tante ingin sekali bertemu dengan kedua orangtuamu, tante ingin sekali secara langsung mengucapkan terima kasih telah membesarkan seorang Putri sebaik dirimu." Kata Bu Raya lagi sontak membuat naluri ke-anak-anakanku muncul. Air mataku seketika saja menetes tanpa Aku sadari. Aky menunduk tak mampu menatap wajah Bu Raya.
"Hanna, apa tante ada salah?" tanyanya kemudian ketika membaca mimik wajahku yang memang tampak sedih.
"Mah, Hanna sejak kecil tinggal dengan saudara laki-lakinya!" Seru Dirga tiba-tiba muncul di tengah pembicaraan kami.
"Maafkan tante yah Han. Tante sunggub tidak tahu." Melas Bu Raya.
"Ngga apa kok, Tante." jawabku.
"Minum dulu!" Dirga memberiku secangkir teh manis yang beberapa waktu lalu disiapkan oleh pelayan.
Tanganku meraih cangkir itu, namun tanganku gemetar untuk meraihnya. Hingga membuat cangkir itu jatuh dan pecah.
-
-
-
-
JANGAN LUPA LOHH LIKE, KOMEN DAN VOTENYA JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI. TERIMA KASIH.
SAMPAI JUMPA LAGI DI EPISODE SELANJUTNYA.
__ADS_1