THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.24 ".... Aku, Veera Anastasya ..."


__ADS_3

Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkan kami, hingga perbincangan kami terganggu. Suara klakson itu pun tak henti-hentinya berbunyi.


"ada apa sih, Gila apa orang itu." Umpat Dirga.


Dirga yang masih terbawa dengan amarahnya akan suara klakson itu, seketika pudar disaat seorang perempuan mengetuk kaca mobil, pandanganya pun teralihkan pada perempuan itu. Aku pun merasa terganggu saat itu.


Dirga menurunkan kaca mobilnya, dan menyapa perempuan itu, "Ada apa, Nona?" tanyanya.


"Loohhh ... kamu--kamu Dirga, kan?" tanya perempuan itu sambil menaikkan jari telunjuknya dan menatap Dirga dengan saksama, namun Dirga masih tak menggubrisnya.


Aku yang mendengar saat perempuan itu menyebut nama Dirga sempat kesal dibuatnya. Perempuan itu mengenalnya.


"Dirga, kamu lupa yahh sama Aku? Aku Veera Anastasya--teman pelatihanmu saat di Bali." tutur perempuan itu lagi. Dirga sesekali menatapku, dan sesekali menatap perempuan yang mengenalnya itu.


"Ohh ... Veera, Aku ingat! sedang apa kau di sini?" tanya Dirga yang ingatannya akan perempuan itu kembali. Aku tak bicara apa-apa, hanya menjadi pendengar setia antara mereka.


"Tolong Dir, itu mobilku ngga tahu kenapa, setiap kali tekan klaksonnya, justru klaksonnya ga mau berhenti." Ucapnya lagi.


"Hanna, Kau tidak apa-apa menunggu sebentar, Aku lihat mobilnya dulu." Dirga meminta izin padaku lalu turun dari mobil beralih ke mobil perempuan itu.


Aku melihat Dirga dari balik kaca spion, tapi Aku mulai resah, ketika melihat kedekatan mereka, bahkan perempuan itu sempat memegang tangan Dirga. Hanya cukup semenit Aku memperhatikan mereka, akhirnya ku putuskan turun dari mobil lalu menghampiri mereka.


"Ga, apa masih lama?" tanyaku mengalihkan pembicaraan mereka.


Perempuan itu mulai menatapku tidak senang, namun Dirga segera beralih pandangan padaku.


"Sudah kok, Han." Dirga sedikit tersenyum.


"Kalau sudah, boleh kita pergi sekarang?" Pintaku dengan nada kesal.

__ADS_1


Dirga kembali menoleh ke perempuan yang bernama Veera itu, sejenak mengabaikanku.


"Siapa dia, Dir?" tanya Veera sambil menatap tidak suka padaku.


"Kenalkan, Dia--Dia Hanna, pacarku!" Dirga menjawab tanpa ragu.


"Ohhh ... jadi--jadi kamu udah punya pacar? kok ga pernah cerita sama Aku waktu masih di Bali?" Gubris Veera lagi dan sungguh membuatku ingin menumpahkan kekesalanku, namun masih kucoba untuk menahannya. Bahkan tingkah Dirga pun mulai nampak seba salah.


"Hmm, Veera. Klaksonnya udah baik, tapi sebaiknya kamu bawa ke bengkel biar diperiksa, Kami harus segera pergi." Dirga mengalihkan pembicaraan dan pamit, Ia mengenggam tanganku, membukakan pintu mobil agar Aku segera naik, kemudian ia naik dan segera melaju.


Di dalam mobil, Aku tak bisa memendam apa yang ingin Aku luapkan padanya. Dirga sedikit pun tak menoleh padaku dan hanya fokus dengan kemudinya.


"Jadi selama di Bali, ngga ada satupun temanmu yang tahu akan diriku?" tanyaku pelan sambil menunduk dan memainkan jari-jemariku.


"Aku pikir, selama di Bali kau peduli denganku, tapi ternyata Aku salah." Mataku mulai berkaca-kaca.


Belum selesai persoalan foto dengan Syakila, kini kami berdebat karena Dirga yang tak mengakui diriku sebagai orang yang dia cintai.


Aku yang melihat Dirga dengan perubahan raut wajah yang jarang sekali kulihat, kini mulai bertanya-tanya, Dirga yang lima tahun ku kenal, tidak pernah semarah ini.


Dirga mulai melipat kedua tangannya pada setir mobil dan membaringkan kepalanya di sana, sesekali menatapku hingga pandangan kami bertemu.


"Aku turun di sini saja, jika kau tak ingin bicara." tuturku sedih, meski kucoba untuk tetap menahannya, Aku bahkan menahan air mata yang hampir mau jatuh itu.


"Hanna! Kau meragukanku?" tanyanya memandangku tanpa merubah posisinya. Aku kembali menunduk.


"Han--Hanna, apa yang Veera katakan semuanya jangan kau salah artikan, aku punya alasan sendiri kenapa Aku tak menceritakan tentang dirimu."


"Ga, kau--kau selalu saja begitu, mungkin itu sebabnya, kau tak pernah menghubungiku selama di sana, Ga--kau pikir selama dua tahun Aku menunggumu, tanpa kabar, SMS, CHAT bahkan telpon ... kau tak pernah melakukannya." Nadaku mulai meninggi.

__ADS_1


"Tapi, Aku berusaha agar diriku tetap memahamimu, tetap positif memikirkan dirimu." lanjutku dengan nada yang mulai menurun.


"Maafkan Aku, Hanna! Aku tahu kau marah, tetapi Aku melakukan itu, karena Aku pedulu padamu, Aku tak menceritakan tentangmu kepada mereka, karena Aku menghargaimu, da--n, hubungan ga seharusnya di publikasikan ke orang lain, sampai kau benar-benar bisa kumiliki selamanya." Ucapan Dirga saat itu ada betulnya, namun tetap saja, hal itu membuat hatiku sakit.


"Kau juga tahu, hubunganku dengan Syakila gagal, sementara kami sudah bertunangan saat itu, bahkan semua orang sudah tahu, bahkan Aku yang terlalu gembira, terlalu tergila-gila akan Syakila, justru ia menghianatiku." Dirga masih melanjutkan, Ia menggenggam tanganku, menatapku dengan tatapan yang benar-benar sakit.


"Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi, Hanna. Disaat Aku menemukan seseorang yang tepat, yang mau menerima Aku apa adanya, apakah harus Aku publikasikan kesemua orang? cukup kau menjadi sepotong hatiku yang sudah terluka, dan tolong percayalah!" Dirga menarik lenganku kemudian memelukku erat, binar matanya mulai berkaca-kaca, Aku membalas pelukan hangat itu.


"Aku mencintaimu, Hanna! Tolong percayalah!" Tuturnya lagi seraya mengelus-elus rambutku yang tergerai itu dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu, Ga," balasku sambil mengusap-usap belakangnya.


Dirga melepaskan pelukannya, kemudian menatapku dengan mata yang masih berbinar, memperbaiki rambutku dan kembali menggenggam tanganku.


"Percayalah, Hanna. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, meskipun kau telah dijodohkan, Aku akan menunggu hingga hari wisuda tiba, Aku akan melamarmu." Dirga meyakinkanku sambil tersenyum.


"Aku akan menunggu hari itu tiba." kataku.


"Jadi, udah ngga marah lagi, kan?" tanya Dirga lagi seolah mengejekku.


"kamu itu jelek kalau marah." senyumnya kemudian kembali menjalankan mobilnya.


Kami tak jadi ke Pantai, Dirga hanya mengajakku berkeliling, setelah itu mengantarku pulang. Kesalah pahaman kami pun selesai, dan itu sungguh membuatku tenang. Aku bahagia Dirga masih mencintaiku dengan tulus, meski Aku tak bisa memungkiri perjodohan yang melibatkanku.


-


-


-

__ADS_1


-


INI AUTHOR UP SATU EPISODE, SEMOGA SENANG. MAAF JIKA MASIH KURANG BAGUS, TAPI DUKUNGAN KALIAN DAN MOTIVASI KALIAN LEBIH BERHARGA DAN ITU MEMBUAT AUTHOR BERSEMANGAT.


__ADS_2