THE MAGIC WOMEN

THE MAGIC WOMEN
Ep.22 "Aku tidak akan menghianatimu."


__ADS_3

SOBAT READERS, TERIMA KASIH YANG UDAH NINGGALIN KOMEN DAN VOTENYA. MUNGKIN NASKAHNYA TIDAK SEBAGUS NASKAH YANG LAIN, TAPI AUTHOR SENANG SUDAH BISA BERBAGI DAN ADA YANG BACA.


****


Dirga mengantarku sampai di rumah, kami berjalan menuju ke arah pintu rumah yang tertutup, Dirga masih menjaras erat tanganku, sesekali Aku memandang wajahnya yang tulus.


Dirg mengetuk pintu rumah, dan tak butuh lama, bang Danil pun terlihat membukanya, hingga tatapannya melihat Dirga yang sedang mengepal erat tanganku.


"Maaf Bang, Aku antar Hanna pulang!" sambut Dirga, dan lagi-lagi kupandangi wajahnya yang tulus menghadapi bang Danil.


"Bang, kenapa melihat kami begitu?" tanyaku tiba-tiba karen tak suka dengan sikap bang Danil yang pandangannya seolah sedang menyelidiki kami.


"Terima kasih dan masuklah!" tawar Bang Danil pada Dirga.


Dirga sejenak melempar pandangan padaku, hingga sejenak pandangan kami bertemu, seolah Ia meminta pendapatku. Aku beranggut seolah memberikan Dirga kode unruk membolehkannya mampir sebentar.


Bang Danil menutup pintu, kemudian menyapa kami, "Duduklah, kalian berdua. Ada yang ingin Bang Danil katakan."


Aku dan Dirga, kami duduk berdekatan, dan Dirga mulai melepaskan tangannya dari tanganku. I seolah dengan sigap mau mendengarkan celoteh Bang Danil.


"Maaf, Ga. Jika ini terkesan terlalu cepat. Aku yakin, Hanna pasti sudah cerita sama kamu." Bang Danil memulai.


Dirga sesekali menunduk, sesekali melirik Bang Danil dengan posisi mengepal kedua tangannya.


"Ada hal yang ingin Aku pertegas. Kau benar-benar mencintai Dia, Gadis di sampingmu itu!" Tekan Bang Danil sambil menatapku.


"Abang, kenapa tanya be--!"


"Diam, abang bicara bukan padamu, tetapi pada lelaki yang kau cintai ini."


Bang Danil tiba-tiba saja meng-skak mati mulutku hingga tak lagi berbicara. Di saat seperti ini, Aku benar-benar tak mampu berkutik, Bang Danil benar-benar menunjukkan wajah seriusnya menatap seorang Dirga Putra Wandana, dan sungguh wajah serius bang Danil ini jarang banget deh. Meski abangku humoris, tapi Aku tetap takut jika ia marah.


"Kenapa tidak kau jawab!" Desak.Bang Danil memandangi Dirga yang masih duduk dengan posisi tangan yang dikepal.


"Hanna!" Sahutnya memanggilku.


"Emm...." balasku cepat.


"Boleh, Aku.minta segelas air?" pinta Dirga yang memang sudah nampak tenggorokannya mengering, hingga rasa dahaga itu meronta kehausan.


"Bang, Aku sungguh mencintai Hanna." Jawab Dirga.

__ADS_1


Aku sempat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dirga, hingga segelas air putih segera kuberikan pada pria yang kucintai itu.


Aku tahu dan Aku sadar, Dirga pria terbaik bagiku, dia ngga akan menghianatiku dan pasti akan memperjuangkanku.


"Aku tidak percaya--kau sungguh mencintainya." Tolak bang Danil hingga membuatku geram dengan pernyataanya, namun Dirga segera meraih dan menggenggam tanganku.


"Apa maksudnya, Bang? bukankah selama ini kami mampu mempertahankan hubungan meski kami berjarak." Dirga menimpali.


"Mempertahankan hubungan, bukan berarti kalian saling mencintai, bukan?" Gubris Bang Danil lagi, sedang Aku masih tak mampu menerka pikiran bang Danil saat itu.


"Kamu lihat ini! bisakah kau menjelaskannya?" Timpal Bang Danil lagi sambil melempar sebuah amplop coklat berukuran sedang ke atas meja.


"Apa ini, Bang?" tanya Dirga seolah tidak tahu apa-apa, tangannya mulai meraih amplop itu lalu membukanya perlahan. Aku bahkan kepo dibuatnya.


"Apa yang akan kau jelaskan setelah melihat foto-foto itu." Bang Danil melanjutkan dan menatap Dirga dengan tatapan tajam, untuk pertama kalinya, Aku melihat raut wajah yang dewasanya kali ini benar-benar tingkat dewa.


Dirga tercengang setelah membuka amplop itu, dan Aku pun ikut meraihnya, memastikan. Beberapa foto Dirga dengan seorang gadis yang bagiku sungguh tak asing, Dia adalah Syakila, Seorang Gadis yang sudah membuat hatinya hancur.


"Hanna, A--Aku bisa jelasin, ka--mu jangan salah paham dulu!" Dirga memandangku lama ,berusaha untuk meyakinkanku dan memintaku agar mendengar semua penjelasannya


"Apa yang ingin kau jelaskan? foto itu sudah jelas Dirga, kau menghianati Adikku. Apalagi yang ingin kau jelaskan?" Bang Danil mulai naik pitam, Spontan butiran bening jatuh dari mataku membasahi foto yang kupegang.


"Terkadang, apa yang kita lihat bukanlah yang sebenarnya, Han. Kau bahkan mengenalku, Aku tidak akan menghianatimu." Dirga mencoba meyakinkanku.


"Han,percayalah padaku. Aku tidak akan menghianatimu." Melas Dirga lagi padaku.


"Abang dengar, kan? Dirga--Dirga ga akab menghianatiku, Bang!" tangisku mulai terisak bahkan menatap Bang Danil geram.


Bang Danil yang seolah mulai menampakkan ketidak sukaannya akan hubunganku dengan Dirga.


"Abang mencoba menghasutku dengan foto-foto ini?" Aku berdiri, menatap Abangku lalu melemparkan foto-foto yang sempat Aku pegang.


"Han, kamu lebih percaya padanya ketimbang abangmu sendiri?"


"Cuuuukuppp Bang!" Teriakku tinggi dengan suara yang sudah mulai tak mampu terdengar.


"Hanna!" sahut Dirga beranjak dari tempatnya, langsung memelukku di depan mata Bang Danil, Dirga mencoba menenangkanku tanpa berkata apa-apa, Ia hanya memelukku, menggosok-gosok lembut belakangku.


"Aku akan menjelaskan semuanya jika kamu sudah tenang. Istirahatlah!" pintanya melepaskan pelukan, menatapku kemudian menyeka air mataku yang sudah mengenai pelipisku.


" Bang Danil, Aku minta maaf atas ketidak nyamanan ini, tapi satu yang pasti tentang foto-foto itu, semua yang abang lihat, tolong jangan disalah artikan. Aku pamit!"

__ADS_1


Dirga pamit baik-baik bahkan sedikit pun Ia tak kaget dengan foto-foto yang Bang Danil tunjukkan. Sebelum pergi, Dirga menoleh padaku, membelai pipiku sejenak, kemudian berlalu.


****


Tepat Pukul 10.00 malam, Aku mengingat perlakuan bang Danil pada Dirga beberapa jam lalu. Ibarat sebuah jarum di antara tumpukan pasir, Aku tak lagi mengenal bang Danil yang berubah begitu cepat, Aku tak bisa menemukannya bahkan melalui tatapannya, Bang Danil layaknya orang lain bagiku.


Mah--Pah, benarkah Dirga ga pantas buatku? apa Aku tak boleh memilih? tanyaku pada gambar yang saat itu sedang ku tatap.


Beberapa tetes air mata jatuh membasahi bingkai kecil yang kupegang, Aku bahkan tak sadar Bang Danil perlahan memasuki kamarku yang memang belum aku kunci.


"Kau belum tidur?" sahutnya menghampiriku, namun segera kupalingkan wajahku. Aku tak ingin melihatnya.


"Kau mulai membenci abang?"


Masih tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku, Aku masih terisak, mengingat perlakuan bang Danil pada Dirga.


"Sudahlah jangan marah, kalau kau marah, wajah cantiknya ilang."rayu bang Danil.


"Sebaiknya bang Danil turunlah, Aku mau istirahat dan Aku mau sendiri, please!" mohonku mengatupkan kedua tanganku, menatap sayup abangku itu.


Tanpa panjang lebar, bang Danil meninggalkan kamarku, Aku tahu, bahkan Ia sesekali memastikan diriku. Aku tahu, Bang Danil masih mengkhawatirkan diriku, namun Aku tak peduli.


Aku menaruh bingkai berisikan foto keluarga itu di meja belajarku, lalu kembali ke tempat tidur, memeriksa pesan Dirga.


Dirga ~ *Istira**hatlah, Jika hatimu sudah membaik, Aku pasti menceritakan semuanya padamu, Hanna!


Aku ~ Aku akan mencoba agar hatiku bisa segera membaik, tunggulah beberapa saat lagi. Kau mau menunggu?


Dirga ~ Terima kasih, kau masih mau mendengar penjelasanku. Apakah kau pikir, Aku akan melepasmu begitu saja, Han? Kau wanita terbaik yang pernah aku temui. Jangan merusak dirimu, jadi beristirahatlah!


Aku ~ Emmm ... terima kasih, Ga!


Aku pun berusaha memejamkan mataku berharap semua akan baik-baik saja, meski sekarang Aku tak mau peduli dengan apa pendapat bang Danil tentang hubunganku dengan Dirga.


-


-


-


-

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN LIKENYA yahhh.


__ADS_2