The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
13. Pesaing


__ADS_3

Menggunakan sihir penguat fisik, Rindou dan Liese berlari terus menerus lalu istirahat beberapa kali dan perulangan itu terus dilakukan seraya istirahat di beberapa tempat. Liese memperingatkan Rindou agar tidak menggunakan sihir penguat fisik terus menerus, mana tidak boleh sampai habis karena dapat mengakibatkan tubuh kekurangan mana dan jika terlalu parah akan mengalami kehilangan kesadaran dan tidak dapat bergerak.


Sore hari, mereka berdua sampai di jalur utama yang menuju Kota Yuvin. Dari kejauhan, terlihat benteng kokoh yang mengelilingi Kota Yuvin tersebut.


   “Citadel ya ... baru kali ini kulihat.”


   “Citadel? Apa itu?”


   “Ah, itu istilah mengenai kota benteng. Kota Yuvin ini termasuk dengan citadel.”


Setelah menjawab pertanyaan Liese, Rindou melangkahkan kakinya mendahului Liese lalu berjalan santai di jalan utama yang menuju gerbang Kota Yuvin. Tidak ada seorangpun di depan gerbang, sehingga Rindou dan Liese dapat lebih cepat masuk apalagi mereka berdua langsung dipersilahkan masuk karena melihat dari perlengkapan mereka merupakan seorang pengembara.


Bagian dalamnya seperti kebanyakan kota, hanya saja para petualang lebih banyak di sini dan lebih ramai meskipun baru di depan pintu gerbang utama. Liese menatap Rindou yang terpaku melihat sekeliling, ia berpikir jika Rindou memikirkan sesuatu yang sangat penting. Yaitu ...


   “Lapar cuy.”


Hanya dengan satu kata itu, gambaran Liese tentang Rindou yang tengah memikirkan sesuatu langsung buyar. Ia mulai semakin mengerti bahwa Tuan Werewolf dan Rindou memang orang yang berbeda, mana mungkin tingkah Tuan Werewolf sama dengan Rindou yang seenak jidatnya.


   “Kita pergi Liese.”


   “Ke mana?”


Tanya Liese seraya mempercepat langkah kakinya lalu berjalan di samping kanannya. Rindou tidak menjawabnya sama sekali malahan ia lebih mementingkan perutnya dari pada pertanyaan dari seorang perempuan yang ada di sampingnya.


   “Mungkin daging bakar enak, bagaimana menurutmu Liese?”


  “Ah ... terserah.”


Kata-kata horor akhirnya keluar dari mulut Liese seraya menghela napas. Rindou terdiam sebentar, namun ia segera melupakannya dengan sekejap karena jika ia terlibat lebih jauh akan sangat merepotkan.


   “Sepakat, saatnya pergi.”


   “Tu-tunggu sebentar Rindou!”


* * * * *

__ADS_1


   “Huh ... parah sekali, dia seenaknya saja memesan makanan serta penginapan ini.”


Keluh kesah Liese seraya berbaring di ruangannya setelah menyewa penginapan ini. Ia menatap atap kayu dengan desain yang rapi dan tidak ada sambungan sama sekali, sepertinya memang wajar jika para pekerja di Kota Yuvin ini memiliki keterampilan lebih dari Kota Morez.


Perlahan-lahan Liese menutup matanya untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah melakukan perjalanan. Sementara itu, Rindou pergi diam-diam agar keberadaannya tidak disadari oleh Liese dan dia pergi menuju atap rumah orang lain.


Ia melihat sekeliling dan terdapat beberapa rumah mewah dengan jarak yang cukup jauh pada setiap lokasi rumah. Rumah para bangsawan, Rindou berniat untuk melakukan kekacauan sedikit di Kota Yuvin ini meskipun ada banyak petualang.


Ia melepas bajunya dan hawa dingin di malam hari ini langsung menusuk kulitnya. Rindou mengatur napasnya terlebih dahulu, ia juga mendapatkan pencerahan setelah mengendalikan pernapasannya.


   “Companion, Harvod Wolf.”


Rindou berubah menjadi Werewolf seutuhnya, apalagi malam ini cahaya bulan lebih dari setengahnya dan Rindou merasa kekuatannya bertambah dari sebelumnya. Ia berlari dengan layaknya binatang buas mencari mangsa, melompati rumah penduduk untuk menuju rumah mewah yang dapat ditempuhnya dalam beberapa detik.


Rindou melompati rumah penduduk warga dengan lompatan tinggi lalu menaiki sebuah pohon yang cukup tinggi, apalagi pohon tersebut ada di pekarangan rumah mewah tersebut. Rindou mengintai terlebih dahulu dan ia mengincar sebuah ruangan di lantai tiga yang tertinggi, rumah ini berlantai tiga namun luas.


Dari penglihatan malam harinya, Rindou melihat seorang laki-laki gendut berotot tengah menikmati minuman keras di ruangannya. Setelah Rindou menetapkan orang tersebut sebagai target, ia menunggu sampai beberapa lampu penerangan padam.


Hanya ada empat ruangan yang diterangi oleh batu sihir, Rindou mulai bergerak dengan mengisi kedua kakinya menggunakan mana lalu melompat mengarah ke jendela.


Rindou berbalik badan lalu mencoba menyerang mereka berdua, namun mereka yang sudah terlatih dapat menghalau cakaran dari Rindou. Ia diserang balik dengan cepat, Rindou langsung menahannya menggunakan tangannya sehingga tersayat sedikit.


   “Animal Breathing, Howling.”


Rindou menghirup napas hingga kantung udaranya penuh, ia langsung meraung yang membuat ledakan udara tercipta hingga dua penjaga itu terdorong dan menabrak dinding hingga retak. Rindou langsung berlari ke arah pria gendut berotot yang dengan santainya merokok.


Rindou melompat, menyiapkan tangan kanannya lalu cakar-cakar tajam ia maksimalkan panjangnya. Mengayunkannya menuju kepala pria gendut berotot tersebut.


   “Kota Morez.”


Kata-kata itu keluar dari mulut pria berotot yang akan dibunuh oleh Rindou. Ia mengatur napasnya kembali untuk menenangkan dirinya agar dapat berpikir jernih.


   “Apa yang mau kau katakan manusia?”


   “Kau adalah pelaku yang membebaskan para budak, bukan? Informasi yang kudapatkan tidak salah, pelaku utama dari pembantaian para bangsawan di Kota Morez adalah kau.”

__ADS_1


   “Jadi, jika kau tahu aku pelakunya. Kau mau apa?”


Tanya Rindou seraya menatap tajam lalu mengerutkan dahinya, ia memperlihatkan gigi tajamnya agar gertakannya lebih terasa nyata.


   “Tidak ada, justru aku berterima kasih padamu. Para bangsawan di Kota Morez merupakan pesaing kami dalam beberapa bidang, maka kematian mereka menjadi untung. Dan informasi lainnya yang kudapatkan, kau mengacau di Keluarga Forded dan kini anak perempuan tertua dari Keluarga Forded melakukan perjalanan dengan seorang pemuda.”


   “Menarik ... ”


Rindou menurunkan tangan kanannya lalu menjauhi pria berotot tersebut. Melangkahkan kakinya menuju jendela yang ia hancurkan, Rindou berniat pergi dari rumah mewah ini.


   “Tunggu sebentar Tuan Werewolf, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini urusan bisnis, jika kau pas—”


   “Aku tidak perduli, jaga nyawamu baik-baik.”


Rindou berniat untuk melompat, namun pria gendut berotot itu melempar belati ke arah Rindou dan menancap ke tangan kanannya. Rindou langsung menarik belati tersebut, luka tusuk tersebut perlahan-lahan melakukan regenerasi meskipun lambat.


   “Aku tidak tahu tujuanmu Tuan Werewolf terhormat, yang jelas ... kau mengincar para bangsawan.”


Karena perkataannya, Rindou tertarik akan padanya dan ia berjalan menuju pria gendut berotot yang tengah mematikan rokoknya lalu melempar belati ke samping yang ia bawa. Rindou mengatur napasnya perlahan-lahan, ia mengayunkan tangan kanannya di atas meja dan apa yang ada di atas meja terhempas.


   “Sepertinya melenyapkanmu terlebih dahulu ide bagus.”


Rindou mengalirkan mana di tangan kanannya, cakarnya kini lebih kuat dan bertenaga hingga dapat membelah tubuh seseorang dengan cepat. Ia mengangkat tangan kanannya, namun pria gendut itu menunjukkan peta Kota Yuvin.


   “Di peta ini terdapat tanda yang sudah ditandai, itu letak tempat tinggal setiap bangsawan yang ada di kota ini beserta pusaka keluarga yang mereka punya. Kau dapat merebut harta maupun pusaka keluarga mereka, lakukan apa yang kau mau Tuan Werewolf.”


Rindou mengambil peta yang terbuat dari kulit hewan tersebut, ia membacanya dan setiap letak serta penjelasannya akurat dan jelas. Rindou memasukkan peta tersebut ke dalam saku celananya.


   “Kenapa kau melakukan ini? Kau tidak akan mendapatkan untung.”


   “Kau salah Tuan Werewolf, jika para bangsawan mati maka keseimbangan ekonomi serta mental bangsawan yang tersisa akan goyah. Aku dapat menghancurkan mereka dengan mudah, maka pesaingku satu persatu akan berjatuhan.”


   “Kau memanfaatkan setiap kejadian yang menguntungkan, cocok sekali akan sifat itu dengan bangsawan sepertimu.”


Rindou berbalik badan tanpa mengucapkan selamat tinggal, ia pergi melalui jendela lalu menelusuri jalan yang sebelumnya ketika ia pergi ke rumah ini. Sedangkan pria gendut berotot yang merupakan salah satu bangsawan di Kota Yuvin, ia menikmati satu batang rokok lagi di malam yang dingin ini.

__ADS_1


   “Aku mengharapkanmu, Tuan Werewolf terhormat.”


__ADS_2