The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
32. Berkumpul Kembali


__ADS_3

Liese melindungi Lecia karena mereka berdua tidak terlalu berguna banyak di pertarungan Rindou dan yang lainnya saat ini. Hugo melemparkan sebuah pedang kepada Rindou, mereka berdua segera turun dari atas telapak tangan Golem raksasa dan menunggu kedatangan pasukan satu peleton serta satu Pahlawan yang menghadang jalan mereka.


“Hugo, kau urus pasukan itu. Aku yang akan melawan Pahlawan itu, jangan sampai mati bodoh.”


“Ya, aku tahu itu.”


Yuina memberi mereka sihir pendukung berupa pertahanan mana yang dapat menangkis busur panah serta sihir lainnya dengan efek serangan skala kecil. Hugo dan Rindou berlari dengan satu pedang di tangan kanan mereka, mereka berdua meningkatkan fisiknya dengan mana.


Rindou teringat untuk menggunakan seluruh kemampuannya membasmi pasukan satu batalion dengan sekejap. Ia memikirkan kondisi serta situasi untuk menggunakan kekuatan miliknya.


Ketika pasukan berkuda melewati garis yang telah ia tentukan, Rindou berhenti berlari lalu mengayunkan tangan kirinya dengan cepat.


“Companion : Caligula!”


Permukaan tanah di depannya memunculkan kristal yang berasal dari kekuatan Caligula yang diserapnya. Menusuk pasukan berkuda hingga mereka terjatuh, beberapa kuda pun banyak yang tumbang karena kritsal itu menembus mereka.


Hugo mendahului Rindou, menebas pasukan berkuda tersisa yang kuda mereka panik sehingga dia dapat leluasa menebas mereka. Yuina dari jarak jauh, menembakkan sihir api secara dengan skala besar yang membuat pasukan berat di belakang pasukan berkuda berhamburan.


Rindou menggunakan kemampuan Harvod Wolf, seluruh tubuhnya ditumbuhi rambut dengan fisiknya membesar. Pedang yang digenggam di tangan kanan di pindahkan ke tangan kiri, menerobos pasukan berkuda dan menyerang pasukan berat yang kebingungan.


Yang tersisa hanyalah pasukan pemanah dan satu Pahlawan yang menjadi pemimpin mereka. Rindou dan Hugo segera bergabung, mereka berdua berlarian menerobos hujan panah yang begitu banyaknya.


Namun, anak panah itu tidak ada satu pun yang berhasil menancap di tubuh mereka karena sihir pendukung Yuina bekerja secara maksimal. Rindou dan Hugo menebas pasukan pemanah, di depan mereka terdapat energi sihir yang dipusatkan lalu menembakkan sihir api berlapis listrik yang menuju ke arah mereka berdua.


“Animal Breath : Howling!”


Rindou melolong setelah menghirup napas panjang, serangan kejutan dari gelombang suaranya membuat tembakan sihir api berlapis listrik itu menghilang dalam beberapa kurun waktu. Sebelum Pahlawan itu meluncurkan serangannya lagi, Rindou menyerahkan pasukan pemanah kepada Hugo dan dia menerobos maju melawan Pahlawan yang merupakan Caster.


Rindou melompat yang mengarah langsung kepada Pahlawan jenis Caster yang berada di paling belakang. Rindou mengayunkan pedang yang ada digenggam tangan kirinya ke arah leher, namun dirinya terkena serangan di sekitar area pundak.


Rindou menyadari serangan yang ia luncurkan tidak mengenai leher, namun bilah pedangnya menghilang oleh sesuatu. Ketika dia menoleh ke arah lukanya, bilah pedangnya sendiri menebas pundaknya.


“Sialan, sihir pemindah.”


Ketika Rindou menebas, terdapat sihir pemindahan ruang dan waktu yang membuat bilah pedang Rindou mengarah kepada dirinya sendiri. Ia segera menusuk perut Pahlawan Caster yang merupakan seorang pria berusia kepala dua mengenakan jubah serta senjatanya berupa tongkat sihir.

__ADS_1


Tetapi, prediksinya tepat bahwa Rindou akan menyerang perutnya. Sihir pemindahan ruang dan waktu sudah dipersiapkan, Rindou menarik kembali tangannya sebelum dia menusuk perutnya sendiri.


Saat Rindou berniat mundur, Pahlawan Caster itu mengerahkan tangan kirinya dan menusuk perut Rindou. Tangannya terlapisi mana yang memiliki bentuk seperti pisau, perutnya ditembus oleh mana berbentuk pisau tersebut.


Rindou tidak bisa menyerang balik, ia dihempaskan dengan sihir tembakkan api berlapis listrik tepat di depannya. Terlempar jauh hingga Hugo tidak percaya bahwa Rindou dapat dikalahkan dengan mudahnya.


Sihir pendukung Yuina tidak bekerja, dengan kata lain tingkatan sihirnya lebih tinggi yang dapat menembus pertahanan. Rindou perlahan-lahan bangkit dengan luka yang perlahan-lahan menyembuhkan diri, ia berpikir bagaimana caranya menembus pertahanan mutlak yang dimiliki lawan.



Hugo ingin membantu Rindou, namun dia juga disibukkan oleh lawan musuh yang sanggup berdiri kembali melawan mereka. Rindou menghirup napas beberapa kali, ia bergerak maju dengan pertahanan yang kosong.


Puluhan tembakan sihir api berlapis listrik skala sedang mengarah kepadanya, Rindou mengayunkan cakar tangan kanannya yang berlapis mana hanya untuk menghalau beberapa serangan tersebut. Namun tetap saja tangannya terbakar dan rasanya sangat sakit ketika ledakan tersebut beradu dengan tangannya.


Tangan kanannya tidak bisa dia gunakan, mereka berdua kini berhadapan dan Rindou hanya bisa mengayunkan tangan kirinya yang menggenggam sebilah pedang. Tentu saja Pahlawan jenis Caster yang bangga akan pertahanan mutlaknya akan membelokkan serangan Rindou yang mengarah ke perutnya.


Ketika bilah pedangnya dipindahkan dan hampir mengenai perut Rindou, dari bawah lapisan tanah muncul lima tombak kristal dari segala arah. Menembus pertahanan mutlaknya karena ia lengah yang terfokus hanya pada ayunan pedang Rindou.


Dengan serangan terakhir dari Rindou, ia melolong yang merupakan skill Howling dan membuat gendang telinga Pahlawan jenis Caster itu terluka. Meski Rindou mengatakan sesuatu, dia tidak mengerti sama sekali dan hanya tahu bahwa urat nadi di lehernya saat ini menyemburkan darah segar.


Pemimpin mereka telah dikalahkan maka semangat juang mereka akan menurun, tetapi tidak terjadi. Tahu-tahu dari belakang terdapat salah satu pasukan yang menusuk Rindou menggunakan pedang, menembus perutnya yang membuat Rindou geram.


Rindou langsung mengayunkan tangan kanannya dengan cepat, namun dapat dihindari dan kini dia sadar bahwa dia sudah dikunci oleh beberapa pasukan pemanah.


“Tembak!”


Puluhan anak panah mengarah padanya, Rindou kesulitan bergerak karena ia baru saja menarik pedang yang menusuk perutnya dari belakang. Untuk melolong akan sulit, ia menggunakan kemampuan Caligula dan menciptakan tembok kritsal di hadapannya.


Hugo dapat mengatasinya karena dibantu oleh Yuina dari jarak jauh serta Liese turun tangan untuk membantunya. Rindou diam sebentar untuk memulihkan stamina serta lukanya.


“Aku sudah tidak sabar ... ”


* * * * *


“Julia! Kenapa kita malah berlari seperti ini!?”

__ADS_1


Tanya Kiijo yang berlarian di dalam hutan menuju Blue Land, kelompok Rindou berjarak beberapa kilometer dari mereka. Namun karena mengambil jalan lain, mereka tidak mungkin dapat bertemu.


“Aku tidak dapat menggunakan Hutan Keabadian untuk kalian bodoh. Lihatlah Yuuza, dia berlari paling depan dengan semangat.”


“Dia itu pecinta Adik! Tentu saja dia akan semangat untuk menemuinya!”


“Aku bisa mendengar kalian! Akan kubunuh kalian jika mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Adikku!”


“Khawatirkan dirimu Yuuza *****!”


Kiijo marah karena pikiran Yuuza hanya terfokus kepada Adiknya yaitu Yuina. Ada empat belas pasukan tersisa yang mengimbangi mereka, sebelumnya berjumlah dua puluh karena satu persatu dari mereka mengorbankan diri agar menjadi penghalang ketika dikejar oleh utusan Kerajaan Karm.


Yuuza yang berlari paling depan tiba-tiba mengangkat tangannya, mereka berhenti seketika dan mengambil napas setelah terengah-engah. Yuuza menjelaskan bahwa dia merasakan kekuatan sihir yang tidak asing, cukup jauh jaraknya namun ada di arah Utara.


“Tunggu Yuuza, kita hanya harus maju. Lupakan saja tujuanmu sekarang ini untuk menyelamatkan mereka.”


Julia membujuk Yuuza yang akan mengambil keputusan, pasukan yang tersisa serta Kiijo akan ikut ke mana saja. Namun Yuuza menyarankan agar mereka berpisah, dia seorang diri akan pergi ke Utara untuk melihat apa yang terjadi dan Kiijo serta Julia akan pergi menuju tujuan mereka.


“Tunggu sebentar Yuuza, meski kau seorang diri ... ”


“Apakah kau lupa dengan julukanku? Julia, Kiijo ... untuk sekali ini saja aku mohon. Tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu.”


Berat untuk memutuskannya, Kiijo berjalan ke arah Yuuza dan menepuk pundaknya. Senjata mereka lepas dari tangan, namun Yuuza adalah orang berbakat yang dapat menggunakan sihir hanya satu atribut namun mematikan.


“Jika mereka manusia yang mengaku Pahlawan libas sampai habis tiada ampun, kau mengerti Yuuza?”


Meski Kiijo menggunakan topengnya, aura Iblisnya benar-benar terasa karena dendamnya kepada mereka. Yuuza hanya tersenyum dan melepaskan tangan Kiijo dari pundaknya, ia segera pergi menuju arah Utara meninggalkan Julia dan yang lainnya.


“Kau yakin dengan keputusannya Kiijo? Kekuatan sihir tadi sudah jelas dari Yuina yang dapat menggunakan empat atribut sihir sekaligus.”


“Huh ... bukannya aku mendukung Kakak Adik itu, namun aku tahu bagaimana perasaan seseorang ketika lama tidak bertemu setelah mengalami peristiwa yang mengerikan. Aku juga tidak ingin peperangan sebelumnya terjadi, tapi manusia-manusia itu merampas semuanya ... sialan!”


“Baiklah, ngomong-ngomong ke mana senjata terkutuk milikmu?”


”Oh, aku menjatuhkannya di suatu tempat.”

__ADS_1


“Dasar bodoh.”


To Be Continue ......


__ADS_2