The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Blue Land


__ADS_3

Blue Land mempunyai quest di Guild mereka yang dikhususkan untuk sisa pasukan Raja Iblis. Tentunya mereka berasal dari berbagai kalangan dan ras, sama seperti para petualang yang biasanya melakukan quest penaklukan.


Di tempat ini mereka diberi misi seperti menyerang, merampas, dan segala kontrak. Iblis lebih menghargai kontrak, karena itu jangan sampai salah bicara mengenai suatu janji.


Seperti halnya ketika seorang manusia melamar perempuan dari ras Iblis, jika manusia itu melamar untuk membahagiakan si perempuan. Maka tentu saja yang difokuskan si perempuan adalah bahagia dan membiarkan si laki-laki membuatnya bahagia.


Berbeda jika melamar dengan mengatakan bahwa mereka berdua akan bahagia bila bersama. Maka sang perempuan yang merupakan Iblis pun akan membahagiakan si laki-laki, secara tidak langsung pun kontrak akan terjalin meskipun tanpa disadari.


Julia, Kiijo, Yuina, serta Yuuza berkumpul di satu ruangan dalam sebuah rumah yang menjadi tempat istirahat mereka saat ini. Setiap dari mereka memegang dua lembar kertas, berisikan beberapa informasi penting yang dibutuhkan.


Salah satunya adalah Assassin tanpa tuan yang menjadi mata-mata di berbagai kerajaan. Salah satunya adalah Hao, dia adalah petarung terbaik yang menggunakan pedang terkutuk bernama Balxior.


Mereka memprediksi beberapa serangan yang akan dilancarkan, sehingga antisipasi diperlukan jika serangan habis-habisan dilancarkan oleh pihak musuh. Karena Raja Iblis telah gugur dan belum ada Pemimpin yang layak, maka mereka kesulitan untuk mengatur pasukan yang berkumpul kembali.


“Ini sulit sekali, jika kita berempat sedikit sulit mengaturnya. Mungkin kita harus memberi komando dalam beberapa pasukan, Yuina ... bagaimana dengan pasukan Golem milikmu?”


Tanya Julia seraya menoleh ke depan, Yuina yang terfokus dengan dua lembar kertas tersebut masih membacanya dan pundaknya ditepuk oleh Yuuza agar dia menanggapi Julia.


“Pasukan Golem dari besi dan bahan lainnya telah layak pakai dengan seratus unit. Beberapa Golem khusus sudah dibuat, apakah aku harus membuat Golem seperti dulu?”


“Ya, tingkat bencana dapat dicegah dengan Golem milikmu. Yuuza, bagaimana bila kau yang menjadi komando? Kau sudah terbiasa.”


“Baiklah ... aku bisa melakukannya, ngomong-ngomong Rindou ada di mana?”


“Dia bersama Hugo, mereka berdua fokus berlatih ditemani Lecia dan Liese.”


Perkataan Julia disela oleh Kiijo yang tengah membaca lembaran kertas.


“Aku sedikit bingung, anak bernama Rindou itu berasal dari Yugo dan Vinessa yang memiliki kutukan. Kenapa kutukannya bisa diwariskan? Bukankah Naga itu hanya memilih Yugo?”


“Naga Terkutuk yang membuat Yugo tidak bisa mati itu mungkin berpindah, jika dia lepas maka saja kita kehilangan keseimbangan. Karena Naga Terkutuk itu, kita bisa membuat lima naga tingkat bencana dipukul mundur. Kiijo, senjata terkutukmu sudah ditemukan.”


Julia melirik ke arah Kiijo, dia menghela napas dan menganggukkan kepala seraya menggaruknya sebagai tanda dia mengerti akan permintaan dari Julia.


“Untuk sekarang kita fokus pada Kerajaan Karm yang mengincar kita, akan sangat gawat jika seluruh Kerajaan mengincar kita dalam waktu bersamaan.”


* * * * *

__ADS_1


“Rindou, apakah kau yakin hanya ingin berlatih seperti ini?”


“Ya, mereka menyuruhku untuk bersiaga saja.”


Mereka berdua baru saja selesai latihan, ruang latihan ini berada di fasilitas bawah tanah berdekatan dengan pembuatan Golem milik Yuina. Liese dan Lecia datang membawa beberapa makanan minuman, serta ada satu orang lagi yang datang.


“Rindou, apa bisa kau ikut denganku?”


Tanya Julia, dia beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri Liese yang membawa roti lapis. Setelah mengambilnya dia pergi bersama Julia, kini hanya ada mereka bertiga.


“Sepertinya mereka sibuk untuk mempersiapkan sesuatu, apakah Rindou sangat diperlukan?”


Tanya Liese kepada Hugo yang tengah melihat makanan dibawa oleh Lecia untuknya. Ia mengambil air bening terlebih dahulu dan menjawab pertanyaan Liese.


“Sekarang ini Rindou sedang diuji, mereka ingin melihat seberapa jauh perkembangan Rindou. Biasanya mereka akan mengambil quest penaklukan di Guild dan menyuruh orang yang diuji untuk melaksanakannya. Untuk Rindou, dia diberi quest penaklukan dengan tingkat bencana.”


* * * * *


Seorang perempuan mengangkat sebuah papan kayu bertuliskan, dia membutuhkan tumpangan untuk pergi menuju Blue Land.


Rambutnya berwarna pirang dan sebagian rambut depannya dikepang dan beberapa bagian berwarna merah. Matanya merah, setiap orang yang memiliki kutukan biasanya indra penglihatannya akan berwarna merah.


Seorang anak kecil menempel di pangkuan pahanya, ia menanyakan ke mana tujuannya pergi.



“Oh bocah, aku akan meninggalkan kota ini. Sampaikan salamku kepada yang lainnya.”


“Ya, ngomong-ngomong Blue Land merupakan Kota Danau. Apa yang ingin kau lakukan?”


“Huh? Oh ... rekan-rekanku sudah kembali.”


* * * * *


Di suatu tempat, perbatasan antara Negeri Blue Land dan negeri seberang yang bernama Fimela. Sosok seorang perempuan membawa pedang berukuran besar untuk dua tangan, seluruh tubuhnya mengenakan pakaian berwarna hitam dan jubah yang menutupi tubuhnya sedikit robek


Rambut pendek sampai leher berwarna putih, ia mengenakan penutup kepala yang di depannya terdapat besi serta dua bulu berwarna merah putih mencuat di atas penutup kepalanya. Di dadanya melingkar sebuah rantai yang menggantungkan sebuah kristal menghasilkan cahaya terang.

__ADS_1


Terutama dia memiliki telinga yang panjang dan runcing, sosok perempuan itu adalah Kelompok Pemusnah sesama rekan Yugo dan Vinessa. Hao, dia keturunan Elf yang dikutuk hingga Hao menjadi setengah Dark Elf yang membuat rambutnya memutih.


Situasi yang dia alami saat ini cukup menyulitkan, di tengah malam hari ini dia diikuti oleh sesosok tingkat bencana yang memiliki tubuh seorang pasukan berzirah dan membawa pedang berukuran besar untuk dua tangan.


Di sela-sela zirahnya memunculkan sinar berwarna merah, tingkat bencana ini sudah menyerap kekuatan makhluk lain yang membuatnya semakin kuat. Alasan Hao dikejar oleh tingkat bencana ini karena Negeri Fimela membiarkan tingkat bencana itu memusnahkan mata-mata yaitu Hao sendiri.


“Tingkat bencana itu bukan lawan yang biasanya, lari sambil bertarung sepertinya mustahil. Maka hanya ada satu cara.”


Hao menghentikan langkahnya dan berhenti di tengah-tengah padang rumput yang luas. Jika di tempat seperti ini maka dia dapat bertarung habis-habisan, Hao tidak perlu khawatir jika dia melepas seluruh kekuatannya untuk memusnahkan tingkat bencana yang mengejarnya.


“Majulah, sebagai sesama pengguna pedang dua tangan akan kutunjukkan siapa yang lebih unggul.”



Ucap Hao dengan posisi siap bertarung, pedang digenggam oleh tangan kanan. Kemampuan fisik Hao membuatnya dapat mengangkat pedangnya sendiri yang terbilang berat, tingkat bencana yang memiliki wujud pasukan berzirah itu hanya diam saja dan bersiap-siap untuk bertarung dengan pedangnya.


Hao memperpendek jarak antara mereka berdua, saling mengayunkan pedang berukuran besar dengan kekuatan penuh. Suara desingan yang berat di tanah kosong ini menggema hingga ke hutan yang tidak jauh dari mereka.


Hao menarik pedangnya lalu memutar untuk menyerang secara horizontal. Namun tingkat bencana itu menahannya menggunakan punggung pedang ditahan oleh dua tangan.


Dua pedang besar yang saling beradu membuat Hao sangat senang karena dia sudah lama tidak bertarung melawan musuh kuat. Ketika di markas, Yugo lah yang selalu menjadi lawan tandingnya.


Hao menusukkan pedangnya beberapa kali dengan cepat, penguasaan pedangnya benar-benar hebat. Tusukan itu mengenai dada tingkat bencana yang menjadi lawannya, Hao mengangkat pedangnya hingga musuhnya ikut terangkat dan terlempar ke atas.


Seraya menunggu momen pas untuk menyerang, Hao mengayunkan pedangnya ke atas dengan kuat dan cepat meski tingkat bencana itu menahan serangannya namun dipatahkan. Tubuhnya terbelah menjadi dua, dalamnya kosong namun isinya berisikan kekuatan sihir gelap.


Dengan pedangnya, Hao menyerap sihir gelap itu yang kemudian menjadi miliknya. Kutukan yang ia miliki berasal dari keturunan, namun Pedang Penyerap yang bernama Balxior dapat meringankan kutukannya.


Sehingga kutukan dan pedangnya saling tumpah tindih hingga Hao dapat menggunakan kekuatan kutukannya dan Pedang Balxior secara tepat.


Di kegelapan malam yang disinari rembulan, berjalan di padang rumput luas sendirian dengan pedang yang ditempatkan di punggungnya. Hanya ada satu tujuan yang dia miliki, kembali ke markas dan melaporkan apa yang terjadi di Negeri Fimela.


“Aah ... sudah lama aku tidak kembali ke Blue Land. Vinessa, Yugo ... ”


Hubungan mereka bertiga sangat erat, telah melalui banyak peperangan, pertarungan, misi, dan hal menantang lainnya. Hanya markas mereka tempat kembali Hao, apalagi Hao keturunan terakhir di keluarganya yang terkutuk.


Karena setiap dari mereka, ingin mencari arti hidup yang telah mereka perjuangkan setiap harinya.

__ADS_1


To Be Continue ......


__ADS_2