The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
30. Sosok Kedua Orang Tua Rindou


__ADS_3

Julia keluar dari pohon di Citadel Yuvin berkeliaran ke sana ke mari dengan selembar kertas yang menunjukkan posisi rumah bangsawan bernama Viens. Peta itu dibuat oleh Rindou dengan bahan seadanya saja, Julia tidak dapat protes dengan hal itu.


“Jika mengikuti peta ini berarti ... yang ada di depanku ini adalah kediamannya?”


Pikir Julia yang berada di depan gerbang rumah Bangsawan Viens, orang-orang di sekitarnya mulai membicarakan sosoknya yang memiliki perawakan Elf berambut putih panjang dan memakai zirah lengkap tanpa helm.


“Ahh .. aku terlalu mencolok.”


Julia memotong gerbang yang menghalangi jalannya, di depan gerbang terdapat dua penjaga yang datang menghampirinya dengan niat untuk menyerangnya sebagai ancaman.


“Aku perlu bertemu dengan Viens, atas nama Rindou.”


Dua penjaga itu terdiam karena mendengar nama Rindou, pedang yang tadinya dihunuskan kembali dimasukkan ke dalam sarung. Salah satu penjaga menjadi pemandunya, sedangkan penjaga yang satunya lagi melihat keadaan gerbang yang ditebas oleh Julia.


Memasuki kediaman Viens, menuju ruangannya yang di mana para pelayan menyambut kedatangannya. Julia agak risih dengan perlakuan tersebut karena dia tidak biasa bahkan ketika dia menjadi Jenderal Raja Iblis sebelumnya.


Sampai di suatu tempat yang merupakan ruang kerja Viens, Julia dipersilahkan masuk dan dipersilahkan duduk oleh Viens yang tengah bekerja. Beberapa menit kemudian, ia meletakkan pena bulunya lalu berjalan menghampiri Julia dan duduk di depannya secara berhadapan.


“Elf berambut putih ya ... aku sudah jarang melihat Elf sepertimu yang sekarang kebanyakan berambut pirang. Mengenai Rindou, apakah dia mempunyai masalah?”


“Langsung pada intinya ya, baiklah ... aku membutuhkan jantung yang dia berikan padamu.”


“Jantung? Oh ... kotak yang berisi jantung itu. Tunggu sebentar, akan aku bawakan.”


Viens beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke belakang meja kerjanya dan menekan tembok yang membuat dindingnya terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah kotak, ya di dalamnya adalah jantung milik Kiijo yang terpisah.


Viens berjalan kembali lalu duduk, ia meletakkan kotak kayu harta kecil tersebut di atas meja dan mendorongnya kepada Julia.


“Aku tidak begitu tahu mengenai jantung yang ada di dalamnya. Rindou mengambilnya dari salah satu bangsawan yang ada di Kota Yuvin ini.”


“Mengambilnya? Apa yang kau maksud?”


“Hmm? Kau tidak tahu mengenai bangsawan yang ada di Kota Yuvin? Jika seperti itu aku tidak dapat menceritakannya.”

__ADS_1


“Ba ... baiklah ... ”


Satu hal yang dimengerti oleh Julia, sepertinya Rindou berulah di Kota Yuvin ini dan menyebabkan masalah kepada bangsawan. Setelah urusannya selesai, Julia segera pergi lalu pergi ke halaman kediaman Viens dan memasuki Hutan Keabadian.


“Tunggulah aku ... ”


* * * * *


Rindou, Liese, Hugo, Lecia, dan Yuina pergi menuju Blue Land di mana akan menjadi tempat pertemuan mereka menggunakan Golem berukuran besar milik Yuina.


“Yuina, bukankah Golem besar ini akan menarik perhatian?”


Tanya Rindou yang tengah tidur dipangkuan Liese karena dia belum tidur sebelumnya hanya untuk berjaga, lagipula saat ini dia merasakan sakit yang diakibatkan menyerap kekuatan naga hitam sebelumnya.


“Menurutmu begitu? Tenang saja, Golem milikku ini dapat kuhilangkan sosoknya, suaranya, namun tidak dengan aromanya.”


“Berarti ... kita semua yang ada di atas Golem ini pun ikut hilang wujudnya?”


“Tidak boleh.”


Satu ucapan dari Liese yang tengah membiarkan Rindou tidur di pangkuan pahanya membuat Yuina terdiam. Hubungan mereka berdua tidak baik, entah apa alasannya.


“Hugo, kau pernah ke Blue Land?”


Tanya Rindou kepadanya yang tengah menguncir rambutnya dibantu oleh Lecia.


“Ya, terdapat sekelompok pasukan bayaran yang sangat hebat dan mereka menjadi Jenderal Raja Iblis. Salah satunya adalah orang yang akan kita kunjungi sekarang, Yuina apa kau tidak salah?”


“Ya, ada dua orang yang dapat lolos dari kejaran Cassiopeia. Salah satunya memiliki kekasih yang akan menikah dengannya, namun dia bertarung habis-habisan untuk melawan para Pahlawan yang membuat nyawanya direnggut. Satunya lagi pun menyukai orang yang sama, namun dia sudah menyerah. Mereka berdua adalah sosok terkutuk, memiliki senjata terkutuk yang membuat keberadaan mereka memiliki kekuatan hebat.”


Rindou yang mendengar penjelasan dari Hugo, tertarik dengan sosok terkutuk dua orang itu yang menyukai satu orang yang sama. Mungkin jawaban kenapa dia dipanggil ke dunia ini ada di mereka karena apa?


Rindou sudah tahu bahwa dirinya akan dipanggil ke dunia ini, ada sebuah catatan yang ditinggalkan kepadanya bahwa ketika sudah pada waktunya Rindou akan dipanggil ke dunia ini. Hingga sekarang, dia sudah mengerti kenapa sosok Ayahnya telah lama hilang.

__ADS_1


“Mungkin sosok orang yang disukai dua orang itu adalah Ayahku dan salah satu dari dua orang yang Hugo sebut mungkin adalah Ibuku.”


Ucapannya membuat empat orang yang mendengarnya terdiam, tentu saja hal tersebut mustahil bagi Rindou yang mengaku-ngaku sebagai anak dari dua Jenderal Raja Iblis.


“Rindou, meskipun kau bercanda itu terlalu ... ”


Hugo yang melihat wajah Rindou serius tengah tiduran di pangkuan paha Liese mulai berpikir ulang. Kekuatan Rindou masih menjadi misteri dan kenapa dia dapat menjadi utusan dari Raja Iblis.


Tentu saja jawabannya hanya ada satu, Rindou memiliki hubungan dengan mereka sehingga Raja Iblis memanggilnya ke dunia ini karena dia adalah orang yang cocok.


“Rinrin, kau masih ingat dengan sosok kedua orang tuamu?”


Tanya Yuina yang menghampiri Rindou dengan melayang di samping Liese. Rindou menanyakan kenapa namanya berubah menjadi Rinrin yang menjadi nama panggilannya, Yuina malah menunjukkan wajah bodohnya dan tidak menyelesaikan masalah apapun.


“Sosok kedua orang tuaku ya. Yang kuingat dengan sosok Ibuku dia adalah pengguna pedang terkutuk dan memiliki tugas berat. Ayahku ... dia pria barbar yang memiliki kekuatan fisik hebat dan dia konon katanya dia sulit mati karena kutukan yang dia miliki.”


Yuina dan Hugo yang mendengar penjelasan dari Rindou mulai berpikir keras dan saling bertatapan. Mereka ingat dengan dua orang yang disebutkan oleh Rindou, serta penjelasannya yang cukup rinci membuat sosok Rindou kemungkinan besar adalah anak dari dua orang itu.


“Tu-tunggu Yuina, ini mustahil mana mungkin Rindou yang usianya hampir sama denganku sedangkan ketika berpisah itu hanya satu tahun. Yu-yuina, aku tidak mengerti sama sekali.”


“Diamlah Hugo, aku masih kekurangan informasi. Jika dalam satu tahun itu dia melahirkan seorang anak yaitu Rindou, memang benar itu mustahil dan mana mungkin terjadi karena usianya akan konsep waktu yang jelas ini.”


Rindou yang memandang kebingungan mereka lupa karena belum menjelaskan siapa dia sebenarnya, dia bangun dari posisi tidurnya lalu duduk dengan posisi bersila menghadap mereka berdua yang kebingungan.


“Kalian bodoh ya, aku berasal dari dunia lain yang memiliki konsep waktu dan aliran waktu yang berbeda dari dunia ini. Liese, seharusnya kau membantu menjelaskan bahwa aku berasal dari dunia lain.”


“Eh? Aku harus ikut andil dalam diskusi ini?”


Yugo dan Liese mulai mendiskusikan sesuatu, Hugo yang mendengar penjelasan kecil dari Rindou menghela napas panjang dan ia bertekuk lutut di depan Rindou kemudian bersujud.


“Maafkan hamba yang semena-mena terhadapmu Tuan Rindou.”


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2