The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
20. Semangat Yang Tersisa


__ADS_3

“Companion : Caligula!”


Dalam sekejap, Rindou mendapatkan atribut kemampuan baru dari Companion seperti akar evolusi yang membuatnya dapat berkembang lebih kuat lagi. Kristal Caligula yang ia genggam menjadi serpihan dan masuk ke dalam tangannya, Rindou masih belum bisa mengontrol kemampuan barunya namun dia tahu bagaimana cara menggunakannya.


Ia menyentuh lapisan permukaan lantai yang berupa batuan tersusun dan dari belakangnya muncul sebuah kristal berukuran besar dengan ujungnya yang lancip. Ya, kemampuan yang ia dapatkan adalah atribut kristal dari Caligula dan ditambah dengan skill absorb membuat kekuatan Caligula menjadi miliknya meskipun hanya sepertiga.


Kristal yang ada di belakangnya memanjang dengan cepat dan mengarah menuju dada Caligula. Tetapi, Caligula langsung mengantisipasi serangannya dengan cara menumbuhkan kristal dari dalam tanah sehingga terbentuklah dinding dan menahan serangan Rindou.


Liese yang baru saja bangkit melihat serangan Rindou yang merupakan atribut dari kristal dan sama dengan Caligula. Ia segera membantu Rindou meskipun terluka karena serangan Caligula yang membuatnya terhempas dan menghantam dinding ruangan sampai hancur.


Rindou memikirkan berbagai cara untuk mengalahkan Caligula yang mempunyai pertahanan tubuh serta kemampuan sihir kristal yang keras dan amat merepotkan. Ketika ia menoleh karena terdapat suatu pergerakan, terdapat Liese yang tengah merapal sebuah sihir seraya berlari dengan dua tangan yang semakin terselimuti api.


“Rindou! Aku akan mengalihkan perhatiannya!”


Seru Liese, Rindou yang mendengarnya ingin sekali memarahinya karena Liese bertindak terlalu gegabah. Ia segera bangkit sebelum serangan hujan tombak kristal Caligula mengenainya.


Rindou berlari seraya mempersiapkan serangan berikutnya. Ia menyentuh tanah dan membuat sebuah kristal menjulang ke atas sebagai jalan untuk Liese dapat mendekati Caligula dari samping kanan.


Liese langsung menaiki kristal tersebut lalu melompat dengan kedua tangan yang berapi-api. Ia memukul di tempat yang sama seperti sebelumnya dan menghasilkan ledakan yang sama seperti sebelumnya. Namun sebelum ledakan terjadi, Liese dapat menghindari tombak kristal Caligula dari kedua arah dan langsung saja memukul ujung kristal buatan Rindou yang menjulang atas.


Sehingga, beberapa serangan Caligula berupa tombak kristal dari atas dapat tertahan dengan cara menjadikan potongan kristal tersebut sebagai perisai. Rindou ingin sekali menyelamatkan Liese yang tengah jatuh melayang ke bawah, namun kesempatan untuk menyerang Caligula yang tengah fokus kepada Liese adalah kesempatan emas.


Dari pada menyerang dari luar, lebih baik menyerang dari dalam. Pemikiran Rindou tersebut membuat jalan keluar dari lantai Boss kesembilan ini yang memiliki atribut kristal.


Ia berlari dengan tangan kanan terlapisi kristal biru Caligula. Langsung saja ia menghantam kaki Caligula dengan tangan kanannya untuk menembus kakinya meskipun hanya menembus dagingnya.


Rindou menumbuhkan kristal dari dalam kaki Caligula yang merambat cepat dan membuat kaki Caligula hancur dalam sekejap dengan pertumbuhan kristal yang cepat. Ketika kaki kirinya hancur, maka keseimbangannya tidak stabil yang membuatnya terjatuh.


Rindou menyentuh lapisan tanah lalu membuat beberapa tombak kristal berukuran besar. Ketika Caligula hampir tertancap tombak kristal, Liese sudah ada di atas Caligula dan melancarkan serangan bola api dengan konsentrasi tinggi yang membuat daya ledakan semakin kuat.


Caligula yang berniat membuat lapisan kristal di tubuhnya sebagai perisai terlambat sedikit. Tombak kristal yang diciptakan oleh Rindou menancap leher Caligula, sedangkan Rindou segera berlari menuju tempat di mana Liese akan jatuh dan menangkapnya.


Rindou terkejut, luka yang dialami oleh Liese membuat tulang tangan kirinya remuk dan tulang punggungnya retak. Rindou langsung membawanya ke tempat di mana tas ransel yang ia bawa ditinggalkan lalu mengambil potion pemulih.


Seraya meminumkannya, Rindou menyayat lengannya dan terasa sangat sakit meskipun ia menahan teriakannya. Dengan darah miliknya, ia mencampurnya dengan potion lalu meminumkannya lagi kepada Liese.


Darah yang ia miliki memiliki kemampuan regenerasi dari efek Harvod Wolf. Dengan dua efek regenerasi ini, jaringan sel Liese yang terluka kembali beregenerasi dan tulangnya yang remuk mulai menyatu kembali dan menjadi semakin kuat.


“Istirahatlah sebentar Liese.”


Ucap Rindou seraya memandang Liese di pangkuannya. Liese menganggukkan kepala dan ia sangat kelelahan telah berjuang sangat keras dan baru kali ini ia mengalami pertarungan yang amat hebat.


Rindou menurunkan Liese dan membiarkannya berbaring. Ia berjalan menuju Caligula yang terbunuh dengan leher tertancap beberapa tombak kristal.


Menyentuh kepala Caligula dan merasakan aliran mana yang ada dalam tubuhnya. Ia menggunakan skill absorb dan menyerap kemampuan Caligula ke dalam tubuhnya. Kini ia mendapatkan setengah kekuatan dari Caligula dan penggunakan kristal Caligula dapat menjadi lebih efektif dan semakin kuat.


Sebuah portal menuju lantai sepuluh muncul. Melihat keadaan Liese saat ini, Rindou mengurungkan niatnya dan ia kembali duduk di samping Liese yang berbaring.

__ADS_1


“Aku tidak bisa meninggalkannya dengan keadaan seperti ini.”


* * * * *


Pintu besar menuju Boss di lantai sembilan terbuka dan beberapa orang memasukinya. Pintu tersebut tertutup kembali, mereka adalah veteran yang ada di Guild petualang Kota Yuvin ini. Ketika memasuki ruangan besar yang dindingnya terbuat dari batuan langka dan tebal, terdapat dua orang yang tengah tertidur di dekat sebuah monster anjing dengan punggungnya ditumbuhi kristal dan kaki kiri yang hancur akibat kristal.


“Bukankah di sini Boss lantai sembilan? Apa mereka berdua yang mengalahkannya?”


Tanya seorang laki-laki yang memiliki keterampilan berupa Assassin. Ia membawa dua buah belati yang terbuat dari batu obsidian, sedangkan Ketua mereka adalah Tanker dengan perisai besar dan memiliki skill charisma yang dapat menambah kekuatan tempur satu kelompok dengannya.


“Sepertinya benar, lagipula portal menuju lantai sembilan telah muncul.”


Ucap Ketua party tersebut seraya menunjuk portal yang jauh di depan sana. Party yang dia miliki berjumlah enam orang, dengan kemampuan masing-masing yang dapat menutupi kelemahan setiap orang.


Mereka menghampiri dua orang yang tengah tertidur. Seorang laki-laki yang tidur bersandar pada tembok kristal serta seorang perempuan dengan penutup mata kiri dengan sebagian seragamnya robek tertidur di pangkuan paha pemuda tersebut.


“Apa kalian pernah melihat mereka?”


Tanya Ketua mereka, tidak ada satu pun yang mengenal dua orang tersebut. Rindou perlahan-lahan memejamkan matanya berulang kali karena mendengar percakapan seseorang yang membuatnya terbangun.


Ketika ia terbangun, dia melihat enam orang tengah membicarakan sesuatu dan terlihat serius. Setelah pandangannya cukup jelas, ia menguap lalu mengatur napasnya terlebih dahulu.


“Apa kalian mempunyai keperluan denganku?”


Pertanyaan dari Rindou membuat mereka berdua terkejut karena dia sudah sadar. Ketua party tersebut menelan ludah, ia juga terkejut karena hanya ada dua orang di tempat ini yang dapat mengalahkan Boss lantai sembilan yang belum tersentuh sama sekali.


“Tidak ada. Tetapi ... apakah kau yang mengalahkan Boss di lantai ini?”


“Ti-tidak. Aku juga sama seperti kalian. Tahu-tahu, kami terlempar ke lantai ini oleh jebakan dungeon dan terdapat monster anjing ini yang telah dikalahkan. Saat terlempar ke tempat ini, aku melihat seorang pria membawa sebuah pedang yang menyilaukan mata dan ia memasuki portal itu.”


Jelas Rindou lalu menunjuk ke arah portal menuju lantai selanjutnya. Keenam orang yang mendengar penjelasan Rindou langsung menyimpulkan bahwa orang yang dilihat oleh Rindou adalah salah satu pemegang pedang suci dan ini merupakan kabar baik bagi mereka.


“Lantai sepuluh mungkin berbahaya dan mungkin saja Pahlawan itu bisa menaklukkan lantai sepuluh. Karena sudah sejauh ini, apakah kalian bersedia kembali bersama kami?”


Tanya Ketua party tersebut seraya mengulurkan tangannya kepada Rindou. Ya, Rindou meraih tangannya namun dalam sekejap Assassin yang ada di kelompoknya bergerak dengan cepat bahkan Rindou tidak bisa mengikuti gerakannya.


Ia mengeluarkan belati dari balik jubah hitamnya lalu mengayunkan belatinya secara vertikal dan berniat memotong tangan Rindou dengan mengincar bagian yang tidak terlapisi pelindung tangan. Liese yang berpura-pura tidur langsung menarik lengan Rindou kuat-kuat, belati tersebut mengenai tangan Ketua mereka yang terlapisi pelindung besi sintesis amat keras.


Liese melancarkan tendangan ke wajah Ketua party tersebut dan Rindou menciptakan bola api di tangan kirinya dan menembakkannya ke Assassin yang berniat menyerangnya. Mereka berempat langsung mundur dan Rindou mengambil tas yang tergeletak di dekatnya serta pedang miliknya, mengambil kampak dari dalam tas lalu memberikannya kepada Liese.


“Hentikan semua ini! Sesama petualang tidak boleh saling membunuh!”


Seru Ketua party yang mencoba merundingkannya kembali dengan kepala dingin. Assassin yang menyerang Rindou masih menatap tajam, kini di kedua tangannya memegang belati dari batu obsidian.


“Sudahlah Ketua. Apa yang ia katakan sebelumnya adalah kebohongan, tidak ada yang namanya pemegang pedang suci dan pergi terlebih dahulu.”


“Len ... jangan-jangan yang kau maksud itu ... ”

__ADS_1


“Ya, yang mengalahkan Boss lantai sembilan ini tidak lain adalah mereka berdua.”


Pernyataan Len sang Assassin membuat seluruh anggota kartunya terkejut hebat. Padahal, anggota party mereka telah berlatih jauh hari untuk menaklukkan lantai ini namun ada orang asing yang baru saja menaklukkannya apalagi mereka orang asing.


“Tunggu sebentar Len. Jika apa yang kau katakan benar lebih baik kau turunkan senjatamu. Pikirkan, mereka berdua dapat mengalahkan Boss lantai sembilan yang belum tersentuh sama sekali. Dengan kata lain ... mereka berdua lebih kuat dari kita berenam.”


Ucapan Ketua mereka memang ada benarnya. Namun Len bersikeras untuk membabat Rindou dan Liese, dia juga menemukan kejanggalan antara Liese dan Rindou.


“Kaliam berdua yang sudah mengalahkan Boss lantai ini kenapa tidak terluka sama sekali? Perempuan yang bersamamu itu hanya mengalami luka bakar dan luka bekas. Tidak mungkin bagi kalian tidak terluka sama sekali, siapa sebenarnya kalian!?”


Desak Len yang membuat Rindou dan Liese mencari jalan keluarnya. Rindou berniat untuk pergi ke portal menuju lantai sepuluh, namun Liese menolak karena mungkin saja Boss lantai sepuluh lebih kuat dari Caligula.


Hanya ada satu kesimpulan. Mereka berdua harus pergi dari tempat ini secepatnya.


Liese dan Rindou meningkatkan fisik mereka berdua lalu berlari dengan cepat melewati mereka berenam. Rindou dapat kabur dari keenam orang tersebut, namun Liese kesulitan karena Len mengejarnya dan kecepatan mereka berdua sama.


“Liese!”


Seru Rindou, Len mengayunkan belati yang ia genggam dengan tangan kanan lalu Liese menahannya dengan kampak yang diberikan oleh Rindou kepadanya. Rindou melompat dengan tenaga maksimal, namun Mage yang ada di party tersebut merapal sihir udara lalu menciptakan puluhan tombak angin yang menyerang Rindou.


Pergerakan Rindou terhambat dan satu tombak mengenai tangan kirinya. Berguling-guling dengan tangan kiri yang berlubang, perlahan-lahan namun pasti jaringan sel yang ada di tangan kirinya melakukan penyembuhan.


Mencoba untuk bangkit, di hadapan Rindou sudah terdapat Tanker yang merupakan Ketua dari Party tersebut. Ia menabrak Rindou menggunakan perisai besar, terdorong cukup jauh dan Rindou berjuang keras untuk mendorong kembali.


“Kami akan menangkapmu. Apa yang dikatakan Len benar, identitas kalian berdua belum diketahui.”


“Baiklah jika itu maumu. Akan kubunuh kalian!”


Seru Rindou, ia melompat ke samping kanan lalu berguling-guling seraya menyentuh permukaan lantai. Menciptakan kritsal dari berbagai arah dengan bentuk memanjang namun bagian ujungnya lancip bagaikan tombak.


Tentu saja, sihir kristal Rindou membuat Len dan Ketua serta anggota party yang lainnya terkejut. Mage yang menjadi inti party merapal sihir pertahanan, muncul pelindung dengan jangkauan cukup luas terbuat dari mana namun pertahanan tersebut masih dapat ditembus.


Liese masih disibukkan oleh Len. Ketika kristal yang diciptakan Rindou menyerang Len, ia segera menghindar lalu berlari ke arah Rindou untuk saling membantu satu sama lain.


Rindou mengambil dua potion pemulih mana. Ia langsung meminumnya dan satunya lagi diberikan kepada Liese, setelah mana mereka berdua beregenerasi langsung saja Liese dan Rindou menciptakan sihir bola api dengan konsentrasi mana sangat tinggi.


Meskipun sihir ini sihir sederhana, namun ledakan dan efek dari dampaknya sangat besar jika konsentrasinya tinggi. Api yang diciptakan oleh Rindou sedikit gelap, langsung saja mereka berdua menembakkan bola api tersebut ke arah keempat party yang tengah berlindung.


“Sui! Perkuat pertahananku!”


Seru Ketua mereka, Support yang ada di dalam party tersebut merupakan laki-laki yang usianya sekitar enam belas tahun dan terbilang masih muda. Ketua mereka menahan serangan Liese dan Rindou menggunakan perisainya yang sudah diperkuat menggunakan sihir berupa lapisan mana pemerkuat.


Dua bola api itu menghantam perisainya. Ledakan hebat terjadi, Rindou langsung berlari menuju pintu keluar dan Liese memukul pintunya hingga hancur menggunakan sihir api yang meledak ketika memukul.


Len tidak dapat mengejar mereka, pandangannya terganggu akan kepulan asap ledakan dari bola api. Ia mencoba menerobos kepulan asap yang menganggu, namun Liese dan Rindou telah lolos.


Len menoleh ke pintu masuk ruangan Boss lantai sembilan, bagian samping pintu hancur meskipun pintunya terbuat dari batu. Dia menggertakkan giginya, kesal karena incarannya kabur dan ia ingin membunuh Rindou dan Liese.

__ADS_1


“Sial!”


To Be Continue ....


__ADS_2