The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
28. Dua Pahlawan, Tetapi ...


__ADS_3

Pinggir aliran sungai, Rindou menurunkan Yuina dari pangkuannya lalu membiarkan Liese serta yang lainnya untuk melihat keadaannya yang belum sadarkan diri. Liese mendekatkan telinganya ke dada Yuina, detak jantungnya terasa lemah dan aliran darahnya di bawah rata-rata.


“Karena tertidur dengan waktu yang lama. Sepertinya Yuina akan pulih cukup lama, tubuhnya mulai menyesuaikan.”


Jelas Liese kepada Rindou dan yang lainnya, namun Rindou tidak menanggapi ucapannya namun tengah fokus menatap ujung aliran sungai. Ia menyuruh Hugo untuk melakukan hal yang sepertinya.


Ya, mereka berdua sadar bahwa ada satu kelompok manusia yang tengah menuju ke arah mereka. Apalagi di depan mereka adalah orang-orang dari Kerajaan Cassiopeia, Hugo tahu betul karena lambang bendera yang dibawa oleh salah satu pasukan mereka.


“Gawat Rindou, mereka dari Cassiopeia dengan dua Pahlawan yang mendampingi pasukan khusus. Aku pernah melawan mereka, melawan satu pasukan khusus saja sudah membuatku sangat kewalahan.”


“Jika kau yang mengatakannya berarti tidak salah lagi. Jika kita kabur mereka akan terus mengejar, jika kita melawan mereka kemungkinan besar kita akan terbunuh sebelum dapat berkumpul kembali. Hugo, Liese ... lindungi Lecia dan Yuina.”


Ucap Rindou, ia berjalan menghampiri aliran sungai lalu merasakan sensasi mana dari dalam tubuhnya. Ketika di Kota Citadel Yuvin, ia menyerap kekuatan tombak milik Viens yang membuatnya dapat memanipulasi air.


Karena itu, kini ia membuat gelombang besar dari aliran sungai hingga memenuhi lembah tebing ini. Satu lagi, aliran besar dengan kecepatan ini ia tambah dengan kekuatan buaya Varsi yang menghasilkan listrik dari manifestasi mana miliknya.


Aliran sungai yang cepat dan besar memenuhi lembah ini membuat dua Pahlawan dari Cassiopeia mempersiapkan diri. Salah satu dari mereka menghunuskan pedangnya lalu mengayunkan pedangnya hingga menghasilkan sayatan angin yang membelah aliran sungai, sedangkan satunya lagi menciptakan empat lapisan segel sihir yang menyemburkan api dan membuat air sungai tersebut meledak.


Kenapa? Rindou sudah memprediksi hal ini. Jika air diberi listrik maka susunan atomnya akan berubah, jika ada api sebagai pemicunya maka akan menghasilkan ledakan dari tiga jenis sifat yaitu air, listrik, dan api.


Tentunya mereka tidak tahu hal ini kecuali Rindou. Ledakan itu membuat lembah ini hancur dan pasukan khusus serta dua Pahlawan dari Cassiopeia panik akan situasi yang berbalik, mereka terlalu meremehkan mangsa mereka.


“Selagi mereka sibuk pergilah dari sini, aku akan menahan mereka.”


Ucap Rindou, Liese menolak karena ia ingin membantunya sebisa mungkin sedangkan Rindou menganggukkan kepala karena ia setuju dengan usulannya. Karena itu, yang menahan musuh adalah Rindou dan Liese sedangkan Hugo dan Lecia mengamankan Yuina yang belum sadarkan diri.


Hugo segera pergi seraya membawa Lecia di punggungnya dan Yuina di pangkuannya. Rindou dan Liese bersiap-siap untuk menahan dua Pahlawan serta para pasukan khusus secara habis-habisan.


“Ngomong-ngomong Rindou, kenapa kau bisa meledakkan air sungai? Sihir apa yang kau pakai?”


“Aku pernah mempelajarinya ketika belajar tentang kimia, tidak kusangka akan berguna untuk hal ini.”


“Kimia?”


Sebelum Rindou dapat menjawab pertanyaannya, terdapat sayatan angin dengan kecepatan tinggi melesat ke arah mereka berdua. Rindou dan Liese langsung melompat, serangan itu sangat berbahaya karena dapat memotong tubuh mereka dengan sekejap.


“Liese, perhatikan baik-baik!”


“Ya!”

__ADS_1


Mereka berdua langsung berpisah dan berlari menuju ke arah dua Pahlawan serta pasukan khusus yang tersisa karena tertimpa tebing-tebing yang runtuh. Rindou menyadari ada serangan yang sama ke arahnya, ia menciptakan kristal di tangan kanannya lalu mencoba menahan serangan tersebut.


Kristal itu tergores cukup dalam namun dapat menahan serangan berupa sayatan angin yang melesat ke arahnya. Rindou maju tanpa ragu-ragu, ia menerjang Pahlawan yang menggunakan pedang serta perlengkapannya berupa baju besi penuh membuatnya cukup sulit bergerak dan dia juga seorang laki-laki berambut pirang.


Pukulan Rindou ditahan oleh pedangnya, kini Rindou menciptakan sarung tangan kristal pada kedua tangannya lalu baku hantam melawan pedang. Namun bagian yang cukup sulit adalah ayunan pedangnya yang dapat menciptakan sayatan angin, karena itu serangan itu berasa dua serangan meskipun hanya satu ayunan pedang.


Ketika Rindou mencoba untuk mendekat, tiba-tiba ia merasa terkepung oleh sebuah tekanan mana di sekitarnya. Ia langsung melihat ke bawah dan terdapat lapisan segel sihir muncul di atas permukaan batuan, lapisan segel sihir itu menciptakan pilar batu yang menusuk keduanya tangannya karena disilangkan sebelum muncul.


Rindou meluncur ke atas langit, Pahlawan yang menggunakan pedang sebagai senjatanya meluncurkan serangan sayatan angin beruntun.


“Companion : Guiles, Illusion!”


Skill Rindou aktif dari monster Guiles, tubuhnya terpotong oleh serangan Pahlawan berpedang itu. Tidak, Rindou terpenggal, tubuhnya terpotong sampai menjadi beberapa bagian dan potongan tubuhnya berjatuhan dari langit.


Hanya saja itulah yang dilihat oleh Pahlawan berpedang itu, Rindou menggunakan Ilusi yang dihasilkan dari sebuah zona titik buta yang diinginkan oleh Pahlawan itun. Karena Pahlawan yang menggunakan berpedang ingin melihat Rindou terpotong oleh serangannya, maka itulah yang dia lihat meskipun kini Rindou sudah ada di belakangnya dengan dua tangan yang sudah memegang lehernya.


“Selamat tinggal Pahlawan.”


*Krak


Suara leher yang patah terdengar jelas olehnya, pasukan khusus yang hanya tersisa lima terkejut karena Pahlawan dengan atribut sihir angin dapat dikalahkan oleh Rindou yang tidak diketahui asal-usulnya.


Liese dapat menghindari dua serangan jenis sihir berupa api dan tanah. Mengeluarkan dua sihir dan dua atribut dalam satu waktu adalah hal yang mudah bagi Pahlawan berbakat, namun Liese mencoba mencari celah dari kesombongannya yang tidak bergerak selangkah pun dari tempatnya.


Ia bersembunyi dari balik batu yang melindunginya, Liese mempersiapkan sihirnya berupa sihir dasar api di kedua kepalan tangannya. Namun dia sudah berlatih keras agar tidak menjadi beban bagi Rindou, akhirnya dia mendapatkan hasil yang maksimal dari usahanya.


Seluruh tubuhnya terselimuti api yang di mana beberapa kemampuan miliknya meningkat. Ia keluar dari persembunyiannya lalu memukul ke arah Pahlawan yang ia lawan, terdapat lintasan api yang tercipta ketika ia memukul.


Lintasan api yang merambat dengan cepat ke arahnya membuatnya melawan lagi dengan semburan api. Api dilawan dengan api seperti halnya suatu ibarat, namun dia tidak menyadari bahwa Liese sudah lenyap dari pandangannya.


Pahlawan itu berbalik badan dengan cepat, namun ia menyadari akan suatu hal yang luput dari pikirannya. Terdapat kristal yang menembus perutnya dari permukaan tanah, Rindou melakukan siasat dan hasilnya memuaskan karena Liese membuat Pahlawan itu fokus padanya.


Sejak awal ini bukanlah satu lawan satu melawan Pahlawan, namun kerja sama tim yang dapat mengalahkan musuh tanpa ada kelemahan yang terlihat. Sisanya mereka berdua melawan pasukan khusus yang dapat dibabat habis tanpa bersusah payah, mereka berdua berhasil membunuh dua Pahlawan yang mengejar mereka.


“Liese! Kita harus segera pergi!”


“Ya!”


Ketika mereka berdua berniat pergi, tiba-tiba tubuh mereka berdua tidak bisa bergerak. Mereka menyadari ada sesuatu yang akan datang dan itu sangat berbahaya, Rindou menyadari mana tersebut yang berniat menyerang Liese.

__ADS_1


“Gawat!”


*Brakkk


Rindou telat untuk membuat Liese pergi yang ada di belakangnya. Terdapat sesuatu yang jatuh dan bercahaya, kepulan debu dari permukaan yang hancur membuat wujudnya tidak terlihat namun terdapat benda yang dapat memantulkan cahaya dan itu terlihat jelas.


Namun saat ini Rindou mengkhawatirkan keadaan Liese yang tertimpa benda jatuh tersebut. Bukan benda atau apapun, tapi seorang perempuan manusia dengan pedang di tangan kanannya tengah menginjak Liese yang mengalami luka cukup berat.


“Ah? Kukira kau sudah mati karena terinjak olehku, sepertinya pedang suciku ini yang harus memusnahkanmu.”


Ucap perempuan tersebut yang memiliki penampilan seorang bangsawan hingga tubuhnya tertutup jubah merah yang memiliki rambut halus sebagai lapisannya. Memiliki rambut berwarna pirang yang dikepang menggunakan pita hitam dengan sorot mata tajam namun sayu.


Ia mengangkat pedang sucinya yang harus dipegang oleh dua tangan karena berat. Namun, perempuan itu dapat mengangkatnya dengan satu tangan yang terlihat ringan dan pedang itu menghasilkan cahaya dari bilah pedangnya.


“Selamat tinggal sampah.”


Ia mengayunkan pedangnya yang dapat memenggal kepala Liese, kepalanya terpisah dari tubuhnya dengan sekejap. Ya, namun itu yang dia lihat sedangkan pada kenyataannya Rindou menyelamatkannya dengan akar tanaman dari biji tumbuhan rambat lalu menariknya dengan sangat kuat hingga pijakan perempuan itu tidak sadar bahwa Liese sudah hilang.


Zona ilusi kehendak yang diciptakan dari kemampuan monster Giles berfungsi dengan baik. Namun, ilusi tersebut efeknya hilang yang membuat perempuan itu kebingungan karena Liese yang ia injak dapat lolos dan pedangnya menggerus lapisan permukaan tanah.


“Aku tidak merasakan dia dapat lolos, lalu ... apa yang kulihat tadi?”


Pikir perempuan tersebut lalu menoleh ke samping kanan di mana Liese terluka di tangan kanannya karena diinjak dengan kuat oleh perempuan berambut pirang tersebut.



Rindou berniat berlari menyelamatkan Liese, namun ia dihadang oleh serangan atribut cahaya berupa beberapa pedang sihir cahaya melesat ke arahnya namun dapat dihindari dengan pergerakan cepat.


Perempuan itu membawa pedangnya dengan satu tangan lalu berjalan ke arah Liese dengan santai.


“Namaku Castav Marie, Pahlawan dari keluarga Bangsawan Castav yang sejak dulu menguasai sihir atribut cahaya. Aku tidak mengira kedua rekan seperjuanganku dapat terbunuh oleh kalian berdua, sangat disayangkan bahwa mereka berdua memiliki gelar Pahlawan.”


Setelah penjelasannya selesai, tiba-tiba saja ia melakukan teleportasi jarak dekat yang membuat dirinya berpindah tempat dengan cepat hingga tubuhnya hanya terlihat seperti cahaya yang berpindah. Ia mengincar Liese yang tengah mengawasi pergerakannya, namun dia telah sampai di hadapan Liese dengan cepat lalu mengayunkan pedangnya dengan dua tangan.



*Brakkk


Rindou menahan ayunan pedangnya yang berat dengan kedua tangannya yang terlapisi kristal Caligula. Ia mencoba untuk membelenggu pedang tersebut dengan kristalnya, namun reaksi penyebarannya sangat lambat dan membuat Rindou serta Liese harus mundur sementara.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2