The Summoner : Companion

The Summoner : Companion
Cerita II


__ADS_3

“Hmm ... aku ingin pergi ke kerajaan di mana Kiijo berada.”


Ucap Yugo yang tengah memikirkan sesuatu, di depannya terdapat Hugo yang duduk seraya melukisnya. Hugo adalah pelukis lepas yang bergabung bersama Yugo setelah dia diajak oleh Yugo ketika kecil dan desanya diserang.


“Bukankah orang itu musuh kita, apa yang akan kau lakukan ketika kau sudah sampai di sana?”


“Tentu saja kami akan minum-minum sampai ******. Aku hanya ingin ... dia terbebas sepertiku.”


Jawaban dari Yugo membuat Hugo diam sebentar dan tangan kanannya berhenti bergerak. Dia menutup lembaran kanvas yang menjadi sketsa miliknya lalu menghela napas.


“Jika kau berkata seperti itu pastinya ada yang harus kulakukan, katakan Yugo.”


Ucap Hugo, Yugo yang mendengarkan ucapannya tersenyum lebar dengan kedua matanya yang menutup.


“Kau cepat tanggap juga, untuk sekarang ... kau menyusup ke pesta yang akan diadakan Kerajaan Karm. Di sana pastinya ada Kiijo yang diundang.”


Permintaan dari Yugo ditanggapi dengan wajah kecut oleh Hugo. Permintaan gila dari Yugo sudah tidak aneh lagi, ini sudah ketiga kalinya Hugo disuruh untuk menyusup.


“Baiklah ... seperti biasa aku akan menjadi pelukis yang menjual lukisannya di kalangan bangsawan.”


* * * * *


Meski begitu, mereka berdua memutuskan untuk pergi namun Yugo hanya ada di luar tanpa masuk ke dalam sedangkan Hugo yang memasuki ruangan pesta. Yugo akan menarik perhatian akan rambut putih dan mata merahnya yang disebabkan oleh kutukan sehingga dia menyerahkan tugas itu pada Hugo.


Sebelum memasuki ruangan pesta, Hugo membawa beberapa lukisan dengan pakaian rapi dan rambut panjangnya ia ikat. Menghela napas sebentar, ia memasuki ruangan pesta yang amat terang dan dipenuhi oleh manusia.


Ia mengincar beberapa orang yang terlihat menyendiri dan tidak ingin terlalu melibatkan diri. Setelah menetapkan beberapa targetnya, Hugo mencari orang yang dimaksud oleh Yugo yaitu Kiijo.


Dari kejauhan dia menyadari adanya Kiijo yang sedang naik menuju lantai atas untuk tempat istirahat. Karena tugasnya hanya memantau, sekalian saja Hugo menawari beberapa bangsawan untuk membeli lukisannya.


Terdapat seorang perempuan yang menarik perhatiannya, rambut pendek berwarna merah muda dengan pita hitam yang diikat pada bagian belakang rambut. Hugo menghampirinya dan ia menawari lukisannya tersebut.


“Permisi Nona, bisakah anda melihat beberapa karya saya?”


“Maaf, aku tidak tertarik.”


“Begitu ya ... maaf mengganggu.”



Hugo berjalan melewatinya, suasana dingin telah ia sadari sebelum mendekati perempuan tersebut. Ekspresi yang sedikit dikeluarkan olehnya membuat Hugo tertarik padanya.


“Maaf, bolehkah saya menuangkan perasaan saya ketika melihat paras cantik anda ke dalam kanvas yang saya sediakan?”


“Eh?”

__ADS_1


Hugo merangkai kata-katanya sangat sopan agar perempuan tersebut merasa nyaman dan tidak ada gangguan. Hugo menunggu jawabannya yang tengah memikirkan permintaan darinya, senyuman kecil ia tampakkan dan mengiyakan permintaan Hugo.


Hugo menunjukkan wajah yang bahagia, tetapi dia sadar ekspresinya terlihat jelas sehingga dia memalingkan wajahnya dengan cepat.


Mereka berdua pergi ke lantai atas dan menghindari Kiijo yang ada di dalam ruangan sedangkan Hugo menuju balkon luar. Angin segar yang ada di balkon membuat perempuan yang diajak oleh Hugo kedinginan apalagi ia menggunakan pakaian terbuka.


Hugo menyediakan kursi duduk lipat dari dalam tasnya serta selembar kain yang dijadikan sebagai selimut. Perempuan tersebut duduk di atas kursi dan melapisi tubuhnya dengan sehelai kain yang diberikan oleh Hugo.


“Terim kasih.”


“Itu sudah seharusnya, bagi seniman seperti kami ... model adalah prioritas kami. Sebelum itu, bolehkah saya tahu akan nama anda?”


Tanya Hugo seraya mempersiapkan kanvas dan alat untuk melukis. Karena kursi yang biasa ia pakai dipakai oleh model maka ia melukis sambil berdiri.


“Lecia Axion, nama margaku adalah bangsawan dari Keluarga Axion meskipun hanya cabang dari keluarga utama.”


“Lecia ... nama yang indah menurutku. Hugo, itulah namaku.”


“Terima kasih, kau juga memiliki nama yang bagus.”


Hugo mulai memberi instruksi kepada Lecia untuk duduk dengan rileks namun dia membiarkan Lecia untuk memilih pose serta ekspresinya. Emosi serta pose yang disukai oleh model akan memberi kesan dan momen yang dapat diingat oleh Hugo, karena itulah dia menjadi pelukis hanya untuk mengisi waktu luangnya ketika tidak ada peperangan bersama Yugo.


“Nona Lecia, sebelum menghampiri anda sebelumnya. Kenapa anda terlihat muram dan tidak bersemangat di pesta ini?”


“Begitu ya ... tapi saya berterima kasih kepada anda yang telah datang. Karena saat ini juga ... saya dapat melihat sosok anda yang membuat perhatian saya tertarik.”


Ketika Hugo memegang kuas, rasa malu serta yang lainnya tidak akan terasa meski dia sudah mengatakan hal-hal yang memalukan. Tentu saja, Lecia yang mendengar ucapannya membuatnya malu dengan pipi merona kemerahan.


Beberapa menit keheningan dan hanya ada suara kuas di suasana ini membuat Lecia ingin mengatakan sesuatu namun diurungkan niatnya. Melihat Hugo yang tersenyum seraya melukis dirinya membuatnya tidak ingin mengganggu kesenangan yang diperoleh Hugo.


Lima menit kemudian, Hugo menurunkan kuasnya dan memberitahukan Lecia bahwa dia telah selesai melukis dirinya. Tetapi dia tidak boleh melihat hasilnya terlebih dahulu, Hugo segera membereskan alat lukisnya ke dalam kantong dan memasukkan kursi lipat.


“Setelah aku pergi dari tempat ini anda boleh melihat hasilnya. Terima kasih karena telah menerima permintaan saya, Nona Lecia.”


Hugo memberi penghormatan dengan cara menundukkan badan dan tangan kanannya ia letakkan di dada. Ia meninggalkan Lecia sendirian yang tubuhnya dilapisi sehelai kain, dirinya memegang selembar kanvas yang ditinggalkan oleh Hugo.


Dari atas balkon, Lecia melihat Hugo pergi keluar dari bangunan ini tanpa berbalik badan lalu menuruni tangga. Karena Hugo telah pergi, Lecia masuk ke dalam ruangan pesta dan melihat hasil dari lukisan Hugo.


Lecia cukup terkejut dengan sosoknya yang dilukis oleh Hugo. Napasnya tertahan sebentar, tertegun akan lukisan yang ia terima dari Hugo.


Dirinya tergambarkan dengan senyuman, mata yang sayu menatap ke arah lain. Meskipun hanya sketsa, Lecia merasa bahagia ketika dia melihat lukisan itu seraya mengingat Hugo yang tersenyum melukis dirinya.


“Hugo ... ”


* * * * *

__ADS_1


Hugo berjalan seorang diri di malam hari ini, dari gang sempit sebelah kanan muncul seorang pria yang merupakan Yugo telah menunggunya. Mereka berdua berjalan di keheningan seraya membicarakan apa yang terjadi ketika di ruangan pesta.


“Kiijo ada di ruang istirahat, jika aku mendekatinya maka aku akan ketahuan. Tetapi, ada seorang perempuan yang membuatku tertarik padanya.”


“Hmm? Cinta pada pandangan pertama. Itu bagus sama sepertiku ketika bertemu Vinessa, yah meskipun kami bertarung hingga hutan yang kami jadikan tempat bertarung hancur.”


“Aku yakin ... itu bukan cinta pandangan pertama. Apa kau sudah menyelidiki tempat ini?”


“Begitulah, Yugo ini selalu sedia payung sebelum hujan. Siap-siap saja akan ada serangan. Kita membutuhkan bantuan, Yuuza dan Yuina akan membantu lalu Hao masih menyusup. Sepertinya untuk kali ini aku harus mengandalkan mereka ... ”


* * * * *


Pagi hari ...


Rindou dan Hugo yang tidur di kandang kuda milik orang lain dikejutkan oleh suara lonceng yang berbunyi nyaring. Mereka berdua segera bangun meski masih linglung, ketika keluar dari kandang kuda terdapat orang-orang yang pergi menuju suatu tempat.


Yugo masih ngantuk dan ia tidak bisa diharapkan dengan keadaan seperti ini. Hugo mengusap wajahnya lalu menghampiri salah seorang penduduk yang pergi bersama rombongan.


“Permisi, apa yang terjadi?”


Tanya Hugo ke salah satu seorang Pak Tua yang melewatinya. Pak Tua itu berhenti dan berniat menjawab pertanyaan dari Hugo.


“Menurut kabar dari pasukan, ada tiga orang yang menentang gereja dan mereka dituduh sebagai bawahan Raja Iblis. Tiga orang itu akan dieksekusi di depan publik, kami harus melihatnya dan tidak boleh melewatkannya.”


Setelah menjelaskannya, Hugo menganggukkan kepalanya lalu Pak Tua itu pergi bersama orang-orang yang pergi ke tempat terbuka di alun-alun kota. Ia menoleh ke samping kanan, Yugo hanya menunjukkan ekspresi pasrah dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.


“Kita pergi Hugo, melihat kegilaan mereka.”


Mendengar ucapannya membuat Hugo reflek menganggukkan kepala. Mereka berdua berjalan menuju rombongan lalu bergabung bersama mereka.


Mereka berdua berbaur bersama warga lokal menuju tempat eksekusi berada. Tiga orang yang sudah disiksa babak belur dieksekusi di depan publik dan dipertontonkan.


Yang pertama dia ditusuk menggunakan pasak menjulang ke atas di perutnya. Orang kedua dibakar hidup-hidup, dan orang ketiga dilempari batu oleh warga lokal yang terpaksa jika tidak mereka akan dianggap pembela dan diikat pada tiang seperti korban tiga orang itu.


Hugo merasa mual melihat eksekusi tiga orang itu, sedangkan Yugo menunjukkan kemarahan yang dia pendam meski tatapannya sangat tajam mengarah kepada para algojo.


“Aku bingung, kenapa manusia seperti mereka malah menjadi-jadi. Gereja yang ada di balik semua ini dapat mengendalikan semua situasi, aku pun bergabung karena tingkah mereka sudah seperti binatang. Hugo ... kita pergi ... ”


“Ba-baiklah ... ”


Yugo berbalik badan meninggalkan kerumunan dengan segera sedangkan Hugo masih terdiam. Ketika ia berbalik, tatapannya tertuju pada seorang perempuan berambut pendek berpita hitam tengah menundukkan kepala.


“Lecia ... ”


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2